(bukan) Tentang Kita

Reads
889
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

55. Sekali Memilih, Tidak Bisa Mundur Lagi


“Kak, bagaimana?

Theo, adik tirinya yang masih sekolah dasar itu datang memasuki kamar Lexi, mengecek apakah sang kakak telah siap. Sebab sesuai agenda, mereka sekeluarga akan pergi ke kolumbarium hari itu.

Lexi mengangguk, dan tanpa mengalihkan wajah dari cermin dia menjawab, “Tunggu sebentar.” Tangannya dengan cekatan menyisir rambut, menguncir rapi. Kemudian beralih pada pelembab bibir di atas meja, agar penampilannya terlihat lebih segar. “Kak Arga sudah datang?” lanjutnya.

“Sudah. Sejak lima belas menit yang lalu,” jelas Theo. “Sebaiknya Kak Sisi cepat, atau Mami akan mengomel. Semua orang sudah menunggu di bawah. Kita pun masih harus menghabiskan sarapan buatan Mami.”

“Tenang!” kata Lexi. Dia menyudahi kegiatan dadannya, kemudian menoleh ke arah Theo dengan bangga. “Bagaimana penampilanku? Cantik?”

Sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga Peter, setidaknya begitulah yang dikatakan oleh ayah tirinya ketika memboyong Lexi ke rumah ini tiga bulan lalu, ada banyak perubahan dalam hidup Lexi. Terutama dengan keberadaan Markus dan Theo, dua adik lelakinya yang bertugas menjadi alarm setiap pagi. Sekaligus, menjadi pemuja dirinya di setiap kesempatan. Membuat hati Lexi meleleh hampir setiap hari. Terlebih di tengah kesibukannya mempersiapkan pernikahan dengan Arga. Yang semakin hari kian mendekati tanggal yang mereka pilih.

Lima Januari. Selain bertepatan dengan tanggal pertama pertemuan Lexi dengan sang kekasih, di atas kereta menuju Banyuwangi setahun yang lalu. Secara kebetulan tanggal tersebut identik dengan hari ulang tahun mendiang ayahnya, Handrick, yang juga merupakan cinta pertamanya.

Paling tidak, walau Handrick tak bisa mengantarnya ke pelaminan, Lexi ingin setidaknya memberikan penghormatan pada pria yang paling dia cinta di dunia tersebut.

“Sayang, kenapa lama sekali? Kita harus menjemput bibimu ke Bandara nanti siang. Jangan sampai jadwal berantakan.” Nurhasanah mencerocos, bahkan sebelum Lexi sampai di meja makan. “Oh iya, apakah kamu sudah mengecek pakaian? Katering? Make up artist?”

“Mami!” Peter dari ujung meja makan tersenyum, menyentuh pundak istrinya agar Nurhasanah berhenti. “Honey, could you please let our daughter sit down and have her breakfast first? We can continue this conversation later, after we eat.”

Tak bisa menjawab, Nurhasanah pasrah. Dia buru-buru mengambilkan makanan untuk suaminya.

“Bagaimana dengan keluargamu? Kapan mereka berangkat kemari?” Pria berjambang tebal itu pindah pada calon menantunya.

Arga yang duduk di samping Lexi segera menoleh. “Lusa, Om.”

“Apakah kau sudah memesankan mereka hotel?”

“Aman, Om.” Arga menjawab, tegas. “Saya dan Lexi sudah mengatur semuanya.”

“Syukurlah,” ucap Peter. “Arga, I truly hope you and your family will embrace our daughter with kindness. She is very precious to us.”

♥♥♥

Nyatanya, Lexi tidak pernah membayangkan dia se-berharga itu.

Dia tahu dia berharga, tetapi dia mengira perasaan tersebut hanya akan dia dapatkan dari kedua orang tua angkatnya. Akan tetapi, di hari ini, tepat seminggu sebelum pernikahannya di gelar, untuk pertama kalinya –akhirnya Lexi bisa mengunjungi makam Niko.

Nikolash James. Meninggal di usia tiga puluh tahun dalam kecelakaan tragis setelah mobil yang dia tumpangi bersama ayah kandung mereka, Yovan, menghantam trotoar. Membuat pria tua itu kini mendekam di rumah sakit jiwa. Demikianlah yang dikatakan oleh Peter dan Nurhasanah kepadanya.

Bukan maksud Lexi tak ingin tahu lebih banyak tentang sang kakak, terlebih Niko adalah satu-satunya saudara sedarah yang dia miliki. Akan tetapi, menyaksikan kepedihan mendalam di mata Nurhasanah dan Peter tiap kali menyebut nama Niko, membuat Lexi urung bertanya lebih jauh.

Yang jelas, siang itu dia berdiri di depan niche milik Niko. Bersama Arga di sampingnya, Lexi menatap foto hitam putih milik mendiang kakaknya dengan perasaan getir.

Andai saja Niko masih ada, mungkin mereka bisa menjadi keluarga yang lebih lengkap. Lebih utuh.

“Bukankah dia mirip denganmu?” bisik Arga.

Lexi mengangguk. “Ya. Sangat mirip.”

“Aku harap, aku bisa bertemu dengannya,” kata Arga, membuat Lexi menoleh. “Nik, aku tahu ini bukan waktu yang tepat tapi ..., aku bersumpah akan mencintai adikmu melebihi nyawaku sendiri.”

“Jangan menggombal, Arga.”

“Aku tidak menggombal, Sayang.” Arga membela diri. “Niko, dengar! Aku serius pada adikmu. Dan aku bersumpah dia akan menjadi pengantin paling cantik di dunia. Aku harap kau melihatnya dari atas sana.”

♥♥♥

Pengantin tercantik di dunia?

Lexi tersenyum tipis saat menyaksikan dirinya sendiri di pantulan cermin. Dalam balutan gaun pernikahan berwarna putih, dihiasi hairpiece berwarna keemasan dan dilengkapi bunga-bunga kecil warna putih, serta kain putih tipis yang menjuntai dari kepala hingga menyapu lantai –benarkah ini dirinya? Lexi seakan belum percaya bila di hari yang berbahagia ini, dia akan segera menjadi pendamping hidup dari orang yang dia cinta.

“Kau siap, Sayang?”

Nurhasanah muncul dari balik pintu bersama Bibi Nora. Keduanya tampak cantik dalam balutan kebaya cokelat sedana, seragam keluarga kedua mempelai. Tampaknya, Arga memang punya selera yang bagus dalam memilih kain, batin Lexi.

“Astaga, cantiknya!” puji Nurhasanah saat menyaksikan penampilan sang putri. Mengingatkan dirinya sendiri sewaktu muda. “Kau seperti malaikat, Alexia.”

“Mami, jangan berlebihan!” jawab Lexi malu-malu. Dia membiarkan sang bunda menyentuh wajahnya. “Bagaimana? Apakah penghulunya sudah datang?”

“Ya. Mereka akan segera memulai acaranya.”

“Aunt Nora?” Lexi melirik ke arah bibinya. “Eh, Mami. Bisakah aku bicara berdua dengan Aunt Nora sebentar?”

“Tentu, Sayang.” Nurhasanah tersenyum, sekali lagi menyentuh pipi Lexi dan menciumnya. “Mami akan keluar. Mami menunggumu di depan.”

Setelah Nurhasanah keluar, barulah Bibi Nora mendekat. “Oh, sweetheart. Look at you! You’re so beautiful. Feels like just yesterday I held you as a little girl, and today you’re about to get married.”

"Thank you, Auntie.” Lexi menahan haru, suaranya sedikit bergetar. Lalu, dia meraih tangan Bibi Nora. “It still feels like a dream. I never thought I’d finally find someone who truly wants to walk with me for a lifetime.”

"And you deserve it,” lanjut wanita berambut pirang tersebut. “You’ve been through so much pain, such a long journey. But look at you now –God has answered your prayers. Your true love finally came. I’m so grateful to witness this day." Dia meraih tisu, memaksa Lexi menghapus air matanya sebelum benar-benar jatuh dan merusak riasan.

Lexi buru-buru menurut, kemudian dia menunduk. “If only Mom could be here ....”

“Oh, Alexia.” Bibi Nora menepuk-nepuk bahu keponakan tersayangnya, penuh kekuatan. “She may not be sitting in the guest seats today. But believe me, Sweetheart, in her heart she’s still here.

“I’m certain that even with her condition now, your mom must be so proud. She’d be so happy to see you finally find a new home in someone’s heart."

♥♥♥

Sementara di ruangan berbeda, Arga yang sudah bersiap dengan setelan serba putih dan kacamata yang tak berhenti dia mainkan saking gugupnya, terkejut oleh kedatangan kedua kawan baiknya.

“Bagaimana, Mas? Sudah siap?” tanya Rangga, menggoda.

Tak mau kalah, Ferdi ikut menimpali, “Sudah hafal kalimatnya?”

“Kalau nggak hafal sampai tiga kali, nanti disuruh mandi air comberan lho.”

Ancaman Rangga hanya ditanggapi lirikan oleh Arga. “Ada-ada saja lo, Ngga.”

“Lho, memang benar kok. Semua orang juga tahu itu. Tanya saja ke Ferdi. Ya kan, Fer?”

Ferdi nyengir. “Katanya sih begitu. Tapi alhamdulillah aku dulu sekali langsung lancar.”

“Sudah latihan apa belum?” todong Rangga, lagi. “Jangan sampai salah sebut.”

“Iya, Ngga. Iya.” Jawaban Arga lebih terdengar seperti ..., buah kekesalan. “Ini gue sedang menghafal. Sudahlah! Kalau lo di sini cuma buat menakut-nakuti, mending pergi saja. Daripada merusak konsentrasi gue.”

Rangga dan Ferdi kompak tersenyum simpul. Lalu, keduanya memutuskan duduk di kursi lain di sebelah Arga.

“Mas Arga,” kata Ferdi, serius. “Sejujurnya, yang paling besar itu bukan ketika kita mengucapkan sumpah pernikahan. Tapi sebaliknya, konsekuensi di baliknya. Setelahnya. Itu yang lebih berat.”

“Gue setuju!” sahut Rangga. “Jangan sampai sumpah yang lo ambil hanya berhenti di mulut saja. Lebih dari itu, meski terkesan mudah tapi sebentar lagi ..., dunia lo akan berubah. Dunia yang benar-benar baru.”

“Aku ingat dulu Mas Rian pernah bilang,” Ferdi berhenti sejenak, menjeda kalimatnya seraya menatap ke langit biru di luar jendela. “Tepatnya sebelum aku menikah dengan Bianca. Dia bilang, jangan pernah berhenti memilihnya.”

“Memilih Rian?” Ucapan Rangga seketika membuat nuansa haru yang baru saja terbangun buyar.

Ferdi tertawa. “Bukan, Mas. Dia di sini ..., maksudnya pasangan kita. Calon istri kita.”

“Iya, gue tahu. Bercanda saja itu tadi,” kilah Rangga.

“Lanjutkan, Fer!” pinta Arga, penasaran.

Ferdi mengangguk. “Hari itu, sebelum aku menikah dengan Bianca –Mas Rian tiba-tiba telepon dan memperingatkan aku bahwa ....”

“Bahwa apa?”

Entah mengapa, Ferdi diam. Matanya menatap jauh ke depan, berkaca-kaca. Mencoba menangkap kembali momen yang telah berlalu. “Kalau di hari pernikahan kita bisa memilih perempuan untuk kita nikahi –di hadapan Tuhan, penghulu dan para tamu. Itu artinya, kita juga harus bisa memilih dia selamanya. Besok, lusa, tahun depan, bahkan sepuluh atau lima puluh tahun lagi.

“Masalah pasti akan datang. Nggak ada hidup yang tanpa masalah. Tapi apa pun wujud masalah, cobaan dan rasa lelah yang datang ..., jangan pernah mencari-cari alasan untuk tidak memilih pasangan kita.”

Arga terdiam, menggigit bibir bagian bawahnya sendiri kuat-kuat. Menahan agar tak ikut bernostalgia. Sebab, dia pun sampai saat ini masih belum bisa sepenuhnya menerima kematian sahabatnya satu itu.

Rian terlalu sempurna.

“Ketika kita siap melangkah maju, maka tidak ada lagi kesempatan untuk mundur.” Ferdi melanjutkan, lebih pedih. “Satu-satunya saat kita boleh berhenti memilih adalah waktu itu sendiri yang berhenti.”

♥♥♥

“Kak Si, ayo!”

Persis setelah akad nikah diucapkan dengan lantang dan mantap oleh Arga, Lexi yang menunggu di kamar disusul oleh ketiga pendampingnya. Bianca, Bella dan Annisa. Ketiganya kompak mengenakan kebaya yang sama. Biru tua, senada dengan batik yang dikenakan oleh Ferdi dan Rangga.

“Terharu ya?” Bella berbisik, memeluk Lexi sebentar sebelum membantunya berjalan keluar dari ruangan. Menemui para tamu dan keluarga.

Namun, lebih dari itu, mata Lexi seketika tertuju pada sosok Arga di ujung lorong manusia. Para tamu yang duduk rapi di kursi dengan hikmat menjadi saksi pernikahannya.

Air mata Lexi semakin deras. Dia menggenggam bunga mawar putih di tangannya erat-erat, sebelum akhirnya Arga datang dan mengulurkan tangan kepadanya.

"Hey, Wifey!” kata Arga.

“Oh, Sayang.” Lexi tersipu, menyambut tangan Arga dan menciumnya. “I love you.”

♥♥♥

“Sudah, jangan lopeyu-lopeyu!” Rangga menarik kedua mempelai yang sebelumnya sibuk menyalami tamu untuk naik ke panggung pelaminan. “Mending sekarang kita foto dulu. Jangan sampai di pernikahan kalian ..., malah lupa foto bareng kami.”

“Benar!” Annisa berdiri di samping Lexi. Siap berpose. Tapi sebelum itu, dia terlebih dahulu melambaikan tangan ke arah Ferdi dan Bianca, yang sibuk mengobrol dengan tamu lainnya. “Ayo!”

“Sebentar,” jawab Bianca. Dia meletakkan gelas minumnya ke atas meja.

Yang dilanjutkan oleh Annisa, “Bella mana?”

Bianca yang ditanya segera mengedarkan pandang ke sekeliling, mencari-cari keberadaan wanita bertubuh mungil tersebut. Sampai kemudian menemukan Bella di kursi lain di barisan keluarga inti pengantin.

“Mbak, ayo!” kata Bianca, menghampiri.

Bella yang kaget berdiri. “Kalian duluan saja deh. Anak-anak nggak ada yang jaga,” katanya sembari mengayun-ayunkan bayi mungil di pelukannya.

“Mbak!” David yang berada tak jauh dari mereka mendekat, bersiap mengambil si bayi dari pelukan Bella. “Sudah! Daniar dan Daniel biar sama aku dulu. Ya kan, Niar? Kamu mau kan sama Mas David?”

Daniar yang duduk di kursi mengangguk. “Iya, Mas Apit.”

“Itu, kan! Sana!”

“Ayolah, Mbak!” Bianca menarik tangan Bella, mengajaknya bergabung bersama yang lain di atas pelaminan. “Sudah semua, kan?”

“Belum!” Rangga berseru, membuat semua orang diam. Karena secara tenis, mereka memang telah lengkap.

“Ferdi, Abi, Mas Arga, Lexi, Bella, aku dan Bianca.” Annisa menghitung dari ujung. “Pas kok!”

“Belum, Umi!” sangkal pria berhidung mancung tersebut penuh keyakinan.

“Siapa, Bi?”

“Rian!”

“Abi, Rian kan –“

“TARAA!” Rangga bersorak. Membuat suasana mendadak sunyi, terlebih saat dia tiba-tiba saja mengeluarkan sesuatu dari balik kemejanya. “Rian juga harus ikut. Meninggal nggak mengubah fakta bahwa dia sahabat kita. Jadi, jangan dicoret. Kasihan.”

“Ya ampun!” Bella memecah kecanggungan. Senyuman lebar ibu dua anak itu sontak membuat teman-temannya tertawa. Sebab, satu-satunya alasan mereka sebelumnya tak menanggapi perbuatan Rangga, tak lain dan tak bukan hanyalah khawatir pada reaksinya.

Namun, menyadari Bella tak keberatan, mereka pun bisa bernapas lega.

“Mas Arga, kamu yang pegang!” Rangga memberikan foto Rian pada sang mempelai. “Jangan sampai dia tidak ikut foto. Bahaya.”

“Bisa-bisa digentayangi ya?” Arga menerima figura dari tangan Rangga, memegangnya erat dan membiarkan fotografer mengabadikan momen tersebut. Lengkap dengan berbagai gaya.

Selesai.


Other Stories
Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Koper Coklat Ibu

Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma