20.
Tidak Berciuman, Apakah Itu Artinya Masa Remaja Sia-sia?
Omong-omong para sahabat, sudah sangat lama Arga tidak menghubungi mereka semua. Padahal biasanya hampir setiap hari para manusia berisik itu menelepon, mengganggu waktu istirahat Arga sepanjang malam seolah-olah apartemen yang Arga huni merupakan medan tempur hingga dia terus-terusan perlu dikhawatirkan. Sebaliknya, di medan berbahaya seperti kawasan Alas Purwo –meskipun terhalang sinyal internet yang terbatas –tidak ada satu pun utas pernyataan yang dilemparkan oleh mereka di grup, setidaknya sekadar mempertanyakan apakah Arga baik-baik saja, masih hidup dan apakah bahagia di perjalanan.
“Justru kami nggak mau mengganggu waktu liburan Mas Arga,” kata Ferdi penuh kesungguhan. Jelas sekali kalau ayah satu anak itu tengah duduk di teras rumah, bersantai dengan secangkir kopi panas dan beberapa potong kue keju yang terlihat sangat lezat dan sempat dia pamerkan ke kamera.
Rian yang mukanya tidak tampil di kamera menyahut, diiringi suara jeburan air. “Lagian lo jadi orang jangan ke-PD-an, Mas. Lo pikir selama ini kami selalu menelepon karena peduli? Nggak. Kami hanya nggak mau lo mati membusuk di apartemen. Kan nggak lucu kalau tiba-tiba ada berita,” kata-katanya terjeda sebentar, bersamaan dengan munculnya Rian dari balik kamera. Mata bulat pria dua puluh sembilan tahun itu menatap lurus seolah-olah siap memakan Arga, “Seorang pria ditemukan tewas di kamar indekos, diduga karena kelaparan!” lanjutnya dengan nada dilebih-lebihkan, meniru gaya presenter televisi. “Kan nggak lucu.”
“Tahi lo. Anjing!” umpat Arga, tidak serius. “Terus saja ulang pernyataan itu! Memang lo pikir gue senolep itu? Nggak ya. Gue bisa pesan makanan sendiri. Sudah ada ojol sekarang. Tinggal ketik, bayar, makanan sampai.”
“Kan. Ini tipikal manusia yang nggak peduli kehidupan sosial,” sahut Rangga, tak kalah dramatis. “Padahal kan namanya manusia bukan sekadar makhluk biologis, melainkan juga sosial. Dan kami,” dia menunjuk dirinya sendiri, lalu mengarahkan tangannya ke depan, menjadi penegasan kalau dia dan semua orang di dalam percakapan terhubung, “hanya mencoba mengisi rasa haus lo akan kehidupan sosial yang normal.”
Meski kesal, Arga tak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajah lelahnya. “Oke! Oke! Terima kasih, Para Kawan Baikku!” ucapnya ikut mendramatisir. “Gue doakan kalian diberi kesehatan, panjang umur, murah rezeki dan dikasih kesibukan sama Tuhan biar nggak perlu mencaci-maki gue yang sudah tua ini setiap hari.”
Kompak, ketiga pria dewasa itu mengusap wajah masing-masing sembari mengucap kata amin.
“Ajing! Ajing! Om Aga Ajing!”
Suara imut Daniar sontak membuat ayah dan para pamannya terkejut. Yang benar saja, gadis berbaju merah muda dengan jepit rambut warna-warni di atas kepala itu muncul, memukul-mukul meja dengan boneka gajah di tangannya.
Yang tanpa pikir panjang, langsung Rian tutup mulutnya menggunakan tangan, sebelum meraih tubuh gembul tersebut ke pangkuan.
“Heh! Niar nggak boleh bilang begitu! Nggak baik!” tegas Rian. Tidak membentak tapi cukup membuat mata bocah itu berkaca-kaca. Seperti biasa, tak butuh satu menit tangisan Daniar meledek. Kencang dan membuat Rian harus berdiri untuk menggendong, dan mengayun-ayunkannya ke udara. “Cup! Cup! Cup! Jangan nangis ya, Sayang.”
“Ayah, tahat!”
“Kok Ayah yang jahat?” Rian mengusap air mata putri tercintanya dengan jemarinya yang begitu besar jika dibanding dengan muka mungil Daniar. “Kamu tahu kata apa itu tadi?”
“Api Om Aga bilang ndak apa,” jawab Daniar, terisak-isak. “Ndak dimalah.”
Rian menoleh ke kamera, disusul Ferdi dan Rangga yang langsung membuat Arga diintimidasi. Semua orang menyalahkannya? Arga bahkan tidak tahu ada Daniar di sana.
“Parah ih, Om Aga!” Rangga mengonfrontasi.
Ferdi tak mau kalah. “Iya ih. Om Aga, nggak boleh tahu ngomong begitu.”
“Oh, Om Aga ya!” Rian pura-pura galak. Lalu, memasang ekspresi kekanakan, yang langsung membuat Daniar menempelkan wajah ke dada sang ayah. “Niar, bilang ke Om Aga, nggak boleh lho Om Aga ngomong kasar. Bilangin, Sayang!”
Daniar menggeleng, tangan mungilnya melingkar di leher Rian.
“Lho, kok nangis? Apa? Sini bisikin Ayah!” Rian memasang telinga, membuat balita itu dengan cepat menempelkan bibirnya di ujung telinganya. “Oh, mau sama Bunda? Oke. Ayah antar ya?”
Daniar mengangguk. Meski menangis, sayangnya, bocah itu terlalu Bella. Akibatnya, menurut Arga, alih-alih kasihan Daniar justru semakin menggemaskan saat menangis. Itu juga alasan mengapa Rian hampir selalu kesal bila Arga mengajak anaknya bermain. Ditambah, setelah tangis Daniar meledak, hampir bisa dipastikan Arga tak akan mau –lebih tepatnya tidak mampu menghentikannya.
Anehnya, ke mana pun Arga pergi, Daniar akan selalu menempel. Malah, bisa dibilang di antara semua om dan tante yang dia punya, Arga adalah salah satu yang terfavorit setelah Anisa.
♥♥♥
“Luca! Ia cuka luca! Om Aga, di cana ada luca ya?”
Tidak butuh sepuluh menit, Daniar dan Rian kembali. Bedanya, ada botol lucu berkepala beruang dengan warna pink mencolok di tangan bocah itu. Dan seperti biasa, dia selalu menjadi pusat dunia bagi para manusia dewasa di nyaris setiap –bukan hanya panggilan telepon –tetapi juga setiap pertemuan di hampir empat tahun terakhir.
“Ia cuka luca. Ya, Ayah?” Daniar mendongak, menatap Rian yang tengah memangkunya.
Tangan Rian mengusap rambut tipis Daniar, sekaligus membetulkan jepit rambutnya yang terlepas. “Masa? Niar lihat di mana?”
“Idio. Hape Ayah!” jawabnya penuh semangat. Lalu, menyedot isi gelas di tangannya, dan diakhiri bunyi ‘ah’ panjang. “Ai. Ai. Ia mimik ai putih. Ia cuka. Om mimik ai ya? Bial cehat kayak Ia.”
“Ya Allah, ingin rasanya aku menculikmu, Niar!” Rangga yang gemas berpura-pura mencubit pipi bocah berkulit kemerahan itu. “Ian, bikin lagi! Niar buat gue!”
“Ih, enak saja. Memang Niar mau jadi anaknya Om Rangga?”
Yang ditanya tidak paham, tapi mengangguk. “Om Langga baik. Om Langga cuka beli ecim.”
“Ecim?”
“Es krim, Mas Arga!” jelas Rangga, pelan tapi tidak sabaran. “Masa begitu saja nggak paham. Ya kan, Niar Cantik?”
“Heeh!” Daniar menjawab tanpa melepas sedotan dari mulut.
“Tapi jujur, gue kaget pas Nisa bilang di channel-nya Cecillia ada Mas Arga.” Rangga kembali melanjutkan, tapi lebih serius dan tanpa menggunakan bahasa bayi. “Gue kayak –gila! Om gue akhirnya betulan keluar kandang dan kenalan sama gua betulan.”
Ferdi mengangguk-anggukkan kepala, dibarengi ekspresi tak kalah meledek. “Akhirnya, Mas Arga tahu kalau di gua nggak ada tumpukan baju kotor dan aroma piring busuk di wastafell dapur.”
“Dan akhirnya, dia bisa ketemu sama cewek-cewek cantik tanpa harus sembunyi di balik pintu!” Rian menambahkan, semakin dramatis. “Ya siapa tahu kan ..., takdir Tuhan lho. Siapa tahu ada yang nyantol.”
“Nyantol? Cucian ah pakai nyantol segala?” Arga berdecih. Kesal? Tentu saja. Sayangnya, terlambat sebab ledekan semacam ini sudah berlangsung sejak lama. Bahkan sebelum mereka lulus kuliah. “Eh, Daniar Cantik! Daniar suka binatang apa di video itu?”
“Alah, mengalihkan pembicaraan dia!” Rangga menaikkan sebelah alis. Yang langsung divalidasi oleh dua sahabatnya yang lain.
Namun, Arga masih fokus pada si kecil. “Niar suka luca, kan? Eh, Ian, luca yang dimaksud itu rusa kan ya?”
Rian mengangguk. “Iya. Rusa.”
Daniar melepas sedotan dari mulut mungilnya. “Ia cuka luca. Api, Ia juga cuka capi. Yang becal dan melah.” Tangannya terbuka, menunjukkan pada Arga betapa besar makhluk yang dimaksud. “Ia juga cuka melak. Yang bulu-bulu. Yang menali-nali. Cantik ayak jepit Ia.”
“Oh, Iya. Om Rangga boleh pinjam jepitnya?”
Daniar mengangguk, menarik jepit rambut dari kepalanya dan menyodorkan ke kamera. “Cebental aja api ya? Ini punya Ia.”
“Memang siapa sih yang beliin jepit Niar? Kok cantik sekali?”
Spontan, Daniar menyentuh pipi ayahnya. “Ayah Ia. Ayah beli cemuanya. Api ..., api ..., Bunda juga. Cemuanya. Epit Ia banyak. Di topes.” Dia mendekatkan wajahnya ke layar ponsel, membuat tetesan air di dagunya bisa Arga lihat dengan sangat jelas. “Om Feldi, mana Adik Aden? Mana?”
“Adik lagi bobok.”
“Tenapa Adik bobok? Padahal Ia mau lihat. Adik gemas. Pipinya becal, kayak moci.” Daniar merapatkan rahang, berpura-pura menggigit sesuatu, dan membuat ekspresinya menjadi begitu ..., membuat orang-orang ingin meniru gerakannya. Terlalu melelehkan jiwa.
“Alah-alah, bocah gemas sama bocah!” Rian mencium pipi sang anak. “Sudah ya, Niar ke Bunda ya? Ayah masih mau ngobrol sama Om. Boleh?”
Daniar mengangguk. “Iya, Ayah. Boleh.”
“Anak pintar.”
“Cium! Catu!”
Daniar menghadiahi liur di pipi kanan Rian –Arga tahu itu karena alih-alih mencium, Daniar justru menggigit pipi ayahnya, membuat Rian mengaduh pelan –sebelum minta diturunkan dari sofa.
Begitu kakinya menyentuh lantai, Daniar berlari cepat menjauhi sofa ruang tamu, yang Arga yakini pindah ke dapur atau kamar tempat Bella berada. Sebab, Arga bisa mendengar suara Bella berseru, “Hati-hati, Daniar! Jangan lari! Nanti jatuh lho, Sayang.”
♥♥♥
Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya.
Meskipun –jangankan bertemu, mengetahui namanya saja tidak –pernah tahu bagaimana rasanya dicintai oleh ayah biologisnya, tetapi cinta yang diberikan Harris kepadanya telah mengisi seluruh tangki cinta di hatinya. Itulah mengapa kematian sang ayah bukan hanya membuat Lexi kehilangan, tetapi juga hancur berkeping-keping. Bahkan ironisnya, sekeras dan sejauh apa pun perjalanan yang dia pilih untuk melarikan diri tidak pernah cukup untuk mengobati luka di dadanya. Terlalu menganga.
“Mungkinkah itu alasan Dad muncul di sini?” Merupakan pertanyaan yang diajukan oleh Lexi pada malam di mana dia merasa kematiannya ada di ujung kepala, sebuah kenangan yang dia tak ingat kapan tercipta.
Sementara di sebelahnya, Arga yang terbaring hanya bergeming. Antara mendengar, memberi Lexi kesempatan untuk bicara atau malah sudah mati lemas menahan racun buah beri yang baru saja mereka santap. Menunggu malaikat maut yang datang dari seberang pepohonan.
“Dia mau aku hidup.” Lexi melanjutkan, terisak. Dadanya sesak. Dia masih ingat betul rasa sakitnya. Jauh lebih nyata dari mimpi biasa. Tak cuma itu, dia juga bisa merasakan nyeri merambat dari ujung kakinya yang terkilir, serta gejolak isi perut yang siap menyembur keluar bila tak ditahan. “Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati di sini. Tidak sebelum mewujudkan wasiat terakhir Dad.”
Arga mengeluarkan suara erangan, tanda kesakitan. Lalu, berkata dengan lirih, “Yang benar saja? Nggak ada seorang pun yang mau mati di tempat kayak begini, Lex. Orang gila pun juga nggak bakalan mau. Masalahnya, kita nggak bisa memilih kapan dan di mana kita akan mati.”
“Jadi, kamu mau menyerah begitu saja?”
“Kata siapa?”
“Itu tadi. Kamu malah mengirim pesan kematian ke orang tuamu.” Lexi melirik ponsel yang sambungannya tidak tersambung, tetapi baru saja digunakan oleh Arga untuk merekam pesan suara. “Apa artinya kalau bukan putus asa?”
Arga menghela napas panjang, seolah meledek.
Tidak di dunia nyata, tidak di dalam mimpi, dia sama menyebalkannya, batin Lexi.
“Memang ada yang bisa kita lakukan selain menyongsong kematian?” todong Arga, lebih terdengar seperti ungkapan penuh pesimistik. “Itu, lihat! Malaikat Maut hanya berjarak beberapa meter dari kita.”
Lexi mendesis, kesal. “Gampang banget kamu ngomong begitu. Ya karena kamu tidak punya penyesalan. Kan?”
“Kata siapa?” jawab Arga, tidak terima.
Menyadari maksud rekannya itu, bibir Lexi melukis senyum. Lebih tepatnya tertawa kering. “Benar juga. Memang ada manusia yang paling penuh penyesalan selain Nuga? Ya, kan?”
“Kurang ajar!” Arga ikut terkekeh. “Paling nggak, Nuga jauh lebih berani daripada gue.”
“Dalam hal?”
“Semuanya.” Arga mencoba meremas rumput dan tanah, menggerakkan ujung jarinya yang mulai kaku.
“Termasuk mengajak Ellia ciuman?”
“Kenapa jadi ke arah sana sih?” Arga tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, lebih keras tetapi terdengar jelas kepahitan di sana. “Tapi ..., benar. Salah satunya itu. Bahkan lebih buruk lagi, kalau memang benar kita akan mati di sini, maka artinya gue tidak akan pernah dapat ciuman satu pun seumur hidup.” Dia menghela napas panjang, dan kasar.
“Serius?” Lexi menggunakan nada penuh rasa kasihan, yang langsung membuat Arga kesal, tapi memang itu tujuannya. “Padahal berciuman adalah hal dasar yang harusnya dirasakan semua manusia. Maksudku, kamu tidak harus saling mencintai untuk berciuman. Semua remaja melakukannya ketika sekolah menengah.”
“Tidak dalam budaya Asia.”
“Ralat! Yang konservatif!” Lexi membela diri. “Di sini, aku melihat anak-anak yang jauh lebih kecil sudah melakukannya, bahkan saat mereka di bawah umur.”
“Cukup, Lex! Lo membuat gue terlihat sangat ..., menyedihkan.”
"It takes the taste of death to realize we should’ve never been afraid to live." Lexi yang tertunduk, lehernya terlalu lemas untuk digunakan menopang kepalanya. “Jadi, kalau kehidupan kedua ada, apakah kamu akan mengatakan yang sebenarnya kepada Ellia? Tentang perasaanmu?”
Other Stories
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...