(bukan) Tentang Kita

Reads
886
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

Chapter 47

Orang Bilang, Seorang Anak Memang Harus Bisa Jatuh Cinta Pada Ayah Mereka Untuk Bisa Tumbuh Menjadi Manusia Sejati

Selain cahaya matahari yang masuk langsung ke dalam kamar dan membakar kulit tubuhnya karena semalam dia lupa menutup gorden, suara kebisingan juga menjadi alasan mengapa Lexi membuak matanya pagi itu.

Terlebih saat aroma bawang gosong memenuhi rumah, Lexi yang sebelumnya masih ingin mengulat di atas kasur buru-buru berlari keluar untuk memastikan. Dan seperti dugaannya, aroma itu memang berasal dari dapur.

“Arga?”

Yang dipanggil menoleh. Arga baru saja menyelesaikan masakannya. Mematikan kompor dan tersenyum. “Sudah bangun?” Matanya lembut, memastikan. “Bagaimana tidurmu semalam?”

“Eh, aku –kamu masak?” Ada ketidakpercayaan dari ucapan Lexi. Terutama saat gadis itu justru mengedarkan pandang ke sekeliling, ke tumpukan peralatan masak yang kini tercecer di atas meja dan ..., seluruh penjuru dapur.

“Tentu.” Arga mengangguk, bangga. “Sarapan yuk. Mumpung baru matang. Masih hangat.” Dia memundurkan salah satu kursi makan, mempersilakan Lexi duduk.

Hanya saja, sebelum Lexi sempat memberi reaksi, sebuah suara membuyarkan fokusnya, “Bukan hangat lagi. Panas yang ada, Om.” Yang ketika dia cari sumbernya dari gawai Arga di atas meja. Menampilkan seorang pria dan balita yang kompak melambaikan tangan ke arahnya. “Halo, Tante!” sapa si pria menggunakan bahasa bayi.

Lexi yang masih tak bisa mencerna bergeming, tapi tangannya membalas dengan lambaian pelan. Lalu, menoleh cepat ke arah Arga, meminta penjelasan.

“Adik dan keponakanku,” kata Arga jengah. Pipinya memerah. Pun dia menggaruk tengkuknya sendiri. “Eh. Sebentar aku matikan dulu!”

“Eh, jangan!” cegah Lexi.

Akibatnya, Arga yang akan melangkahkan kaki mengurungkan niat. Matanya menatap balik dengan sangat keheranan. “Eh, tapi –“

“Tidak apa-apa.” Lexi malah tersenyum, sangat lebar. Kemudian menghampiri ponsel Arga. “Daniar?” katanya ..., menebak.

Rian yang kaget balik bertanya. “Kok Tante tahu?” Mewakili putrinya yang sedang mengunyah bola-bola nasi. “Iya. Ini Daniar. Om Arga cerita ya?” ketimbang pertanyaan, lagi dan lagi, Rian malah menebak.

Yang membuat Lexi tertawa. “Aku lihat di Facebook.”

“Facebook?” Giliran Arga yang kaget. “Kok bisa?”

“Ya bisalah, Mas Arga. Di zaman ini apa yang nggak bisa?” sahut Rian diiringi cekikikan. Meledek, menurut Arga. “Cewek itu punya jiwa detektif luar biasa. Ya kan, Lex?”

Lexi tidak mengangguk ataupun menggeleng, tapi matanya bersinar. “Kamu juga kan, Ga?”

“Aku apa?”

“Ayo lho, Mas Arga ngapain?” goda Rian.

“Bisa diam nggak congormu, Ian? Kalau nggak, gue matiin ini panggilan!” Arga mengacungkan jari, mengancam.

“Ih, takutnya!” Rian berpura-pura ngeri.

Namun, perhatian mereka seketika teralihkan oleh Daniar. “Ongol. Ayah, apa itu ongol?”

“Ya Allah!” Rian membekap bibir Daniar cepat. “Hust! Nggak boleh ngomong begitu, Sayang.”

“Api Om Aga bilang!”

“Tapi Niar masih kecil. Jadi, nggak boleh. Tanya saja sama Tante Lexi.”

Mata Daniar melebar, menoleh ke kamera tapi detik berikutnya dia malah memutari tubuh Rian dan bersembunyi di punggung ayahnya.

“Lho, kenapa?”

“Nggak usah takut, Daniar. Tante nggak galak kok,” bujuk Lexi. “Sini.”

Daniar setia menggeleng. Tangan mungilnya mencengkeram kaos abu-abu yang dikenakan ayahnya kuat-kuat.

“Kenapa? Kenapa?” tanya Rian. “Apa? Sini bisikin Ayah!” Dia menunjuk telinganya sendiri, meminta Daniar mendekat. “Oalah. Malu?”

Daniar mengangguk, sebelum kembali bersembunyi.

“Malu dia, Tante.”

“Kenapa malu?” Lexi mencondongkan tubuhnya ke depan, ke kamera. “Tante kan temannya Om Arga. Kamu jangan malu.”

“Tumben Daniar bisa malu ketemu orang baru.” Arga beranjak mengambil piring yang salah satunya dia letakkan di depan Lexi. “Ngobrolnya sambil makan saja, bagaimana?”

“Ide bagus!” Rian berseru. “Niar juga sini! Eh, ini nasinya dihabiskan dulu. Ditemani Tante Lexi lho. Ayo!”

“No.”

“Kok begitu sih? Nanti nasinya nangis lho.”

“Naci bita angis?”

“Bisalah. Ya kan, Om? Tante?”

Lexi menambahkan, “Bisa dong. Makanya, ayo kita makan bersama. Ini, Tante ambil nasi.” Dia menyentong nasi jagung di dalam centhing di atas meja untuk mengisi piring, yang dia pamerkan pada Daniar. “Tante makan ya. Aem!” lanjutnya mengeluarkan suara meyakinkan.

Daniar mengintip dari sela-sela jari mungil yang dia gunakan menutup wajahnya sendiri. Mata bulat yang selalu tampak berkaca-kaca itu menatap Lexi ragu, pada awalnya. Akan tapi, segera berani menampakkan diri sepenuhnya. Mulai percaya.

“Ate amanya Eci?”

Lexi mengangguk, ramah. “Iya. Nama kamu Daniar, kan?”

“Heeh.” Daniar mengangguk, membuat jepit di rambutnya nyaris terlempar kalau saja Rian tak menahannya. “Ini Ia.” Dia menepuk dada, memperkenalkan dirinya. “Dania Alianti Helmawan.”

“Wah, cantik sekali namanya.”

“Ate uga cantik.”

“Masa?” goda Lexi. “Tante jadi malu.” Dia ikut menyembunyikan muka di balik kedua tangan seperti yang sebelumnya Daniar lakukan.

Daniar malah tertawa. “Ayah, mam!” Dia membuka mulut, minta diisi.

“Pintarnya!” puji Rian persis setelah nasi dan ayam masuk ke mulut mungil Daniar. “Begitu dong. Biar nasinya nggak nangis lagi.” Meski kemudian menoleh ke layar ponsel untuk berbisik, “Sebenarnya bukan nasinya yang nangis kalau nggak dimakan, tapi bapaknya.”

“Bisa saja lo, Ian.” Arga mengambil piring Lexi untuk diisi sayur. “Banyak atau sedikit?”

“Sedikit saja.”

“Banyak. Biar cepat pulih.”

“Tidak usah banyak-banyak, Ga. Takut tak habis.”

“Halus abis ya, Ate Eci!” sahut Daniar seperti orang dewasa. “Ati nacinya angis.” Dia meringis, memperlihatkan deretan gigi susunya yang berjajar rapi. “Ate! Ate! Ini Ayah Ia.” Dia menepuk-nepuk dada Rian. “Ayah Ian.”

“Ayah siapa?”

“Ian.”

“Rian.” Rian memperjelas. “Kalau Bunda Niar namanya siapa?”

Daniar tampak berpikir sejenak, menempelkan telunjuk kanannya di dahu. “Eh. Capa ya?”

“Masa nggak tahu?”

“Bunda Bell.” Daniar membuka mulut, membuat Rian bisa memasukkan nasi ke sana. “Enaknya.” Dia memuji.

“Siapa yang masak?” Arga bertanya, tapi segera pindah kepada Lexi. “Makan.”

Lexi mengangguk, memasukkan potongan sayur dan langsung terhenti. Membuat bukan hanya Arga, tetapi juga Rian penasaran.

“Kenapa?”

“Nggak enak ya?”

Tak langsung menjawab, Lexi mengunyah dan menelan makanan di mulutnya penuh perjuangan. “Enak kok.”

“Nggak usah bohong, Lex!” tegas Rian. “Bilang saja kalau nggak enak. Nggak usah malu-malu.”

Lexi nyengir. “Cuma keasinan dikit doang.”

♥♥♥

Adalah salah satu dari sedikit hal yang sampai sekarang masih menjadi luka di hati Lexi, bukan karena dia tidak bersyukur atau menampik kehadiran ayahnya, melainkan luka menganga itu telanjur ada di sana. Di dalam dadanya yang sejak kecil memimpikan cinta.

Tumbuh di panti asuhan sudah pasti membuat masa kecil Lexi tidak terlepas dari berbagi. Dia sudah sangat terbiasa bahkan menganggap berbagi sebagai bagian dari napas kehidupan yang seharusnya. Tak hanya pakaian atau mainan, tetapi juga kasih sayang.

Itulah kenapa saat menyaksikan kedekatan Rian dan Daniar, secara tidak langsung telah menyentuh sisi sensitif tersebut. Yang alih-alih membuat dia iri, Lexi justru merasa sangat tersentuh. Memunculkan banyak kata andai di kepalanya, lagi dan lagi.

Andai dulu dia tidak dititipkan ke panti asuhan. Andai ibunya bisa lebih bertahan. Andai ..., andai ..., dan andai yang sayang seribu sayang hanya sampai menjadi andai. Tidak pernah menjadi kenyataan.

Sewaktu kecil dulu, Lexi ingat betapa iri dia melihat anak-anak lain digendong dan timang oleh orang tua mereka masing-masing, terutama saat perayaan ulang tahun. Orang-orang kaya datang dengan niat baik, mengajari anak-anak mereka berbagi, itu sangat bagus. Tak ada yang salah dengan itu. Akan tetapi, tanpa disengaja cara itu justru membuat hati anak-anak seperti Lexi terkoyak.

Iri? Jangan ditanya lagi. Sudah pasti. Tapi apa yang bisa mereka lakukan selain diam, menyaksikan, memaksa senyum hanya demi hadiah dan sepotong kue?

“Berarti kamu dulu tinggal di Jakarta dong, Lex?” Rian bertanya, masih dengan kesibukannya menyuapi Daniar, yang sibuk bermain boneka beruang dan sesekali menawarkan gelas mainan ke depan kamera untuk Lexi dan Arga. “Iya, Niar. Makan dulu. Nanti Tante Lexi nggak mau lho kalau kamu nggak habiskan ini.”

“Api, Ia maunya mamam ayamnya aja. Ia tidak mau cayul.”

“Nggak boleh begitu. Nanti kamu sembelit kalau nggak makan sayur!”

Lexi kecil bahkan tak pernah punya kesempatan pilih-pilih makanan saat kecil. Seingatnya, dia bahkan telah bisa makan sendiri sejak masih sangat kecil. Pun bila ingin disuapi, makan bersama kakak-kakak pantinya adalah pilihan terakhir, sebab para Bapak dan Ibu Pengasuh terlalu sibuk untuk meladeni satu per satu anak di sana.

“Ayah duluan yang mamam.”

“Kan tadi sudah.” Rian menghela napas panjang, melirik ke kamera dengan putus asa. “Ini Niar ya. Lihat. Ayah makan bayamnya.” Lalu, memasukkan bayam rebus yang tampak sangat segar ke dalam mulut, tak lupa menyematkan bunyi hmm panjang tanda kenikmatan. “Enak sekali. Sekarang Niar yang makan.”

“Om Aga tama Tante Eci juga.”

Menurut, Rian meminta kedua manusia dewasa itu berpura-pura menerima suapan darinya. “Suapan virtual untuk Om dan Tante.”

“Hmm. Enak?” Daniar bertanya serius. Dan setelah diyakinkan, dia pun membuka mulutnya lebar. “Hmm. Enak.” Kepalanya geleng-geleng tanda menikmati. Akan tetapi, Daniar mendadak berhenti. Matanya menatap ke arah lain di belakang gawai, membulat dan berdiri. “Ah, Bunda Ia! Bunda Ia pulang!” Dia bersorak, girang. “Bunda! Cini! Ia punya temen balu lho.”

Yang dimaksud mendekat, Lexi tahu dari suaranya. “Siapa teman Niar?”

“Ate Eci!” Daniar mendekatkan wajahnya ke kamera. Menatap Lexi dengan ekspresi lucu. “Itu Bunda Ia. Ate Eci, Bunda baik lho. Bunda cuka bikin cucu. Nanti Ia kacih cucu ya. Yang cokat tapi.”

“Mas, ini apa?”

“Apa, Bun?” Rian menerima paket dari perempuan yang kemudian muncul di kamera dengan kaos hijau lengan panjang. “Oh ini. Biasa.”

“Ya ampun. Yang kemarin saja belum kamu buka lho. Sekarang sudah beli lagi,” omel wanita akhir kepala dua tersebut dengan kepala digeleng-gelengkan.

“Kenapa, Bella?”

“Ini lho, Mas Arga. Setiap hari dia nonton live Tiktok. Dan setiap hari juga ada saja yang dibeli. Itu mainan sama jepit rambut Daniar sampai sekoper sendiri. Nggak tahu kapan bakal dipakai.”

“Tapi yang ini Niar belum punya, Bunda,” Rian membela diri. Ekspresi tanpa dosanya mengingatkan Lexi pada mendiang ayahnya. “Bentuknya lucu. Cocok buat Niar.”

Bella menyipitkan mata, lalu berdecih. “Alasan. Yang pakai siapa yang kesenangan siapa.” Sebelum matanya menangkap sosok lain di layar ponsel suaminya. “Eh, siapa ini? Kok cantik sekali?”

“Ini teman Ia, Bunda.” Daniar menarik tangan Bella untuk ikut duduk. “Tante Eci ini yang ada di Utup.”

“Apa katanya?”

“Youtube!” jelas Bella dan Lexi bersamaan, membuat Arga tertawa.

“Kebiasaan Mas Arga!” Bella mendudukkan bokongnya ke lantai, yang harusnya bila Arga tak salah ingat ada karpet yang mereka gunakan untuk duduk. “Eh, Lexi. Kamu kenal Bian?”

“Hah? Bagaimana, Kak?”

“Nggak usah panggil Kak. Kita seumuran.” Bella mengambil alih paket milik Rian dan membukanya menggunakan kunci sepeda motor di tangannya. “Bian. Bianca,” lanjutnya mengulang pertanyaan pertama.

Meski tak yakin, Lexi mengangguk. “Bianca Wijaya?”

“Istrinya Ferdi?”

Arga dan Rian kompak kebingungan.

“Ferdian?”

“Ferdi kita?”

Bella mengangguk. “Iya, Ayah, Mas Arga. Ferdian Utama.”

“Kok bisa?”

Lexi meringis, menoleh ke arah Arga yang kini menyerangnya dengan tatapan penasaran. “Aku kecil di panti asuhan Lentera Matahari.”

“Lah? Kok nggak bilang?” Seolah terkoneksi, Arga dan Rian bertanya bersamaan. Bedanya, Arga pada Lexi dan Rian pada istrinya.

Yang juga dijawab kompak oleh kedua wanita itu. “Lha, kamu tidak tanya.”

“Bunda tahu sejak awal?”

“Bian kan cerita. Yang pas kita ke kafe minggu lalu.”

“Kapan?”

“Oh iya. Bunda lupa. Ayah nggak ikut sih.”

Rian memajukan bibirnya, senyum kecut kecewa. “Pantesan.”

Sementara itu, Arga yang berada di samping Lexi malah mematung. Matanya membulat tak berkedip. “Jangan bilang lo tahu semuanya sejak awal,” katanya kemudian. “Lo memata-matai gue ya?”

“Eh?”

“Maksudnya apa sih ini? Kok ada mata-mata segala?” tanya Rian, bingung. “James Bond apa bagaimana?”


Other Stories
Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Liburan Yang Menelanjangi Kami

Tujuh mahasiswa BAKOR-UNAS memilih merayakan kebebasan selepas UAS dengan cara yang tampak ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Download Titik & Koma