(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

11. Orang Kalau Sudah Mau Mati, Bisa Lebih Gila Lagi Imajinasinya Bisa Mendadak Liar Dan Tidak Terkendali


Angin malam di pantai berembus kencang, seolah-olah menusuk kulit hingga menembus tulang.

Arga memilih tidak bergabung dengan yang lain. Toh, acara malam itu hanya diagendakan untuk bersenang-senang, ngobrol ringan dan tak ada hubungannya dengan program utama. Dan luka di tangannya, meski tidak parah, tetap minta diobati. Itulah mengapa selepas mandi, Arga meminta disediakan P3K.

“Beneran bisa sendiri?”

“Iya, Mbak Mawar. Bisa kok.”

“Ya sudah, kalau sudah selesai antarkan lagi ke tenda panitia ya.”

Arga mengangguk, membawa kotak merah berlambang silang itu keluar. Dia menyambar tikar bambu di sebelah tenda panitia dan memegangnya di tangan yang lain, membawa kedua benda itu menjauh dari area kamping.

Akan tetapi, sebelum kotak obat dia buka, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari arah belakang. Yang langsung Arga kenali. “Ngapain lo di sini?”

Lexi berdiri, menatap laut yang membelai rambut panjangnya ke belakang. “Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kamu tidak kapok juga?” Lantas, dia berjalan mendekat dan duduk di sebelah Arga begitu saja. “Cuma ini yang terluka? Ada lagi?” Dia menunjuk luka bekas cakaran di lengan pria itu.

. “Di kaki juga.” Arga memutar sedikit kaki kirinya, memperlihatkan luka di betis. “Nggak parah kok.”

“Tetap saja.” Lexi membuka kotak obat, mengeluarkan kapas dan antibiotik. “Kamu kenapa bisa tersesat? Makanya, kalau ada pengumuman itu diingat baik-baik. Jangan sampai aku tidak bisa ikut program hanya karena teman satu timku mati di hutan.”

“Enak saja! Gue nggak gampang mati ya.”

“Percaya.”

“Maksudnya?”

“Orang jahat biasanya memang susah mati.”

“Tahi lo –aduh!” Arga meringis, kesakitan. “Pelan-pelan!”

“Maaf!” pinta Lexi, tulus. “Omong-omong cuma kita lho yang belum bahas konsep kolaborasi.”

“Bagaimana kalau bikin buku saja?”

“Semacam –?”

“Semi fiksi. Kayaknya gampang itu.”

“Boleh deh. Ide bagus. Eh, sudah! Giliran kaki.” Lexi membuang kapas kotor dan bekas ke dalam kantong keresek yang Arga bawa, yang nantinya akan dia buang ke tempat sampah. “Sini!”

Arga menyelonjorkan kakinya.

“Tapi, bagaimana semisal ditambah dengan ..., semacam ..., dokumentasi berupa foto? Aku biasanya suka menyelipkan gambar di blog yang aku kelola.”

Arga menjawab, “Boleh.”

“Berarti sepakat ya? Sekarang, untuk tema –aku kepikiran soal pulih bersama alam.”

“Lagi?” Arga mendadak memutar bola matanya malas. “Jangan bilang lo akan mengangkat –cukup! Gue muak banget sama cara-cara sok sakral dan sok indie yang dilakukan semua orang di sini.

“Gue lebih percaya ada monyet galak yang bisa ngejar dan akan bikin gue mati dengan cara keceplung jurang, daripada alam bisa membuat kita sembuh dari trauma.”

Lexi tertawa. “Jadi, kamu dapat luka ini karena monyet liar?”

“Iya. Kenapa?”

Tawa Lexi semakin kencang. “Jelas ini tanda dari semesta. Kuwalat sama alam.”

“Halo! Ini hutan. Wajar kalau gue kebetulan ketemu monyet liar. Kan?”

Tatapan Lexi penuh ledekan. “Mungkin tapi bukan tidak mungkin juga kamu memang kena tulak.”

“Tulak?” Alis Arga menyempit. “Masa iya hanya karena gue sengaja bolos sesi di pura terus kena tulak?”

“Hah? Jadi benar?”

“Benar apa?”

“Kalau kamu tadi pura-pura mau pipis?”

Arga mengangguk, tanpa rasa bersalah. “Bukannya sudah jelas banget?”

Lexi mengambil pembalut luka untuk menutupi luka di betis Arga. “Ga, kamu tidak ingat apa kata Pak Wirja? Tempat ini bukan untuk mereka yang sombong.”

“Gila ya. Lo percaya takhayul?” Arga mendelik, kesal. “Gue pikir orang dari negara maju nggak percaya begituan.”

“Kamu sendiri? Kenapa kalau tidak percaya malah kelihatan takut?”

“Takut?” Arga menarik kakinya. “Gue nggak takut? Siapa yang takut? Enak saja?”

“Tidak usah bohong. Aku tahu kamu takut.”

“Sok tahu!”

“Tapi bukan sama hutan atau laut. Kamu takut sama dirimu sendiri. Iya, kan?”

♥♥♥

“Kalau nggak takut, terus kenapa lo malah pergi?”

Bukan pembelaan, yang Arga dapatkan saat menceritakan pengalamannya hari itu kepada Mbak Indah justru penghakiman.

“Lagian apa yang dikatakan teman lo itu benar lho, Ga.” Dari layar ponselnya, Arga bisa melihat Mbak Indah mengambil kapas dari wadah plastik di atas meja, lalu membubuhkan sebotol cairan di atasnya, yang kemudian dia gunakan untuk menghapus riasan di wajah kepala empatnya dengan lembut. “Memang mau sampai kapan lo mau kayak begini terus? Jangankan gue, orang luar yang nggak tahu apa-apa tentang lo saja tahu ada yang salah sama diri lo.”

Arga berdecih, menyandarkan tubuhnya ke tumpukan tas di dalam tenda istirahatnya yang kebetulan masih kosong, sebab Lebas dan Djaya, teman sekamarnya masih berpesta bersama yang lain di luar, memainkan lagu menggunakan gitar tua bersuara sumbang milik Djaya asal-asalan. Dan meskipun kelihatan seru, Arga sama sekali tak ingin bergabung bersama mereka. Tenaganya yang terbatas perlu dihemat untuk kegiatan besok pagi. Pun hari ini, setelah seharian tersesat di hutan, dia telah mengeluarkan terlalu banyak, jauh di atas kapasitas yang seharusnya.

Padahal biasanya, satu-satunya aktivitas fisik paling menguras energi yang bisa pria itu lakukan saat berada di apartemen hanyalah pemanasan pagi, itu pun tidak sampai sepuluh menit degan gerakan ringan dan nyaris tidak berarti, dan naik turun tangga saat lift mati.

Arga sama sekali tidak pernah membayangkan kalau dia harus berlari kencang menembus rimbunnya pepohonan di dalam hutan, dengan monyet lihat yang mengejar, dengan kemampuan tidak seimbang. Memang, secara kapasitas otak Arga juah lebih unggul sebagai manusia, tetapi dia makhluk asing, tidak paham medan dan tidak dirancang untuk hidup di sana. Tubuhnya sudah kadung beradaptasi dengan kehidupan perkotaan yang nyaman. Sehingga menurutnya, si monyet jauh lebih beruntung. Belum lagi dengan kemampuan hewan kecil itu untuk memanjat pohon, berlarian dari satu dahan ke dahan yang lain, bermanufer dari satu pohon ke pohon yang lain, membuat langkah cepat Arga menjadi tidak berarti sama sekali.

Tahu nasibnya terancam, Arga yang ketakutan terus berlarian. Mengeluarkan naluri bertahan hidup miliknya yang selama ini mati suri. Dia bahkan tidak menyangka kalau akan bisa melompati batang pohon ambruk berukuran besar, menarik kakinya yang sempat terperosok ke lubang yang cukup dalam tanpa berteriak dan baru merasakan rasa sakit menjalar ketika telah cukup aman. Walaupun kata aman sepertinya terlalu bagus untuk mendeskripsikan situasinya saat itu.

Memang, Arga terlepas dari si monyet liar. Sayangnya, begitu dia menengok ke sekeliling, dia tak bisa melihat apa-apa kecuali rimbunnya pepohonan di kanan dan kiri. Juga suara-suara asing di hutan yang membuat suasana semakin mencekam. Seolah-olah tempat ini berkata, mau lari ke mana kamu?

Dia tersesat.

Mata sipit Arga membulat.

Sadar situasi tak bagus, Arga yang masih terengah-engah buru-buru menghampiri batang pohon besar yang ujungnya tak bisa dia lihat saking lebatnya dedaunan di atas sana, untuk menyandarkan tangan. Lalu, perlahan dia mendekatkan punggungnya ke batang pohon sembari mencoba mengatur deru napas di dadanya yang memburu. Sesak. Haus. Dan ketakutan.

Tak mau mati konyol, Arga menaikkan lengan bajunya. Dia takut terkena malaria. Meskipun Alas Purwo secara alami bukan daerah endemik malaria, tetapi jelas Arga tak mau menyepelekan hal ini. Dan tepat saat dia hendak menggulung lengan kanannya, barulah dia sadari ada luka cukup besar di sana. Yang seolah saling terhubung, luka di kakinya juga mendadak ikut nyeri.

Sialan! Arga mengumpat pelan.

♥♥♥

Apakah dia dikutuk?

Arga yang kesal hendak membanting telepon pintarnya yang gagal menangkap sinyal, tapi urung saat mengingat harganya yang cukup mahal. Pun gawai ini sudah menemaninya selama dua tahun tanpa kendala. Toh, apakah adil membuangnya hanya karena satu kali kesalahan? Yang sebenarnya pun bukan sepenuhnya salah benda ini.

Jika ada yang pantas disalahkan, maka orang itu ialah Arga sendiri. Kenapa dia datang ke hutan? Kenapa dia ikut ekspedisi ini? Atau, kenapa dia harus lari ketika mendengar kehamilan sahabatnya sendiri? Lebih jauh lagi, kenapa dia tidak punya cukup keberanian untuk melawan ketakutan dan skenario-skenario palsu yang ironisnya belum tentu terjadi, dan membuatnya kehilangan kesempatan dicintai oleh Bella?

Bagaimana bila ternyata dulu Bella juga mencintainya? Meski kesempatan ini kecil dan terlalu mustahil, entah mengapa mendadak muncul di kepalanya. Mungkinkah menjelang kematian bisa membuat orang menjadi ..., gila? Hingga membayangkan yang tidak-tidak?

Arga mendadak panik saat mendengar suara angin yang berembus pelan, membelai kulit tubuhnya dan berhubung dia tidak mengenakan pakaian tebal, rasa dingin itu langsung menembus ke dalam tulang. Detik berikutnya, suara jangkrik, burung malam dan kebisingan dari aktivitas biodiversitas mendadak lenyap.

Sunyi.

Tanpa bangkit dari posisinya, Arga celingukan ke kanan dan ke kiri, mencoba mencerna situasi tersebut serealistis mungkin. Tidak mungkin kan dia dihantui? Bukankah hantu tidak ada? Hal-hal mistis tentang Alas Purwo –itu cuma karangan saja, kan?

Arga menyentuh lehernya sendiri, merasa dirinya sedang diawasi. Akan tetapi, tak ada satu pun manusia di sana. Yang seketika membuat pikiran buruk kembali berkecamuk di dalam kepalanya.

Bagaimana jika monyet liar itu kembali? Bagaimana bila ada binatang buas yang datang? Atau ..., hantu itu tidak nyata, kan?

Sekali lagi Arga menelan ludah kasar. Tangannya yang lain meremas tanah, meraih patahan ranting terdekat dan bersiap melakukan perlawanan bila sesuatu yang mengawasinya datang.

Semak di balik pohon besar tempatnya bersandar bergerak, memaksa Arga menoleh dengan cepat, mengintip dari balik pohon. Sampai kemudian sebuah makhluk muncul. Bukan monyet, atau harimau –ini lebih masuk akal karena sudah punah, dan kalaupun masih ada Arga juga enggan bertemu karena tak mau jadi camilan makan malam, dia masih ingin mati dan dikubur dengan layak –atau hewan buas lainnya, tapi ternyata yang berdiri di sana ialah seekor rusa.

Jantan, sepertinya.

Namun, bukan rusa biasa. Melainkan seekor rusa besar, gagah dengan tanduk bercabang tiga. Memesona.

Arga terpana. Andai dia membawa kamera, sudah pasti akan dia abadikan detik itu juga, mengingat seumur hidup belum tentu dia bisa menikmati pemandangan seindah itu.

Seolah paham tengah diperhatikan, si rusa menoleh. Makhluk itu menatapnya balik. Takut binatang itu ketakutan, Arga buru-buru menarik diri. Hanya saja, karena tak ada reaksi, Arga kembali memberanikan diri mengintip lagi. Yang ternyata si rusa masih ada, masih menatapnya, tanpa rasa takut sama sekali. Seakan mengenalinya.

♥♥♥

“Lo menangis karena seekor rusa?” tanya Mbak Indah, menghakimi sekaligus tak habis pikir. “Lo furry atau bagaimana? Gue tahu lo kelamaan menjomlo, tapi bukan berarti sama rusa juga dong, Ga. Rusa jantan pula. Yang benar saja? Gue memang nyuruh lo cari pacar, tapi yang manusia.”

Arga yang kesal melipat bibir. “Ya kali, Mbak In. Memang lo pikir gue cowok apaan?”

“Terus?” Mbak Indah mengusap wajahnya yang baru dibasuh menggunakan handuk putih, kemudian membawa gawai itu ke ruang tamu, lengkap dengan aneka kesibukan malam keluarga. “Kak, tolong itu piringnya dicuci sekalian! Kan Mama sudah bilang, kalau habis makan itu dibersihkan! Kalau nggak mau nyuci, nggak usah makan pakai piring.”

“Tega banget lo jadi emak!” komentar Arga.

“Harus digituin. Kalau terlalu sabar nanti mereka jadi kayak lo.”

“Gue?”

“Ya. Jorok. Apalagi?”

“Anjing lo!” umpat Arga. “Gue nggak separah itu juga kali.”

Mbak Indah menurunkan kedua ujung bibirnya, tersenyum kecut sekaligus penuh penghakiman. “Terus –terus, bagaimana tadi? Soal rusa jantan.”

“Yakin mau dilanjutin? Nanti lo malah meledek. Males gue kalau digituin.”

“Nggak! Nggak! Gue janji nggak bakal ngeledekin lagi.”

Arga mengubah posisi duduknya di dalam tenda menjadi duduk. “Gue merasa kami terhubung.”

“Kami?”

“Gue dan rusa itu.” Arga menatap layar ponselnya mantap, seolah sedang bicara secara langsung dengan Mbak Indah. “Gue tahu ini aneh tapi –“ Dia menyentuh dadanya sendiri. “Tatapannya –“

“Tatapannya kenapa?”

“Seperti Rian.”

“Hah?” Mbak Indah memundurkan tubuhnya dari ponsel pintar, sebelah ujung bibir dan alisnya kompak naik. “Maksudnya? Lo bilang Rian kayak rusa? Parah lo, Ga.”

“Bukan begitu!” ralat Arga. “Tapi –bagaimana yang ngomongnya?” Dia mengetuk-ketukkan ujung telunjuk kanannya ke permukaan terpal tempatnya duduk. “Boleh nggak sih gue nggak percaya ini kebetulan?”

“Nggak kebetulan?”

Arga mengangguk. “Gue merasa rusa itu dikirim langsung buat menuntun gue. Karena kayak yang gue bilang sebelumnya, tanpa dia mungkin gue nggak akan pernah bisa ketemu sama yang lainnya. Dan –” Dia menjeda kalimatnya sebentar. “Ini terlalu kebetulan untuk kebetulan paling kebetulan sekalipun. Bagaimana bisa rusa itu tahu kalau gue bagian dari rombongan mereka? Dan gue butuh pertolongan? Belum lagi fakta kalau rusa itu mendadak hilang begitu saja saat gue –“

“Tunggu!” Mbak Indah menyela. “Jadi, cuma lo yang sempat melihatnya?”

Arga mengangguk, yakin. “Iya! Iya! Gue tahu! Ada potensi kalau dia hanyalah imajinasi gue doang, tapi –“

“Gue percaya kok, Ga,” tegas Mbak Indah. “Gue percaya sama lo.”


Other Stories
Jogja With You

Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Kk

jjj ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Download Titik & Koma