(bukan) Tentang Kita

Reads
906
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

32. Meski Bukan Gue Banget, Tapi Suasana Tenang Dan Keindahan Alam Di Pedesaan Adalah Pemandangan Paling Luar Biasa Bagi Makhluk Kota Seperti Gue


“Kangen?” tanya Arga saat melihat Lexi membuka galeri ponsel pintar, mengecek berbagai macam foto yang mereka ambil saat masih berada di desa.

Jengah, Lexi menyembunyikan pipinya yang memerah. “Rasanya sudah tidak sabar balik ke Banyuwangi lagi. Aku menemukan rumah kedua di sana. Kalau kamu, bagaimana?”

“Aku?” Arga menyeruput mi instan gelas di tangannya, mencoba menikmati sebelum perjalanan laut yang singkat membuat mereka segera menepi kembali. Dia harus segera memakan mi rasa soto ayam ini sebelum turun. “Kalau menurutku ....” Dengan mulut penuh mi dia diam sejenak, memberi kesempatan rahangnya mengunyah. Baru setelah menelan dan memastikan mulutnya bersih, dia menengadahkan kepala, menatap langit-langit ruangan dalam kapal seolah terjun ke ruang nostalgia mengingat kembali masa-masa pengungsian mereka di Banyuwangi.

Meski pada awalnya menganggap pelarian itu hanya berlaku untuk Lexi, guna menyembuhkan wanita muda di sebelahnya dari depresi, nyatanya Arga pun ikut merasakan hal serupa. Walaupun di awal-awal dia berada di tempat tersebut, satu-satunya yang bisa Arga nikmati hanyalah bagian dalam rumah, mengedit, membaca dan menulis cerita pendek, serta menikmati teh panas di teras seraya menghirup udara segar pegunungan. Tanpa suara bisik mesin, kendaraan, atau bincang-bincang tetangga serta musik dangdut yang disetel dengan volume kencang.

Namun, sesekali dia bisa mendengar deru mesin gergaji di kejauhan, juga bisik-bisik pekerja yang datang dari area perkebunan di sekitar rumah, di luar pagar tembok satu setengah meter yang mengelilingi area rumah Pak Suswoyo. Akan tetapi, Arga tidak pernah benar-benar menyapa mereka. Sekali mereka berbagi senyum kecil, bentuk keramah-tamahan penuh basa-basi.

Sampai akhirnya, hari itu tiba.

“Mbak Alex keluar. Sama Fahra.” Bu Dartik yang sedang memandikan Banyu, anak bungsunya, menjelaskan saat menemukan Arga kebingungan mencari kawan serumahnya itu.

Arga tahu Fahra. Anak kedua Bu Dartik dan Pak Slamet. Anak yang sejak lima hari dia tinggal di sana sering ditugasi mengantar makanan oleh Bu Suswoyo. “Ke mana, Bu?”

“Ke kebun.”

“Jauh, tidak?” tanya Arga, lagi.

Bu Dartik menggeleng sambil mengusap muka polos Banyu yang gelagapan habis diguyur air. “Dekat kok, Mas. Tinggal lurus saja. Ikuti jalan besar. Nanti kalau ada orang kumpul-kumpul ..., di sana sudah.”

Sayangnya, kata dekat terlalu bias.

Dan tampaknya makna dekat yang dimaksud oleh Bu Dartik dan Arga sangat berbeda. Karena setelah berjalan cukup jauh, Arga tak kunjung menemukan lokasi yang dimaksud. Alih-alih menemukan para pekerja, dia malah mendengar suara berisik anak-anak di kejauhan.

Penasaran, sekaligus takut tersesat mendorongnya mencari sumber suara, yang ternyata merupakan sebuah tanah lapang dengan beberapa bangunan tua di sekitar. Yang ketika dia dekati di bagian samping dinding bangunan kecil, yang sepertinya ruang guru, terdapat nama sebuah sekolah dasar yang sudah agak memudar akibat permukaan dinding yang mengelupas dan cat memudar termakan udara.

♥♥♥

“Kamu kalau berangkat sekolah jalan kaki?” Pertanyaan tersebut Lexi ajukan pada gadis kecil berambut pendek yang dibiarkan tergerai tertiup angin, melambai-lambai di bawah telinga di sebelahnya seraya memotret pemandangan di sekeliling menggunakan kamera.

Tanpa menoleh, Fahra melangkahkan kaki kecilnya menyusuri jalanan tak beraspal menggunakan sandal jepit yang permukaannya telah tipis itu cepat. Sementara tangan-tangan mungilnya dengan kuat memegang tas anyam berwarna merah berisi rantang dan beberapa bungkusan kuat, seolah-olah dia telah terbiasa. “Iyalah. Memang mau naik apa?”

“Memang kamu tidak punya sepeda?” tanya Lexi lagi, khawatir.

Namun, Fahra malah berdecih kecil. “Bukan begitu. Sepeda sih ada, tapi masalahnya kalau naik sepeda justru akan lama karena tidak bisa lewat jalan pintas.”

“Oh.” Lexi manggut-manggut, lalu lanjut memotret. Kali itu dia mengarahkan lensa kepada Fahra, mencoba mengabadikan pemandangan tidak biasa yang memang sudah menjadi makanan sehari-hari anak-anak di perkebunan tersebut –Lexi bisa menyebutnya demikian karena sepanjang jalan dia juga menemukan anak-anak lain seperti Fahra, yang ditugasi mengantarkan makan siang untuk orang tuanya yang disibukkan menggarap kebun kopi.

Sayangnya, di tengah suburnya tanah dan banyaknya buah, “Kebanyakan pekerja di sini hanya buruh, Mbak.” Penjelasan tersebut dia dapatkan dari Pak Suswoyo persis begitu sampai di kebun, lebih tepatnya saat menyantap nasi dan orek tempe buatan Bu Dartik di atas alas terpal yang digelar di atas tanah, di antara pohon kopi dan cokelat. “Itulah kenapa banyak warga di sini hidupnya sangat pas-pasan.”

“Kalau ada kesempatan,” Pak Slamet, ayah Fahra menyahut, “anak-anak muda yang mendapat pendidikan akan cenderung mencari pekerjaan ke luar. Mencari penghidupan. Seperti yang dilakukan Handoko dan Yulia.”

“Siapa itu?”

“Anak saya.” Bu Suswoyo menjawab.

“Yang rumahnya saya tinggali?”

“Lha. Benar sekali.” Bu Suswoyo mengambil potongan singkong di dalam salah satu wadah rantang, lalu menyodorkannya pada Lexi untuk ikut mencicipi. “Sudah. Tidak apa-apa. Ini kebanyakan. Tidak akan habis kalau hanya kami bertiga yang makan.”

Meski awalnya ragu, tapi Lexi tetap menerima dan memakannya. “Manis, Bu. Enak.”

“Singkong ini ditanam sendiri di pekarangan belakang rumah.” Fahra yang sedari tadi duduk di samping ayahnya, memakan nasi dari piring yang sama dengan pria terkasihnya itu menyambung, bangga. “Aku lho yang menanam.”

“Pantas saja rasanya enak,” puji Lexi, memancing canda dari tiga manusia dewasa lain di sana. “Oh iya, untuk buah kakao di sini sedang ada yang matang tidak ya, Pak, Bu?” lanjutnya sembari mengedarkan pandang ke sekeliling, menatap satu per satu pohon kakao di sekitar.

Bu Suswoyo ikut menyapu pandang, lalu menjawab, “Sepertinya ada kalau mau mencari. Mau coba kah?”

“Memang boleh?”

“Boleh.” Bu Suswoyo menjawil Fahra. “Cepat habiskan makananmu. Lalu temani Kak Alex mencari buah cokelat.”

“Sebentar, Mbah.”

“Iya. Pelan-pelan. Nanti tersedak.”

“Jadi, Mbah mau aku makan cepat atau pelan-pelan?”

“Bocah ini ya.” Bu Suswoyo hendak mencubit mulut mungil bocah sepuluh tahun tersebut, yang untungnya bisa dihindari karena Fahra menjauhkan kepalanya ke samping. “Dibilangi selalu menjawab.”

“Punya mulut kok.”

“Fahra!” Pak Slamet mengambil alih. “Ndak pareng seperti itu. Ndak elok.”

♥♥♥

“Yang itu sepertinya matang!” tunjuk Fahra pada salah satu pohon kakao. Dan tanpa menunggu reaksi Lexi, dia buru-buru naik ke atas pohon untuk mengambil buah yang dimaksud, yang tentu saja langsung membuat Lexi panik saking tak menyangkanya. “Tenang, Kak. Tenang. Aku sudah biasa kok.”

“Tetap saja kamu tidak seharusnya naik begitu. Kalau jatuh, bagaimana?” cerocos Lexi persis setelah Fahra turun dan memberinya dua buah kakao matang.

Sambil memukul-mukul buah lain di genggamannya dengan batu, Fahra malah tertawa. “Cemen banget sih Kak Alex? Padahal kalau tidak naik, nanti keburu diambil anak lain.”

“Anak lain?” kening Lexi mengerut, penasaran.

Fahra mengangguk, mantap. Lalu, memasukkan biji yang masih dilapisi bagian dalam buah yang berwarna putih nun manis ke dalam mulut. “Teman-temanku. Yang tadi lho.”

“Terus, sekarang mereka di mana?” Dia kembali menatap sekeliling. Mencoba menemukan anak lain yang sayangnya nihil.

“Palingan di sekolah. Main sepak bola. Mau ikut?”

“Beneran?”

“Kenapa nggak?”

♥♥♥

“Kakakku.” Adalah jawaban tegas Fahra saat teman-temannya –yang memang berkumpul–menanyai keduanya begitu sampai di lapangan depan sekolah dasar.

Bocah gundul bernama Dito kembali bertanya, “Sejak kapan kamu punya Kakak?”

“Sepupu, mungkin?” Ita, bocah yang memakai kaos abu-abu menebak. “Iya kah, Ra?”

“Tapi kok bule?” Roni penasaran. Dia menyeka hidung menggunakan lengan, membuat beberapa ingus menempel di sana. Yang langsung membuat Rudi, anak yang badannya besar menghadiahinya dengan pukulan di lengan. “Aduh, sakit!”

“Makanya, jangan rasis!” tegas Rudi. “Ingat kata Bu Ani. Kita tidak boleh membeda-bedakan orang dari wajahnya.”

“Benar!” Widi, bocah pria berambut keriting mengamini. “Ayo minta maaf. Jangan sampai Kak Alex tersinggung pada kita.”

“Tidak kok. Kakak tidak kenapa-kenapa,” terang Lexi sebelum suasana memanas. “Oh iya, Kakak boleh ikut kalian bermain bola?”

“Memang bisa?” Lagi, Roni mengusap ingus.

Lexi mengangguk, penuh keyakinan. “Tentu saja. Kakak juaranya dalam sepak bola.”

Sayangnya, itu dulu.

Dulu saat dirinya masih anak-anak. Akan tetapi kini, Lexi merasa dia terlalu ..., tua. Bukan soal tenaga, melainkan semangat di dalam jiwanya. Terlalu banyak rasa takut, keragu-raguan dan sangat berbeda jika dibandingkan dengan Fahra dan kawan-kawan.

Itulah kenapa alih-alih melanjutkan permainan, pada akhirnya Lexi memutuskan mengambil gambar saja. Menolak menjadi beban bagi tim Fahra yang sudah mau menampungnya menggiring bola plastik yang bila ditendang terlalu keras akan kempes dan perlu ditiup sebelum di gunakan kembali.

Namun, bagian terbaik dari pengalaman hari itu ialah nuansa nostalgia. Di mana Fahra dan teman-temannya mengingatkan Lexi akan masa kecilnya. Saat dia berlarian di halaman panti, mengejar saudara-saudara senasibnya tanpa harus memikirkan beratnya dunia di luar tembok pagar.

Hingga kemudian matanya menatap sesuatu yang janggal di kejauhan. Di mana seorang pria berkemeja kotak-kotak tak dikancingkan berjalan keluar dari perkebunan, mendekati sisi lain lapangan. Yang detik berikutnya langsung Lexi kenali sebagai, “Arga?” 


Other Stories
Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kutukan Yang Kupanggil Cinta

Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...

Cuti Untuk Pikiran

Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk bena ...

Test

Test ...

Download Titik & Koma