(bukan) Tentang Kita

Reads
898
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

51. Aku Pergi Bukan Karena Tak Cinta Lagi


Rian? Meninggal?

Walau sebetulnya telah mengira hal ini cepat atau lambat akan terjadi, tetapi kenyataannya begitu kematian benar-benar menjemput Rian, mereka semua tetap sulit menerima.

Jangankan untuk berlari, kedua kaki Arga saja perlu bekerja sangat keras untuk sampai ke rumah. Berkali-kali dia nyaris terjatuh, mengabaikan Lexi yang tidak berhenti bertanya sambil mengejarnya. Mempertanyakan mengapa air mata Arga mengalir deras bagai anak sungai.

Dan benar saja, beberapa meter sebelum mereka sampai di rumah Bella, tampak kerumunan tetangga telah memenuhi halaman. Yang segera Arga terobos begitu saja. Sementara Lexi yang kebingungan segera ditarik oleh seseorang.

“Nisa?”

Yang dimaksud menghambur, memeluk Lexi erat. Menumpahkan tangis secara bertubi-tubi di pelukan Lexi.

“What happend?”

Annisa malah menggeleng. Karena bahkan sebelum mulut itu sempat merangkai jawaban, terdengar suara teriakan Bu Fatimah dari dalam rumah. Yang seketika membuat kedua wanita muda tersebut buru-buru pergi untuk mengecek. Memastikan.

“Tolong, minggir!” Seruan Arga membuat para tetangga memberi mereka jalan. “Ngga, ambil mobil!” lanjutnya seraya membawa tubuh Bella yang tidak sadarkan diri menuju tepi jalan. Di susul oleh Bu Fatimah dari belakang.

Tak lama, mobil Pak Lukman di keluarkan dari garasi. Rangga selaku sopir membawa ketiganya pergi.

♥♥♥

“Bella!”

Itulah satu-satunya kata yang sanggup keluar dari mulut Arga begitu sampai di kediaman Bella, dan mendapati perempuan berambut panjang tersebut terduduk layu di samping sang mama. Lengkap dengan tatapan kosong. Sementara di sisi lain ruangan, tampak dua wanita empat puluh tahunan duduk berdampingan.

Salah satu kakak Rian, Mbak Ratih, menggenggam tangan Bella. Menangis penuh penyesalan sambil berkata, “Yang sabar ya, Bell. Ikhlas. Kasihan Rian.”

“Rian sudah nggak sakit lagi, Bell.” Mbak Ratna, kakak yang berambut pendek menimpali. “Kamu yang kuat. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Nanti kita besarkan Niar sama-sama ya?”

Jadi, ini benar?

♥♥♥

Namun, siapa yang bisa menerima kematian orang terkasihnya semudah itu?

Persis beberapa detik setelah Mbak Ratih memeluknya, Bella tidak sadarkan diri. Demikianlah kemudian dia bisa berakhir di Unit Gawat Darurat untuk diberi infus dan selang oksigen yang dipasang di hidung.

Lexi dan Annisa sendiri menyusul menggunakan sepeda motor. Yang bahkan setelah keduanya sampai, Bella belum juga membuka mata.

“Dia terlalu syok,” jelas Bu Fatimah. “Oh iya, kalian kok di sini? Niar bagaimana?”

“Sama kakaknya Rian, Bu.” Annisa yang menjawab. “Abi!” Dia segera memanggil saat melihat suaminya di kejauhan.

Rangga menoleh, kemudian berlari menghampiri. “Umi kok di sini?”

“Mas Arga mana?” Alih-alih menjawab, Annisa malah balik bertanya. Matanya memberi isyarat pada Rangga untuk menoleh ke arah Lexi.

Yang dijawab oleh Rangga dengan, “Mas Arga di dalam, Lex. Masuk saja.”

♥♥♥

Sesuai pernyataan Rangga, Arga berada di dalam ruangan. Duduk di kursi plastik di sebelah ranjang tempat Bella terbaring sambil mengusap-usap kening wanita itu menggunakan tisu.

Lembut?

Lexi tidak tahu apakah kata lembut yang terlintas di kepalanya benar-benar sesuai fakta atau sekadar bentuk dari manifestasi kecemburuannya semata.

Namun, kenyataannya dia tetap bisa menahan diri. Terlebih saat melihat kerapuhan Bella. Membuatnya sekali lagi teringat pada sosok Marie.

“Sayang?” panggil Arga, kaget. Sama seperti keponakannya, Arga pun tak menyangka akan melihat pasangannya berada di sana. “Rian sudah nggak ada.”

Lexi mengangguk, mengulurkan tangan untuk memeluk Arga yang tidak beranjak dari kursi. Membiarkan pria itu menangis di pelukannya.

♥♥♥

“Lo serius sama Bella?” Arga ingat betul pernah memberikan pertanyaan tersebut kepada Rian, persis beberapa minggu sebelum pria itu resmi mempersunting Bella.

Yang sudah bisa dipastikan dijawab dengan anggukan penuh keyakinan oleh Rian. Sebab tidak ada satu tetes pun keraguan dalam diri pria yang pada waktu itu baru berusia dua puluh lima tahun tersebut. “Memang kenapa?”

“Gue cuma mau memastikan saja,” kata Arga, dingin. “Gue nggak mau lo mempermainkan Bella. Sekali saja lo bikin dia nangis, apalagi sampai meninggalkan dia ..., gue sendiri yang akan bikin muka lo babak belur.”

Rian refleks menyentuh wajahnya sendiri, menepuk-nepuk kedua pipinya sebelum akhirnya bergidik ngeri. “Seram banget,” gumamnya. “Tapi makasih ya, Mas Arga.”

“Buat?”

“Karena Mas sudah sayang dan jagain Bella selama ini.” Rian meringis, menampakkan senyuman lebar di wajahnya. “Mulai sekarang, Bella jadi tanggung jawabku. Eh, jangan nangis!”

Untuk bagian terakhir, Arga buru-buru mengusap wajah. Memastikan tetesan air yang mengalir di ujung matanya tidak jatuh. “Gue hanya sedih karena adik gue –“

“Mas nggak akan kehilangan Bella.” Rian menepuk bahu Arga, kuat. “Justru nanti Mas Arga bakal punya adik baru.”

“Siapa?”

“Akulah!” Rian menunjuk dirinya sendiri. “Memang siapa lagi?”

“Ih, najis!” ucap Arga diiringi gidikan ngeri. “Ogah gue punya adik kayak lo. Si Rangga saja sudah cukup bikin kepala gue mumet, malah ketambahan satu lagi.” Dia berdiri, seakan tidak siap berdekatan dengan pria berkulit sawo matang itu.

Tak menyerah, Rian mencoba meraih lengan Arga. “Kok begitu sih, Mas? Aku baik lho. Ganteng lho adikmu ini. Mas Arga! Jangan lari!”

♥♥♥

Namun, sama seperti kebanyakan saudara, Arga tidak sadar kapan tepatnya dia mulai menyadari betapa berharganya Rian dalam hidupnya. Yang jelas, siang itu ketika dia akhirnya sampai di pemakaman, mendampingi Bella untuk menemui Rian yang bahkan tak bisa lagi mereka sentuh, air mata Arga tak berhenti luruh.

“Mas Rian.” Bella meratap, menyentuh nisan suaminya dengan jemarinya yang dipenuhi lumpur. “Aku kuat. Aku rela. Aku nggak akan nangis. Aku janji.”

“Tidak apa-apa, Sayang.” Bu Fatimah yang duduk di samping Bella mengelus kepala putri angkatnya bertutup selendang panjang itu dengan sangat lembut. Sesekali, dia menjatuhkan kecupan di kepala Bella. Menguatkan. “Kamu kalau mau menangis, tidak usah ditahan.”

Bella malah menggeleng. “Nggak, Bu. Aku nggak mau Mas Rian sedih.” Dia meremas tanah basah bertabur bunga aneka warna di hadapannya, mencoba menahan emosi. “Mas Rian percaya aku bisa. Dia nggak akan pergi seandainya ....” Suaranya mengecil, berubah menjadi isakan yang mengabur. “Aku sayang banget sama kamu, Mas. Kamu nggak usah pikirkan aku ya. Kamu yang tenang di sana.”

♥♥♥

Tears are the silent language of grief.

Tampaknya pernyataan Voltaire tersebut sangat cocok untuk menggambarkan kondisi Bella. Sebab sejak pemakaman, tidak sekali pun Arga melihat tanda-tanda kehidupan darinya.

Bella memang masih bernapas, duduk dan memangku Daniar. Hanya saja tatapan matanya kosong, seolah-olah tubuh tersebut tidak lebih dari cangkang kosong tanpa nyawa. Akibatnya, seminggu kemudian dia kembali diantarkan ke rumah sakit karena mulutnya menolak diisi. Tidak peduli sekeras apa usaha Arga dan orang rumah memaksanya makan.

“Sedikit saja, Bell.” Bu Fatimah masih menjadi orang terdekat yang senantiasa berada di sisi wanita malang itu. Mencoba memasukkan menu makanan rumah sakit ke dalam mulut Bella yang terkunci rapat. “Biar kamu bisa minum obat. Ya?”

“Aku nggak lapar, Bu.”

“Lapar atau tidak, tetap harus makan dong, Sayang. Memang kamu tidak kasihan pada anakmu? Kalau sampai terjadi apa-apa pada kamu dan bayimu, bagaimana nasib Daniar?” cerocos Bu Fatimah seraya mengaduk nasi dan ikan di kotak makan rumah sakit yang dia bawa.

Arga yang duduk di sisi lain ranjang menyentuh kaki Bella. “Atau, kamu mau makanan lain? Aku belikan di luar. Mau?”

“Nggak usah, Mas.” Bella menolak, menggeleng kecil. “Aku betulan nggak nafsu makan.”

“Assalamualaikum,” sapa Ferdi dari arah pintu. Pria tampan bertubuh tinggi itu muncul bersama perempuan muda berambut panjang yang dibalut gaun pendek di bawah lutut.

Bianca tersenyum lebar, menyapa Bella dengan lambaian tangan sebelum akhirnya mengikuti sang suami menyalami semua orang di dalam ruangan. “Maaf ya, aku baru bisa datang. Alden baru bisa ditinggal, soalnya.”

“Iya, tidak apa-apa.” Bu Fatimah membiarkan punggung tangannya dicium oleh Bianca. “Bundamu sehat kan, Bi?”

“Sehat kok. Tante Ima sendiri?”

“Alhamdulillah, Tante sehat,” jawab Bu Fatimah sembari menggeser posisi duduknya, memberi kesempatan Bianca agar bisa lebih dekat dengan Bella. “Ini lho, Bi. Mbakmu tidak mau makan. Masa dari tadi pagi belum ada sesuap nasi pun yang masuk ke mulutnya?”

“Ya ampun, Mbak Bell.” Bianca menghela napas pendek. “Nggak boleh begitu. Jangan siksa diri sendiri.”

Bella malah tersenyum kecut, sebelum mengalihkan obrolan dengan, “Daniar bagaimana? Dia sehat, kan?”

“Daniar aman bersama Mbak Annisa dan Mas Rangga.” Ferdi yang menjelaskan. “Tadi sih kata Mas Rangga, mereka akan membawanya terapi besok pagi.”

“Makanya, kamu harus sembuh biar bisa ketemu Daniar.” Arga mengusap kepala Bella, penuh kasih sayang sebagai seorang saudara. Kakak yang tidak tega melihat kehancuran adik kecilnya. “Ya? Kalau kamu terus-terusan nggak mau minum obat, bagaimana tekanan darahmu bisa turun?”

“Mbak Bella kena darah tinggi?”

“Iya, Bi.” Bu Fatimah menoleh ke arah Bella, diiringi helaan napas pendek. “Seratus lima puluh.”

“Per sembilan puluh lima,” tambah Arga.

“Mendekati preeklampsia dong?”

“Iya, Bi. Maka dari itu. Sudah begitu kena anemia pula.” Arga geleng-geleng kepala. “Ditambah ..., ini orang keras kepala luar biasa.”

“Mas Arga, berlebihan.”

“Memang benar kok, Bell. Kamu itu ngeyelan.”

“Sudah! Sudah!” Bu Fatimah memisah perdebatan. “Arga, nggak boleh begitu. Kasihan Bella.”

Merasa dikhianati sang mama, Arga berpindah ke sofa. Tak lupa, mengajak Ferdi. “Duduk sini lho.”

“Iya, Mas.” Ferdi menurut. “Oh iya, Mas, Sisi sudah mengabari Mas Arga?”

Arga yang terkejut, menegakkan punggung. Dia urung menyandarkan diri di sandaran sofa. “Kabar apa?”

“Lho, bagaimana sih?” Bianca ikut menyahut. “Dia kan ke Bali.”

“Hah?”

“Kapan?”

Bukan hanya Arga, Bu Fatimah ikut bertanya.

“Lho, dia nggak bilang ke Mas Arga?” Bianca malah bertanya balik, tak kalah kebingungan. “Kemarin. Dia naik kereta. Aku pikir, malah Mas Arga yang antar dia ke stasiun.”

“Nggak tuh.” Arga berdiri, meraih tas mamanya yang ada di atas meja kecil di samping sofa untuk mengambil gawai.

Sejak Bella masuk rumah sakit, Arga memang jarang memegang ponsel. Bahkan sedari kemarin, bisa dihitung jadi berapa kali dia mengambil benda itu, yang sengaja dia titipkan pada ibunya.

Tak butuh waktu lama, ponsel kembali tersambung ke internet. Menampilkan ratusan notifikasi masuk. Dari penggemar di media sosial, Mbak Indah yang meminta revisi dan ..., Lexi?

Hanya ada satu pesan masuk dari kekasihnya itu yang berbunyi, bisa temui aku di stasiun sekarang? Aku akan berangkat dua jam lagi.


Other Stories
Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Randa Pulau Rante

“Kadang, kebebasan hanya bisa ditemukan setelah kita berani meninggalkan semuanya.” Sa ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Download Titik & Koma