(bukan) Tentang Kita

Reads
877
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

50. Selain Komitmen, Hal Paling Penting Dari Sebuah Hubungan Adalah Komunikasi


“Makan dulu, Bell.”

Arga menerobos masuk ke rumah Bella yang berada persis di samping rumah sang mama dengan membawa semangkuk bubur panas. Sebab dia tahu bila wanita malang itu kini sedang sakit, terbaring bersama Daniar di atas kasur dengan wajah pucat dan mata yang dipaksa terbuka.

“Setelah ini minum obat.” Arga kembali bicara walau tak ada jawaban. Dia duduk di tepi ranjang, mengaduk bubur, meniupnya sebentar kemudian menyodorkannya di depan mulut Bella. “Kalau kamu nggak mau, kita ke rumah sakit. Biar sekalian kamu dirawat inap. Mau?”

Bella menggeleng, lemas. “Aku nggak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan.”

“Ya justru itu, orang yang lelah butuh istirahat. Butuh banyak makan biar energinya cukup.” Arga kembali mengayunkan sendok, memberi sinyal agar Bella segera memakan bubur ayam tersebut. “Tenang saja. Ini buatan Mama, bukan buatanku.”

Guyonan Arga berhasil membuat bibir Bella tersenyum. “Kalau Mas yang bikin, aku pasti langsung sembuh dari demam.”

“Mau aku buatkan?”

“Tapi ganti kena darah tinggi.”

“Kurang ajar!” Arga mau tak mau terkekeh. “Ya sudah, cepat makan! Besok aku bikinkan bubur rasa lautan.”

“Laut?”

“Garam kan asin. Garam dari laut. Ingat?”

“Laut utara atau selatan?” Suara Rangga sontak membuat keduanya menoleh ke arah pintu kamar, tempat di mana pria berhidung mancung itu berdiri membawa keresek putih bergambar merek roti terkenal. “Roti pisang kesukaan lo. Mumpung masih hangat, Bell.”

Bella menjawab, “Makasih, Ngga.”

“Dimakan lho ya. Susah-susah gue beli ini.” Rangga meletakkan keresek ke atas meja kayu kecil di sebelah pintu, bersisihan dengan teh hangat buatan Arga yang mengeluarkan aroma melati. “Kalau sampai nggak lo makan, biar diamuk sama Annisa nanti.”

“Terus, di mana dia sekarang?” Arga menoleh pada Rangga, tetapi tangannya kembali memberi Bella sesendok bubur beserta potongan ayam.

Rangga meraih kursi plastik di sebelah almari untuk dia duduki. “Itu, di depan lagi belanja.”

“Di tukang sayur?”

“Iya, Mas Arga. Memang di mana lagi?” Rangga tersenyum sejenak, tetapi segera hilang dan berganti ekspresi serius saat netranya memandang ke arah Bella.

Sadar dirinya diperhatikan, Bella bertanya, “Kenapa, Ngga?”

“Nggak kok, Bell.” Rangga yang merasa tak enak hati buru-buru mengalihkan topik. “Oh iya, Mas. Kapan lo mulai keliling Indonesia lagi? Kalau kelamaan, memang Lexi nggak keberatan ya?”

Arga mengaduk bubur di dalam mangkuk, memotong hati ayam menggunakan sendok dan menghancurkannya. “Belum kepikiran, Ga. Lagian, gue di sini saja ini anak,” dia menunjuk Bella menggunakan dagu, “susah banget di suruh makan. Apalagi nggak ada gue? Bisa-bisa keponakan gue gizi buruk.”

“Enak saja!” Bella meraih bantal kecil milik Daniar di sebelahnya, kemudian menjadikannya senjata menyerang Arga. Yang untungnya, bisa Arga hindari sebelum bubur di tangannya tumpah terkena pukulan. “Mas, nggak apa lho.”

“Apanya yang nggak apa, Bella?”

“Mas Arga itu sekarang sudah jadi pasangan orang.”

“Terus? Kenapa?”

“Jangan berlagak kagak tahu!” Rangga menyahut, mengejek. “Lexi adalah pasangan lo. Meskipun kalian belum menikah, tapi nanti kan akan menikah. Jadi, mulai sekarang ..., biasakan untuk mengajak dia berunding. Terutama yang menyangkut tujuan hidup dan masa depan kalian.”

“Sok tahu lo, Ngga.”

“Lah, gue mah memang tahu!” protes Rangga. “Umur boleh lebih tua lo, tapi urusan hubungan dan komitmen jangka panjang,” dia membusungkan dada, menepuk bangga. “Gue sudah menikah lebih dari delapan tahun. Jangankan asam dan garam, racun juga sudah gue cicipi.”

“Racun apa?”

Sama seperti sebelumnya, kedatangan orang dari arah pintu langsung membuat semua menoleh. Akan tetapi, begitu menyadari sosok yang muncul ialah sang istri, Rangga yang sebelumnya banyak bicara segera mengunci mulut rapat-rapat.

“Kenapa pada diam?” tanya Annisa, lagi.

“Eh, ini. Mas Arga lho tanya racun buat tikus di apartemennya, Umi.” Rangga menjelaskan, mencari alasan sebelum Bella dan Arga memberi tahu pembicaraan mereka sebelumnya.

Dan, tampaknya berhasil. Karena detik berikutnya, Annisa langsung melupakan topik tersebut dan mengganti dengan, “Mas Arga, dicariin Lexi itu.”

“Suruh masuk saja, Nis.” Bella kembali bersuara, lemas dan menahan sesak. “Sini, kita ngobrol bareng-bareng.”

“Sudah gue ajak, Bell. Tapi dia nggak mau. Katanya, mau ngajak Mas Arga ngomong berdua.”

“Ngomongin apa? Ciye!”

Rangga yang menggoda mendapat hadiah jitakan di kepala.

Namun, mengingat status pria berkacamata itu sendiri merupakan pamannya, Rangga tidak membalas dan justru tertawa keras-keras.

♥♥♥

Apakah dia harus marah atau justru diam?

“ ..., menurutku, aku tidak salah. Aku mencintainya. Toh, aku tidak maksa Ellia hidup bersamaku, kan? Jangankan menawarkan –dia malah tidak tahu aku mencintainya.”

Sejak obrolannya bersama Bianca semalam, Lexi tidak lagi bisa menahan diri untuk mempertanyakan maksud sebenarnya dari Arga. Mengenai siapa Ellia? Benarkah Ellia adalah Bella? Dan apakah setelah semua tragedi ini, kekasihnya itu masih dan akan menganggap Ellia –tidak! Sama sekali tidak benar bila Lexi membenci Bella.

Lexi tentu sadar betul bahwa Bella bukanlah objek yang tepat untuk rasa cemburunya. Pun dia tahu persis betapa besar cinta Bella untuk Rian. Yang tergambar jelas dari cara wanita malang itu menatap. Sama sekali berbeda dengan tatapan yang Bella berikan untuk Arga. Bagai bumi dan langit.

Namun, tentu saja masalah utama dari semua ini bukan Bella.

Sebagai kekasih Arga, bukankah Lexi berhak menemukan terang? Dia perlu tahu apakah pria itu benar-benar mencintainya atau ..., sekadar pelampiasan. Walau sejujurnya, selama berbulan-bulan mereka bersama, bohong bila Lexi tidak menyadari ada bunga yang tumbuh di antara mereka. Sayangnya, seberapa besar? Seberapa subur?

Maka, setelah membulatkan tekat, siang itu Lexi bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah dan menuju ke rumah orang tua Arga. Tempat di mana sang kekasih menginap sejak mereka pulang dari Bali. Yang benar saja, masih seperti sebelumnya, “Arga di rumah Bella.”

“Sejak kapan, Tante?”

“Baru saja. Kamu ke sana saja.”

“Tidak usah, Tante. Saya menunggu di sini saja.”

♥♥♥

“Kenapa, Lex?”

Sekalipun kalimat seperti itu sudah biasa keluar dari mulut Arga, tetapi entah mengapa sekarang terasa amat menyakitkan di telinga Lexi. Terlebih bila dia mengingat betapa lembut pria di hadapannya ini memperlakukan Bella selama ini. Yang padahal, anehnya, sebelum dia tahu fakta sebenarnya dari ikatan keduanya –Lexi tidak merasa ada masalah. Sama sekali.

“Bisa kita bicara berdua?”

“Tentu.” Arga mengangguk tanpa berpikir. “Di ruang tamu ya?”

“Jangan!” tolak Lexi. “Aku benar-benar ingin bicara berdua saja. Hanya aku dan kamu.”

Dan begitulah kemudian mereka berjalan berdua ke kafe di luar gang. Tidak jauh, kira-kira sepuluh menit jalan kaki.

Keduanya duduk di kursi depan kafe, memesan sepasang americano serta kue cokelat yang datang beberapa menit setelah pesanan dibuat. Cukup cepat, mengingat suasana di sana lumayan sepi. Mendukung keinginan Lexi untuk bicara berdua.

“Sayang, meskipun tempat ini kecil tapi kue cokelat mereka enak lho. Aku sudah sering makan di sini sejak pertama kali kafe ini buka.” Arga bercerita, bersiap menusuk permukaan kue dengan garpu.

Sayangnya, Lexi justru menjawab dengan, “Sama Bella?”

“What?” Arga yang terkejut mengangkat kepala, menatap mata kekasihnya dengan penuh kebingungan. “Kamu ngomong apa sih?”

Lexi menarik napas panjang, sangat panjang hingga kedua paru-parunya terasa penuh. Setelahnya, dia hela cepat melalui mulut. “Why did you have to lie to me?"

“Aku? Bohong?” Arga mengangkat sebelah alisnya. “Bohong apa?”

“Bella is Ellia, right?” ketus Lexi. “Arga, jawab pertanyaanku! Jangan diam saja!”

Tak bisa mengelak, Arga mengangguk. “Ya.”

“Oh My God!” Lexi menepuk kedua pipinya sendiri. “Dan kamu tidak pernah cerita ini ke aku?”

“Aku pikir, kamu sudah tahu.”

“Ya ampun, Arga!” geram Lexi. “Bisa-bisanya kamu ....” Dia meremas udara, gemas. “Kamu tahu tidak kalau selama ini aku mengira Bella benar-benar saudara kandung kamu?”

Arga menggeleng, polos. “Kenapa kamu malah berpikir begitu? Kan aku nggak pernah ngomong begitu?”

“Ya karena –tunggu!” Lexi terpaksa menjeda omelannya saat suara dering ponsel terdengar dari dalam tas jinjingnya. “Siapa sih? Ya ampun, ganggu saja!” Dia buru-buru mengambil gawainya untuk memastikan. “Rangga? Tumben dia menelepon aku.”

“Angkat. Siapa tahu penting.” Arga menegakkan punggung, penasaran.

Meski setengah hati, Lexi tetap menggeser tanda hijau pada layar. Kemudian menyapa orang di seberang seramah mungkin. “Ya, Ngga?”

“Kalian di mana?” tanya Rangga, menodong. Yang setelah dijelaskan segera dilanjutkan dengan, “Bisa balik sekarang?”

“Sekarang?” Lexi memberi isyarat pada Arga menggunakan kode mata. “Sebentar ya. Kami masih makan siang.”

“Tunda dulu makanan kalian.” Suara Rangga perlahan berubah, gemetar. “Balik. Sekarang.”

“I’m sorry, it’s not that I don’t want to come home right now, but we really need some time together. Just for a little while.”

“Kalau begitu, berikan ponselnya ke Mas Arga,” pinta Rangga. “Ini penting.”

Tak mau ribut, Lexi segera menyodorkan benda tersebut pada kekasihnya. “Silakan.”

“Baiklah.” Ragu-ragu Arga menerima, lalu menempelkan ponsel di telinga kanannya. “Halo. Ada apa, Ngga? Kalau nggak penting, jangan telepon. Gue lagi sibuk ini. Kan lo yang bilang tadi ..., gue harus lebih bisa berkomunikasi dengan Lexi.”

“Mas, sorry gue ganggu kalian tapi –“ Suara Rangga terjeda, bukan oleh koneksi buruk melainkan isakan kecil. “Rian sudah nggak ada.”

“Hah? Nggak ada bagaimana maksudnya?”

“Ya nggak ada!” bisik Rangga. “Dia sudah pergi.”

“Ngga, jangan bercanda!” Arga berteriak, membuat orang-orang di jalanan menoleh ke arahnya. “Nggak lucu!”

Sayangnya, Rangga malah makin terisak. “Siapa yang bercanda sih, Mas? Gue memang brengsek, tapi nggak akan melakukan hal setega itu ke sahabat sendiri!”

“Ya Allah, jadi benar?”

Terdengar tangisan di seberang telepon, yang mengonfirmasi pernyataan Rangga. “Barusan kakaknya Rian datang ..., mereka masih di sini ..., makanya, lo cepat pulang.”

Klik.

Begitu sambungan terputus, Arga ambruk.


Other Stories
Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Liburan Yang Menelanjangi Kami

Tujuh mahasiswa BAKOR-UNAS memilih merayakan kebebasan selepas UAS dengan cara yang tampak ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Download Titik & Koma