(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

5. Jangan Tanya Seperti Rasanya Jatuh Cinta Pada Seseorang Yang Tak Pernah Mengecap Cinta Dari Orang Yang Dia Cinta, Itu Sama Seperti Bertanya Rumah Pada Gelandangan


Berhubung rekan perjalanannya enggan melakukan interaksi sosial, Lexi yang mati kutu akhirnya hanya bisa memainkan ponsel guna membunuh rasa jenuh. Terlebih enam jam bukanlah waktu yang sebentar, setidaknya cukup untuk menghabiskan baterai ponsel dan membuat matanya memerah akibat radiasi sinar biru.
“Menyebalkan,” ketik Lexi bertukar pesan dengan Bianca. “Memang dia pikir dirinya adalah pusat dunia? Padahal aku hanya mencoba ramah saja. Kupikir semua orang Indonesia ramah, ternyata aku salah.”
Yang dibalas oleh sang adik dengan emotikon tertawa. “Maybe, dia takut kena Covid. Bukankah itu sangat wajar?”
“Yeah, but, tidak harus seketus itu juga dong.” Lexi menambahkan gambar wajah cemberut di pesannya, tanda dia sangat kesal, kemudian menyusul emotikon bosan. “Empat jam dan dia belum melihatku sama sekali. Seolah-olah aku tidak ada di depannya. Ya Tuhan!”
“Memang, tujuan dia ke mana?” balas Bianca.
Meski berbagi pesan via tulisan, Lexi tetap mengangkat kedua bahunya sebelum mengetik jawaban. “Mana aku tahu? Dia saja tidak mau menjawab saat aku basa-basi. Kupikir, dia akan turun di neraka.”
Begitu pesan diterima, Bianca memberinya gambar orang terbahak-bahak. “Awas nanti jatuh cinta lho.”
“Aku lebih baik jomblo seumur hidup daripada hidup dengan pria seperti itu, tidak peduli seganteng apa pun dia.”
“Ganteng?” Bianca menambahkan gambar wajah terkaget-kaget. “Ya ampun, kamu bilang dia ganteng?”
Tidak bisa bohong.
Lexi mengakui pria di depannya memang cukup tampan. Kulitnya putih, bersih dan sehat. Matanya sedikit sipit, bahkan setelah disambung kacamata. Bibirnya agak kering tetapi merah alami. Dan, yang terpenting dia wangi. 
Khas pria metropolitan, batin Lexi. 
Hingga tahu-tahu orang tersebut mendadak berdeham, membuyarkan fokus Lexi. Dan sebelum gadis itu mengeluarkan reaksi apa pun, si pria terlebih dahulu berkata, “Saya tahu, saya ganteng. Tapi bisa tidak jangan melihat dengan tatapan seperti itu? Saya tidak nyaman dan bisa menjadi pelecehan seksual.”
Hah?
Mata Lexi membulat, kaget. “What do you mean?”
Bukannya menjawab, pria muda nun tampan itu malah menghela napas panjang, lalu menatap balik Lexi dengan tatapan mengintimidasi. “Siapa namamu?”
“Aku?” Lexi menunjuk dirinya sendiri, bingung. “Alexia.”
Tidak berkata apa-apa lagi, si cowok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Buku. Sebuah novel bersampul ungu dengan judul Layaknya Hujan yang entah mengapa segera dia corat-coret, yang kemudian dia sodorkan kepada Lexi. “Ini!”
“Apa?” Lexi mengerutkan kening. “Kenapa kau memberikannya padaku?”
“Sudahlah! Apa kamu pikir aku tidak tahu? Kau pasti mengikutiku ke sini karena melihat status Mbak Indah, kan?”
“Siapa itu Mbak –“
“Ambil dan cepatlah pergi di stasiun setelahnya. Aku tidak ada waktu meladeni orang-orang seperti kalian.”
Meski ragu, Lexi tetap menerima buku itu. Dibolak-baliknya benda tersebut sebelum matanya menangkap nama penulisnya. “Ini bukumu? Kau yang menulisnya ..., Argantara?”
“Oh Tuhan, ayolah! Aku sudah muak dengan trik murahan seperti ini.” Arga kembali geleng-geleng. “Katakan pada Mbak Indah bahwa aku tidak akan terjebak lagi. Oke?”
“Dasar gila,” gumam Lexi. “Tapi terima kasih bukunya. Ini akan kubaca.”
♥♥♥
Muak! 
Adalah kata pertama yang terlintas di kepala Arga saat mendapati trik kotor lagi dan lagi dipraktikkan oleh Mbak Indah –yang mungkin bekerja sama dengan mamanya –hanya untuk mencarikannya jodoh. 
Tidak asal tuduh, pasalnya sejak lima tahun lalu, persisnya setelah Bella menikah dengan Rian, kedua wanita itu getol mencarikannya pasangan lewat para pembaca bukunya. Yang memang sudah tahu bahwa Arga men-jomlo. Bukan sekadar men-jomlo tetapi juga berjalan tragis. Jones. Jomlo ngenes.
“Kamu yakin mau menikah sama Rian?” Pertanyaan itu bukan sekadar kekhawatiran seorang kakak, tetapi juga menyimpan ketidakrelaan Arga atas keputusan sang sahabat. “Kalian masih sangat muda lho, Bell. Baru dua puluh lima tahun. Bahkan kamu saja belum genap dua puluh lima.”
Sayangnya, tekat gadis itu sudah bulat. “Tidak ada alasan lagi untuk kami menunda-nunda. Rian orang baik.”
“Semua orang di matamu juga baik, Bella.” 
Kalimat itu tidak berlebihan, sebab yang Arga tahu ..., gadis yang amat dipujanya itu ..., punya hati seputih salju. 
Jangankan Rian yang jelas-jelas sahabatnya, kepada ayah dan ibu kandungnya yang kejam pun, yang telah menelantarkan dia dan adiknya, Bella masih sanggup memaafkan. Padahal bila kemalangan tersebut ditimpakan Tuhan padanya, Arga jamin dia akan mengirim orang tuanya sendiri ke neraka. 
“Apa kamu nggak mau –maksudku, mencari pilihan lain ke depannya? Yang mungkin jauh lebih baik dari Rian?”
“Mau, tentu saja. Tapi apakah ada?” Bella yang duduk di sampingnya malam itu mengarahkan pandang ke langit, ke arah awan gelap ibu kota yang menyimpan polusi. “Aku bukan orang yang sesempurna itu, Mas. Hidupku berantakan. Keluargaku tidak karuan.”
“Terus, kenapa?”
Bella menoleh, menatap Arga dengan matanya yang teduh. “Dia mencintaiku. Dan orang sepertiku mungkin hanya punya satu kesempatan untuk dicintai.”
Kamu salah, Bella.
Salah besar.
Andai. 
Sekali lagi, andai saja malam itu Arga punya cukup kekuatan untuk merengkuh tubuh mungil Bella ke pelukannya, membisikkan isi hati terdalamnya, lalu mengecup bibir gadis itu –apakah mungkin Bella akan berubah pikiran? Apakah Bella akan mengubah keputusannya? Atau, apakah Bella akan lebih bahagia?
“Lalu kenapa kamu malah diam saja?” todong Bu Fatimah ketika mengetahui isi hati Arga. “Kenapa kamu tidak jujur sejak awal, Argantara? Kenapa kamu baru bilang ke Mama setelah mereka menikah?”
“Karena aku takut, Ma.”
“Takut apa?”
“Takut Mama tidak akan merestui hubungan kami, lalu membenci Bella.”
“Ya Allah, kamu pikir Mama sejahat itu? Jangan samakan Mama dengan orang tua Rian! Sekali lagi Mama bilang, Mama menyayangi Bella sama seperti Mama menyayangimu.
“Hanya karena neneknya mantan asisten rumah tangga kita, bukan berarti Mama akan melarangmu menikahi Bella. Selama kalian sama-sama mau, Mama tidak punya alasan untuk menghalangi kalian. 
“Tapi kalau sudah begini? Mama tidak bisa membantumu. Maka, buang rasa cintamu. Matikan perasaanmu. Dan jangan pernah bermimpi mendapatkan Bella kembali.”
♥♥♥
Mencintai bukanlah sebuah dosa, tetapi mencintai seseorang yang telah menjadi milik orang lain adalah perkara berbeda. Sialnya, orang yang dia cintai adalah orang yang juga aku sayangi. 
Elliaku, mencintai Sang Candra. 
Dan alih-alih aku bisa membenci Candra, aku justru semakin terikat seiring kupahami seberapa besar ikatan di antara mereka. Bukankah ini lucu? Akan tetapi, memang demikianlah cinta bekerja. 
Kebahagiaannya melebihi kebahagiaanmu sendiri. Dan, bila kau membenci apa yang bisa membuatnya bahagia, berarti cintamu bukanlah cinta sesungguhnya. 

Lexi menutup buku tatkala sampai di ujung bab. Air matanya menetes, membanjiri pipi kemerahannya. Setelah memastikan sungai-sungai kecil di wajahnya hilang, dia melirik pria di seberangnya, yang sampai detik itu masih sibuk membaca buku. 
Benarkah dia yang menulis cerita indah tersebut? Rasa-rasanya terlalu mustahil. Tetapi, bukankah kebanyakan penulis fiksi memang seperti itu? Mereka tidak serta merta menulis berdasarkan pengalamannya sendiri. Junji Ito pun tidak seseram tulisan yang dia buat. Alih-alih menyeramkan, beliau justru sangat humoris dan jauh dari kata menakutkan. Pun dengan penulis romansa, bukan?
Lexi menarik ingus di ujung hidungnya, lalu mengalihkan pandang keluar jendela kereta. Ingatannya mendadak di tarik ke setahun sebelumnya, saat di mana pandemi belum datang menyerang umat manusia. Ketika untuk pertama kalinya Lexi memulai misinya keliling Indonesia. 
Tangannya memegang kamera, memotret seorang pria muda berkaos hitam yang mengantarnya ke stasiun siang itu. Pria dengan bibir tipis, mata syahdu serta suara berat itu membiarkan Lexi mengambil kenang-kenangan. 
“Aku pasti akan merindukanmu nantinya,” ujar Lexi.
Yang diajak bicara tertawa kecil. “Telepon saja. Dunia sudah sangat canggih sekarang. Kalau dari Indonesia ke Amerika saja bisa, kenapa di dalam negeri tidak bisa?”
“Kamu benar.” Lexi menjatuhkan pelukannya, meraih tubuh tinggi pria berbadan tegap di hadapannya erat. “Bolehkah aku mengatakan sesuatu?”
“Tentu.” Si pria melepaskan pelukannya. “Apa?”
Lexi menarik napas panjang, menatap mata cokelat terang milik si pria dalam. Kemudian, dengan penuh keraguan dia menyentuh kedua tangan sang sahabat, yang langsung membuat pria tersebut kaget. Lexi bisa melihat keterkejutan itu dari irisnya yang membulat. Akan tetapi, sebelum bibir itu mengatakan sepatah kata pun, dia lebih dulu menyela, “Bianca sudah menceritakan semuanya padaku.”
“Semua ..., apa?”
Lexi kembali menarik napas panjang, mengisi dadanya dengan udara. “Bahwa kamu terpaksa menikahinya ..., kalian dijodohkan ..., dan kamu mencintaku.”
“Hah?”
“Aku juga mencintamu.” Dia melanjutkan. “Harusnya aku mengatakan ini dari dulu tapi ..., seandainya kalian –“
“Lex, cukup!” Si pria memotong diiringi tangkisan kasar. Lalu, dia mundur selangkah. “Itu sama sekali tidak benar. Aku memang menikahi Bianca karena perjodohan tetapi bukan berarti aku tidak mencintainya.
“Kuhargai kejujuranmu tetapi berpikir aku akan meninggalkan Bianca –“ Dia tertawa kecil, bukan meledek melainkan tanda ketidakpercayaan. Dia heran mengapa Lexi bisa berpikir bahwa pernikahannya dan Bianca akan berakhir. “Itu konyol.”
Ya. Tentu.
Tidak seharusnya Lexi mencintai suami Bianca. Suami dari orang yang orang tuanya telah menyelamatkannya dari kematian. 
Namun, sama seperti karakter Nuga di dalam buku yang dia baca. Nuga tidak pernah salah karena mencintai. Semua cinta murni. Dan sama seperti Nuga, Lexi pun sudah mencoba membunuh perasaannya sendiri. 
Perasaan akan menjadi salah saat kau ingin menyingkirkan sumber kebahagiaan orang yang kau cintai. Padahal bilamana kau yang mengisinya, belum tentu dia akan sama bahagianya. Memang, ada opsi dia akan bahagia atau lebih bahagia. Tetapi jangan lupakan sebaliknya, bagaimana bila ternyata dia akan menderita bersamamu? Atau, bagaimana bila hubungan kalian akan menjadi luka bagi lebih banyak orang nantinya?

Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Download Titik & Koma