(bukan) Tentang Kita

Reads
874
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

45. Tuhan, Kenapa Harus Keluarga Mereka?


“Katanya, isinya baygon sama obat tikus. Soalnya, Bu Fatima takut lo mati kena pes daripada kena Covid.”

Adalah pertemuan terakhir Arga dengan Rian. Saat sahabatnya itu datang ke apartemen membawakan titipan mamanya. Yang saking sebalnya membuat Arga tak bisa menahan diri untuk tidak mendepak pria bertubuh tinggi nun besar itu dari hadapannya.

Namun, berbeda dengan pengalaman sebelum-sebelumnya, hari itu Rian yang biasanya akan menanggapi guyonan Arga dengan senyuman lebar justru terdiam. Lengkap dengan mata berkaca-kaca. Yang sudah bisa dipastikan membuat Arga diliputi keheranan.

“Ian, kesambet lo?”

Masih tak berkutik, Rian malah menjatuhkan dirinya di kursi besi di belakangnya. “Gue bingung, Mas.”

“Bingung?” Kening Arga mengerut. “Kalau bingung, pegangan.”

Rian berdecih, sebal. “Gue serius.”

“Sorry! Sorry!” Arga mendengkus, kemudian ikut duduk di sebelah Rian. Memberi jarak satu tanda silang di antara mereka. “Kenapa? Cerita!”

♥♥♥

Tanpa mandi dan hanya berganti pakaian, Arga ikut Pak Lukman pergi ke rumah sakit tempat Rian dirujuk. Tidak lupa, mereka membawakan baju ganti serta makanan untuk Rangga, yang sejak semalam berjaga di sana. Sendirian.

“Ferdi belum bisa ke sini,” kata Rangga. Lelah. Dia nyaris tidak bisa apa-apa saat Arga datang. Terduduk di atas kursi ruang tunggu ICU dengan tatapan kosong. “Dia masih di rumah sakit tempat Niar dirawat. Tapi nanti, katanya, bakal ke sini.”

“Maafin gue ya, Ngga,” ucap Arga dengan suara bergetar. Dia memeluk keponakan sekaligus sahabat di hadapannya. Yang langsung membuat air mata Rangga yang tertahan seketika ambyar.

Sebagai satu-satunya orang yang berada di sisi Rian semalaman, sudah bisa dipastikan Rangga mengalami trauma berat. Bisa dibayangkan sehancur apa mereka saat itu, sampai-sampai dua manusia paling berisik di dunia mereka ..., Rangga dan Rian ..., dua matahari itu padam.

“Harusnya semalam Rian bisa dioperasi. Tapi dia kena serangan jantung.” Rangga mengusap ingus yang jatuh di hidung mancungnya. “Sekarang dia koma, Mas.”

“Iya, Ngga. Iya.” Arga cuma bisa mendengarkan, menepuk-nepuk punggung Rangga yang entah mengapa tak bisa diluruskan. Tertunduk menyimpan duka.

“Kata dokter ..., kalau dioperasi ..., Rian bisa mati di meja operasi.”

“Nggak! Nggak!” Arga menggeleng, cepat. “Rian nggak akan mati. Dia kuat.”

Rangga mengangguk, memaksakan diri di tengah ketidakyakinan. “Tapi ..., kalau dia nggak kunjung membaik ..., dia juga –ya Allah!” Dia menengadahkan kepalanya ke atas, menahan tangis meski sia-sia. “Aku harus ngomong apa ke Bella, Mas? Daniar juga masih kecil. Dia masih butuh bapaknya.”

♥♥♥

Sebesar apa pun kita, akan selalu membutuhkan cinta dari orang tua.

Pengalaman pahitnya kehilangan sang ayah membuat Lexi tidak mampu membayangkan kondisi Daniar saat ini. Gadis kecil itu, yang selalu menyapanya dengan penuh cinta melalui sambungan telepon, yang selalu memamerkan mainan-mainan barunya dengan penuh semangat, juga gadis yang selalu mengajaknya makan dengan lahap ..., membuat Lexi teringat pada dirinya sendiri.

Kehilangan Dad di usianya yang hampir kepala tiga saja bagi Lexi merasa terlalu berat. Apalagi Daniar?

Pun Rian ayah yang sempurna. Setidaknya, begitulah Lexi mengenalnya selama ini. Sebab tidak pernah sekalipun dia melihat Rian meninggalkan Daniar. Hampir di setiap panggilan telepon yang mereka lakukan, di manapun dan kapan pun, Rian selalu didampingi putri kecilnya tersebut. Lengkap dengan aktivitas bermain, memasak bahkan dengan telaten memandikan dan mendandani Daniar yang aktif serta suka berlarian itu.

Lalu, amputasi?

Apakah ini artinya Daniar kecil tak akan bisa berlari lagi?

Sungguh, Lexi tak bisa membayangkannya.

Itulah kenapa, ketika Bu Fatimah dan Annisa –di perjumpaan pertama tersebut, terlihat jelas Annisa sangat kaget saat melihatnya muncul dari dalam kamar. Yang langsung membuat keduanya berpelukan erat, membagikan tangis penuh kepedihan.

“Kamu kok di sini?” tanya Annisa sambil melepaskan peluk.

Lexi mengangguk, mengusap air mata di wajahnya sendiri dengan sebelah tangan. “Daniar bagaimana? Dia baik-baik saja, kan?” Entah mengapa justru pertanyaan tersebut yang Lexi berikan. Padahal jelas-jelas, amputasi berarti tak mungkin baik-baik saja.

“Kondisinya sudah cukup stabil,” jawab Annisa. Dia memang sejak semalam berada di rumah sakit, menemani Bella sepanjang operasi dilakukan di balik pintu besi. “Ini gue mau ke sana lagi. Barusan balik buat ambil dokumen dan baju ganti.” Dia mengangkat tas besar di tangan kanannya, kemudian lanjut bertanya, “Mau ikut?”

“Boleh?”

“Tentu saja boleh.” Bu Fatimah menyahut dari belakang, membetulkan kerudung panjang di kepalanya. Dari pakaian yang telah berganti dan wajah segar meski mata bengkak, Lexi bisa menyimpulkan bahwa wanita kepala enam tersebut baru saja mandi. “Ya sudah, mumpung taksi-nya belum datang, silakan siap-siap dulu. Kami tunggu.”

♥♥♥

Menggunakan jasa taksi daring, Lexi bersama Bu Fatimah dan Annisa berangkat ke rumah sakit tempat Daniar di rawat. Gadis kecil itu masih tertidur ketika ketiganya sampai, di atas ranjang perawatan anak, lengkap dengan infus dan kaki kiri yang dibungkus perban tebal.

Di atas kursi besi di samping ranjang, Bella terduduk memegangi jemari kecil putrinya. Yang begitu menyadari kedatangan mereka buru-buru berdiri. Dari matanya, jelas sekali wanita dua puluh sembilan tahun tersebut sangat kelelahan. Wajahnya pucat, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya yang bengkak, menahan tangis.

“Eh, Lex?” sapa Bella. “Kapan kamu datang?”

Tak sanggup menjawab, Lexi buru-buru menghampiri dan merengkuh tubuh Bella. Meskipun niat awalnya ingin menguatkan, nyatanya tindakan Lexi malah membuat Bella ..., meledakkan tangis. Tersedu-sedu.

“I’m sorry, Bella. I’m so sorry.” Lexi meremas jemarinya sendiri, membiarkan Bella menumpahkan tangis di pakaiannya. Cukup lama, sampai akhirnya Bella melepaskan pelukan itu. Di sanalah Lexi kemudian berkata, “Kalau butuh apa-apa, kamu bilang ya. Aku pasti bantu.”

Bella mengangguk, sekadarnya. “Makasih, Lex.”

“Bagaimana, Bell? Dokter sudah ke sini?” Bu Fatimah bertanya, mendekati ranjang cucu kesayangannya untuk menyentuh kening Daniar. Tenang, wajah itu sangat tenang. Tanpa tahu bahwa sebelah kakinya telah menghilang.

Bella kembali mengangguk, tapi lebih lemah. “Sudah, Bu.”

“Apa katanya?” Sadar Daniar berkeringat, Bu Fatimah mengambil tisu di meja besi di samping ranjang untuk mengelap.

Bella menjawab dengan suara pelan, “Alhamdulillah hasil operasinya bagus. Cuma, memang harus terus dipantau.”

“Syukurlah,” ucap Annisa. Dia mengajak Lexi duduk di sofa panjang sebelah pintu. “Oh iya, Bell. Ini ada makan siang untukmu, titipan dari Umi. Kamu makan dulu ya?” lanjutnya seraya membuka tas yang sedari tadi dia bawa, mengeluarkan rantang dari dalamnya.

Yang sayangnya, tidak direspons apa-apa oleh Bella. Wanita itu melamun. Lexi bisa menangkap ketidakberdayaan yang begitu jelas di mata Bella, mengingatkannya pada sang ibu saat sang ayah meninggal dunia.

♥♥♥

“The hardest goodbyes are the ones you never saw coming.” Kata tersebut menjadi kalimat pertama yang keluar dari mulut Mom setelah pemakaman Dad.

Tak hanya sehat, Handrick sangat bugar untuk pria seusianya. Malah bisa dibilang, Marie lah yang rentan. Dengan gejala demensia yang wanita tua itu derita, meski sama-sama tak mampu membayangkan, paling tidak Lexi sama sekali buta mengenai kehilangan ayahnya. Tidak ada satu persiapan pun yang dia dan Marie simpan di hati mereka.

Dan, meskipun Rian belum meninggal tetapi bukankah itu sama saja?

♥♥♥

“Atit, Bunda! Ia atit!”

Tangisan Daniar membuat jantung Lexi teriris. Itulah mengapa dia buru-buru berdiri dan meninggalkan ruangan, berdiri di balik pintu ruang perawatan dengan air mata berlinang.

“Iya, Sayang. Iya. Mana yang sakit?”

Suara lembut Bella kian menyesakkan dadanya. Membuat Lexi kesulitan mengambil udara untuk mengisi kedua paru-parunya. Memaksanya menarik sebanyak-banyaknya ingus dari hidung mancungnya agar tetap bisa bernapas, meskipun sia-sia. Dia akhirnya mencoba mengambil napas melalui mulut. Yang membuatnya isakannya makin terlihat.

“Aki Ia atit, Bunda. Ia tidak mau ini. Ia tidak mau. Buang, Bunda.”

“Ya jangan dong! Niar harus kuat ya.”

“Daniar, Sayang. Sini sama Oma.” Suara Bu Fatimah ikut terdengar, yang Lexi simpulkan mencoba membujuk gadis kecil mereka.

Yang sayangnya, justru membuat Daniar berteriak histeris. “Ia mau Bunda! Ndak mau Oma! Ia idak mau, Bunda!”

“Iya. Iya. Sayangku, jangan nangis ya.”

“Atau mau sama Ate Ica?” Dari nada bicaranya, Annisa paling histeris menangis. “Daniar.”

“Idak mau!”

“Terus, Niar maunya bagaimana?” ratap Bella, frustrasi. “Bunda tiup ya kaki Niar. Ya?”

“Jangan, Bunda. Ia idak mau iup. Ia atit!”

Tak tahan, Lexi akhirnya berdiri. Dia menegakkan punggung, menyeka air mata, kemudian dengan cepat membalikkan badan dan masuk ke dalam ruangan. Menghampiri Daniar sambil berkata, “Sama Tante Eci ya?”

“Eci?” Daniar menoleh. Mata besarnya menatap lurus ke arah Lexi. Kaget. Namun, secara mengejutkan dia membalas uluran tangan itu, minta digendong. “Ate Eci. Aki Ia atit.”

“Iya, Sayang.” Lexi mendekap tubuh mungil Daniar, menepuk-nepuk dan pengusap kepalanya lembut. “Tidak apa-apa ya. Nanti Niar sembuh.”

“Ia idak akal. Tenapa Ia atit?”


Other Stories
Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Download Titik & Koma