Rahasia Di Balik Masa Lalu
Kesunyian penthouse terasa mencekam saat Mahendra pergi ke Singapura untuk urusan bisnis yang mendadak. Bagi Kanaya, ini adalah napas pertama yang ia ambil tanpa pengawasan suaminya dalam berminggu-minggu. Namun, bayangan dirinya di cermin-cermin kamar tidur masih menghantuinya, seolah-olah mata Mahendra tertinggal di sana.
Rasa ingin tahu yang selama ini ia tekan mulai meledak. Ia berjalan menuju ruang kerja Mahendra, sebuah ruangan yang selalu terkunci dan terlarang bagi siapa pun, termasuk pelayan. Namun, pagi itu, Mahendra melakukan kesalahan langka: ia meninggalkan kunci kecil bermata perak di atas meja rias.
Dengan tangan gemetar, Kanaya memutar kunci itu. Pintu terbuka dengan suara klik halus. Ruangan itu beraroma kayu tua dan kertas mahal. Di sudut ruangan, terdapat sebuah brankas kayu antik yang tidak menggunakan kode digital, melainkan kunci manual yang sama.
Di dalamnya, Kanaya tidak menemukan dokumen saham atau akta tanah. Ia menemukan sebuah kotak kayu hitam berisi tumpukan foto usang dan sebuah buku harian kecil dengan sampul kulit yang sudah mengelupas.
Kanaya mengambil sebuah foto. Di sana, seorang Mahendra remaja dengan mata yang lebih redup dan tubuh yang lebih kurus berdiri di samping seorang wanita paruh baya yang tampak sangat elegan namun memiliki tatapan mata yang kejam. Tangan wanita itu mencengkeram bahu Mahendra begitu kuat hingga kain kemejanya tampak tertarik.
Kanaya membuka buku harian itu. Tulisannya rapi namun penuh dengan tekanan pena yang dalam.
"Ibu bilang, cinta adalah kendali. Jika kau tidak memegang kendali, kau akan dihancurkan. Hari ini dia mengurungku lagi karena aku gagal menjadi yang terbaik di kelas. Dia bilang, rasa sakit adalah guru yang paling jujur."
Darah Kanaya mendidih. Ia terus membalik halaman demi halaman, menemukan catatan tentang bagaimana Mahendra dibentuk oleh seorang ibu yang obsesif dan manipulatif. Mahendra tidak pernah belajar cara mencintai dengan lembut, karena baginya, kelembutan adalah kelemahan yang pernah membuatnya hancur. Ia belajar bahwa untuk merasa aman, ia harus menjadi arsitek atas segala hal, termasuk atas perasaan orang-orang yang ia cintai.
"Apa yang kau lakukan di sini, Kanaya?"
Suara itu seperti petir di siang bolong. Kanaya tersentak hingga buku itu terjatuh ke lantai. Mahendra berdiri di ambang pintu. Ia tidak di Singapura. Ia berdiri di sana, masih mengenakan jas panjangnya, matanya menatap Kanaya dengan kemarahan yang begitu murni hingga membuat udara di ruangan itu terasa membeku.
"Mas... aku... penerbanganmu..."
"Dibatalkan," jawab Mahendra pendek. Ia melangkah masuk, setiap hentakan sepatunya di lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian. Ia melihat foto dan buku harian yang berserakan.
Mahendra memojokkan Kanaya ke rak buku besar. Ia tidak berteriak, namun suaranya yang berbisik jauh lebih menakutkan. "Kau mencuri kuncinya? Kau masuk ke sini untuk mencari apa? Kelemahanku?"
"Aku hanya ingin mengenalmu, Mas! Aku ingin tahu kenapa kau memperlakukanku seperti... seperti objek yang harus dikendalikan!" tangis Kanaya pecah.
Mahendra mencengkeram kedua tangan Kanaya di atas kepalanya, menekannya ke rak buku. Napasnya memburu, bersentuhan dengan wajah Kanaya. Kemarahan di matanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih putus asa.
"Kau ingin tahu rahasianya?" bisik Mahendra, wajahnya hanya seujung kuku dari wajah Kanaya. "Rahasianya adalah aku tidak tahu cara lain untuk menjagamu agar tetap di sisiku. Bagiku, jika aku tidak memegang kendali, kau akan pergi. Kau akan mengkhianatiku seperti dia."
Mahendra mencium Kanaya dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan rasa sakit, ketakutan, dan kepemilikan. Ini bukan lagi permainan peran atau fantasi. Ini adalah pria yang sedang hancur, mencoba menyatukan dirinya kembali melalui satu-satunya bahasa yang ia pahami: dominasi fisik.
Kanaya tidak melawan. Ia merasakan air mata Mahendra yang jatuh di pipinya, berbaur dengan air matanya sendiri. Di balik semua kemewahan dan dinding cermin itu, ia akhirnya melihat suaminya yang sebenarnya: seorang anak laki-laki yang ketakutan, yang membangun penjara emas karena ia terlalu takut untuk dibiarkan bebas.
Other Stories
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...