(bukan) Tentang Kita

Reads
909
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

52. Jangan Pernah Berasumsi Soal Perasaan


“Kamu yakin mau pergi sendiri?” Bu Nurmala berdiri di depan pintu sembari memperhatikan anak asuhnya yang sedang sibuk mengemasi pakaian ke dalam tas besar. Terlihat jelas kekhawatiran di mata tuanya. Keningnya mengerut, menampilkan kepedihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Akan tetapi, seolah tidak punya kuasa untuk menahan Lexi lebih lama, wanita berkulit putih tersebut hanya bisa memberi restu. “Pokoknya, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari Bunda ya.”

Lexi menoleh sebentar, sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya. “Santai saja, Bun. Kan aku sudah pernah sebelumnya.”

“Tapi itu kan cuma di Surabaya,” ralat Bu Nurmala. “Dan kamu ke Bali kemarin pun dengan Arga.”

“Bunda,” panggil Lexi. Dia menyudahi aktivitasnya, berbalik dan meraih tangan keriput Nurmala untuk meminta wanita paruh baya tersebut duduk di tepi ranjang tempat beberapa tumpuk pakaian milik Lexi tergeletak siap ditata. “Dengar! Aku dari Amerika ke Indonesia sendiri saja bisa, apalagi hanya dari Jakarta ke Bali?” Dia mengosok-gosokkan jempol dan telunjuk kanannya sendiri sambil menyipitkan mata. “Kecil itu,” lanjutnya penuh percaya diri.

Bu Nurmala tertawa. “Bisa saja kamu. Tapi, Si, kenapa kamu tidak menunggu Arga saja? Kalian tidak bertengkar, kan?”

“Tidak kok.”

Secara teknis, jawaban Lexi bukanlah kebohongan. Sebab sejatinya hubungan dia dengan sang kekasih memang baik-baik saja. Pun Arga masih sering membicarakan misi mereka keliling Indonesia di beberapa kesempatan. Sayangnya, tidak semua hal patut menjadi kenyataan, bukan?

♥♥♥

Masih tentang kecemburuan tidak berdasar. Atau setidaknya, itulah yang dia pikirkan mengenai perasaannya selama beberapa minggu terakhir, terlebih setelah Rian berpulang.

Masih terekam jelas di kepala Lexi di hari kematian Rian. Saat untuk pertama kalinya mereka datang ke pemakaman, memastikan bahwa nisan bertuliskan Rian Hermawan itu berada di tempatnya, di atas gundukan tanah basah bertabur bunga lengkap dengan potret Rian dalam mode hitam-putih. Ironis.

“Itu Ayah, Sayang.” Annisa berkata pada Daniar kecil di pelukannya, membuat Lexi yang berdiri di samping wanita berjilbab hitam tersebut hanya bisa menelan pil pahit.

Bagaimana mungkin?

Bagaimana mungkin gadis sekecil Daniar harus kehilangan ayahnya? Dia bahkan belum sepenuhnya tahu apa itu dunia, apa itu ayah dan apa itu kehilangan tapi Tuhan telah mencabut cinta pertamanya? Oh Tuhan, Lexi menjerit dalam diam.

“Kita pulang ya, Sayang,” ajak Bu Fatimah sambil membantu Bella berdiri. Yang tak mau diam, Lexi spontan ikut berjongkok dan memapah wanita penuh mendung itu berdiri.

“Pelan-pelan, Bell.” Lexi memperingatkan. “Kamu kuat?”

Bella mengangguk, sangat lemah dan nyaris tidak terlihat. “Mas, aku besok ke sini lagi ya. Kamu nggak apa-apa kan sendirian?”

“Insya Allah Rian baik-baik saja. Dia sudah di alam yang berbeda dengan kita,” terang Pak Lukman.

“Yang dia butuhkan hanya doa dari kita,” tambah Rangga. Padahal dia merupakan salah satu orang yang tak berhenti menangis sejak kemarin. Air matanya sudah kering, tetapi mata bengkaknya bahkan lebih besar dari milik Bella. “Dari kamu terutama. Dan dari Daniar. Ya?”

Lagi, Bella mengangguk. “Terima kasih, teman-teman.” Dia mengusap wajah menggunakan ujung kerudungnya. “Maafkan Mas Rian ya. Maafkan Mas Rian seandainya dia ada salah.”

♥♥♥

“Rian memang menyebalkan tapi dia nggak pernah menyakiti hati siapa pun.” Pernyataan itu disampaikan Arga setelahnya, persis begitu Bella dan yang lain pulang. Dan, karena dalam perjalanan ke makam dia memang berboncengan sepeda motor dengan Lexi, maka keduanya bisa memutuskan tak ikut ketika rombongan kembali.

Lexi diam, berjongkok di pinggir makam menyaksikan kekasihnya berduka. Dia menggenggam tangan kiri Arga, sementara tangan kanan pria itu sibuk menyeka air mata, sambil sesekali menyentuh nisan sahabatnya.

“Dulu aku ragu dia bisa jadi pasangan yang baik untuk Bella.” Arga sesenggukan, menahan agar hidungnya yang memerah tidak meneteskan ingus. “Rian,” dia menunjuk ke atas makam. “Dia janji nggak akan pernah mengkhianati Bella ..., nggak akan bikin Bella menangis ..., tapi ....”

Arga mendongakkan kepalanya, berharap air di matanya tidak menetes semakin deras.

“Ya Allah,” ucapnya. “Aku nggak pernah menyangka Rian akan membuat kami sampai seperti ini.” Dia menoleh, menatap wajah penuh empati milik kekasihnya. “Kamu benar, Lex. Perpisahan karena kematian itu ..., sangat tidak tergambarkan rasanya.”

Lexi meraih kepala Arga, meminta kekasihnya bersandar di bahunya. “Aku nggak akan minta kamu ikhlas tapi –tolong bertahan.”

“Pasti, Lex! Pasti!” jawab Arga. “Ian.” Dia kembali mengarahkan matanya ke arah nisan, juga ke foto di sebelahnya. “Lo nggak usah khawatir ya. Gue pasti jagain Bella dan anak-anak. Lo yang tenang di sana ya. Makasih sudah mau jadi sahabat gue. Sudah mau jadi adik gue.”

♥♥♥

Lexi menyeka air mata. Kemudian mematikan layar gawai untuk kesekian kalinya setelah berulang kali mengecek, memastikan agar tak ada panggilan yang terlewat bila sewaktu-waktu datang. Akan tetapi, angan hanyalah angan. Apa yang dia inginkan tidak selalu menjadi kenyataan.

Tak mau larut dalam pengharapan, Lexi memutuskan benar-benar mematikan ponsel. Dan memasukkan benda tersebut ke dalam tas. Lalu, mengeluarkan novel tipis dari sana untuk dibaca, menjadi teman perjalanan sebagaimana yang dahulu pernah Arga ajarkan kepadanya.

♥♥♥

Meski tahu pasti kereta yang kekasihnya tumpangi telah berangkat, tetapi Arga tetap berangkat ke stasiun sore itu juga. Antara bodoh atau bagaimana, pria berkacamata itu berharap ada Lexi akan dengan sadar menunda, menunggu kedatangannya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur.

Lexi tidak lagi berada di stasiun. Tak peduli berapa jeli mata minus Arga mencoba menemukannya di Stasiun Gambir, nyatanya Lexi memang benar-benar telah pergi.

“Angkat teleponku dong, Lex!” gerutunya seraya menempelkan ponsel di telinga. “Lexi, aku mohon.”

♥♥♥

Kenapa?

Kenapa Lexi meninggalkannya?

Pertanyaan tersebut terus berputar di kepala Arga bahkan setelah dia kembali ke rumah sakit. Lebih dari itu, dia terus berpikir apakah dirinya melakukan kesalahan? Atau malah, kekasihnyalah yang dengan sengaja ..., tidak ingin menunggu?

Tapi bukankah Lexi tahu dia dan keluarganya sedang berduka? Kematian Rian bukan hal gampang. Ini tidak sepele. Dan butuh bagi Arga untuk memproses emosinya sebelum memulai kembali perjalanan mereka. Pun mengapa Lexi tidak mengabarinya apa-apa?

Arga mengacak rambutnya sendiri frustrasi. Lalu, mendekati Bella yang terlelap di atas ranjang rumah sakit.

Napas Bella lemah, itulah mengapa dia membutuhkan selang di hidungnya.

♥♥♥

“Dia kehilangan separuh nyawanya.” Bu Fatimah yang sedang memasak bubur di dapur merangkan kepada Arga. Adalah hari kedua setelah Bella keluar dari rumah sakit, dan karena belum bisa menyentuh makanan apa pun, maka Bu Fatimahlah yang bertugas memasak untuk anak asuhnya itu. Setidaknya agar Bella bisa mengisi perutnya dengan sedikit makanan.

Arga diam, memotong bawang bombai di atas talenan tanpa menoleh. Di sisi lain, tampak David duduk santai di kursi seberang untuk menyantap brokoli goreng sebagai lauk nasi hangat untuk sarapan.

“Siapa yang menyangka kalau Rian akan meninggal duluan,” keluh Bu Fatimah.

Pak Lukman yang datang dari luar dengan baju koko dan sajadah tergantung di bahu menyahut, “Meninggal kan tidak harus tunggu tua, Ma. Sekarang begini, andai kalian berada di sebuah taman bunga. Kira-kira bunga mana yang akan kalian petik lebih dulu? Yang bagus, atau yang jelek?”

“Yang jeleklah, Pa!” David menyahut, membuat semua orang menoleh ke arahnya. “Biar nggak mengganggu pemandangan.” Dia bahkan menaikkan sebelah alisnya tanda percaya diri. Akan tetapi, saat menyadari tatapan nenek, kakek dan pamannya yang menyipit, dia buru-buru melanjutkan, “Salah ya?”

“Lo pikir?” Arga melemparkan potongan bawang bombai ke arah keponakan tersayangnya, yang untungnya berhasil David hindari. “Mending lo diam deh, Dave! Atau mulut lo yang gue iris!” Dia mengancam sambil mengacungkan pisau.

Sorry! Sorry!” ucap David penuh sesal. “Bukan berarti gue mau bilang kalau Mas Rian itu jahat. Nggak sama sekali. Dia baik banget. Malah, Mas Rian sering kasih aku uang jajan.”

“Terus?” Bu Fatimah melirik, tajam.

David kembali memasukkan potongan brokoli ke mulut. “Omongan Opa ambigu. Seolah-olah orang yang tua dan nggak mati-mati itu adalah orang jahat. Padahal mati kan mati saja. Sudah habis kontraknya di dunia.

“Lagian, manusia itu bukan bunga. Bukankah takdir manusia sudah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Kuasa jauh sebelum mereka dilahirkan?”

Keluarganya tersenyum kecut, kompak.

“Bisa saja kamu, Dave.” Bu Fatimah meraih piring tempat Arga menaruh potongan bawang untuk dimasukkan ke dalam rebusan daging. “Sudah sana! Cepat habiskan makananmu dan segera antarkan laundry-an. Jangan sampai terlalu siang. Takutnya ditunggu pelanggan.”

“Sebentar, Ma. Aku makan dulu!” David menambah nasi ke piringnya. “Bay the way, Mbak Lexi kok nggak pernah ke sini ya, Mas? Padahal aku kangen lho sama dia.”

Mendengar nama Lexi disebut, Arga diam.

“Dia ke Bali.” Bu Fatimah yang menjawab. “Sudah! Nggak usah tanya-tanya! Cepat makan atau Oma potong uang jajanmu?”

♥♥♥

“Kalian bertengkar?” Adalah pertanyaan yang diajukan oleh Pak Lukman kepada putra bungsunya itu ketika mereka berdua duduk di ruang tamu, di depan televisi yang layarnya menayangkan FTV pagi.

Arga menoleh, menatap papanya yang duduk persis di sebelahnya. Akan tetapi, sebelum menjawab dia lebih dahulu mengecilkan suara televisi. “Aku nggak tahu salahku apa, Lexi tiba-tiba pergi begitu saja.”

“Kenapa tidak bertanya? Sekarang kan ada telepon.” Pak Lukman menyandarkan punggungnya di pinggiran sofa yang empuk.

Arga berdecih, kemudian menjawab, “Nomornya nggak aktif.”

Pria berambut putih nun tebal tersebut tersenyum, tipis tetapi penuh makna. Kemudian menepuk pundak Arga. “Sebagai laki-laki kita seiring kali lupa bahwa perasaan perempuan sangatlah sesitif. Apa yang menurut kita masalah sepele, bisa saja di hati perempuan malah sebaliknya.”

“Maksud Papa?”

Pak Lukman semakin melebarkan senyum, menepuk bahu Arga lebih keras dan meremasnya. “Bagaimana perasanmu?”

“Kok perasaanku?” Arga mengangkat sebelah alisnya, tidak paham. “Aku baik-baik saja kok.”

“Masa?”

“Iya.”

“Tahu dari mana?”

“Papa ngomong apa sih?” Arga menggeleng-gelengkan kepalanya, hendak berdiri saat tangan tua Pak Lukman menahannya. “Pa, please. Arga nggak punya banyak waktu. Arga –“

“Mau ke mana?”

“Rumah Bella.”

“Sebentar!” Pak Lukman menepuk permukaan sofa, menarik tubuh Arga agar pria yang sangat mirip dengannya tetapi lebih muda itu duduk. “Banyak yang sayang pada Bella dan Daniar. Toh, Papa barusan melihat Annisa ke sana. Ada mamamu juga.”

“Iya, tapi Bella sakit, Pa.”

“Bukan hanya Bella yang sakit. Kamu juga sakit.” Pak Lukman menyentil kening Arga, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan. “Sakit? Biar kamu tahu rasa. Jadi laki-laki kok tidak peka.”

Sambil menutup kening menggunakan tangan, Arga yang tak paham hanya bisa menyipitkan mata. Kesal pada sikap ayahnya.

Namun, detik berikutnya Pak Lukman malah menghela napas panjang. Dia menatap televisi yang menampilkan iklan seolah sedang menikmati pertunjukan. “Ga?”

“Ya?”

“Sekarang Rian sudah meninggal.”

“Iya. Arga tahu.”

“Papa tahu kamu mencintai Bella.”

“Maksud Papa?” ulang Arga, kaget. “Maksud Papa apa ngomong kayak begitu? Pa, dengar ya! Arga itu peduli ke Rian dan Daniar karena mereka ..., Rian itu ....” Dia menggeleng frustrasi. “Lagian, Bella juga nggak akan mau sama aku.”

“Kalau dia mau, kamu mau?”

“Ya nggaklah!” tegas Arga. “Arga itu sayang sama Lexi, Pa.”

“Apa buktinya?” Dari nada bicaranya, Pak Lukman meledek.

Yang seketika membuat Arga bungkam. Lebih tepatnya diselimuti kabut tebal penuh penderitaan. “Jujur aku nggak tahu apakah ini cinta tapi –sejak Lexi pergi, Arga merasa ....”

“Kosong?” tebak Pak Lukman.

Arga mengangguk, matanya dipejamkan sebentar. Tidak bisa menahan sakit. “Iya. Kok tahu?”

Pak Lukman malah tertawa. “Papa ini sudah menjadi pencinta wanita sejak lama. Empat puluh tahun lebih lho Papa hidup bersama mamamu.”

“Lalu, apa hubungannya?”

“Kok malah tanya apa hubungannya?” Pak Lukman menjitak kepala Arga, gemas. “Kamu itu laki-laki, Arga. Kalau cinta ..., ya kejar sampai dapat. Kecuali perempuan yang kamu suka bilang tidak dan memintamu berhenti.”

“Masalahnya, Lexi nggak mau sama Arga.”

“Kamu sudah tanya?”

“Lha, buktinya saja dia meninggalkan aku?” Arga terdengar putus asa. “Dia WA nggak dibalas, ditelepon juga nggak diangkat. Malah, nomornya nggak aktif lho. Apa coba kalau bukan ..., dia sengaja menghindariku?”

“Jangan berasumsi sendiri!” kata Pak Lukman. “Selama itu bukan keluar dari mulut Lexi, kamu sebaiknya tidak menerka-nerka. Memang kamu lupa Rian dulu bagaimana? Berapa sering cintanya tidak direspons oleh Bella? Kalau dia menyerah, tidak mungkin di kehidupannya yang sebentar itu dia bisa mendapatkan cinta dari orang yang dia sayangi.”

Arga diam, menatap televisi. Di sana terdapat adegan di mana tokoh utama pria berlari mengejar kekasihnya, di tengah hujan sore di jalanan setapak di antara luasnya kebun teh. Romantis.

Perlahan, ingatan Arga jatuh pada momen-momen kebersamaannya dengan Lexi. Di mana mereka berjalan di antara pepohonan kopi dan kakao, di hutan, sampai indahnya pantai di sepanjang Banyuwangi, Bali hingga Lombok. Semua berputar layaknya film.

Tiba-tiba saja Arga bangkit. Mengambil kunci sepeda motornya yang tergeletak di meja dan berlari ke garasi untuk mengambil Vixion Biru kesayangannya.

“Ga, mau ke mana?” panggil Papa.

Disusul David dari jendela dapur. “Mas Arga, titip es krim cokelat.”

“Gue nggak ke minimarket.”

“Terus?”

“Pulang. Ke apartemen.”

“Buat?” David masih berteriak.

Papa mendadak muncul dari pintu, meletakkan tangan kanannya di pinggang. “Mengejar cinta.”


Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Mimi & Peri

Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...

Download Titik & Koma