The Last Escape

Reads
88
Votes
10
Parts
10
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 7 | "Barikade Di Pondok Kayu"

Langkah kaki yang serabutan di atas pasir pantai menciptakan suara gaduh yang memecah kesunyian Pulau Seribu Hening. Napas mereka memburu, tersengal-sengal, bercampur dengan isak tangis yang tertahan. Adit terus berteriak agar mereka tetap bersama, jangan sampai ada yang tertinggal di belakang. Ketika pintu pondok kayu itu akhirnya terbanting tertutup dan grendel kayunya dipasang, keheningan yang menyakitkan kembali melanda.


Bab 7: Barikade di Pondok Kayu


Empat belas orang itu terduduk lemas di atas lantai bambu. Ruangan tengah pondok yang tadinya terasa luas dan nyaman, kini terasa sesak dan mencekam. Dina meringkuk di pojokan, menyembunyikan wajahnya di lutut, tubuhnya bergetar hebat. Lala mencoba memeluknya, meski tangannya sendiri tidak bisa berhenti gemetar.

"Tadi itu apa, Dit? Jawab gue, tadi itu apa?!" suara Rio meninggi, penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Matanya merah, bukan hanya karena lelah berlari, tapi karena rasa kehilangan yang mulai meresap ke dalam sanubarinya. Jaka adalah teman terbaiknya, dan bayangan tetesan darah di dahan pohon itu terus berputar di kepalanya seperti film horor yang tak bisa dihentikan.

Adit tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat jendela, mengintip dari celah tirai bambu ke arah hutan yang kini tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja. "Gue nggak tahu, Yo. Gue bener-bener nggak tahu."

"Jangan bilang nggak tahu!" bentak Rio lagi, ia berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Adit. "Lu yang bawa kita ke sini! Lu bilang tempat ini aman! Lu bilang ini surga! Sekarang Jaka ilang, dan lu cuma bisa bilang nggak tahu apa-apa?!"

"Rio, lepasin!" Bram maju dan memisahkan mereka dengan paksa. Tubuh besarnya menghalangi Rio agar tidak menyerang Adit. "Lu pikir Adit mau ini terjadi? Kita semua syok, Yo! Jangan bikin keadaan makin parah!"

Rio terduduk kembali, menutupi wajahnya dengan telapak tangan, dan mulai menangis tanpa suara. Empati mulai memenuhi ruangan itu. Nadia bergerak pelan, mendekati Rio dan mengusap punggungnya. "Kita bakal cari dia, Yo. Kita nggak bakal ninggalin Jaka. Tapi kita harus tenang dulu."

Aris duduk di tengah ruangan, dikelilingi oleh buku catatan dan petanya yang kini terasa tidak berguna. Ia tampak berpikir keras. "Makhluk itu... dia nggak cuma kuat. Dia pinter guys."

"Maksud lu gimana, Ris?" tanya Bimo sambil memegang erat potongan kayu yang tadi ia bawa dari hutan.

"Dia sengaja naruh sandal Jaka di atas batu. Dia sengaja naruh tas Jaka di dahan itu," Aris menatap teman-temannya satu per satu dengan tatapan dewasa yang sangat serius. "Itu umpan. Dia pengen kita berhenti di sana. Dia pengen kita panik. Dia lagi main-main sama kita."

Mendengar itu, Santi semakin erat memeluk Rico. "Main-main? Jadi kita ini dianggap mainan doang?"

"Atau makanan," sahut Maya pelan. Semua mata tertuju padanya. Maya masih teringat bau amis besi yang kental di hutan tadi. "Gue ngerasa dia udah ada di sini sejak lama banget. Pulau ini gak kosong, pulau ini punya pemilik. Dan pemiliknya nggak suka ada tamu yang berisik. Makhluk itulah pemiliknya."

Suasana menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara ombak di luar. Namun, di tengah ketegangan itu, Tora mencoba memecah suasana dengan humor pahitnya. "Gila ya... kita bayar jutaan buat liburan mewah, tapi ujung-ujungnya kita dikurung di kandang ayam kayu kayak gini. Kalau bokap gue tahu, dia pasti bilang 'Makanya, liburan itu ke Puncak aja yang banyak tukang jagung bakarnya'."

Beberapa orang tersenyum tipis, sebuah tawa getir yang dipaksakan.

"Kita harus blokade pintu dan jendela," perintah Adit, mencoba mengambil kendali kembali. "Bram, Bimo, bantu gue geser meja makan ini ke depan pintu. Rico, Aris, tutup semua celah jendela pakai papan kayu sisa dari gudang belakang. Kita nggak boleh kasih celah sedikitpun buat makhluk apa pun masuk kesini."

Mereka mulai bekerja. Dalam kepanikan, kerja fisik menjadi semacam terapi untuk mengalihkan pikiran dari kengerian. Saat mereka sibuk memaku papan dan menggeser lemari, ingatan mulai kembali ke awal mengapa mereka semua bisa ada di sini.

---

Sisi Lain: Masa Lalu Adit

Adit sebenarnya bukan orang yang sombong. Namun, sebagai anak dari seorang pengusaha sukses yang jarang pulang, ia selalu merasa harus membuktikan sesuatu. Ia ingin diakui sebagai pemimpin. Itulah alasan mengapa ia menghabiskan waktu berbulan-bulan mencari lokasi liburan paling eksotis, paling mahal, dan paling tidak tersentuh di Indonesia.

Ia ingin memberikan yang terbaik untuk teman-temannya. Ia merasa berhutang budi pada mereka. Saat ibunya sakit keras setahun yang lalu, teman-temannya inilah yang bergantian menjaga di rumah sakit, sementara ayahnya sibuk dengan tender di luar kota. Adit merasa bahwa perjalanan ini adalah caranya berterima kasih. Ia tidak tahu, bahwa niat baiknya ini justru membawanya ke dalam jebakan maut yang sudah dipersiapkan oleh alam.

"Dit," panggil Bram saat mereka sedang menggeser lemari kayu yang berat. "Lu inget nggak pas kita pertama kali kenal di ospek? Lu yang paling semangat bilang kita harus solid sampai lulus."

Adit mengangguk, napasnya tersengal. "Gue masih pegang omongan itu, Bram. Kita semua bakal lulus. Kita semua bakal pulang dari pulau ini."

---

Malam mulai turun menyelimuti Pulau Seribu Hening. Cahaya matahari yang tadi siang terasa hangat, kini lenyap digantikan kegelapan yang pekat. Mereka hanya memiliki beberapa lampu petromaks dan senter. Listrik dari mesin genset kecil di belakang pondok sengaja dimatikan oleh Adit agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa mengundang predator itu datang.

Di dalam keremangan, mereka duduk berkumpul di tengah ruangan.

"Kita perlu tahu apa yang kita lawan," ucap Aris sambil membuka sebuah kotak kayu tua yang ia temukan di pojok gudang pondok tadi. Kotak itu berdebu dan berisi beberapa barang peninggalan penjaga pulau sebelumnya. Ada sebuah buku catatan harian yang kertasnya sudah menguning dan rapuh.

"Apa itu, Ris?" tanya Eka sambil mendekat.

Aris mulai membaca dengan suara rendah. Buku itu ditulis oleh seseorang bernama Pak Darman, penjaga pulau ini pada tahun 1990-an.

"Hari ke-400. Hutan semakin tidak tenang. 'Sang Penghuni' mulai sering terlihat di tepi pantai. Dia bukan hewan biasa. Kulitnya bisa berubah warna mengikuti bayangan pohon. Dia sangat cepat. Jangan pernah menatap matanya di kegelapan, karena saat kau melihat binar merah itu, artinya ajalmu sudah dekat. Dia adalah sisa dari masa yang sudah dilupakan manusia. Dia lapar, dan dia cerdas."

Tangan Aris gemetar saat menutup buku itu. "Predator ini... dia punya kemampuan menyamar. Itu makanya kita nggak liat makhluk itu tadi di hutan."

Tiba-tiba, suara garukan terdengar dari atas atap rumbia pondok mereka.

*Sret... Sret... Sret...*

Semua orang mendongak. Suara itu terdengar seperti kuku tajam yang sedang menyeret sesuatu yang berat di atas kepala mereka. Keheningan pecah oleh teriakan tertahan Dina. Bimo segera berdiri, memegang kayunya dengan posisi siap memukul.

"Dia di atas," bisik Gilang, tangannya tetap memegang kamera, berharap bisa menangkap bayangan makhluk itu jika ia muncul di jendela.

"Jangan ada yang keluar!" teriak Adit setengah berbisik. "Tetap di tengah ruangan! Jangan mendekat ke dinding!"

Suara garukan itu berhenti tepat di atas posisi mereka duduk. Kemudian, terdengar suara desisan halus yang seolah-olah sedang membisikkan nama mereka satu per satu. Suara itu bukan suara manusia, tapi sebuah vibrasi frekuensi rendah yang membuat dada mereka terasa sesak.

"Dia tahu kita di sini," ucap Maya dengan nada yang sangat datar, seolah-olah ia sudah menerima nasibnya. "Dia cuma nunggu kita buat panik dan ngelakuin satu kesalahan kecil. Jangan ada yang panik!"

Di tengah ketakutan itu, Nadia melihat sesuatu di celah lantai bambu. Ada sebuah jari panjang berkuku hitam yang perlahan menusuk masuk dari bawah lantai, mencoba meraba-raba mencari sesuatu untuk ditarik.

"Dina! Kakinya!" teriak Nadia.

Dina yang duduk di dekat celah itu segera melompat mundur, namun terlambat. Makhluk itu jauh lebih cepat. Kuku tajam itu menyambar ujung celana jeans Dina dan menariknya dengan kekuatan yang luar biasa.

"TOLONG! GUYS! TOLONGIN GUE!" teriak Dina histeris. Tubuhnya terseret ke arah celah lantai yang sempit itu.

Bram dan Bimo langsung menerjang. Bimo menghantamkan kayunya ke arah jari itu melalui celah lantai, sementara Bram memeluk pinggang Dina, menahannya agar tidak terseret lebih jauh. Suara geraman rendah terdengar dari bawah pondok suara yang terdengar seperti perpaduan antara suara mesin yang rusak dan raungan macan.

*Duar!*

Bimo berhasil menghantam jari itu. Makhluk itu menarik jarinya kembali, meninggalkan cairan bening berbau amis di atas lantai. Dina menangis sejadi-jadinya di pelukan Bram, celananya robek besar dan kakinya tergores cukup dalam.

"Nadia, obatin Dina!" perintah Adit.

Nadia segera bergerak dengan sigap, mengeluarkan peralatan medisnya. Tangannya stabil meskipun hatinya bergejolak. Inilah momen di mana kedewasaan mereka diuji. Tidak ada ruang untuk ego, tidak ada ruang untuk perdebatan sia-sia. Mereka harus bertahan hidup.

"Kita nggak bisa di sini terus," bisik Rico sambil melihat ke arah lantai yang kini terasa tidak aman lagi. "Pondok ini rentan banget. Kita kayak mangsa di dalam kotak."

"Jadi kita harus ke mana sekarang?" tanya Santi sambil terisak.

"Gua," sahut Aris tiba-tiba. "Di peta ini, ada tanda gua di sisi timur pulau. Gua itu terbuat dari batu granit padat. Makhluk itu nggak bakal bisa gali lantai atau tembus dinding kalau kita di sana. Tapi kita harus lari lewat pantai terbuka."

"Lari di tempat terbuka?" tanya Rio skeptis. "Itu sama aja bunuh diri!"

"Kalau kita di sini, kita mati satu per satu, Yo," balas Adit dengan nada tegas namun penuh empati. "Pilihannya cuma dua: mati menunggu, atau mati melawan. Kalau gue sih milih buat melawan ya."

Mereka saling bertatapan. Di dalam mata masing-masing, terlihat ketakutan yang mendalam, namun ada juga sekelumit api keberanian yang mulai menyala. Mereka adalah generasi muda yang selama ini dianggap manja oleh dunia luar, namun malam ini, di sebuah pulau terpencil yang jarang didatangi, mereka akan menunjukkan bahwa manusia tetaplah predator yang paling berbahaya jika sudah tersudut.

"Persiapkan barang-barang kalian," perintah Adit. "Kita bawa yang paling penting aja. Makanan, air, dan alat medis. Senter jangan dinyalain kecuali bener-bener perlu. Kita bakal lari pas bulan tertutup awan."

Sambil menunggu awan menutupi rembulan, mereka kembali terdiam. Gilang menatap foto-foto di kameranya, foto Jaka yang sedang tertawa, foto mereka semua saat pertama kali sampai. Ia menyadari bahwa foto-foto ini mungkin akan menjadi satu-satunya bukti bahwa mereka pernah ada di sini.

Kehidupan masing-masing karakter mulai terungkap lewat obrolan-obrolan kecil di tengah ketegangan. Bimo bercerita bahwa ia ikut liburan ini karena ia sebenarnya ingin melupakan kegagalannya masuk tim nasional basket. Lala bercerita bahwa ia selalu merasa harus jadi pusat perhatian karena di rumah ia selalu diabaikan oleh orang tuanya yang sibuk berkarir. Semua luka itu, semua alasan mereka berada di sini, kini terasa sangat kecil dibandingkan dengan satu tujuan utama: melihat matahari terbit esok hari.

Malam baru saja dimulai, dan Pulau Seribu Hening siap menyambut mereka dengan kengerian yang lebih besar di setiap jengkal tanahnya. Predator itu sedang menunggu di luar, mengasah cakarnya di batang pohon kelapa, siap untuk memulai mangsa keduanya dengan cara yang jauh lebih cerdas dan tak terduga.

•••



Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Tessss

pengaplikasian doang ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Download Titik & Koma