18. Laut Dan Cerita-cerita Indie, Lagi?
Setelah mandi dan membereskan barang-barang, Lexi mengikuti kawan-kawan perempuan untuk menuju shelter yang akan mereka jadikan tempat beristirahat. Meskipun tanda dinding, tetapi paling tidak tempat ini cukup nyaman untuk dijadikan tempat merebahkan punggung setelah seharian beraktivitas. Bahkan Kamala yang biasanya aktif saja sudah hilang ke alam mimpi, lengkap dengan suara dengkuran keras di atas tumpukan handuk basah yang sebelumnya digunakan mengeringkan rambut.
“Tumben?”
Ucapan Merida sontak membuat Lexi menoleh ke arah pemilik rambut keriting yang sekarang dibiarkan terurai itu. “Arga, maksudnya?”
“Siapa lagi?” jawab Merida, dia mendekat dan duduk di samping Lexi, tidak lupa menyisir rambut dengan sisi kecil tanpa gagang yang biasa digunakan oleh mereka yang punya rambut keriting mengembang. “Padahal biasanya kaku banget. Kemarin saja malah merekam sendiri. Nggak bisa diajak kerja sama, katamu.”
“Entahlah. Kesambet setan hutan, mungkin.”
“Hust! Nggak boleh bicara begitu di sini!” Merida menepuk lengan Lexi, lalu mengembalikan sisir ke dalam tas. “Ya sudah, gue mau ambil teh ke tenda dapur umum dulu. Ikut?”
Lexi menggeleng. “Aku nanti saja.”
“Oke. Duluan ya. Sama tolong, titip tas gue ya.”
Sepeninggal Merida, Lexi yang juga sama lelahnya memutuskan ikut berbaring di sebelah Kamala. Akan tetapi, dia alih-alih handuk basah, Lexi yang tak mau masuk angin memilih tas sebagai pengganjal kepala, sebelum mengambil kameranya, guna mengecek hasil rekaman tadi siang.
Pada bagian awal, pandangan Lexi tertuju pada salinan laut yang dihiasi ombak. Gambar tersebut dia ambil sebelum kawan yang dia tunggu datang, bersama rombongan pembawa logistik.
“Aku kira kamu hilang di hutan,” kata Lexi dengan niat menyindir.
Tak seperti biasanya, Arga justru bertanya, “Mau pakai kameramu atau kameraku?”
“Punyaku saja, tidak apa-apa. Mumpung ada, dan tidak perlu bolak-balik.” Lexi berjalan ke arah pantai, sementara Arga dengan setia mendampingi. “Aku berpikir kalau akan bagus untuk tulisan kita seandainya mengambil tema yang lebih dekat dengan pemulihan, tapi kamu sepertinya tidak akan tertarik.”
“Kenapa?”
“Kenapa?” Lexi berbalik, menatap Arga muak. “Bukankah kamu sendiri yang bilang orang-orang di sini sok sakral?”
Arga tersentak, sebentar. Namun, mukanya dengan cepat berganti menjadi senyuman tipis. “Nggak apa-apa kok. Yang penting bagus. Gue setuju-setuju saja. Jadi, kita mau ke mana? Mau menggali inspirasi di mana? Gue akan bantu sebisa gue. Sebaik mungkin.”
“Serius?” Lexi justru memberi tatapan tak percaya. Kaget. Tapi juga ragu.
♥♥♥
Kamera menyorot Pak Juna, yang sedang menyedot lintingan tembakau. Di belakangnya tampak lautan dan langit biru yang memanjakan mata. “Mbak, Mas, lautan ini sebenarnya bukan sekadar air semata. Tetapi juga simbol kehidupan. Pun dengan gelombang, ini bukan hanya gulungan air yang tidak bermakna, melainkan simbol perjalanan alam dan hubungannya dengan manusia.”
“Maksudnya, Pak?” Arga mengarahkan kameranya pada Lexi, selaku pewawancara.
Pak Juna tertawa, mengisap kembali tembakau dan memainkan di mulutnya. “Lautan ini seperti kehidupan.” Beliau berbalik, menyongsong angin laut yang menerpa wajahnya, membawa aroma garam. “Kadang dia tenang, kadang dia berisik, kadang indah tapi juga kadang sangat mematikan. Seperti manusia, bukan?” Lalu, menoleh ke sepasang manusia tersebut. “Kalian juga, kan? Bahkan tak kalah dari manusia, laut pun juga bisa berpura-pura. Menyembunyikan kekuatan dan ketakutan sebenarnya dari orang lain.”
Arga yang sedang memegang kamera, nyengir kering.
“Kalau ombak, Pak?” lanjut Lexi.
Pak Juna mendesis, pelan. “Ombak. Gelombang. Perjalanan. Tidak akan pernah datang sendirian. Sama seperti hubungan manusia dan alam, keduanya selalu bersama, disadari atau tidak. Bila ada yang pergi, maka semua akan hancur. Sistem tidak akan berjalan dengan baik. Kerusakan alam, pasti akan berdampak pada manusia.”
Lexi manggut-manggut. “Itu yang kadang dilupakan oleh manusia ya, Pak.”
“Benar sekali, Mbak. Jangankan membaca kode alam, membaca dirinya sendiri saja kadang manusia tidak bisa.” Candaan Pak Juna membuat keduanya mau tak mau tertawa kering agar suasana tidak kikuk. “Banyak manusia mengira ketika ombak datang dalam hidupnya itu bentuk kejahatan Tuhan, tapi percayalah itu tanda agar kita kembali pada diri sendiri.
“Kalian mungkin sebagai manusia muda sering kali kehilangan kesabaran, sering merasa terlalu lelah, atau mungkin merasa bersalah saat cobaan datang. Tapi seperti ombak, kehidupan tidak seharusnya dilawan. Cukup nikmati. Ada kalanya kita tenggelam, ada kalanya terlempar ke atas, ada kalanya juga menghantam karang.
“Seperti pandemi sekarang ini. Kita sebagai manusia sedang diuji oleh Tuhan dalam gelombang yang sangat besar. Bersama-sama. Tapi bukan tanpa alasan, bisa saja itu teguran supaya kita dasar kalau selama ini, kita manusia terlalu banyak merusak, dan Gusti Allah sedang memberi alam waktu kembali untuk sendiri, bernapas tanpa kita.”
Klik.
Rekaman dimatikan, diganti dengan rekaman lain yang menampilkan Mbah Wagiman, mantan penjaga pantai yang berkunjung siang tadi untuk menyapa para peserta. “Kalau perkara laut, semua laut juga sama. Tapi di sini, di pantai ini, ombak terkadang datang bukan karena angin.”
“Lalu, karena apa, Mbah?” tanya Lexi, serius.
Mbah Wagiman tersenyum. “Karena dia ingin.”
“Dia?”
Mbah Wagiman menatap langit biru di atas mereka, yang buru-buru mata Lexi dan lensa kamera di tangan Arga ikuti. “Banyak orang datang ke sini dengan niat menaklukkan ombak. Padahal ombaklah yang mengundang mereka.”
“Eh, Mbah, di sini pernah ada yang hilang, tidak?” Arga menyahut dari balik kamera. Suaranya saja yang terdengar.
“Tentu. Apalagi bila mereka tidak pandai berenang. Laut lepas seperti Plengkung ini tidak selalu cocok untuk semua orang.”
“Bukan, Mbah. Bukan itu maksud saya!” ralat Arga. “Maksud saya, yang hilangnya bukan di laut.”
Mbah Wagiman dan Lexi menyipitkan mata, kompak. Kepala mereka sama-sama agak miring.
“Semacam ..., masuk ke dimensi lain.” Suara Arga menurun, malu.
Mbah Wagiman menjawab, serius. “Kamu mau jawaban yang seperti apa?”
“Bukankah tempat ini terlalu sakral untuk lepas dari –“
Tawa di bibir Mbah Wagiman melebar. “Mistis? Kamu mau bilang mistis? Oh, ayolah. Sebenarnya ada yang lebih mistis dari hutan, yaitu hatimu sendiri. Hati kita, manusia, jauh lebih gelap dari hutan.
“Tapi tidak bisa dimungkiri, beberapa kali, dulu –dulu sekali, pernah ada kasus di mana mereka yang hilang tidak bisa kembali. Meskipun secara fisik ditemukan.”
“Meninggal, Mbah?”
“Bukan, Mbak. Masih hidup. Hanya saja, tidak semua bagian tubuhnya bisa kembali dipulangkan.”
“Hah? Kok bisa, Mbah?”
“Bisa.” Mbah Rasmo menyahut, muncul persis dari belakang Arga yang tengah merekam. “Mereka tersasar di antara batas antara darat dan laut, di antara sadar dan tidak sadar.”
“Mas. Sehat?” Mbah Wagiman menyalami kawannya tersebut.
Mbah Rasmo menjabat balik, lalu mengangguk sebentar sebelum melanjutkan, “Laut dan hutan itu kembar. Dan keduanya sama-sama bisa membaca dan menyimpan kenangan manusia, yang akan dipantulkan kembali saat kita melewati gerbang pemisah dua dunia.”
“G –gerbang?” Lexi terdengar gugup.
Mbah Rasmo lagi, mengangguk dingin. “Tapi tenang, kalian akan aman selama mengikuti petunjuk alam.”
“Seperti apa petunjuk itu, Mbah?”
“Bukankah kalian sudah pernah bertemu dengannya?”
♥♥♥
“Kami bahkan sama sekali tidak pernah bertemu!” Lexi berseru, keras dan penuh penekanan pada dua perempuan terdekatnya, yang saat itu kompak duduk di sofa ruang tamu rumah mereka yang dingin, selain oleh cuaca, rumah tersebut memang sudah kehilangan nyawanya sejak sang ayah meninggal dunia.
“Lexi, this isn’t just about you. This was your dad’s last request. He wanted you to find your mother.” Mata Marie masih bengkak, dan justru semakin bengkak sekarang. Suaranya serak, nyaris tidak jelas. Sementara tangannya menggenggam tangan sang adik kuat-kuat.
“Why now?” tanya Lexi, lebih tepat disebut todongan. “After all these years of silence, you suddenly expect me to go looking for someone I don’t even know?” Dia menyeka air matanya, lalu berjongkok di kaki sang mama. “Mom, aku hanya punya satu ibu dalam hidupku dan itu adalah kamu.”
“Mama paham, Sweetheart.” Tangan Marie menyeka wajah memerah Lexi, sebelum mencium hidungnya. “But, your dad is gone. Please, Honey. Honor his wish.”
“Aunt Nora!” Lexi menatap sang bibi, yang setia bergeming. Kemudian, kembali pada Marie. “Mom, I don’t even know where to start. It’s too much. You have no idea how confused ..., and angry I am.”
“Oh, My Baby!” Marie memeluk Lexi, hangat. “Percayalah, Sayang. Kami hanya ingin kamu bahagia dan mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya.”
Lexi menggeleng, wajahnya menempel di dada Marie. Pelukannya kuat. Dan dengan suara bergetar menjawab, “I do know who I am. I’m Lexi. I’m your daughter. Not some project to be ‘completed’ by digging up the past.”
“Ya, Sayang. Itu benar. Kamu selamanya akan menjadi anak kami, tapi tolong –“ Marie menjeda kalimatnya, menarik wajah Lexi lembut agar bisa dia tatap tepat di iris matanya yang kebau-abuan itu. “If you truly loved your dad, you’d do this for him.”
“If Dad truly loved me, he wouldn’t leave a wish that makes me feel like I’m losing my ground.”
♥♥♥
“Jadi, Kakak belum memutuskan?”
Setelah berhari-hari tidak mendapatkan sinyal, Lexi akhirnya bisa kembali menghubungi Bianca, persis setelah dia keluar dari hutan dan mampir ke warung makan lokal untuk makan siang, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Paltidung untuk agenda berikutnya.
Sambil menyeruput teh hangat, Lexi yang duduk di bangku kayu tua agak jauh dari kerumunan yang lain, dia sudah menghabiskan makan siangnya dan tidak ingin memakan camilan apa pun, perutnya terlalu penuh oleh nasi dan lauk pauk nikmat khas Banyuwangi. “Jujur, aku masih bingung apakah ini perlu. Maksudku, aku sangat mencintai Dad, dan mimpi kemarin terlalu nyata untuk –aku merasa pengalaman itu merupakan tanda bahwa Dad ingin aku melakukan apa yang dia minta.”
“Tapi kalau Kakak nggak siap, nggak usah dipaksa deh, Kak.” Bianca yang juga sedang makan siang, mengingatkan. “Kemarin aku coba ngobrol sama Bunda baiknya bagaimana, dan kata Bunda ...,” Dia diam, bukan untuk menyantap shushi di piring, melainkan menatap Lexi dengan penuh rasa bersalah. “Apa pun keputusan Kakak, itu penuh risiko. Terlebih ibu kandung Kak Lexi juga nggak pernah bilang kalau akan ambil Kakak lagi kan dulu?”
Lexi terdiam, matanya lurus ke depan. Menatap jalanan ramai yang hanya beberapa meter dari lokasinya berada sekarang.
“Eh, daripada ngomongin yang sedih-sedih,” Bianca mencoba mengalihkan pembicaraan, ekspresinya cerita. “Mending kita bahas yang seru-seru ..., rencananya naik jam berapa nanti?”
Lexi menyeruput teh, nikmat. “Dini hari, kalau lancar.”
“Kalau lancar?” Bianca tertawa. “Eh, sebentar. Dedek bayi bangun!” Dia berdiri, berlari menjauhi kamera, masuk ke kamar yang pintunya terlihat dari sana, mengambil bayi mungil dari atas kasur dan membawanya kembali ke meja makan. “Cup! Cup! Nggak! Nggak! Mimik ya.” Tangan Bianca membuka kancing dasternya, dan menyusui putranya. “Sorry, sampai di mana kita tadi?”
“Naik ke Kawah Ijen.”
“Oh iya. Kalau begitu lanjut ..., Sang Pangeran apa kabar?”
Lexi menyipitkan mata. “Kok jadi ngomongin dia?”
Bianca tersenyum menggoda. “Awas suka lho, Kak.”
“Kok jadi suka?”
“Sampai kebawa mimpi begitu,” ledek Bianca, membuat pipi Lexi merah. “Itu, kan. Kalau nggak suka, nggak bakal salting.”
“Salting? Apa itu?”
“Salah tingkah,” terang Bianca. “Malu-malu kucing.” Dia cekikikan.
Lexi tertawa, cukup keras sampai membuat orang-orang menoleh, dan dengan cepat dia menganggukkan kepala, penuh sesal. Lalu, berbisik, “Aku tidak tahu apakah ini mukjizat atau apa, tapi yang jelas, sejak hari itu dia jadi baik banget. Maksudku, dia jadi tidak ribet begitu lho. Padahal kan sebelumnya,” dia memutar matanya malas, “Nyebelin minta ampun. Eh, sekarang, tanpa perlu disuruh pun sudah mau inisiatif. Malah, Bi, sepanjang jalan turun tadi dia mau lho aku mintai tolong ambilkan foto –bukan buat proyek. Terus, mau edit konten juga. Padahal aku bilang, itu konten untuk teaser Youtube-ku. Tentang perjalanan kami sebagai tim sih. Tapi, siapa tahu jadi nilai tambah kan.”
Bianca bungah. “Serius? Demi apa?”
“Demi neptunus!” Yang menyahut adalah sosok pria berkaos putih yang muncul dari pintu samping, membawa keresek putih berlogo minimarket terkenal. Kemudian meletakkannya di meja, di samping gawai Bianca. “Hai, Lex!”
“Hai, dari mana?” tanya Lexi, basa-basi.
“Beliin ini!” Si Pria melirik istrinya. “Bianca minta tisu basah.”
“Bukan aku, Sayang. Itu kan buat Dedek.”
“Oke. Oke. Ya sudah, kalian lanjut saja ngobrolnya, aku mau nyuci popoknya Dedek dulu.”
“Sudah, sana! Sana!” Bianca pura-pura mendorong suaminya menjauh. Lalu, menghela napas lega. “Jadi, apakah hutan membawa kekuatan ajaib?”
Lexi menjawab, “Mungkin. Tapi jangan sampai dia tahu. Aku tidak mau cowok itu ke-GR-an.”
“Tapi dia ganteng, kan? Kenapa nggak Kakak pacarin saja?”
“Idih!” Lexi bergidik ngeri. “Tidak ya. Terima kasih!” Dia menempelkan kedua tangan –yang masih memegang gelas bening berisi teh –di dada, sedikit membungkuk. “Bukan tipeku.”
“Memang tipe kamu seperti apa?”
Suara Djaya membuat Lexi menoleh. Benar saja, dia muncul dari arah warung sambil mengeluarkan rokok dari kantong. “Hai, Djay? Sudah selesai makan?”
Djaya mengangguk, senyumnya manis seperti biasa. “Aku ganggu?”
“Tidak kok. Ini aku lagi ngobrol sama adikku.” Lexi tidak menunjukkan layar kamera, dia tahu batasan dan kondisi Bianca. Justru, mengarahkan layar ke bawah. “Eh, kamu lihat Arga?”
“Argantara ..., di toilet, kayaknya.”
“Boleh aku titip tasku? Sebentar saja.”
Other Stories
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah
Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Nala
Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...