(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

16.

Banyak Manusia Dengan Gampang Mengatakan Kalau Mereka Siap Menyambut Kematian, Tapi Faktanya Bila Kematian Benar-benar Ada di Depan Mata, Hanya Sedikit yang Berani Menyambutnya

“Lo hafal dialog itu?”

Lexi menjawab bangga, “Of course.” Dia melempar pakaiannya sendiri ke dalam api, supaya tak mati. “Kemarin di kamp, teman-teman bilang bahwa hutan ini bisa menyesatkan orang. Hutan ini hidup dan akan menyeret siapa pun yang hatinya sakit. Mungkin ini karma buat kita.”

“Maksudnya?” Arga penasaran.

Lexi diam, menggeleng. “Tidak jadi deh. Kan kamu tidak percaya mistis.”

“Sekarang gue percaya.” Dia terkekeh, memecah suasana. “Setelah hantu tadi!”

Mau tak mau, Lexi ikut tergelak. “Jadi, aku merasa bahwa mungkin kita berdua terlalu sakit untuk hutan ini. Aku lari dari kenyataan. Lari dari fakta bahwa Papa tidak akan kembali lagi ke dunia. Sementara kamu –“

“Gue apa?”

“Lari dari Ellia.”

♥♥♥

Tapi, kenapa?

Kenapa Arga harus lari?

Bukankah ini sama saja dia menyangkal pendapatnya sendiri?

Sayangnya, Arga tidak sekuat itu. Dia manusia biasa. Dia bisa terluka. Ucapannya bisa mengambang di mulut saja. Meski segala usaha telah dia upayakan sebaik mungkin. Nyatanya, kehamilan Bella tidak hanya menampar wajahnya, melainkan seluruh hidupnya, lagi dan lagi, untuk ketiga kalinya.

“Bella hamil!” Itu pengumuman pertama yang dibuat Rian, persis sebulan setelah keduanya menikah, saat mereka sedang menikmati makan malam bersama di rumah nenek Bella.

Yang segera mendapat sorak bahagia dari semua orang, termasuk Arga dalam kepura-puraannya. “Wah, selamat ya.”

“Kalian akan punya keponakan kecil dari sini.” Rian mengelus perut istrinya yang belum buncit, kemudian menciumnya. “Ya, Sayang? Lihat, yang penampilannya mirip ukhti-ukhti ini Tante Ica, yang mirip petinggi VOC ini Om Rangga, dan yang baik hati ini Om Arga.”

“Kenapa lo bilang muka gue mirip VOC? Dia bahkan nggak tahu apa itu VOC.” Rangga yang tidak terima memukul lengan Rian, mengundang gelak dari yang lain. “Nggak ya, Dedek Bayi. Om bukan VOC kok. Ini bapakmu saja yang kurang asem. Jangan kayak bapakmu ya kalau lahir nanti.”

Belum sempat lamunan membawa Arga terlalu jauh, mendadak pria berpakaian compang-camping itu merasakan isi perutnya didorong dari dalam. Tanpa sempat pindah posisi, dia mengeluarkan seluruh buah yang dia makan. Membuat Lexi yang sudah tidur terbangun.

“Ga, kenapa?”

Arga hendak menjawab terlebih dahulu muntah, lagi. Malah semakin parah. Seolah-olah perutnya dikuras habis.

Lexi yang panik memijat tengkuk Arga, mencoba menghentikan. Tak berhasil, dia mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan ke perut dan dada Arga. “Kamu kenapa? Masuk angin?”

Sayangnya, tidak.

Karena menit berikutnya, Lexi ikut muntah. Parah. Keduanya keracunan.

♥♥♥

Apakah seperti ini rasanya ..., akan mati?

Arga tidak atau lebih tepatnya belum pernah merasakan nyawanya benar-benar diujung kerongkongan, setidaknya sebelum hari ini. Di saat seluruh jari-jarinya mendadak kaku, kesemutan seolah ada sengatan listrik kecil kebiru-biruan yang keluar dari sana. Belum lagi sensasi aneh yang membuat dunia seperti diputar paksa, membuat pohon dan dedaunan di sekitar mereka seolah menari-nari, mengikuti lidah dari api unggun yang cahayanya mulai redup karena tak diberi sumber daya itu. Jangankan mengambil kayu atau baju untuk dilempar ke tengah api unggun, untuk sekadar menegakkan punggung saja mereka tidak bisa.

Tubuh Arga terkapar. Dia bisa merasakan air liurnya sendiri menetes melewati pipi sebelum jatuh ke atas tanah basah, mengundang puluhan semut hitam yang berjalan-jalan di permukaan kulitnya. Sementara Lexi yang setidaknya masih bisa duduk, bersandar pada pohon juga tak jauh beda.

Mata mereka beberapa kali bertemu, sayangnya, tak ada yang bisa dilakukan. Keduanya seakan dipaksa menunggu ajal yang sebentar lagi akan segera tiba.

Arga menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang mulai sesak dengan oksigen sebanyak yang dia bisa. Matanya yang setengah sadar –karena sesekali pandangannya hilang, muncul dan hilang, macam televisi yang sengaja dinyala-matikan –menoleh ke arah kegelapan di depan.

Berhubung telinga dan pipinya menyentuh tanah, Arga bisa merasakan getaran dari kejauhan, merambat di antara rerumputan, mendekat padanya. Dan benar saja, detik berikutnya Arga melihat semak di kejauhan bergerak-gerak.

Di sisi lain, Lexi merintih. Gadis itu menendang kaki Arga, lalu memberi kode lewat matanya ke arah kedatangan sesuatu tersebut. Jelas sekali Lexi ketakutan setengah mati.

Arga menggeleng, sangat lemah, meminta Lexi tenang. “Gue tahu lo takut, tapi dengan kondisi kita seperti ini, cepat atau lambat kita akan mati.”

Pernyataan Arga membuat Lexi kembali merengek. “Kenapa sih kamu harus bawa buah berry tadi? Benar-benar ya. Kamu memang menyesatkan. Pokoknya kalau aku mati malam ini, aku akan mengejarmu sampai ke neraka. Aku tidak ikhlas.”

“Iya. Silakan saja. Tapi tolong jangan berisik,” pinta Arga. “Paling nggak kalau kita mati, tubuh kita utuh. Mati keracunan lebih baik daripada mati diterkam binatang buas. Kan?”

“Persetan dengan itu, toh, kalau kita mati pun tak ada jaminan mayat kita tidak akan dimakan binatang buas.”

“Persetan? Sudah lama gue nggak dengar kata itu,” kekeh Arga, mencoba memecah suasana. “Ya paling nggak, kita nggak merasakan sakit saat sudah jadi mayat.”

Lexi terisak, pedih.

Arga mencoba memutar kepalanya, meski sangat berat. “Maaf ya, Lex.”

“Buat?”

“Karena gue bikin kita mati kayak begini,” ucap Arga membuat rekan satu timnya tersebut terkejut, bukan main. “Lo benar, gue memang biang masalah dan egois.”

Lexi mengangguk, mengamini pernyataan Arga. “Aku juga,” dia menjeda kalimatnya untuk menatap mata Arga. “Di saat seperti ini, tidak seharusnya kita bertengkar apalagi saling menyalahkan.” Dia menyedot ingusnya sebelum jatuh. “Memang siapa sih yang mau tersesat di hutan?”

Arga terdiam, membiarkan Lexi kembali bicara.

“Dan kalau dipikir-pikir, jangan-jangan hutan ini memang sengaja menjebak kita.”

“Bagaimana?” ulang Arga, tak paham.

Lexi melirik ke atas, ke arah langit yang sebenarnya sama saja tidak kelihatan karena rimbunnya dedaunan di atas meja. “Hutan ini hidup.”

“Masih percaya mitos?” sindir Arga.

“Katamu, kamu mulai percaya mistis sejak siang tadi?”

Merasa kalah, Arga tertawa. Keras. Sangat keras. Toh, dia tak tahu lagi apakah masih bisa tertawa ke depannya. “Ya. Gue percaya. Gue percaya hutan menyedot energi negatif dari pria patah hati satu ini.”

“Bukan cuma kamu, aku juga,” ungkap Lexi. “Aku terlalu ingin dapat hadiah. Terlalu ingin mengabadikan segala sesuatu. Terlalu ingin membuktikan pada papaku. Tapi yang paling buruk dari semua itu, saat sekarat begini, kita baru ingat bahwa selama ini terlalu banyak lari.”

♥♥♥

Terlalu banyak lari.

Ingatan Arga jatuh ke beberapa tahun sebelumnya, lebih tepatnya saat dia masih remaja, mengenakan kaos olahraga dan berlari kecil menyusuri jalanan kampung tempatnya tinggal, pemukiman padat penduduk dengan segala macam kebisingan perkotaan sembari menggunakan earphone, mendengarkan musik dari saluran radio remaja.

Langkahnya cepat, santai tetapi konsisten. Hingga dia menurunkan kecepatan, bukan hanya karena akan melewati tikungan, sekaligus sampai di rumahnya, melainkan juga keberadaan seseorang. Pria muda berseragam olahraga yang melambaikan tangan ke arahnya.

“Dari mana lo?” Arga melepaskan aerphone-nya.

Yang ditanya nyengir, mengangkat tas plastik berlogo salah satu pusat perbelanjaan di tangannya. “Antar cucian.”

“Oh. Ya sudah, langsung masuk saja.”

Rian menggeleng. “Nggak deh.”

“Kenapa?” Arga mengentak-entakkan kakinya ke udara, lalu berjalan ke arah bangku kayu persis di seberang rumahnya.

“Tunggu Bella,” jawab Rian, masih memamerkan gigi putihnya yang berjajar rapi. “Dia masih nganter cucian. Baru saja boncengan sama Nisa.”

Arga geleng-geleng. “Ya ampun, Ian. Masuk saja. Nanti tunggu Bella sambil –“

“Eh, nggak bisa!” Rian memotong, tegas tetapi juga polos. “Kalau gue masuk sekarang, Bella nanti nggak mau ngobrol sama gue –astaga Dragonball, Tante Ima?”

“Heh?”

“Mas Arga!” Rian menunjuk ke teras belakang rumah Arga, yang bisa dijangkau dari posisi mereka, menampilkan wanita paruh baya berkerudung cokelat berjalan sembari membawa sapu lidi kecil di tangan.

Arga berdiri, hendak lari.

“STOP!” Bu Fatimah berteriak, sangat kencang sampai bisa mengguncang dunia kecil perkampungan padat penduduk tersebut. “Argantara Ramadhani, Mama kan sudah bilang, sebelum keluar kamarmu dibersihkan dulu! Kenapa itu handuk basah kamu taruh begitu saja di atas kasur? Kamu mau kasurmu berjamur? Begitu?”

“Aduh! Ampun, Ma!” pintanya persis ketika sapu lidi menghantam pantatnya. “Sakit, Ma! Iya, nanti Arga bereskan!”

“Nanti? Nanti kapan?” oceh Bu Fatimah. “Sampai dunia kiamat juga nggak akan kamu bersihkan. Iris kuping Mama kalau nggak percaya!” lanjutnya dramatis. “Benar-benar ini anak ya. Rian saja kalau mau keluar dibersihkan dulu kamarnya, ya kan, Ian?”

Yang ditodong kaget, tapi dengan cepat mengangguk. “I –iya, Tante.”

“Kok Mama tahu?”

“Ya jelas tahulah. Apa di dunia ini yang Mama tidak tahu?”

Benar. Mamanya selalu tahu. Segalanya.

Air mata Arga menetes seiring kaburnya ingatan tentang sang ibu. Bahkan di ujung kehidupannya ini pun, satu-satunya orang yang paling dia rindukan adalah mamanya.

“Mama!” gumamnya, sangat pelan dan lemah. Mulutnya semakin kering. “Mama.”

“Dad!” Lexi juga merintih, tak kalah pilu. “I’m sorry, Dad. I love you.”

Arga menoleh. “Lex, lo bisa ambilin tas gue?”

“Kenapa?”

“Gue mau menghubungi nyokap gue.”

“Di sini gak ada sinyal. Percuma.”

Arga bersusah payah menelan ludah. “Gue tahu. Gue cuma mau minta maaf. Siapa tahu kalau mayat kita ditemukan nanti, dan ponsel ini dibawa keluar hutan, pesannya bisa terkirim. Paling nggak gue bisa ..., gue merasa ..., gue punya banyak dosa ke beliau.”

♥♥♥

Semakin malam, semakin gelap, semakin dekat pula mereka dengan kematian.

Tak hanya sakit secara fisik, Arga juga merasa halusinasinya semakin parah. Karena dari arah seberang, semak-semak semakin keras bergerak. Mengeluarkan rusa bertanduk tiga, yang berjalan sangat pelan ke arah mereka.

Di sisi lain, Lexi yang duduk di sebelahnya juga mulai putus asa. Gadis itu berkata bahwa sosok di depannya bukanlah seekor rusa, melainkan mendiang ayahnya.

“Apakah mungkin ini wujud malaikat maut?” tebak Arga.

Lexi menjawab, “Entahlah. Tapi kalau memang iya, aku harap kita mati dengan tenang.”

“Ya Allah,” ucap Arga, pasrah. “Kalau memang sudah waktuku, ampuni hamba. Tolong jangan beri aku siksa kubur ya, Allah.”

“Tapi kan kita tidak dikubur, Ga.”

Pernyataan Lexi benar, tapi langsung membuat Arga menoleh, sinis. “Ya sudah, siksa di atas tanah.”

“Bercanda, Ga,” kekeh Lexi.

“Sekarat masih bercanda,” gerutu Arga. “Hukum Lexi saja, ya Allah.”

“Jangan, ya Allah. Arga saja.”

Keduanya tertawa, keras tetapi detik berikutnya berubah menjadi tangisan pilu.

“Maafin gue ya, Lex.”

“Aku juga, Ga.”

“Gue banyak salah sama lo. Gue belum jadi teman satu tim yang baik.”

“Aku juga. Aku janji tidak akan bongkar rahasiamu.”

Di mata Arga, rusa jantan itu semakin mendekat. Lalu, mengendus-endus tubuhnya. Begitu pun dengan Lexi, dia bisa merasakan tangan sang ayah menyentuh wajahnya, dingin dan berlendir.

Setelahnya, semua gelap.

Dan –PLAK!

Cahaya langsung masuk ke iris mata Arga persis setelah kembali terbuka. Menampilkan sosok Mbak Mawar yang duduk berjongkok di depannya. Terlihat sekali mata wanita itu memerah, menahan amarah.

“Bisa-bisanya kalian berdua. Pelor banget jadi orang.”

“Pe –“

“Pelor?” Lexi menjawab dari samping kanan Arga, tak kalah bingung. “Maksudnya?”

“Aku yang harusnya tanya ke kalian, apa maksudnya disuruh istirahat malah tidur?” Mbak Mawar berdiri, berjalan menjauhi keduanya. “Ayo jalan lagi.”

Hah?

Arga dan Lexi bertatap-tatapan, bingung.

Keduanya saling memperhatikan satu sama lain.

Tak ada yang berubah. Penampilan Lexi masih rapi seperti pagi sebelumnya, Arga pun sama. Bahkan botol minum Arga juga masih setengah penuh. Jam di tangan Lexi juga masih menunjukkan tanggal sehari sebelumnya, hari ketiga ekspedisi. Di jam delapan dua belas. Persis.

Tanpa berkata apa-apa keduanya sepakat untuk berdiri, lalu mengejar peserta lain yang lebih dulu berjalan. 


Other Stories
Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Cuti Untuk Pikiran

Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk bena ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Liburan Di Pulau Terpilih

Setelah putus cinta yang menghancurkan, Anna Mariana mencoba menjalani hari-harinya dalam ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Download Titik & Koma