6.
Kasih Sayang Paling Bodoh Sekaligus Murni yang Pernah Ada di Dunia Ialah Cinta Orang Tua Pada Anaknya, Bisa-bisanya Mereka Jatuh Cinta Tanpa Syarat Padahal Sering disakiti?
“Kamu sudah kenalan sama Ghania?”
Arga mengurungkan niat menyiram lontong di piring makannya menggunakan kuah lodeh begitu mendengar pertanyaan Fatima. Dia menoleh, menatap wanita berseragam muslimat itu dengan bingung. “Ghania siapa?”
“Itu yang di depan!” jawab Fatima malu-malu. “Yang pakai gamis merah muda.” Dia mendorong tubuh sang putra mendekati pintu supaya Arga bisa ikut melihat sosok yang dia maksud. “Dia kerja jadi guru di sekolah swasta.”
“Terus?”
“Kok malah terus sih, Ga?” Fatimah mendesis, kesal. Tetapi mencoba menahan diri. “Dia anaknya Pak Anggoro lho.”
“Yang punya dealer mobil bekas itu?”
“Benar sekali!” Fatimah menepuk pundak Arga, bunga. “Cantik, kan?”
Sebelum menjawab, Arga kembali menengok ke ruang tamu. Gadis bernama Ghania tersebut memiliki tinggi semampai, kulitnya putih nun bersih dengan wajah menawan khas keturunan arab. “Cantik.”
“Lalu, bagaimana?”
“Apanya?”
“Kamu mau tidak kenalan sama dia?”
“Kenalan doang?”
Melihat ekspresi slengean sang putra, Fatimah sontak mencubit perut –yang untungnya bisa segera Arga antisipasi sebelum kulitnya memar terkena serangan mau jari-jari Fatimah. “Ga, Mama serius.”
“Arga juga serius, Ma.”
“Ghania itu perempuan yang baik. Dia mandiri, jago bersih-bersih dan yang lebih penting anaknya sangat sabar.”
Tidak mau buang waktu, Arga melanjutkan aksinya mengambil makan siang sebab perutnya sudah keroncongan, memanggil-manggil minta diisi setelah seharian tidak bertemu apa pun. “Ini sebenarnya Mama mau mencarikan aku istri, atau malah pembantu? Kalau masalah bersih-bersih, nggak usah khawatir, aku akan memanggil petugas bersih-bersih seminggu sekali.”
“Seminggu sekali?”
“Dua kali!” jawabnya menego. “Ma, biayanya cukup mahal.”
“Ya sudah, makanya menikah saja biar nggak perlu bayar.”
Arga menggeleng, meledek. “Itu jauh lebih mahal.” Yang sontak membuat ekspresi Fatimah berubah, akan tetapi sebelum bom meledak, dia buru-buru meninggalkan dapur menuju teras belakang guna menikmati lontong sayur.
♥♥♥
Pada awalnya, Arga pun tidak nyaman dan belum terbiasa dengan kebiasaan mamanya yang hobi mencarikannya kenalan. Mulai dari anak teman pengajian, saudara-saudara jauh sampai pelanggan di laundry keluarga mereka –khusus untuk poin terakhir, Arga tidak habis pikir karena menurutnya itu terlalu ..., tidak masuk akal.
Mereka bahkan cuma mengenal pelanggan-pelanggannya beberapa menit dalam seminggu, dan mamanya berani meminta mereka mencarikannya teman kencan?
Namun, sama seperti kebanyakan hal di dunia ini, semakin sering kita dihadapkan pada sesuatu, maka akan semakin terbiasa pula kita menghadapinya. Termasuk untuk hari ini, ketika seorang gadis mendadak muncul di depan matanya dengan kamera menggantung di leher.
Arga tidak ingat pernah mengatakan suka pada gadis yang gemar mengambil gambar. Tetapi mengingat seberapa keras tekat Mbak Indah dan mamanya mendorong dia dalam acara, rasanya tak masuk akal mereka tidak membuat rencana.
“Mau sampai kapan lo mau mengikuti gue?” Pertanyaan ketus tersebut ditodongkan oleh Arga persis setelah mereka turun dari gerbong kereta di stasiun Banyuwangi Kota.
Lexi mengerutkan kening. “Hah?”
“Sudahlah! Mending lo pulang saja sekarang, karena gue sama sekali tidak tertarik untuk berkencan.”
“Kencan?” Muka Lexi semakin tak paham. “Astaga, siapa yang –“
“Mas! Mbak!”
Teriakan seseorang membuat obrolan keduanya terputus, karena dengan kompak mereka menoleh ke sumber suara. Dan benar saja, seorang pria muda bertubuh tinggi dengan kulit cokelat terbakar matahari melambaikan tangan ke arah mereka, ramah.
“Mas Argantara? Benar?” Dia berlari, menghampiri.
Arga mengangguk. “Pak Agung?”
“Saya Aji! Anaknya.” Dia mengulurkan tangan, yang tidak seperti sebelumnya langsung Arga jabat. “Bapak sedang ada urusan, makanya saya diminta datang. Eh, kalau ini –“
“Saya Alexia Renata!” Sebelum Aji mengajak bersalaman, Lexi lebih dulu menawarkan.
Aji termenung, membiarkan jemarinya menggenggam tangan Lexi. “Wah, Mbak ternyata lebih cantik dari di foto.”
“Terima kasih!” ucap Lexi malu-malu. “Jadi, di mana mobilmu?”
“Mobil?” Arga kembali bicara, kali itu dia yang kebingungan mencerna situasi. “Tunggu! Tunggu! Kalian saling mengenal?”
Aji menjawab, “Mbak Alexia ini kan peserta juga. Dia blogger sekaligus youtuber. Iya kan, Mbak?”
Arga melongo.
“Eh, kalau begitu kita langsung pulang saja ya. Sudah ditunggu sama Ibu.”
“Baiklah kalau begitu!” Lexi bersiap melangkah mengikuti Aji, tetapi sebelum itu dia terlebih dahulu menoleh ke arah Arga. “Mau sampai kapan mau mengikutiku?” ledeknya, mengikuti gaya bicara Arga yang dihiperbola. “Ha ha ha!” Dia tertawa kering. “Dengar ya, Pria Tampan. Dunia ini tidak hanya berputar padamu. Jadi, berhentilah bersikap terlalu percaya diri.”
♥♥♥
“Bentor?”
Menyadari raut tak senang dari kedua kliennya, Aji yang memang masih berusia belasan tahun tersebut hanya bisa garuk-garuk kepala. “Sebenarnya tadinya mau dijemput pakai mobil, Mas, Mbak. Hanya saja kebetulan mobil Bapak mendadak masuk bengkel. Kalau saja jemput naik motor sendiri, nanti malah bolak-balik. Tapi kalau Mas dan Mbak tidak mau dan keberatan, kita bisa menyewa ojek saja. Meskipun kayaknya susah karena –“
“Aku sih oke!” seru Lexi. Tanpa banyak cing-cong, dia melompat naik ke atas bentor dan meletakkan ranselnya di sisi kosong. “Tapi mungkin Pangeran kita satu ini tidak akan mau. Karena dia mengira yang akan menjemputnya adalah kuda putih bersayap dengan tanduk di kepala.”
Arga mendelik, matanya hampir copot mendengar ucapan Lexi. “Apa lo bilang?”
“Bukan apa-apa! Sudah, lupakan saja!” Lexi mengibaskan tangannya ke udara. Lantas menepuk baju Aji yang memang berdiri persis di sisi bentor tempat gadis itu duduk. “Ayo, Aji! Tunggu apa lagi?”
“Eh, Mbak Alexia, bisa geser sedikit? Mas Arga biar bisa du –“
“Nggak usah!” Arga menyela, gengsi. “Gue akan naik ojek saja.”
♥♥♥
Ketimbang hotel, penginapan yang disediakan oleh pemerintah terdiri atas bungalow-bungalow kecil berbahan bambu. Menyatu dengan alam, memang. Dan sudah pasti akan membuat mereka yang menyukai alam akan bahagia menempatinya. Sayangnya, tidak untuk Arga.
Terbiasa hidup menyendiri di goa –apartemen –yang minim interaksi membuat pengalamannya di sini menjadi sangat menyiksa. Walau sebetulnya bukan salah bungalow, melainkan para program itu sendiri.
Kenapa? Kenapa aku harus menyetujui rencana gila Mbak Indah? Dia merutuki dirinya sendiri.
Di atas kasur kapuk yang sedikit keras itu, Arga merebahkan tubuh lelahnya. Pandangannya menatap lurus ke langit-langit kamar yang juga berbahan bambu. Dari sana, dia bisa melihat dua ekor cicak tengah bercengkerama, berbisik-bisik membicarakan betapa malang nasibnya.
Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Tanpa berdiri, Arga menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang, dan dengan sangat profesional meraih ransel di ujung ruangan menggunakan kaki, sebelum membawanya naik ke kasur guna mengambil benda pipih berlogo buah berlubang tersebut.
“Apa?” Dia menyapa teman-temannya.
Yang langsung disambut suara cempreng Rangga. “Apa? Lo tanya apa? Heh, Mas Arga, kenapa pergi nggak bilang-bilang? Asal lo tahu ya, kami hampir memanggil polisi karena lo tidak ada kabar seharian.”
“Benar!” Rian menambahkan. “Kami kira Mas Arga sudah jadi zombi di kamar. Kan nggak lucu kalau tiba-tiba di berita muncul headline, Telah ditemukan Seorang Pria Meninggal di Apartemen Karena Kelaparan.”
“Nggak usah berlebihan!” jawab Arga, memperingatkan. “Gue nggak akan mati. Gue sudah tua. Kalau lapar makan sendiri.”
“Yee!” Rangga berpura-pura akan menghantam ponsel pintarnya dengan tinju maut. “Masalahnya, ini tadi gue kirim makanan tapi lo diteleponin sama satpam kagak nyahut.”
Arga mengecek notifikasi dan menjelaskan, “HP gue ditaruh tas.”
“Ya paling nggak kalaupun nggak mau bilang ke kami, bilang ke petugas keamanan dong, Mas Arga!” Ferdi geleng-geleng. “Untung saja tadi Tante Fatimah telepon Mbak Indah. Andai tidak, mungkin kami tidak akan tahu –“
“Dan sekarang muka lo masuk daftar orang hilang!” tambah Rian, lagi. “Lagian apa susahnya sih ngetik pesan di grup? Tinggal bilang, ‘Gengs, gue mau ke BWI.’ Demen banget bikin orang rumah panik.”
“Ya maaf.”
“Idih, nggak tulus!” Rian memalingkan muka dari kamera, berakting seperti seorang gadis yang ingin dibujuk kekasihnya. “Maaf doang sih semua orang juga bisa. Ciko juga bisa bilang maaf. Iya kan, Ciko?” Dia meraih kucing oren dari bawah kursi, memamerkannya ke kamera.
Sialnya, malah kompak diamini oleh Rangga dan Ferdi.
“Ya terus, kalian mau gue ngapain?”
“Nggak perlu ngapa-ngapain.” Suara Bella langsung memecah konsentrasi Arga, sekalipun wanita itu tak muncul di kamera. “Kami hanya butuh komitmen Mas Arga buat nggak akan mengulangi hal seperti ini lagi. Karena kasihan Bu Ima. Beliau sangat cemas lho, Mas. Kalau darah tingginya kumat, bagaimana? Memang Mas Arga nggak kasihan sama Ibu?”
Arga diam.
“Namanya orang tua itu pasti akan selalu mencemaskan anaknya, Mas!” Rian melanjutkan. Air mukanya berubah serius. “Apalagi di tengah pandemi begini. Anak nggak ada kabar, bisa dipastikan pikiran orang tua ke mana-mana.
“Misalnya ini, aku .... Semisal suatu hari nanti Niar sudah besar, sudah bisa kerja dan tinggal jauh dari kami –terus dia kayak Mas Arga yang suka pergi tanpa pamit –“
“Baru kali ini lho, Ian.” Arga membela diri.
“Tapi kalau dibiarkan, nanti kebiasaan. Iya kan, Bun?” Rian memandang ke seberang ponsel, tempat Bella berada. “Tuh, Bunda saja setuju apa kataku.” Lalu, dia menatap kosong ke udara, berlagak seperti aktor yang sedang mendalami peran. “Mas Arga!”
“Apa?”
“Hati orang tua itu lembut, Mas.” Rian menempelkan kedua tangannya ke dada. “Tidak ada yang lebih mereka pikirkan kecuali anak-anaknya.”
“Waduh, mulai dia!” Rangga nyengir. “Sudah ya, Ian. Gue mau bantuin Nisa nyetrika.”
“Gue juga!” Ferdi tidak mau kalah. “Alden pipis.”
“Eh, jangan pergi kalian!” Arga bangkit. Tidak terima ditinggal begitu saja. “Heh! Enak saja! Kalian yang mulai, kenapa gue yang ditinggal?”
Other Stories
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...