(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

43. Menunda Bukan Berarti Tidak Cinta, Kadang Kita Hanya Butuh Sedikit Lebih Banyak Waktu Saja


Meskipun telah dekat dan lebih dari dua bulan bersama, tetapi ternyata perubahan status dari teman menjadi kekasih tidak seperti yang Arga duga. Karena alih-alih membosankan atau malah telah terbiasa, nyatanya menjadi kekasih Lexi sangat berbeda dari yang dia bayangkan. Terlebih dengan kepribadian terbuka dan ramah Lexi, seolah-olah Arga memasuki dunia baru.

Bila dahulu Lexi akan membiarkannya melipir sendirian saat gadis berinteraksi dengan warga lokal di tengah perjalanan, maka kini mau tak mau Lexi akan menyeretnya. Menggenggam tangannya, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja selama mereka bersama. Pun saat mencicipi kuliner, kini mereka tak perlu memesan satu untuk masing-masing, cukup satu piring –apa lagi bila makanan yang dipesan cenderung baru dan khawatir tak akan bisa diterima lidah. Mengingat Arga sendiri bukan tipikal manusia yang berani mencoba hal baru, berbeda jauh dengan Lexi.

Untungnya juga, Lexi bukan tipe manusia yang malu-malu kucing. Lexi akan dengan senang hati menghabiskan menu apa pun yang mereka pesan. Namun, yang sangat kentara dari itu semua adalah ..., Arga tak merasa sendirian.

Di tengah angin darat dan laut yang dingin menyapu kulit mereka sepanjang liburan. Mulai menyeberang ke Sumbawa, Flores hingga Alor, sampai balik lagi ke Lombok, tidak sekalipun tangan mereka pernah benar-benar terlepas.

Meski awalnya canggung, tetapi Lexi selalu meraih kembali tangan Arga. Menggenggam, dan memastikan pria itu tidak tertinggal. Bahkan sejak saat itu pula, meski Arga masih bertugas sebagai kameramen, tetapi paling tidak Lexi memberinya lebih banyak frame. Menjadikan pria yang sedang dimabuk asmara itu bagian dari serial perjalanan, bukan sekadar bayang-bayang.

"Sorry, Guys. From now on, he’s gonna show up a lot more in my vlogs,” kata Lexi di depan kamera, dia menunjuk Arga yang berjalan di sebelahnya. “Because, well, he’s my boyfriend now. I know, I know –you’re probably sick of seeing just me and totally thrilled about this. But hey! Remember! I’m his girlfriend. So please, stop flirting with him, alright? Or I’ll get super jealous and it won’t be cute!"

Arga melambaikan tangan ke kamera, lalu berkata, “No, Guys. Don’t listen to her. I’m still all yours.”

“What?” Lexi berpura-pura kaget. Matanya membulat, mulutnya terbuka lebar. “Ugh!” Dia berakting jijik, ngeri. “OMG. Please! Someone thinks he’s way too handsome."

Dengan percaya diri dan senyuman nakal, Arga kembali menjawab, “Of course, I’m handsome. If I wasn’t, would you even wanna be my girlfriend?"

Lexi seketika tertawa. “Astaga! You’re unbelievable. Somebody stop this guy!” Setelah puas, dia kembali menatap lurus ke kamera sembari membetulkan anak rambutnya yang keluar dari kucir. “So, I’ve got some good news and some bad news for you. The good news is ....” Dia berpura-pura memasang ekspresi misterius, diiringi bunyi genderang, “Jeng! Jeng! Jeng! We just got a sponsor to help fund our trip!"

“Wait, really? Who?” Arga ikut memasang ekspresi kaget yang berlebihan.

“Our brother ..., Ferdian Utama!”

Keduanya bertepuk tangan, meriah.

“Ferdian!” Lexi menatap kembali kamera, seolah di hadapannya adalah pria yang dimaksud. “We’re still waiting for that fifty million rupiah you promised to send to my account. Better hurry up or we’re coming after you!”

Arga mengangguk, mengikuti. “Yeah, consider this your final warning!”

♥♥♥

“Tapi kalian benar-benar jadian, kan? Bukan akting demi lima puluh juta doang, kan?” Bisa dipastikan pertanyaan ini keluar dari mulut Ferdi, sang donatur tepat di percakapan terakhir sebelum pasangan baru itu menyeberang kembali ke Pulau Dewata.

Lexi dan Arga sontak berpandang-padangan, senyuman licik terlukis di wajah keduanya. “Kalau iya, kenapa?”

Ferdi seketika memasang wajah datar. Sementara Bianca yang duduk di sebelah suaminya itu malah tertawa, sangat keras. “Mas Arga! Harusnya kemarin Mas jangan cuma minta lima puluh juta.”

“Benar itu!” Walau terlihat sibuk dengan setrikaan, Annisa tetap ikut dalam obrolan. “Dasar Mas Arga saja yang nggak pintar. Kalau gue, sudah kuminta semua biaya perjalanan di tanggung Pak Bos. Kapan lagi, kan?”

“Kapan lagi?” Rangga yang sejak tadi di belakang Annisa ikut melihat pakaian menyahut, tak percaya. “Itu bukan hadiah, Mi. Tapi merampok.”

“Ih, Abi. Ya nggak apa-apa dong, Bi. Ferdi mah kaya. Memangnya Abi. Nggak bisa dirampok.”

“Ya Allah, jahatnya!” Rian tertawa paling keras. “Begitu-begitu, dia janjiin kambing dua ekor, Nis.”

“Kambing? Dua ekor?” Annisa menatap Rangga tajam, tak percaya. “Astaga, bisa-bisanya. Kenapa kambing? Mau kurban ente?”

“Tapi kan kalau jadi menikah!” Rangga membela diri. “Memangnya Lexi sudah pasti mau menikah sama Arga?”

“Ya harus mau!” teriak Annisa, mengejutkan semua orang. “Nggak apa, Lex. Nanti kalau kamu menikah sama Mas Arga, biar aku yang sumbang make up-nya.”

“Kalau begitu ..., aku pesankan gaunnya!” seru Bianca. “Di tempat aku dan Ferdi bikin baju nikah dulu. Ya kan, Sayang?”

Yang ditanya mengangguk. “Tapi apa bisa begitu? Mereka kan pasti punya wedding dream sendiri.”

“Kenapa jadi ngomongin nikah sih?” Arga berdecih, takut obrolan teman-temannya membuat kekasihnya tak nyaman. “Sekarang yang jelas-jelas saja dulu. Ian, kapan lo bikinin bakso gue?”

“Ya Allah!” Rian mengelus dada, sambil mengayunkan Daniar di pelukannya. “Ya nanti, Mas Arga.”

“Nanti kapan? Keburu gue sama Lexi lanjut ke Sumba.”

Rian menghela napas panjang. “Ya sudah, besok gue bikinkan. Dua kilo, kan?”

“Cuma Rian doang?” Rangga menyindir, halus.

“Aku sama Ferdi juga mau lho.” Bianca memasang ekspresi memelas. “Sudah lama banget nggak makan bakso buatan Mas Rian.”

“Bunda!” Rian berpura-pura menangis, membuat Bella yang baru datang dari belakang buru-buru bergabung di depan kamera. “Anak-anak lho.”

Bella tersenyum, lembut seperti biasanya. “Iya. Semuanya dapat.” Dia menoleh ke samping, ke arah suaminya yang tampak kelelahan, berniat mengambil Daniar tetapi ditolak. “Ayah, tenang. Nanti Bunda bantuin bikinnya. Nggak usah khawatir.”

“Lagian, kenapa sih lo nggak jualan saja, Ian? Padahal kan bakso buatan lo enak.”

“No! No!” Meniru gelengan Daniar, Rian menjawab tegas. “Maaf, aku tidak masak untuk orang lain. Hanya untuk orang-orang yang aku sayang.”

“Ih, jijiknya!”

“Kurang ajar si Rangga!” Arga terpingkal, melihat perseteruan dua manusia di telepon. Terutama pada bagian di mana Rian berpura-pura keluar rumah, menghampiri Rangga di rumah sebelah. Pemandangan yang tidak pernah berubah sejak lima belas tahun lalu.

♥♥♥

“Teman-teman kamu lucu ya?”

Perkataan Lexi buru-buru dijawab anggukan penuh rasa bangga oleh Arga. “Begitulah. Nggak ada yang normal. Padahal sudah pada bangkotan, tapi masih saja kayak bocah.”

“Belum lah. Kalian masih muda. Baru tiga puluh tahun, kan?”

“ Iya, sih.” Arga tersenyum tipis, menatap halaman penginapan dengan penuh nostalgia. “Masalahnya di mata masyarakat, nggak bisa dibohongi, usia segini ..., kamu lupa kita tinggal di Indonesia?”

Lexi menyandarkan kepalanya ke bahu Arga.

“Jangankan aku yang nggak nikah-nikah, Rangga dan Annisa yang menikah tapi belum punya anak saja juga kena.”

“Kenapa apa?”

“Penghakiman masyarakat. Apalagi?”

“Kenapa juga peduli omongan orang?” Lexi menyentuh jemari Arga, lalu meremasnya. “Lebih baik tidak punya anak daripada punya anak tapi ditelantarkan, kan?”

Sadar kekasihnya hendak membawa arah pembicaraan ke mana, Arga buru-buru menoleh. Dia bisa menatap kepedihan yang nyata di mata Lexi. Lantas dengan penuh ketenangan dia mencium kening Lexi sambil berkata, “Semua orang punya jalan masing-masing.”

♥♥♥

Akan tetapi, mengapa jalanku seperti ini?

Pertanyaan tersebut nyatanya tidak pernah benar-benar menghilang dari pikiran Lexi walaupun perjalanan yang dia lakukan telah memberinya banyak kebahagiaan.

Ingatan mengenai masa kecilnya yang pedih, kebahagiaan sementaranya bersama Mom dan Dad, juga sekelebat pengalaman menyedihkan tentang hari pertemuan pertamanya dengan Nurhasanah –seolah menjadi hantu di sana. Yang akan datang kala gelap malam datang, mengganggu waktu tidur Lexi.

“Sayang, are you ok?”

Pertanyaan Arga sontak membuat Lexi terkejut. Terlebih saat dia mendapati pria yang terbaring di kasur sebelah itu masih terjaga. “Kamu belum tidur?”

“Aku yang seharusnya tanya begitu.” Arga mengubah posisinya menjadi duduk. Tangannya mengucek mata, menghilangkan rasa sepat di sana. Kantuk menjalang pukul sepuluh malam. “Kenapa? Nggak sabar mau melanjutkan perjalanan ya? Tinggal dua hari lagi lho. Sabar ya.”

Lexi tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu. Akan tetapi, tidak menggeleng atau pun mengangguk. Dia malah berkata, “Makan yuk.”

“Makan?” Arga agak terkejut tetapi akhirnya mengangguk.

Meskipun telah lama pergi, keduanya memutuskan kembali ke penginapan lama tempat mereka sebelumnya menginap. Selain sudah nyaman dengan suasananya, kebetulan tempat itu pun masih kosong. Bahkan keduanya masih bisa menempati kamar yang sebelumnya mereka gunakan.

Toh, dengan bermalam di sana, mereka bisa menitipkan bakso dan makanan instan mereka di kulkas bersama. Yang sempat datang seminggu sebelumnya, diterima oleh Bli Indra karena Lexi dan Arga sedang bepergian.

Sebenarnya, mereka sempat memasak mengajak para penjaga serta penghuni lain makan bersama, tetapi berhubung masih ada sisa ..., Arga memutuskan memasak bakso buatan Rian menggunakan tambahan mi instan. Tanpa mencampurkan bumbu mi, tentu saja. Atau rasanya akan sangat aneh.

“Enak,” puji Lexi saat mencicipi. “Rian memang jago masak ya?”

Arga mematikan kompor, memindahkan bola daging dan kuah ke dalam mangkuk bening. “Bella dan Rian itu pasangan yang sama-sama suka masak. Kalau Rangga dan Nisa, pasangan yang jago jualan. Sedangkan Ferdi dan Bianca –“

“Kalau kita?”

Arga mengulas senyum. “Jalan-jalan?”

“Berpetualang menaklukkan dunia.”

“Memang benar kata orang.”

“Apa?”

“Jodoh itu mirip.”

“Yakin banget berjodoh sama aku?”

Arga tersentak, tetapi menyadari kekasihnya cuma bercanda, dia kembali tersenyum. “Bisa saja, Nona Cantik ini.” Kemudian meletakkan salah satu mangkok bakso di depan Lexi seraya berkata, “Selamat menikmati, Tuan Putri.”

“Terima kasih, Pangeran Tak Berkudaku.”

“Bisa saja kamu, Sayang.” Arga mencubit pipi Lexi, gemas. “Omong-omong, memangnya kamu betulan mau sama aku?”

“Hah? Maksudnya?”

“Maksud aku,” Arga menjeda kalimatnya. Dia meletakkan sendok dan garpu di pinggir mangkuk, untuk memberi kesempatan dirinya menatap mata Lexi lebih dalam. “Andai aku melamar –kamu mau?”

Lexi segera menghela napas panjang. “Jangan sekarang ya.”

“Iya. Aku paham kok.”

“Ga, ini bukan berarti aku tidak sayang kamu.” Lexi menyentuh punggung tangan kekasihnya.

“Iya. Aku paham. Aku mengerti.”

♥♥♥

Setelah puas menyantap makanan dan mencuci peralatan makan yang digunakan, keduanya memutuskan meninggalkan dapur.

Namun sebelum itu, Lexi meminta Arga menunggu. “Kamu ke kamar duluan ya. Aku masih mau ke depan.”

“Ngapain?”

“Cari angin.”

“Aku temani ya?”

“Tidak usah, Ga!” cegah Lexi. “Aku sebentar kok.”

Arga mengangguk, mengelus rambut Lexi. “Jangan lama-lama ya. Ini sudah malam.”

Lexi mengangguk, memasang wajah ceria. “Siap, Pak Bos!” Dan memberi salam ala militer.

Hanya saja, setelah kekasihnya masuk ke dalam kamar, senyuman Lexi pudar. Dia mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka aplikasi Instagram dan ..., ada nama perempuan itu di sana.

Ibunya.

Nurhasanah.

“Selamat ulang tahun, Sayang.”


Other Stories
Conclusion

Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...

The Last Escape

The Last Escape, Berawal dari rencana liburan oleh 15 sekawan dari satu universitas, untuk ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Download Titik & Koma