Titik Jenuh Sang Ratu
Ketegangan yang selama ini dibangun Mahendra seperti sebuah busur yang ditarik terlalu kencang. Kanaya merasa jiwanya mulai terkikis antara candu akan adrenalin dan kerinduan akan martabat yang manusiawi. Puncaknya terjadi pada suatu malam Selasa yang dingin, saat Mahendra pulang dengan aura yang lebih dominan dari biasanya.
"Naya, malam ini akan ada tamu," ujar Mahendra sambil meletakkan tas kerjanya.
Kanaya mengira itu adalah kolega bisnis untuk makan malam formal. Namun, saat pintu penthouse terbuka, yang muncul adalah seorang pria asing yang membawa tas perlengkapan kamera profesional.
"Ini Julian," Mahendra memperkenalkan pria itu dengan nada datar, seolah hal ini adalah sesuatu yang lazim. "Dia fotografer artistik terbaik di kota ini. Dia akan mengabadikan momen kita malam ini."
Darah Kanaya seolah berhenti mengalir. "Apa maksudmu, Mas? Mengabadikan... apa?"
Mahendra mendekat, mengabaikan raut wajah Kanaya yang mulai pucat. "Aku ingin memiliki bukti visual tentang bagaimana kau menyerahkan dirimu padaku. Aku ingin melihat setiap ekspresimu yang tertangkap kamera, agar aku bisa menikmatinya saat aku tidak bersamamu."
"Tidak," bisik Kanaya. "Mas, ini sudah keterlaluan. Kau bilang ini tentang privasi, tentang bahasa cinta kita. Sekarang kau ingin orang asing menonton kita?"
"Julian profesional, Naya. Dia tidak akan bicara," sahut Mahendra dingin. "Masuklah ke kamar. Pakai gaun merah yang kusiapkan."
Untuk pertama kalinya dalam setahun, sesuatu di dalam diri Kanaya patah. Bukan karena rasa takut, tapi karena rasa jijik pada dirinya sendiri yang selama ini patuh. Saat mereka berada di kamar, di bawah sorotan lampu studio yang dibawa Julian, Kanaya merasa seperti binatang sirkus. Mahendra mulai menyentuhnya, mencoba memulai skenario biasanya, namun tubuh Kanaya terasa kaku seperti batu.
"Tersenyumlah, Sayang. Lihat ke kamera," bisik Mahendra di telinganya.
Kanaya mendorong dada Mahendra dengan kekuatan yang tak pernah ia sangka ia miliki. "Cukup, Mahendra! Keluar! Suruh dia keluar!"
Mahendra tertegun. "Naya, jangan buat keributan "
"AKU BUKAN OBJEK PAJANGANMU!" teriak Kanaya, suaranya pecah dan bergema di antara dinding-dinding cermin. Ia menyambar vas bunga kristal di meja rias dan melemparkannya ke arah salah satu cermin besar. PRANG! Serpihan kaca berhamburan, memantulkan bayangan mereka yang hancur berkeping-keping.
Julian, yang menyadari situasi memanas, segera mengemasi barangnya dan keluar tanpa pamit.
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar yang kini berantakan itu. Kanaya berdiri terengah-engah, air mata mengalir deras di pipinya. "Kau ingin melihatku hancur, Mas? Ini! Lihat! Aku hancur! Apakah kau puas sekarang?"
Mahendra berdiri mematung. Matanya menatap serpihan kaca di lantai, lalu menatap Kanaya yang tampak begitu rapuh namun sekaligus begitu kuat dalam kemarahannya. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangan Mahendra retak. Ia melihat istrinya bukan sebagai boneka, bukan sebagai objek kontrol tapi sebagai manusia yang memiliki batas.
"Aku hanya... aku hanya ingin memilikimu seutuhnya, Naya," suara Mahendra bergetar, kehilangan nada otoriter yang biasanya ada.
"Kau tidak akan pernah memilikiku dengan cara ini, Mas. Kau hanya memiliki ketakutanku," jawab Kanaya dingin.
Malam itu, Kanaya tidur di kamar tamu, mengunci pintu dari dalam. Sementara Mahendra tetap berada di kamar utama yang hancur, dikelilingi oleh ribuan pantulan dirinya yang kini tampak kesepian dan tak berdaya di balik serpihan kaca.
Other Stories
KEDUNG
aku adalah dia yang tertutup ...
Horor
horor ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...