12.
Menjual Kesehatan Mental Adalah Cara Terbaik Untuk Menjadi Kaya dan Gue Tidak Akan Tertipu Jualan Kapitalis Satu Ini
“Selamat pagi semuanya!” Mbak Mawar membuka apel pagi dengan penuh semangat, meskipun matahari bahkan belum terbangun. Langit masih sangat gelap, tetapi tidak kotor, malah indah oleh taburan bintang dan angin segar yang berembus dari pantai. “Seperti yang dijanjikan kemarin, pagi ini kita akan langsung menuju ke Savana Sadengan dengan berjalan kaki.
“Itulah kenapa dimohon untuk para peserta berkumpul dengan pasangannya masing-masing. Dan untuk kru –hanya tim resmi yang boleh mengambil gambar selama perjalanan, sementara kru dan pendamping pribadi, dimohon tertib. Kalau memang mau nge-vlog, nanti di Savana Sadengan. Paham?”
Yang dijawab dengan kompak oleh peserta. “Paham.”
“Dan berhubung yang kita lewati merupakan hutan, meskipun hutan sekunder, tetapi dimohon untuk tidak memiliki ide meninggalkan rombongan!” tambah Mbah Rasmo, yang jelas sekali ditujukan untuk siapa.
Lexi melirik ke samping kanannya, dan mendapati Arga yang memalingkan muka ke arah lain, seolah-olah tidak tahu sedang diperhatikan, dan sengaja menghindari tatapan darinya.
Apakah dia masih marah soal semalam? Lexi berbisik pada dirinya sendiri. Pun dia tak mau membuat keributan, atau membuat suasana semakin buruk. Terlebih setelah menyadari betapa sensi rekan satu timnya tersebut.
Candaan konyol seperti semalam saja bisa membuat Arga cemberut, lalu meninggalkannya begitu saja –lengkap dengan tikar dan obat-obatan –di tepi pantai. Tanpa kata. Tanpa pamit. Dan langsung masuk ke tenda. Tanpa keluar apalagi sempat menyantap makan malam.
♥♥♥
“Kok kamu yang mengembalikannya?” tanya Djaya ketika melihat Lexi datang ke tenda panitia guna mengembalikan barang-barang yang dibawa Arga ke tempatnya. “Arga di mana?”
Lexi menjawab, “Ya. Tidak kenapa-kenapa. Dia sudah di tendanya.”
“Apakah lukanya parah?” Djaya memberikan gelas plastik berisi kopi panas di tangannya kepada Lexi. “Ambil saja, nanti aku ambil lagi.”
“Terima kasih,” ucap Lexi, senang. “Sebenarnya tidak begitu parah tapi lumayan bisa membuat sakit. Sejujurnya, akan lebih baik kalau diberi sedikit jahitan.”
Djaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Semua orang di sini memujanya. Jadi, kupikir itu membuatnya merasa –kau tahu? Sedikit besar kepala.”
Tawa Lexi pecah. “Memang.”
“Oh iya, mau bergabung bersama yang lain?”
“Bernyanyi? Kenapa tidak?”
♥♥♥
Langkah Arga yang pelan membuat Lexi beberapa kali harus menoleh ke belakang, memastikan supaya rekan satu timnya itu tidak tertinggal. Sementara rombongan semakin cepat, mengejar matahari terbit di titik yang ditentukan. Untungnya, ada Djaya dan Lebas yang mengimbangi mereka.
“Dia kenapa sih? Lemot banget,” kata Lebas setengah bercanda.
Lexi menggeleng. “Kalau kata yang lain sih, sedang mencari inspirasi.”
“Yang lain? Kamala dan teman-temannya, maksudmu?” Djaya menyipitkan mata. Membuat ketiganya kompak tertawa. “Apa pun yang dilakukan Arga akan selalu dipandang positif oleh para gadis itu. Mereka menganggap si Pangeran seperti nabi yang mendapatkan wahyu langsung dari Ilahi.”
“Pangeran?”
“Kami, para pria, diam-diam memberinya julukan itu,” bisik Lebas.
Lexi cekikikan. “Masuk akal!”
“Kan. Pangeran yang dipuja semua gadis.”
“Tapi membuat para cowok ingin meninjunya setiap waktu!” sambung Djaya. “Dia terlalu menyedot energi. Semua perhatian perempuan tertuju padanya. Dia membuat kami, para cowok kehilangan kesempatan tampil.” Ini jelas guyonan, Djaya membuat kedua kawannya tak bisa menahan diri.
“Aku rasa memang begitu.” Lexi mengangguk, pura-pura memasang wajah prihatin. “Dia terlalu bersinar, tapi seperti kebanyakan lampu, sorot yang terlalu tajam membuat mata cepat lelah.”
“Eh, orangnya mendekat itu!” Lebas memberi isyarat lewat matanya, membuat kedua rekannya spontan mengikuti arah yang dia tunjuk. Tidak lama, yang dimaksud mendekat, melintasi mereka seakan tidak melihat apa-apa. “Gila. Kita dianggap pohon kali ya?” lanjut pemuda berambut cepak tersebut diiringi tawa, yang juga disambut oleh Lexi dan Djaya dengan kompak.
Lantas, ketiganya pun ikut mempercepat langkah. Sayangnya, baru beberapa detik keberadaan Arga sudah tidak terlihat. Pemuda itu menerobos ke barisan depan.
“Yaelah, ditungguin malah ninggal. Benar-benar nggak tahu terima kasih,” gerutu Djaya, kesal.
Lebas mengangguk, setuju. “Mentang-mentang pa-nge-ran!” katanya dengan ekspresi dilebih-lebihkan. “Ya sudah yuk, kita percepat jalan. Mumpung si Pangeran sudah bisa jalan sendiri.”
♥♥♥
Di balik gelapnya hutan tropis dan ditemani senter yang terpasang di atas kepala, Arga bisa merasakan jejak binatang malam yang tertinggal di malam sebelumnya. Sementara tangannya memegang kamera menggunakan mode malam, matanya awas mengawasi sekeliling, berharap bisa menemukan rusa bertanduk tiga yang kemarin menolongnya.
Tak hanya ingin mengabadikan, Arga juga berharap bisa memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah kenyataan, bukan hal mistis atau semacamnya. Akan tetapi, bahkan seiring masuknya cahaya hangat mentari di sela-sela pepohonan, yang memantulkan keindahan alam bak lukisan yang dibuat oleh seniman hebat bernama Tuhan, hingga akhirnya dekat dengan lokasi tujuan, tak ada tanda-tanda makhluk itu akan muncul.
Nihil.
Namun, karena tak mau usahanya sia-sia, Arga pun mengambil beberapa jepret gambar sebagai kenang-kenangan, yang rencananya akan dia pamerkan kepada Rian saat pulang nanti. Sebab dia tahu pasti betapa tergila-gilanya sahabatnya itu pada alam liar, meskipun sampai usianya hampir kepala tiga, satu-satunya hutan yang pernah dia kunjungi selama hidup adalah Kebun Raya Bogor.
“Bukan karena nggak mau atau takut, tapi kan lo tahu sendiri nyokap gue kayak bagaimana?” Suara gerutu Rian terdengar di kepala Arga. “Pernah ini pas gue masih SMP, gue diajak Om Tio, adiknya nyokap, dan teman-temannya buat naik ke gunung Turgo. Karena katanya di sana ada jalur hutan kecil yang bisa bikin kami bisa melihat Merapi lebih dekat. Tempatnya juga aman, banyak mahasiswa pecinta alam yang sering datang ke sana, tapi nyokap gue malah,” Rian menjeda kalimatnya, menegakkan punggung lalu bersiap meniru gaya bicara sang mama, “Rian, jangan sekali-sekali kamu masuk ke sana ya! Mama tidak mau kamu hilang diculik demit. Apalagi di sana itu tempatnya wingit. Kamu anak laki-laki Mama satu-satunya. Mama tidak rela kehilangan kamu, Rian.”
“Kalau gue jadi nyokap lo sih pasti malah senang,” sahut Rangga dari kursi ruang tamu, membuat kedua sahabatnya yang duduk di teras rumah Arga menoleh ke dalam. “Ya, hitung-hitung ngurangin jatah nasi.”
“Itu mah curhatan hatimu, Ngga!”
Rangga tertawa, renyah dan melemparkan kulit kacang ke arah Rian yang persis ada di mulut pintu. “Astaga. Jujur sekali Anda, Kisanak?”
“Maklum, Ngga. Dia kan anak kesayangan maminya.” Arga meledek.
Yang Rangga balas anggukan, tak kalah meremehkan. “Anak laki-laki satu-satunya.”
“Jangan lupa –“
“Ningrat. Nanti darah birunya hilang.”
“Tapi kalau gue jadi setan, kayaknya gue ogah deh nyulik Rian.”
“Kenapa, Mas?”
“Benar kata lo tadi. Makannya banyak.”
“Tahi lo berdua!” Rian yang tak terima menubruk Arga, berpura-pura mencekiknya, yang langsung dibela oleh Rangga.
Ketiganya yang kala itu masih remaja bertumpuk-tumpukan, berisik dan tak lama kemudian memaksa Bu Fatima keluar dari ruang laundry di sebelah sembari membawa segepok gantungan baju. “Diam atau Mama lempar ini hanger ke kalian! Sudah besar juga, masih saja kelakuan kayak anak-anak.”
“Hiyak!” Dari belakang Bu Fatima, David kecil muncul memakai baju bergambar Spiderman. “Kameha! Meha! Tak pentung Mas Arga!” Dia berlari, menghantam ketiga remaja yang menyambutnya tak kalah heboh.
“Kon iku apa sih, Dave? Spiderman apa Son Goku?” Arga menepuk jidat bocah bermata besar itu dengan jarinya.
David meringis. “Aku Superman!” Dia berteriak, mengangkat kedua tangan lebar. Tapi sebelum sempat berkata lebih panjang, Rangga dan Rian menariknya ke pelukan, mengakhiri atraksi si bocah pahlawan super dengan gelitikan.
♥♥♥
Mata Lexi bisa menangkap perubahan dari langit di ufuk timur, dari yang awalnya kebiruan perlahan menjadi keemasan. Bersamaan dengan masuknya sinar matahari yang perlahan-lahan menembus sela-sela pohon. Suara serangga yang sebelumnya mendominasi di kegelapan, perlahan hilang dan digantikan nyanyian burung-burung pagi.
Momen saat cahaya mentari datang menyapu hutan mendadak membuat Lexi terlempar ke dunia peri. Imajinasi mana pun tak akan mampu melukiskan betapa besar kuasa Tuhan.
Lexi menarik napas panjang, membiarkan paru-paru kotornya diisi udara sejuk yang saking indahnya membuat dirinya melayang.
Buru-buru Lexi berlari, menyusul teman-temannya yang beberapa langkah lebih cepat sampai di Savana. Meskipun kabut tipis masih menyelimuti padang rumput, tetapi siluet dari binatang-binatang liar di kejauhan sudah tergambar jelas, melenggak-lenggok dengan latar cahaya keemasan pagi.
Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Dan memang benar, Tuhan tidak pernah salah dalam membuat karya.
“Baiklah, semuanya ayo berkumpul!” Mbak Mawar menepuk-nepukkan tangannya, meminta para peserta mendekat ke arahnya. “Selamat menikmati pemandangan luar biasa ini, tetapi ingat! Kalian di sini bukan hanya untuk berlibur melainkan untuk menjalankan kewajiban.
“Singkat saja, sesuai kesepakatan kemarin kalian silakan berkumpul dengan pasangan masing-masing dan bebas memilih apa pun yang ingin kalian jadikan inspirasi nantinya. Rekam, tulis dan imajinasikan. Tetapi jangan mengganggu binatang secara langsung apalagi membuat keributan. Paham?”
“Paham, Kak!” Seluruh peserta menjawab, kompak.
“Dan saya harap kalian menghormati alam sama seperti kalian menghormati manusia,” sambung Mbah Rasmo, serius.
Begitu dipersilakan, Lexi segera mencari lokasi yang aman. Tak lupa, dia menarik tangan Arga, yang lagi dan lagi tampak tidak menyimak untuk mencari tempat aman.
“Menurutmu, baiknya kita pilih hewan apa untuk dijadikan inspirasi?” tanya Lexi, serius.
Arga masih sambil celingukan menjawab, “Terserah.”
“Banteng? Rusa? Atau merak?”
“Terserah lo saja deh, bagaimana gampangnya. Gue ikut!” Arga malah memotret ke arah hutan yang gelap di belakang mereka.
“Lo mau kita memotret bagian dalam hutan?”
“Hah?” Arga menaikkan alisnya, bingung. “Oh. Nggak. Tugas kita ke ..., savana, kan? Ya sudah, yang di sana berarti.”
“Oke!” Lexi mencoba percaya. “Oh iya, buat menghemat baterai, bagaimana kalau kita pakai kamera aku dulu? Kamera kamu dipakai nanti saja. Apalagi perjalanan kita masih pajang, kan?”
Arga mengangguk, kecil. “Boleh. Nggak apa. Ide bagus.”
♥♥♥
“Ide bagus? Ide bagus, katanya?” Reaksi emosional Lexi membuat sang adik di sambungan telepon menyerngitkan dahi. “Bagaimana bisa dia bilang itu ide bagus kalau dia sendiri saja tidak fokus?
“Sekarang kamu bayangkan, di saat kelompok lain kompak mengobservasi binatang, aku malah sendirian. Punya pasangan atau tidak, sama sekali tidak ada bedanya. Karena pangeran kita satu itu malah keliling-keliling nggak jelas. Padahal kami diberi beban berat oleh panitia mengingat statusnya sebagai penulis utama.”
Bianca mengayun-ayunkan bayi di pelukannya. “Terus, bagaimana?”
“Ya nggak bagaimana-bagaimana!” Lexi mengeluh. “Tidak ada pilihan, daripada ribut dan menjadi pusat perhatian, aku akhirnya diam dan mengambil dokumentasi sendirian.”
“Dia?”
Lexi berselonjor kaki, melirik ke arah Arga yang sekarang sedang berjalan di tepian pantai, tidak jauh dari posisinya. Sementara jemari lentik perempuan muda itu sibuk memainkan pasir. “Jangan ditanya. Bahkan sampai sekarang pun aku masih tidak paham apa yang dia lakukan. Dari tadi dia keliling-keliling nggak jelas, matanya jelalatan ke mana-mana, seolah sedang mencari sesuatu tapi setiap ditanya jawabannya hanya ..., bukan apa-apa.”
“Jangan-jangan dia kesambet roh penunggu hutan, kali?”
Ucapan spontan Bianca membuat Lexi tertawa. “Mungkin ya. Salah sendiri jadi orang tidak ada sopan santunnya.” Lalu, mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, kamera di tangannya di dekatkan ke muka. “Malah ini ya, waktu tadi kami mampir dan meditasi di goa istana –yang kental akan nuansa mistis,” dia menjeda kalimat, melirik sebentar ke arah Arga. “Aku tahu dia tidak percaya hal gaib tapi masa iya dia malah keluyuran sendirian, lagi? Seakan tidak ada kapoknya. Padahal dia kan sempat hilang ya.
“Belum lagi soal kamera. Padahal aku sudah bilang supaya dia tidak menyalakan kameranya, biar pas butuh bisa digunakan. Apalagi aku tidak bawa baterai cadangan karena ketinggalan di dalam bus. Tapi kamu tahu apa yang dilakukan oleh manusia satu itu?”
Bianca menggeleng. “Memangnya apa?”
Lexi kembali menghela napas panjang nun berat. Seolah di atas kepalanya ditumpuki batu berat yang menekan dan membuat paru-parunya sesak. “Dia malah tidak berhenti mengambil gambar tidak berguna. Dan benar saja, baterainya habis. Mati total. Alhasil, kami harus mengambil gambar menggunakan ponsel. Untung saja kamera ponselnya lumayan bagus.”
“Ya ampun.” Bianca tertawa, renyah sekali. “Sabar-sabarin deh, Kak. Cuma sepuluh hari, kan?”
Lexi menjawab, putus asa. “Harus sabar dong. Harus semangat.” Dia mengangkat sebelah bahu, menunjukkan otot lengannya yang tidak seberapa besar itu. “Sudah ya, Bi. I have to continue this fun little journey with the most annoying teammate ever. I’ll update you if anything interesting happens later. Say hi to everyone at home for me, okay? Da-dah!” Tak lupa dia melambaikan tangan ke kamera.
Yang dibalas oleh Bianca. “Hati-hati ya. Aku tunggu kabar selanjutnya.”
Klik.
Panggilan diakhiri, layar dimatikan.
Setelah memastikan ponselnya mati, Lexi buru-buru memasukkan benda itu ke dalam tas, kemudian berdiri dan berlari kecil menghampiri Arga.
“Kamu lagi apa?” tanya Lexi, basa-basi.
Arga menoleh sebentar, tetapi dengan cepat mengalihkan pandang ke arah hutan, lagi. “Kelihatannya, lagi apa?”
“Kayak orang bingung.”
“Maksudnya?” Arga menoleh cepat. “Bukannya terbalik? Lebih bingung mana, gue atau kalian yang mau dibodoh-bodohi perjalanan spiritual nggak masuk akal?” Dia tertawa kecil, ironi. “Makhluk mistis apanya? Pemulihan apanya? Yang ada kita cuma dipermainkan sama pemerintah yang maunya buang-buang anggaran. Tahi lah.”
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...