Koper Coklat Ibu

Reads
124
Votes
2
Parts
5
Vote
Report
Penulis Pena Lura

Memori Yang Terkunci

Arini menyeret koper itu menyusuri jalanan Kotagede yang kian membeku. Roda koper yang terbuat dari besi tua mengeluarkan bunyi berderit—srek, srek, srek—yang terdengar seperti suara kuku yang menggaruk papan kayu.

Ia akhirnya sampai di penginapan, sebuah bangunan tua dengan langit-langit tinggi dan lantai tegel kunci yang dingin.

Setelah mengunci pintu kamar dari dalam, Arini jatuh terduduk di lantai. Koper cokelat itu kini berada tepat di depannya, tampak seperti monster yang sedang tertidur di bawah temaram lampu bohlam 5 watt.

Aroma formalin itu kini bercampur dengan wangi mawar yang sangat menyengat, jenis wangi yang biasa ditemukan di pemakaman setelah hujan.

Arini menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemetar di tangannya. Ia kembali memasukkan kunci perak itu ke lubang kunci koper. Kali ini, ia memutarnya dengan penuh tenaga.

Klak.

Bunyi mekanisme yang terbuka itu terdengar sangat nyaring di kesunyian kamar. Pelan-pelan, Arini mengangkat tutup koper.
Isinya bukan apa yang ia bayangkan. Tidak ada mayat, tidak ada potongan tubuh. Di dalamnya terdapat tumpukan pakaian anak-anak dari era akhir 90-an: kaos bergambar karakter kartun yang sudah pudar warnanya, gaun pesta mungil dengan renda yang sudah koyak, dan sepasang sepatu plastik berwarna merah yang salah satu solnya lepas.

Namun, di tumpukan paling bawah, Arini menemukan sebuah buku harian dengan sampul kulit berwarna hijau lumut. Di sudut sampulnya, tertulis sebuah nama dengan tinta emas yang hampir terkelupas: SULASTRI.

"Ibu?" bisik Arini. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ia membuka buku itu. Halaman-halamannya sudah menguning dan rapuh. Di halaman pertama, tertulis tanggal 14 Mei 1998. Tanggal yang sama ketika kerusuhan besar pecah di Jakarta, namun di Jogja, bagi keluarga Arini, itu adalah hari ketika adiknya, Anis, dinyatakan hilang saat mereka sedang berwisata di Pasar Beringharjo.
Arini membaca baris demi baris tulisan tangan ibunya yang rapi namun semakin lama semakin miring dan berantakan.
14 Mei: Anis tidak mau berhenti menangis. Suaranya seperti silet yang mengiris gendang telingaku. Arini juga menangis. Aku butuh ketenangan. Aku hanya ingin mereka diam. Lela Ledhung tidak cukup. Aku butuh kotak yang lebih rapat.

Darah Arini seolah membeku. Ia terus membalik halaman, hingga ia sampai pada sebuah sketsa kasar. Gambar itu menunjukkan sebuah koper cokelat—koper yang sama dengan yang ada di hadapannya—dengan catatan di pinggirnya: Laras Pelog: Do, Mi, Fa, Sol, Si. Tanpa Re dan La. Tanpa Napas.

Tiba-tiba, pemutar musik di sudut kamar penginapan—sebuah radio tua yang sejak tadi mati—menyala dengan sendirinya. Bukan suara penyiar yang terdengar, melainkan rekaman orkestra Lela Ledhung yang sama dengan yang ia dengar di stasiun. Namun kali ini, audionya jauh lebih jernih.

Suara gesekan biola itu terdengar seperti jeritan, dan denting gender itu terasa seperti palu yang menghantam paku ke dalam peti mati. Suara sinden mulai masuk, melantunkan bait yang kini terdengar seperti instruksi jagal:

"Tak lelo lelo lelo ledhung... Cep menenga, aja pijer nangis..."

Arini menutup matanya rapat-rapat, namun memori yang selama ini ia kunci di ruang gelap otaknya mulai mendobrak keluar. Ia melihat kilasan bayangan: dirinya sendiri yang berusia tujuh tahun, berdiri di sudut gudang rumah mereka di Sayidan.

Ia melihat ibunya sedang duduk di atas koper cokelat ini, sambil terus menyanyi dengan wajah datar, sementara dari dalam koper terdengar suara dukk, dukk, dukk yang semakin lama semakin lemah.

"Enggak... itu nggak mungkin," rintih Arini.
Ia kembali merobek lapisan kain di dalam koper itu dengan kuku-kukunya hingga berdarah. Di balik lapisan satin tua itu, ia menemukan sesuatu yang membuatnya mual.

Ada deretan gigi susu yang tertancap di dinding kayu koper, seolah pemiliknya pernah mencoba menggigit jalan keluar dari penjara kulit tersebut.

Di saat Arini terisak dalam ngeri, ponselnya di atas nakas bergetar hebat. Sebuah panggilan video dari suaminya. Arini mengangkatnya dengan tangan gemetar. Layar menyala, namun bukan wajah suaminya yang muncul. Layar itu menunjukkan kamar bayinya di Jakarta yang kosong melompong, dengan pintu lemari pakaian yang terbuka lebar, dan sebuah lagu Lela Ledhung terdengar lamat-lamat dari arah dalam lemari tersebut.



Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Kamera Sekali Pakai

Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...

Reuni Mantan

Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Download Titik & Koma