(bukan) Tentang Kita

Reads
919
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

7. Bila Sesuatu Bukan Milikmu, Selamanya Dia Tak Akan Menjadi Milikmu! Jadi, Berhentilah Bermimpi Dan Jalani Kenyataan Pahit Ini Dengan Penuh Kesadaran Menyebalkan


Adalah kata paling tepat untuk menggambarkan sosok Argantara di mata Lexi. Selain rasa percaya dirinya yang menembus langit, cowok berkulit putih cenderung pucat tersebut juga memiliki gengsi yang tak kalah besar. 
“Nggak deh!” Meskipun menolak tegas seraya memalingkan muka, tetapi Lexi tahu pasti kalau sebenarnya Arga tidak ingin ditinggal sendiri. “Kalian duluan saja. Gue akan menunggu ojek.”
“Yakin?” tanya Lexi, tak hanya memastikan melainkan ditambah bumbu ledekan. “Ini sudah hampir gelap lho. Tapi sampai sekarang belum ada ojol yang nyantol.”
Arga melirik, tajam. “Kenapa nggak? Sudah, kalau lo mau pergi duluan ..., silakan!” Lalu, berpindah ke Aji. “Lo shareloc saja tempatnya. Nanti, kalau sudah dapat driver –“
“Kalau dapat, kalau nggak?” 
Celetukan Lexi sontak membuat Arga memanas. “Bisa diam nggak? Dari tadi nyahut melulu ada orang ngomong. Nggak sopan tahu.”
“Idih, lebih nggak sopan mana sama yang tiba-tiba bentak orang pas ditanya baik-baik? Orang baru, pula. Terus dengan nggak tahu dirinya kasih buku bertanda tangan –untuk hal ini aku berterima kasih karena bukumu ternyata cukup bagus, --tapi aku nggak akan bisa lupa sama perbuatanmu selama di kereta ya, Pangeran.”
“Oh, jadi lo dendam?”
Lexi menggeleng, cepat. “Ngapain dendam?” Ada tawa kecil di sana. “Buang-buang energi banget dendam sama orang kayak kamu. Ya kan, Ji?”
Bocah menuju dewasa tersebut cuma nyengir. “Mbak, Mas, tolong jangan berantem.”
“Nggak ada yang berantem kok!” ralat Arga dan Lexi, kompak. Yang detik berikutnya membuat mereka sama-sama diam, mengalihkan pandang ke arah lain seolah tidak terjadi sesuatu. 
Aji menghela napas panjang, putus asa. “Mas Arga, kita harus segera kembali sebelum malam. Nanti saya kena marah Bapak. Jadi, bisa nggak kalau Mas naik ke bentor sekarang. Kalau tunggu sore, di tengah pandemi kayak gini –saya nggak yakin kita bisa dapat kendaraan yang mau antar sampai penginapan.”
♥♥♥
“Terus, bagaimana? Kalian jadi naik bentor berdua?” 
Pertanyaan Bianca dari seberang telepon dijawab anggukan pasti oleh Lexi, yang sedang mengoles wajah kemerahannya menggunakan masker wajah berbahan organik di atas ranjang. “Ya iyalah.”
“Kok akhirnya dia mau?” Bianca kembali bertanya, kali itu sambil membenarkan posisi bayi yang tengah dia susui. 
Lexi mengangkat kedua bahunya bersamaan. “Beats me. Maybe he cracked under pressure ..., or just didn’t wanna be stranded at the station.”
Kedua wanita muda tersebut tertawa, kompak. 
“Seharusnya kalian tinggalkan saja dia di sana. Biar kapok.”
“Harusnya, tapi Aji tidak bisa diajak kompromi.”
“Terlalu penakut.”
“Yup. Anak muda yang takut mengambil tantangan dalam hidupnya.” 
“Oh iya, Kak –“
“Sebentar, Bi!” cegah Lexi. Dia menoleh ke arah pintu, kemudian berkata ke kamera. “Ada yang datang. Panggilannya kita sambung besok lagi ya?” Yang dijawab anggukan mantap bersama senyuman hangat oleh Bianca. 
Begitu memastikan sambungan sepenuhnya terputus, Lexi buru-buru melompat dari kasur untuk membukakan pintu. “Kenapa, Ji?”
“Itu, Mbak –ASTAGA!” Aji berjingkat, kaget.
Menyadari pemuda itu ketakutan melihat muka penuh masker miliknya, Lexi buru-buru menjelaskan, “Tenang! Tenang! Ini aku. Lexi.”
“Ya ampun, saya kira hantu.” Aji mengelus-elus dadanya, lega. “Mbak Lexi dipanggil Ibu. Disuruh makan malam.”
♥♥♥
Kaos merah muda polos dan celana pendek selutut menjadi pilihan Lexi untuk keluar kamar. Sembari menggulung rambut panjangnya asal, dia berjalan meninggalkan bangunan tempatnya menginap, menuju pendopo tak jauh dari sana, tempat makan malam telah di siapkan oleh Bu Galuh, ibu Aji, yang memang pemilik sekaligus pengelola penginapan. 
Ada sepuluh orang peserta pada sesi pertama program ini, dan itu artinya akan ada sepuluh orang juga yang ikut makan malam hari ini. Akan tetapi, Lexi salah besar. Sebab begitu dia sampai di pendopo, suasana jauh lebih ramai. Dan di sanalah dia baru mengerti kalau banyak dari peserta yang membawa kru pribadi. 
“Makan dulu, Mbak Alexia.” Bu Galuh memberinya piring bambu yang di atasnya ditambahi lembaran daun pisang. “Terserah lauknya mau pakai ayam, daging atau ikan. Ambil sendiri.”
“Kalau semuanya, boleh?” canda Lexi, memecah kesunyian.
“Boleh! Silakan! Asal dihabiskan!”
Lalu, Lexi menempati salah satu bangku sebelum mengisi piringnya dengan menu pilihan.
“Bu, Arga mana ya?” celetuk Gideon, sang youtuber. Menurut kabar, dia punya dua juta pelanggan di salurannya. “Kok tidak ikut makan?”
“Masih dipanggil sama Aji.” Pak Agung yang baru keluar dari dapur –membawa sebakul nasi –menyahut. 
Semua orang di meja makan mengangguk kompak. Melanjutkan kegiatan makan malam mereka dengan nikmat sebelum gadis berambut merah, Kamala, membuka kembali obrolan. “Sejujurnya gue nggak nyangka kalau doi bakal ikutan acara ini.”
“Bukannya selama ini dia paling sulit ditemui ya?” Cecillia menyambung. “Buat jumpa pembaca bukunya saja dia jarang mau. Makanya, gue heran pas tahu dia terpilih jadi peserta.”
“Katanya lewat jalur dalam, kan?” Revon, cowok berpenampilan nyentrik, yang duduk di bangku ujung menyahut. 
Cewek di seberang Lexi, mengangguk. “Lewat jalur penerbitan. Gue juga sempat dengar katanya editornya minta tolong langsung ke penyelenggara. Tapi, nggak tahu lagi deh itu beneran atau sekadar rumor.”
“Bay the way!” Cecillia menyenggol bahu Lexi, membuat gadis itu mau tak mau berhenti menyuap nasi ke mulutnya. “Lo tadi satu kereta sama si Arga, kan?”
“Iya.”
“Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” ulang Lexi, bingung.
Mirabel, sang pelukis, tertawa. “Hampir semua perempuan di sini mengidolakan Arga. Kamu sangat beruntung bisa duduk satu kereta dengannya.”
“Benarkah?” Mata Lexi membulat, tak percaya. “Kalian sungguh mengidolakan pria seperti itu? Oh, ayolah, kalian benar-benar punya selera yang sangat –“
“Sangat apa?” 
Kemunculan Arga dari belakangnya sontak membuat Lexi bungkam. 
“Kenapa diam? Ayo lanjutkan!”
Lexi menggeleng, menolak bicara.
“Kalau mau ngomongin orang itu di depan mukanya langsung, jangan di belakang.”
♥♥♥
Dalam kebanyakan cerita kontemporer cerita cinta sering kali digambarkan dengan cara yang berlebihan, meledak-ledak dan penuh bunga. Tetapi aku percaya bahwa beberapa kisah cinta justru berasal dari hal paling sederhana, sunyi dan senyap. Bahkan banyak dari mereka berakhir tanpa suara. Tanpa kesempatan untuk tersampaikan. 

Ditulis oleh Arga untuk membuka tulisan terbarunya. Sayangnya, alih-alih mendapat angin segar dan segudang inspirasi seperti yang Mbak Indah katakan sebelum dia berangkat kemarin, Arga justru cuma bisa bengong. Cukup lama dia berdiam diri, menatap layar laptopnya tanpa mengetikkan satu huruf pun. Sialnya, bukan tidak mau melainkan ..., tidak mampu.
Masih terekam jelas di kepala Arga mengenai hari itu, saat di mana dia duduk di teras rumah Bella bersama ayah serta kedua sahabatnya, Rangga dan Ferdi, yang sama-sama rapi mengenakan kemeja batik panjang serta celana bahan berwarna hitam. 
Berbeda dengan kedua kawannya tersebut, Arga sendiri telah siap sejak dua jam sebelumnya. Dia bahkan pergi ke salon untuk memotong rambut supaya bisa tampil sempurna untuk hari itu, serta membawa kamera Fujifilm X-T10 miliknya. Beberapa kali dia mengambil gambar, mengabadikan momen-momen kecil di sekitar, mulai dari ranumnya bunga yang merekah di halaman –yang meskipun tumbuh di dalam pot tetapi tetap menawan, tanda bahwa mereka dirawat dengan sangat baik oleh pemilik rumah –orang-orang lewat, serta para tetangga yang sibuk memasak dan menata persiapan pesta siang tersebut.
“Mas, bisa fotoin kami?” tanya David, bocah bertubuh tinggi dengan kulit kuning langsat yang merupakan keponakannya sendiri. 
Arga mengangguk, lalu mulai mengarahkan kamera pada remaja itu. “Ayo!”
“Sebentar!” cegah Sella, adik Bella, dari dalam rumah. “Ikut!” Dia langsung berdiri di samping David, merangkul lengan si sahabat dan membiarkan Arga mengambil gambar mereka dengan berbagai pose. “Sudah ya? Gantian sama yang lain.”
“Pelit banget sih!” David memajukan bibir, tak suka. “Bagaimana kalau sekarang kita ambil makan, Sell? Gue lapar ini.”
“Nanti saja! Gue masih belum bisa makan.”
“Kenapa? Sakit?”
Sella menggeleng, malu-malu. “Perut gue melilit. Kayak ada banyak kupu-kupu. Deg-degan banget. Padahal bukan gue yang mau nikah.”
“Ya ampun!” David tertawa, disusul Ferdi dan Rangga.
Sementara Arga? Dia bergeming, tanpa berniat menimpali dengan senyuman palsu. Atau lebih tepatnya, dia ingin tetapi tak mampu. Perutnya terlalu tak karuan, seperti mesin cuci yang dipaksa bekerja keras hingga mual. Jantungnya? Jangan ditanya. Hampir meledak, rasanya. 
Namun, semua menjadi semakin kacau ketika pada akhirnya sang pengantin keluar. Bella yang sebelumnya berada di dalam kamar akhirnya dibawa keluar. Gadis itu sangat cantik. Dibalut kebaya kutu baru berwarna putih susu dengan hiasan motif brokat yang halus. Tanpa hiasan atau payet yang mencolok mata, hanya ada renda di ujung lengan, tetapi sangat pas membalut tubuh mungil Bella, seolah-olah dia memang tercipta untuk itu. Meski wajahnya hanya dihiasi riasan tipis, dan mengandalkan rona alami dari dalam dirinya, juga rambut yang disanggul sederhana, tanpa rangkaian melati atau aksesoris macam-macam, malah cuma ada headpiece berwarna keemasan yang menjadi elemen kemewahan di sana. 
Di sebelah Bella tampak Anisa dan Adelia, kedua sahabat dekatnya, sekaligus dua manusia paling bertanggung jawab pada penampilan sang pengantin, tersenyum bangga.
“Bagaimana? Cantik, kan?” Adelia, pamer, sembari mengibaskan rambut panjangnya yang digerai ke udara.
Anisa, dengan kerudung paris merah jambu itu tak mau kalah. “Siapa dulu MUA-nya.”
“Tapi ini beneran bagus, kan?” Berbeda dengan para periasnya, Bella malah terlihat cemas. Apalagi setelah menyadari tatapan mata Arga yang nyaris tidak berkedip melihatnya. “Mas Arga, aku aneh ya?” Tetapi karena yang ditanya setia bergeming, dia pindah ke kedua pria lainnya. “Fer, Ngga, ini aneh nggak sih? Rian bakalan suka nggak?”
Ferdi memberi jempol. “Bagus.”
“Nggak aneh kok.” Rangga ikut menyetujui. “Lagian tenang saja, Bell. Mau lo datang ke KUA pakai kaos juga, gue yakin si Rian bakal tetap klepek-klepek.”
“Abi!” Anisa memukul bahu suaminya, keras. “Sembarangan! Ini Umi capek-capek dandanin Bella, dan Abi bilang sejahat itu? Dasar nggak berperasaan!”
“Abi kan ha –“
“Boleh aku foto?” Ucapan tersebut meluncur begitu saja dari mulut Arga. Yang seketika membuat suasana hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya Adelia menata gaya Bella, meminta sahabatnya berdiri di dekat pot bunga, dan memberikan setangkai bunga mawar sebagai hiasan.
Meskipun telah mencoba menahan diri, sayangnya, Arga gagal.
Air matanya memang tidak menetes secara langsung, tetapi jantungnya ..., remuk. Karena dia sadar betul bahwa satu jam berikutnya, sebesar apa pun cinta yang dia simpan di dalam dirinya kepada Bella akan menjadi kesalahan.
Tidak ada lagi ruang untuknya.
Selamanya.

Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Download Titik & Koma