Di Ambang Pintu
Arini terpaku menatap lorong gelap di balik pintu kamarnya yang terbuka. Lorong itu seolah memanjang, menghisap cahaya lampu jalanan Kotagede yang temaram. Suara tawa anak kecil tadi masih menggantung di udara, manis namun berujung tajam seperti sembilu.
"Anis?" bisik Arini. Suaranya pecah, hilang ditelan sunyi.
Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa seperti terbuat dari kapas. Di dalam koper cokelat yang terbuka itu, tumpukan baju lama dan tulang-tulang mungil dalam sepatu plastik merah seolah mulai bernapas. Arini merasa dinding kamar penginapan ini mulai menyempit, bergerak inci demi inci, mengubah ruangan itu menjadi ruang hampa udara yang sama dengan bagian dalam koper.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di ranjang kembali menjerit. Getarannya terasa seperti gempa kecil. Nama suaminya, Rendy, muncul di layar. Arini mengangkatnya dengan cepat.
"Halo?"
"Arini! Kamu di mana?! Ibumu baru saja menelepon, dia histeris!" Suara Rendy terdengar panik, ada latar belakang suara tangis bayi yang melengking di sana. Bayi mereka.
"Ibu... menelepon?"
"Dia bilang kamu kembali ke Jogja untuk menjemput Anis! Arini, siapa Anis? Kamu selalu bilang kamu anak tunggal! Dan kenapa... kenapa di rumah ini tercium bau mawar busuk yang sangat tajam?"
Arini terdiam. Di latar belakang telepon itu, ia mendengar suara musik. Bukan musik mainan bayi, melainkan denting gender yang memainkan laras pelog. Ting. Ting. Ting.
"Rendy, jangan buka lemari di kamar bayi," bisik Arini pelan.
"Apa maksudmu? Arini, bayinya tidak berhenti menangis! Aku akan menidurkannya di dalam sana supaya dia tenang, seperti yang kamu bilang di surat yang kamu tinggalkan!"
Arini membelalakkan mata. "Surat? Aku tidak meninggalkan surat!"
"Ada surat di atas bantal! Isinya lirik lagu yang katamu selalu kamu nyanyikan untuk menenangkan Rima. Aku sedang menggendongnya ke arah lemari sekarang—"
"TIDAK! RENDY, JANGAN!"
Arini menjerit hingga kerongkongannya terasa berdarah, namun sambungan telepon itu terputus. Hanya ada suara dengung statis yang panjang, yang kemudian perlahan berubah menjadi lantunan sinden yang sangat pelan:
"Cep menenga, aja pijer nangis..."
Arini melempar ponselnya hingga hancur membentur lantai tegel. Ia merangkak menuju cermin besar yang tergantung di lemari kayu penginapan. Di sana, di dalam pantulan kaca yang buram oleh debu, ia melihat dirinya sendiri. Tapi bukan Arini yang berusia tiga puluh tahun.
Di dalam cermin, ia melihat Arini kecil yang mengenakan pakaian yang sama dengan yang ada di dalam koper. Arini kecil itu sedang memegang sebilah kunci perak, dan wajahnya berlumuran noda kecokelatan.
Di belakang Arini kecil, sesosok wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajah—Ibunya—sedang mengelus pundaknya.
"Kamu anak pintar, Arini," bisik suara dari dalam cermin.
"Sekarang giliran Rima. Kamu sudah mengirim mengirim Rima untuk menemani Anis, kan?”
Arini memukul cermin itu dengan kepalan tangannya hingga retak seribu. Rasa sakit di tangannya terasa nyata, darah segar mulai mengalir dari buku jarinya, menetes ke lantai, bercampur dengan debu Kotagede. Namun, di setiap pecahan cermin yang retak, ia melihat wajah Anis—wajah anak kecil dengan mata yang sudah membusuk namun tetap memancarkan kerinduan yang amat dalam.
Arini tersedak saat menyadari sesuatu yang mengerikan. Ia melihat ke arah tangannya yang berdarah, lalu ke arah koper cokelat itu. Koper itu kini tertutup rapat dan terkunci kembali. Dan dari celah bawah pintu kamar penginapan, air berwarna merah kental mulai merembes masuk, membawa serta ribuan kelopak bunga mawar yang segar namun berbau kematian.
Other Stories
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Blek Metal
Cerita ini telah pindah lapak. ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...