The Last Escape

Reads
224
Votes
24
Parts
24
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 21 | "Hukum Rimba Di Laut Lepas"

Sekoci plastik itu terayun pelan di atas permukaan laut yang kini tampak seperti cermin raksasa yang memantulkan langit kelabu. Tidak ada lagi suara mesin, tidak ada lagi suara ombak yang menghantam lambung kapal besar. Hanya ada suara napas tujuh orang yang tersisa, yang duduk berdesakan dalam ruang yang sangat sempit, dikelilingi oleh air biru yang kini terasa seperti penjara tanpa dinding.


Bab 21: Hukum Rimba di Laut Lepas


"Tahan napas kalian... jangan banyak gerak," bisik Adit, suaranya serak seolah kerongkongannya baru saja disiram air garam. Matanya tertuju pada dasar sekoci. Di sana, di antara kaki-kaki mereka yang kotor dan luka, air mulai menggenang.

"Sekocinya bocor, Dit?" tanya Aris dengan nada yang mencoba tetap tenang, meski jemarinya bergetar hebat saat memegang pinggiran sekoci.

"Bocor halus di bagian sambungan bawah," jawab Adit pelan. Ia melepas kaosnya yang sudah compang-camping, menggulungnya, lalu menjejalnya ke celah kecil tempat air merembes masuk. "Efek ledakan palka tadi. Plastiknya retak kena tekanan udara."

Bram menghela napas panjang, menatap ke arah Lala yang duduk di pelukan Nadia. Lala tampak menggigil, padahal matahari mulai menyengat. Nadia, sang calon dokter, terus menatap luka goresan di lengan Lala dengan tatapan yang sangat dalam, penuh empati sekaligus horor yang tersirat.

"Nad," panggil Maya pelan. "Lu liat apa yang gue liat di tangan Lala?"

Nadia tidak langsung menjawab. Ia mengusap urat hitam yang mulai berdenyut di bawah kulit transparan Lala. Urat itu tampak hidup, seperti cacing kecil yang sedang mencari jalan menuju jantung.

"Kenapa... kenapa Lala cepet banget, Nad?" tanya Dina sambil terisak. "Santi dari kemarin digigit tapi dia cuma demam dan lemes. Tapi Tora... Tora langsung berubah dalam hitungan jam. Dan sekarang Lala... uratnya udah sampai ke bahu."

Nadia menarik napas dalam, mencoba menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana, bahasa orang awam yang sedang bertaruh nyawa. "Ini soal detak jantung dan metabolisme, Din. Pas kita di gua, Santi itu pingsan karena syok dan perdarahan. Detak jantungnya lambat banget. Racun dari kelenjar makhluk itu butuh aliran darah buat menyebar. Karena Santi 'setengah sekarat', racunnya cuma jalan perlahan di badannya."

Nadia berhenti sejenak, menatap bayangan karang yang menjauh. "Tapi Tora... pas dia diserang, dia lagi fight. Adrenalinnya lagi tinggi-tingginya. Detak jantungnya kenceng banget. Dia lari, dia teriak. Jantung Tora justru jadi pompa yang paling efisien buat nyebarin racun itu ke seluruh sarafnya. Itu yang bikin dia berubah dalam sekejap. Dan Lala..." Nadia menatap Lala dengan sedih. "Lala tadi ketakutan luar biasa pas ditarik keluar dari palka. Jantungnya pasti berdetak kencang banget. Racun itu dapet 'kendaraan' paling cepet buat sampai ke otaknya."

Mendengar penjelasan itu, Lala membuka matanya. Mata itu masih memiliki warna asli, namun ada selaput bening yang mulai melapisi korneanya. "Jadi... gue bakal jadi kayak Tora?" bisik Lala. Suaranya sangat tipis, hancur oleh rasa putus asa.

"Gue nggak bakal biarin itu terjadi, La," potong Bram dengan nada mature yang tegas. "Kita bakal sampai ke daratan. Kita cari bantuan."

"Bantuan apa, Bram?!" bentak Maya, emosinya meledak. "Lu liat sekitar! Kita di tengah laut lepas! Nggak ada sinyal, nggak ada perahu lain! Dan sekarang kita di atas sekoci yang bocor dengan tujuh orang! Bebannya terlalu berat, airnya pasti bakal masuk makin cepet!"

Keheningan yang menyakitkan kembali melanda. Pesan tersirat tentang "Hukum Rimba" mulai merayap di benak masing-masing. Jika sekoci ini terus terisi air karena beban yang terlalu berat, pilihannya hanya dua: tenggelam bersama, atau mengurangi beban.

Kilas Balik: Rahasia Masa Kecil Lala dan Dina

Di tengah ketegangan itu, Dina memegang tangan Lala erat-erat. Ia teringat saat mereka masih SD di sebuah komplek perumahan sederhana di pinggiran Jakarta. Lala adalah anak yang selalu sakit-sakitan, dan Dina adalah pelindungnya dari gangguan anak-anak nakal. Suatu kali, Lala pernah terjatuh ke selokan besar saat hujan deras, dan Dina melompat tanpa berpikir dua kali untuk menariknya keluar, meski Dina sendiri hampir terseret arus.

"Kita selalu bareng, La. Inget kan?" bisik Dina di telinga Lala. "Pas di selokan dulu kita selamat. Sekarang juga pasti selamat."

Lala tersenyum kecil, namun senyumnya tampak kaku. Otot wajahnya mulai mengeras. "Din... kali ini selokannya luas banget. Dan gue... gue ngerasa gue yang jadi arusnya sekarang. Gue ngerasa ada suara-suara di kepala gue yang nyuruh gue buat... buat gigit lu."

Dina terkesiap, menarik tangannya perlahan. Itulah konflik terdalam yang mereka hadapi: pengkhianatan biologis yang dipaksakan oleh predator tersebut.

"Dit, airnya udah semata kaki," ucap Aris. Ia menggunakan tutup botol plastik untuk mencoba membuang air keluar, sebuah usaha yang tampak sia-sia.

Adit menatap teman-temannya. Ia melihat Bram yang masih tegap, Nadia yang masih berusaha menjadi dokter, Maya yang skeptis namun tangguh, Aris yang setia, Dina yang hancur, dan Lala yang sedang bertransformasi.

"Kita harus pindahin beban ke depan," perintah Adit. "Aris, lu geser ke haluan. Bram, tetep di tengah jaga keseimbangan."

Tiba-tiba, sekoci itu berguncang hebat. Sesuatu yang besar menabrak dari arah bawah. Bukan predator air kecil, tapi sesuatu yang lebih solid.
"Mereka ngikutin kita," desis Maya. "Mereka tahu sekoci kita bocor. Mereka cuma nunggu sekoci ini tenggelam sendiri biar mereka nggak perlu capek-capek manjat."

"Atau mereka nunggu 'saudara' baru mereka lahir," kata Lala tiba-tiba. Suaranya berubah, ada nada berat yang tidak alami. Ia mulai mencengkeram pinggiran sekoci dengan kekuatan yang membuat plastik itu berderit. Kuku-kukunya mulai menghitam dan memanjang.

Nadia segera menjauh dari Lala, bergerak ke arah Adit. "Dit, Lala mulai agresif. Refleksnya mulai berubah."

"Lala, liat gue!" teriak Adit. "Tahan, La! Lu kuat!"

"Lapar... Dit... dingin banget di sini..." Lala mulai merangkak di lantai sekoci yang berair. Gerakannya patah-patah, persis seperti Tora di karang tadi.

Dina menangis histeris. "Lala! Sadar, La! Ini gue, Dina! Jangan berubah La!"

Lala menoleh ke arah Dina. Selaput bening di matanya kini menutupi seluruh kornea, membuatnya tampak seperti mata ikan yang sudah mati. Ia mengeluarkan desisan panjang. Namun, di tengah transformasi itu, ada satu hal unik yang terjadi. Air mata asli, air mata manusia masih keluar dari sudut mata Lala. Jiwanya masih ada di sana, terkurung di dalam tubuh yang sedang diambil alih oleh DNA asing.

"Bunuh... gue..." bisik Lala di sela desisannya. "Bram... Dit...Bunuh gue... sebelum gue... sakitin Kalian... bunuh gue..."

Ini adalah momen paling dewasa dan menyakitkan yang harus mereka hadapi. Membunuh teman sendiri untuk menyelamatkan sisa kelompok.

"Gue nggak bisa," bisik Bram, ia menjatuhkan potongan besi senjatanya. "Gue nggak bisa bunuh lu, La."

"Biar gue yang lakuin," Maya berdiri, wajahnya dingin seolah-olah ia sudah mematikan seluruh perasaannya. Ia mengambil parang yang tadi diberikan oleh Kapten Bakri kepada Adit.

"JANGAN, MAYA!" Dina mencoba menghalangi, namun Aris menahan Dina.

"Dina, dengerin! Lala udah minta! Dia nggak mau jadi monster!" teriak Aris sambil menangis.

Maya mengangkat parang itu. Namun, sebelum ia sempat mengayunkannya, Lala sendiri yang mengambil keputusan. Dengan sisa kesadaran manusianya yang terakhir, ia menatap Dina dengan penuh cinta, lalu dengan satu hentakan kuat, Lala melompat keluar dari sekoci ke dalam air laut.

"LALAAAAAAA!" raungan Dina memecah kesunyian laut.

Mereka semua berlari ke pinggir sekoci, namun yang mereka lihat hanyalah riak air dan warna merah yang perlahan naik ke permukaan. Predator-predator air yang mengikuti mereka langsung mengerumuni posisi Lala jatuh. Lala memberikan dirinya sebagai "makanan" pengalih perhatian agar sekoci teman-temannya tidak lagi diganggu.

Sekoci itu mendadak terasa lebih ringan. Air yang masuk mulai berkurang kecepatannya, dan yang paling penting, predator-predator air itu kini sibuk dengan "perjamuan" di belakang mereka.

Dina jatuh terduduk di dasar sekoci, tangannya meraba-raba air yang masih menggenang, seolah-olah ia bisa menemukan jejak Lala di sana. Nadia memeluk Dina dari belakang, keduanya menangis tanpa suara.

"Kita masih hidup," bisik Aris dengan nada hampa. "Tapi buat apa?"

"Buat pastiin pengorbanan Lala nggak sia-sia, Ris," jawab Adit. Ia mengambil dayung plastik kecil yang ada di sekoci. "Matahari mulai condong ke barat. Kita harus cari daratan atau apa pun sebelum gelap. Kalau malem tiba di tengah laut begini, kita habis."

Sisi Lain: Misteri Predator Pulau Seribu Hening

Predator ini sebenarnya bukanlah penghuni asli bumi dalam arti yang kita pahami. Mereka adalah organisme yang telah terdampar berabad-abad lalu, bertahan hidup dengan cara berhibernasi dalam telur-telur yang tahan tekanan tinggi di dasar parung laut sekitar pulau. Mereka tidak memiliki kebencian; mereka hanyalah sistem biologis yang sangat cerdas yang mencari cara untuk "pulang" ke bentuk sempurnanya melalui inang manusia.

Kisah mereka adalah kisah tentang kesepian yang abadi, tentang keinginan untuk mati namun tertahan oleh insting bertahan hidup yang diprogram terlalu kuat. Pemimpin mereka, yang berada di jantung pulau, sebenarnya sedang menderita. Ia telah melihat ribuan manusia mati, dan ia telah merasakan ribuan ingatan manusia yang ia serap. Ia merasa lelah menjadi Tuhan di pulau yang sunyi ini.

Di atas sekoci, Adit mulai menyadari sesuatu. Ia melihat pola serangan predator tadi. Mereka tidak menyerang secara acak. Mereka seolah-olah sedang menguji ketahanan mental mereka.

"Bram, lu ngerasa nggak?" tanya Adit sambil mendayung. "Tadi pas Lala lompat, mereka nggak langsung gigit. Mereka kayak nunggu Lala bener-bener 'berubah' dulu baru mereka tarik ke bawah."

Bram mengangguk. "Kayaknya mereka punya semacam kode etik gitu ya. Mereka nggak makan sesama jenis yang sudah terinfeksi, kecuali kalau inangnya nolak."

"Artinya..." Maya menyambung pembicaraan dengan nada yang lebih analitis. "Kalau kita bisa nipu sensor mereka, kita bisa lewat di depan hidung mereka tanpa diserang."

"Caranya?" tanya Aris.

"Darah hitam Rico," jawab Adit. Ia melihat ke arah tangannya yang masih ada bekas noda darah hitam dari luka Rico di mercusuar tadi. "Darah itu baunya kayak mereka. Kalau kita lumuri sekoci ini dan baju kita pakai cairan itu atau sisa-sisa lendir dari palka... mungkin kita dianggap sama kayak mereka."

Ini adalah sebuah taktik cerdik yang lahir dari pengamatan mendalam. Namun, untuk mendapatkan "cairan" itu lagi, mereka harus kembali berurusan dengan risiko infeksi.
Tiba-tiba, dari arah depan, Dina yang masih sesenggukan menunjuk ke ufuk. "Itu... itu bukan pulau. Itu mercusuar lagi?"

Adit melihat ke depan. Bukan mercusuar Pulau Seribu Hening. Di kejauhan, tampak siluet pantai dengan lampu-lampu kecil yang mulai menyala karena senja sudah tiba. Itu adalah daratan utama. Peradaban.

Harapan yang sangat besar menyelimuti mereka. Namun, di saat yang sama, sebuah bayangan raksasa bergerak di bawah sekoci. Bayangan itu jauh lebih besar dari kapal tongkang tadi. Sang Pemimpin Predator telah keluar dari sarangnya, mengikuti sekoci terakhir ini secara langsung. Ia ingin melihat siapa tiga orang yang nantinya, menurut takdir yang ia rasakan akan mengakhiri penderitaannya yang panjang.

•••

Other Stories
Baca Tanpa Dieja

itulah cara jpload yang bener da baik ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Download Titik & Koma