Mahkota Berlian Di Sangkar Emas
Cahaya lampu kristal di ballroom Grand Hyatt Jakarta malam itu seolah-olah hanya bertujuan untuk satu hal: memantulkan kemewahan pada sosok Kanaya. Gaun sutra berwarna emerald yang ia kenakan melekat seperti kulit kedua, memperlihatkan setiap lengkungan tubuhnya yang mungil namun proporsional. Di lehernya, sebuah kalung berlian senilai miliaran rupiah melingkar, terasa dingin dan berat sebuah simbol kepemilikan yang elegan.
"Kau terlihat sangat cantik, Naya. Benar-benar ratu malam ini," puji seorang istri pengusaha minyak sambil menyesap sampanyenya.
Kanaya menyunggingkan senyum yang telah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. "Terima kasih, Jeng. Mahendra yang memilihkan gaun ini. Dia bilang warna ini cocok dengan mataku."
Tepat saat nama itu diucapkan, sebuah tangan besar dengan jemari kokoh melingkar di pinggangnya. Kanaya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma maskulin yang khas perpaduan antara kayu cendana, tembakau mahal, dan citrus langsung menyerbu indranya. Mahendra.
"Sedang membicarakan aku, Sayang?" suara berat Mahendra bergetar di dekat telinganya.
Mahendra adalah definisi pria yang mampu menghentikan napas setiap wanita di ruangan itu. Rahangnya tegas, matanya tajam seperti elang, dan setelan tuxedo rancangan penjahit Savile Row itu membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Namun, hanya Kanaya yang tahu bahwa di balik sikap santun dan protektifnya, ada api yang siap menghanguskan apa pun.
Mahendra merapatkan tubuh Kanaya ke tubuhnya sendiri. Di depan para tamu, itu tampak seperti pelukan mesra seorang suami. Namun, Kanaya merasakan ibu jari Mahendra mulai mengusap kulit di atas pinggangnya dengan gerakan melingkar yang perlahan dan menuntut. Itu bukan sekadar belaian itu adalah perintah diam.
"Kurasa kita sudah cukup memberi mereka pertunjukan, bukan?" bisik Mahendra lagi. Bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Kanaya, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Aku sudah bosan melihat mereka menatapmu seolah mereka punya hak untuk memilikimu."
Kanaya merasakan denyut jantungnya mulai berpacu. "Mas, acaranya belum selesai. Kita harus menyapa Pak Komisaris "
"Pak Komisaris bisa menunggu," potong Mahendra halus, namun ada nada otoriter yang tak terbantahkan. Ia menunduk, mencium pundak Kanaya yang terbuka dengan cara yang terlihat sopan bagi orang jauh, namun Kanaya merasakan sedikit tekanan gigi Mahendra di kulitnya. "Aku ingin melepas semua berlian ini darimu, Naya. Sekarang."
Kanaya menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering. Ia melihat kilat gelap di mata suaminya sebuah janji akan intensitas yang hanya terjadi di balik pintu kamar mereka yang tertutup rapat. Mahendra membimbingnya berpamitan dengan keanggunan seorang bangsawan, namun cengkeramannya di tangan Kanaya tidak membiarkannya lepas barang satu senti pun.
Sepanjang perjalanan di dalam lift menuju penthouse mereka, keheningan menyelimuti. Mahendra berdiri di belakangnya, menatap pantulan Kanaya di dinding lift yang mengkilap. Matanya menelusuri garis leher Kanaya, turun ke punggungnya yang terbuka, hingga ke pinggulnya.
"Kau tahu, Naya," suara Mahendra memecah kesunyian saat lift berdenting sampai di lantai teratas. "Malam ini kau terlalu banyak tersenyum pada fotografer itu."
Pintu lift terbuka. Mahendra menarik Kanaya keluar, langkahnya lebar dan penuh percaya diri.
"Dia hanya melakukan tugasnya, Mas," jawab Kanaya pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak gemetar.
Mahendra berhenti tepat di depan pintu besar apartemen mereka. Ia memutar tubuh Kanaya hingga punggung istrinya membentur pintu kayu jati yang kokoh. Ia mengurung Kanaya dengan kedua tangannya, wajahnya hanya berjarak beberapa inci.
"Dan aku akan melakukan tugas-tugasku sebagai suamimu malam ini," bisik Mahendra dengan seringai tipis yang berbahaya. "Masuklah. Dan jangan lepaskan gaun itu sampai aku yang memerintahkannya."
Pintu terbuka, dan bagi Kanaya, itu adalah gerbang menuju labirin gairah yang ia takuti sekaligus ia damba-dambakan.
Other Stories
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...