47. Perempuan Itu Kuat. Mereka Bisa Menjadi Pasangan, Ibu Sekaligus Rumah Paling Aman Untuk Keluarganya
Selama berada di Ibu Kota, Lexi memutuskan untuk tinggal di rumah lama Bu Nurmala. Yang kebetulan kosong, sebab sejak Bianca melahirkan, ibu asuhnya itu memang memutuskan tinggal di rumah pribadi Bianca dan Ferdi untuk membantu pasangan muda itu mengurus buah hati mereka.
Namun, selama Lexi tinggal di sana, Bu Nurmala memutuskan kembali. Berganti menemani Lexi. Tak tega melepas anaknya itu seorang diri. Padahal, Lexi sudah terbiasa melanglang buana sendiri.
“Tetap saja, kamu perempuan!” ucap Bu Nurmala. “Lagi pula, Alden juga sudah tiga bulan. Bianca pun telah bisa mengurusnya sendiri. Sekalian, biar dia belajar mandiri. Kalau ada Bunda terus, kapan dia bisa belajar?”
Sama seperti kebanyakan orang tua, bila telah bersabda, tak ada yang bisa menyangkal omongan Bu Nurmala. Maka, hari-hari Lexi selama di Jakarta hanyalah menulis, menemani Bu Nurmala membuat kue untuk dibawa ke Panti Asuhan Lentera Matahari, tempatnya tinggal dahulu, atau bila punya cukup energi menahan tangis ..., mengunjungi Daniar.
Terlalu menyakitkan.
Ada begitu banyak kemiripan Bella dengan Marie, pikir Lexi. Kekuatan mereka. Keteguhan mereka. Juga, kesabaran tak terbatas mereka. Seolah sengaja dipertontonkan oleh Tuhan agar Lexi bisa menyaksikan perjuangan ibunya.
“Beda, tapi sama.” Lexi menceritakan keluhnya pada sang kekasih. “Terlebih, Rian juga sangat mirip dengan Daddy. Maksudku, kenapa orang tua yang baik seperti mereka justru diperlakukan seperti ini oleh Tuhan? Kenapa pasangan yang seromantis itu, harus dipisahkan oleh Tuhan? Sementara di sisi lain, why do rotten parents, cruel men like Yovan, get to linger in this world for so damn long?
“Mungkin, Tuhan hanya ingin orang-orang sepertinya meminta maaf dan menyadari kesalahan mereka sebelum mati,” jawab Arga.
Lexi tertawa. “Memang bisa? Aku tidak yakin. Iblis tetaplah iblis.”
♥♥♥
“Om Aga.”
Daniar yang kini duduk di pangkuannya membuat Arga tersenyum. Dia mengelus rambut pendek bocah itu, lembut. “Iya, Niar?”
“Ia akal ya?” tanya Daniar, polos. Matanya yang bulat sempurna menatap penuh rasa ingin tahu.
“Kok Niar bilang begitu? Niar kan anak pintar.”
“Tiyus, tenapa Ayah pelgi?”
“Ayah Niar nggak pergi. Ayah ada kok.”
“Bohong!” Daniar melipat bibir. Kedua alis matanya menurun. “Biatanya Ayah atit, api Ayah ..., telalu minta peluk Ia. Ata Ayah, peluk Ia bita bikin Ayah tembuh. Api, Ayah tekalang idak di cini. Ia sudah idak baik lagi ya?”
Bohong bila Arga selalu kuat.
Dia remuk, seremuk-remuknya.
“Bukan, Sayang.” Suara Bella terdengar dari arah pintu, masuk membawa sekeresek obat yang langsung dia letakkan ke dalam lemari di sisi ranjang kosong itu. Kemudian, mendekati sofa tempat Arga dan Daniar berada. Di belakangnya, tampak Annisa dan Lexi menyusul dengan langkah pelan.
“Bagaimana?” tanya Arga, penasaran.
Bukan Bella, Annisa yang menjawab, “Alhamdulillah, bayinya sehat.”
“Laki-laki atau perempuan?” tanya Arga, lagi.
Namun, sebelum mulut Annisa kembali terbuka, Bella lebih dulu menoel pipi Daniar. “Mau ikut, Bunda?”
“Mimik!” jawab Daniar.
“Sebentar ya. Bunda seduhkan dulu.” Bella menjauh, tidak jadi mengangkat tubuh Daniar. Dia berpindah ke meja lain di dalam ruangan, tempat termos air panas dan susu berada.
Lexi memilih posisi duduk persis di sebelah Arga, sementara Annisa di ujung sofa.
“Daniar menangis, tidak?”
“Idak, Ate Ica. Ia idak angis. Ia mau Ayah.”
Jawaban itu sudah pasti langsung membuat ketiga perempuan dewasa tersebut diam. Saling pandang dan buru-buru mengakhirinya dengan helaan napas, kompak. Bella melanjutkan penyeduhan susu bubuk dalam botol plastik, Annisa mengalihkan wajah ke arah lain sementara Lexi memutuskan mencium pipi Daniar. “Sayang, kamu tahu nggak kalau kamu anak yang pintar?”
“Ia mau Ayah. Mana Ayah Ia?”
“Kan kemarin Tante Eci sudah bilang, ayah Niar sedang sakit.”
“Talena Ia akal?”
“Bukan.”
“Tiyus?”
“Ayah sakit karena tubuhnya capek, makanya butuh istirahat. Dan Niar juga bukan anak yang nakal. Niar anak yang baik. Dan Ayah akan selalu sayang sama kamu.” Lexi memamerkan giginya, tersenyum sangat lebar. “Apalagi kan sebentar lagi kamu punya adik.”
Seolah baru teringat, Daniar memanggil Bella. “Bunda, tapan adik Ia datang? Ia mau adik.”
“Sabar ya.” Bella yang sudah selesai mengocok botol, sebelum memberikannya pada Daniar. “Nanti kalau sudah waktunya, Adik pasti datang.”
“Eh!” Baru saja masuk, Daniar memuntahkan kembali susu dari mulutnya.
“Kenapa? Panas ya?”
Daniar menggeleng. “Idak tama tayak Ayah. Ia idak mau.”
♥♥♥
“Rian memang lebih banyak mengasuh Daniar.”
Penjelasan tersebut Lexi dapatkan dari Bu Nurmala, lebih tepatnya saat kedua wanita beda generasi tersebut tengah menyiapkan sarapan. Secobek sambal terung, sayur bening bayam, tahu, tempe dan goreng, tak lupa ditemani beberapa buah petai segar sebagai pelengkap.
Tak bisa dimungkiri, hidup di Indonesia di sepuluh tahun usia kehidupannya tentu telah membentuk lidah Lexi untuk jatuh cinta pada makanan dari tanah kelahirannya ini. Tidak peduli seenak apa makanan buatan Mom dan Dad, tetap saja tidak mampu menyaingi aneka sambal khas Indonesia, terlebih buatan Bu Nurmala.
Itulah mengapa selama hampir sebulan berada di Jakarta, ditambah tidak banyak beraktivitas seperti sebelumnya, berat badan Lexi melonjak drastis. Tiga kilogram. Padahal dia sudah rutin berolahraga, pun waktu tidurnya juga banyak terbuang untuk membantu Arga dan keluarga mengurus Daniar. Bukan apa, melihat betapa harmonis keluarga kekasihnya, terutama di tengah badai cobaan seberat ini, alih-alih membuat Lexi mundur, justru sebaliknya. Lexi semakin ingin dekat, membantu Arga dan keluarga sebisa yang dia mampu.
Dan, salah satu kontribusinya selain mengunjungi rumah sakit adalah membuatkan makanan, terutama untuk Bella yang sedang mengandung. Berganti-gantian dengan Annisa dan Bianca, Lexi ambil bagian mengirimkan makanan sehat untuk sahabat mereka satu itu. Pun Daniar, beberapa hari terakhir anak itu menolak makan makanan rumah sakit. Dan atas inisiatifnya sendiri, Lexi membuatkan bento dengan bentuk-bentuk unik dan lucu. Sebagaimana dahulu sering dibuatkan oleh mendiang ayahnya saat Lexi menolak makan.
Benar saja, cara itu cukup berhasil. Setidaknya, untuk beberapa hari ke belakang.
“Jangan lupa tambahkan tomat segar. Daniar suka itu,” ujar Bu Nurmala dari meja dapur kepada Lexi yang tengah sibuk menata makan siang untuk dibawa ke rumah sakit.
Tidak spesial, memang. Terutama dengan keterbatasan kemampuan Lexi dalam urusan dapur. Akan tetapi dia cukup percaya diri dengan kemampuannya membentuk bola-bola nasi. Sedangkan sayur bayam, sambal dan ayam goreng ..., sejauh ini belum pernah mendapat komplain apa pun dari Bella.
Sesuai perintah Bu Nurmala, Lexi mengambil satu buah tomat segar berwarna merah dari dalam kulkas untuk diselipkan ke kotak nasi berbentuk beruang –yang sengaja dia beli khusus untuk Daniar. “Beres!” katanya diiringi tepuk tangan kecil. Puas.
“Kamu mau kirim pakai ojol, atau –“
“Khusus untuk hari ini aku mau antar sendiri, Bunda,” jawab Lexi sambil berjalan ke arah wastafel guna mencuci tangan, menghilangkan sisa lengket nasi dari permukaan tangan.
“Sendirian?” tanya Bu Nurmala, lagi.
Lexi menggeleng. “Dijemput Arga.”
“Oalah.” Bu Nurmala tersenyum, kemudian mengajak putri cantiknya itu mendekati meja makan. “Bunda senang sekali kalau kamu bisa berjodoh dengan Arga,” katanya tiba-tiba.
Lexi hanya tersenyum, tangannya sibuk memindahkan nasi ke dalam piring. Yang mana piring pertama dia berikan kepada Bu Nurmala. “Lauknya, mau sekalian?”
“Tidak usah, Bunda ambil sendiri,” jawab wanita berkerudung instan tanpa ciput tersebut. “Arga itu orang yang baik. Bunda kenal dengannya dan keluarganya sejak dulu. Bahkan jauh sebelum dia menjadi orang dewasa seperti sekarang. Dan yang bisa Bunda katakan padamu,” Bu Nurmala memberi jeda, “Bunda berharap kalian bisa sampai ke jenjang yang serius.”
“Terlalu jauh, Bun.”
“Jauh apanya?” Bu Nurmala malah tertawa. “Kalian juga kan sudah sama-sama dewasa.”
“Itu sih tergantung Arga, Bun. Dia mau atau tidak sama Sisi?”
“Pasti mau dong. Anak Bunda cantik begini.”
“Ih, Bunda.” Lexi terkekeh. “Tapi ya, Bun. Sisi penasaran, sedekat itukah persahabatan Ferdi dan teman-teman? Maksudku, bukan hanya ..., okelah, kalau Bella dan Arga kan memang saudara Arga, tapi Ferdi?”
Sadar arah pembicaraan, Bu Nurmala segera menjawab dengan anggukan. “Mereka semua sudah seperti saudara kandung. Malah, bisa dibilang lebih dari saudara kandung. Itulah kenapa bila kamu benar menikah dengan Arga nanti, kamu juga harus bisa menikah dengan teman-temannya.”
“Maksud Bunda?”
“Itu tadi. Persahabatan di usia yang semakin tua, terutama bila sudah sama-sama punya pasangan, untuk tetap utuh perlu dijaga. Dan terkadang, pasangan bisa menjadi salah satu alasan apakah hubungan akan menjadi semakin erat atau malah renggang. Makanya, tergantung kemampuanmu beradaptasi.”
♥♥♥
Sebenarnya, tidak sulit bagi Lexi untuk berbaur dengan sahabat-sahabat Arga. Pun mereka semua juga menerimanya. Tidak membedakan apakah dirinya orang lama atau orang baru. Malah bisa dibilang, mereka sangat menyambut kedatangannya bahkan sejak awal interaksi melalui sambungan telepon.
Hanya saja, sebagai orang yang dibesarkan sebagai anak tunggal dan nyaris tak pernah berbagi dengan siapa pun, setidaknya selama dua puluh tahun terakhir, Lexi terkadang juga dibuat kurang nyaman dengan keramaian ini.
Tidak ada yang salah, cuma Lexi saja yang belum bisa menjaga perasaannya sendiri. Terlebih saat menyaksikan kepedulian Arga terhadap Bella.
“Kita berhenti di minimarket depan ya? Aku mau membelikan buah untuk Bella.”
“Aku sudah siapkan di tas,” jawab Lexi.
“Buah apa?” tanya Arga sedikit berteriak, mencoba melawan kencangnya embusan angin jalanan.
Lexi mendekatkan mulutnya ke kepala Arga. “Pepaya.”
“Ya sudah, nggak apa-apa. Kita belikan dia alpukat. Selain sudah lama nggak makan, Bella juga suka alpukat. Itu bagus untuk janinnya. Sekalian kita belikan camilan untuk Niar juga. Ya?”
Other Stories
Labirin Rumit
Di tengah asiknya membicarakan liburan sekolah, Zian bocah SD mencari gara-gara di tengah ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...