The Last Escape

Reads
273
Votes
24
Parts
24
Vote
Report
The last escape
The Last Escape
Penulis Ezafareza

BAB 24 | "Tarian Api"

Hawa panas dari ledakan gudang bensin itu menjilat punggung mereka, namun tidak ada yang berani menoleh. Di depan mereka, kegelapan desa yang tadi sunyi kini berubah menjadi panggung api yang mengerikan. Bayangan-bayangan panjang dari rumah panggung yang terbakar menari-nari di atas pasir, menciptakan siluet yang mendistorsi bentuk asli para predator yang mulai bermunculan dari balik kobaran api.


Bab 24: Tarian Api


"Jangan berhenti menembak kalau mereka mendekat, May!" teriak Adit sambil menutupi hidungnya dengan kain basah. Asap hitam dari karet yang terbakar mulai memenuhi paru-paru mereka, membuat napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.

Maya mengokang senapan rakitannya dengan gerakan yang sangat tenang, meski tangannya gemetar karena kelelahan otot. KLIK-BOOM! Satu peluru melesat, menghantam bahu seekor predator yang mencoba melompat dari atap rumah yang runtuh. Makhluk itu terjungkal ke dalam api, mengeluarkan suara melengking yang menyakitkan telinga.

"Peluru gue tinggal tiga, Dit! Kita nggak bisa bertahan di tengah jalan kayak gini selamanya!" balas Maya. Suaranya serak, penuh dengan tekanan emosi yang coba ia tekan kuat-kuat.

Bram dan Aris berdiri di sisi kiri, masing-masing memegang tabung gas elpiji kecil yang sudah mereka modifikasi dengan sumbu kain. Mereka tampak seperti prajurit dari zaman yang berbeda, bertarung dengan alat seadanya melawan entitas yang tidak seharusnya ada di dunia ini.

"Aris, sekarang!" perintah Bram.

Aris melemparkan tabung gas itu ke arah kerumunan predator yang mulai merayap di bawah kolong rumah. Begitu tabung itu mendarat, Bram melemparkan obor kayu yang menyala.

DUAARRRR!

Guncangan ledakan itu membuat mereka hampir jatuh tersungkur. Serpihan kayu dan logam terbang ke segala arah. Formasi predator yang tadinya rapi mulai kocar-kacir. Makhluk-makhluk itu cerdas, mereka tahu cara berburu, tapi mereka tidak pernah berhadapan dengan mangsa yang menggunakan ledakan sebagai bahasa perlawanan.

Kilas Balik: Keuletan Aris

Sambil mengatur napas di balik perlindungan dinding batu, Aris teringat masa kecilnya di sebuah desa di pinggiran Jawa Tengah.

Ayahnya adalah seorang montir bengkel las yang selalu mengajarinya bahwa "benda apa pun bisa jadi alat kalau otakmu bekerja." Aris dulu sering dianggap remeh di kampus karena penampilannya yang sederhana dan bicaranya yang medok, tapi di sini, di ambang maut, dialah orang yang paling bisa diandalkan dalam hal teknis.

Keuletan Aris bukan lahir dari keberanian buta, tapi dari rasa sayang yang mendalam pada teman-temannya. Ia merasa berhutang budi pada Adit yang selalu membayarkan uang sakunya saat ia kesulitan, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan Adit mati di tempat terkutuk ini.

"Dit, liat!" Nadia menunjuk ke arah pantai.
Di sana, Sang Pemimpin Predator berdiri tegak di tengah air laut yang setinggi pinggangnya. Ia tidak bergerak sedikit pun meskipun desa di depannya sedang hangus terbakar. Mata besarnya yang berwarna ungu keperakan menatap lurus ke arah Adit.

Tiba-tiba, sebuah suara frekuensi rendah merambat melalui tanah, menggetarkan tulang-tulang mereka. Dina, yang sejak tadi memegangi kepalanya, jatuh berlutut.

"Dia... dia lagi nanya sesuatu, Dit," gumam Dina dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan.

"Nanya apa, Din? Jangan dengerin dia!" Adit mencoba mengangkat tubuh Dina.

"Dia nanya... kenapa kita masih mau berjuang kalau akhirnya kita semua bakal jadi bagian dari mereka juga," Dina mendongak, matanya mulai menunjukkan garis-garis hitam yang lebih jelas. "Dia bilang... keabadian itu semu dan capek. Dia mau kita kasih dia alasan kenapa hidup yang cuma sebentar ini layak buat diperjuangin sampai berdarah-darah begini."

Adit terdiam. Ia menatap Sang Pemimpin Predator. Di tengah kekacauan api dan kematian, ada sebuah dialog bisu yang terjadi. Adit mengambil parang dari tangan Maya, lalu ia melangkah maju beberapa tindak, memisahkan diri dari barisan teman-temannya.

"Karena kita punya sesuatu yang lu nggak punya!" teriak Adit ke arah laut, meskipun ia tahu makhluk itu mungkin tidak mengerti bahasa manusia secara harfiah. "Kita punya rasa sakit karena kehilangan! Dan rasa sakit itu yang bikin kita tetep jadi manusia, bukan cuma mesin pemangsa kayak kalian!"

Di balik keberaniannya, Adit sebenarnya sedang menjalankan strategi besar. Ia tahu bahwa Sang Pemimpin Predator sangat tertarik padanya. Ia memancing makhluk itu untuk terus mendekat ke daratan.

"Bram, Nadia... geser ke arah dermaga tua," bisik Adit tanpa menoleh. "Cari tali tambang atau apa pun yang kuat. Kita nggak bakal bisa bunuh dia pakai api atau peluru biasa. Kita harus pakai berat badannya sendiri."

"Maksud lu, apa Dit?" tanya Bram.

"Kapal nelayan yang karam di dermaga itu... kalau kita bisa tarik tuas dereknya pas dia lewat di bawahnya, kita bisa jatuhin jangkar raksasa itu tepat di lehernya. Tapi salah satu dari kita harus jadi umpan," jelas Adit dengan nada yang sangat dewasa dan tenang.

"Gue yang jadi umpannya," sahut Maya cepat. "Gue yang paling gesit di sini."

"Enggak, May. Gue yang dia mau," potong Adit. "Kalian fokus di mekanisme dereknya. Aris, lu yang paling tau soal mesin, mastiin derek itu nggak macet."

Percakapan itu berlangsung cepat namun penuh empati. Mereka tidak lagi berdebat karena ego. Mereka saling menawarkan nyawa karena mereka tahu itulah satu-satunya cara agar setidaknya tiga dari mereka bisa pulang ke rumah.

Saat mereka mulai bergerak menuju dermaga secara diam-diam melalui bayang-bayang rumah yang terbakar, Aris mencoba mencairkan ketegangan yang menyesakkan paru-paru.

"Bram, kalau kita selamat, gue janji bakal beliin lu makan sate kambing paling enak di kota kita. Tiga porsi!" bisik Aris.

Bram terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat kontras dengan bunyi desisan predator di sekitar mereka. "Tiga porsi doang? Murah amat nyawa gue, Ris. Tambahin es teh manis yang banyak gulanya, baru gue mau."

Nadia tersenyum kecil di balik kain penutup mulutnya. "Gue saksinya ya. Kalau Aris bohong, biar gue suntik mati dia di puskesmas nanti."

Tawa singkat itu adalah bentuk perlawanan paling murni. Di tempat di mana predator menyerap intelegensi dan kesedihan, humor adalah racun bagi mereka.

Predator tidak mengerti mengapa makhluk yang akan mati masih bisa tertawa.

Namun, situasi kembali menegang saat mereka mencapai dermaga tua yang kayunya sudah rapuh. Sang Pemimpin Predator mulai melangkah ke daratan. Setiap langkahnya membuat pasir pantai seolah tertekan masuk. Predator-predator kecil di sekelilingnya tunduk, memberi jalan bagi sang raja.

"Dia masuk jebakan," desis Adit.

Dina, yang mulai merasakan koneksi batin dengan kawanan itu, memberikan peringatan terakhir. "Hati-hati, Dit... dia bukan cuma kuat. Dia bisa ngerasain apa yang lu rencanain kalau lu terlalu takut. Fokus ke rasa marah lu, jangan ke rasa takut lu."

Adit berdiri di ujung dermaga, melambaikan parangnya. "SINI LU! DATENG KE GUE!"

Sang Pemimpin Predator mempercepat langkahnya. Langkahnya yang berat menghantam dermaga, membuat kayu-kayu itu berderit dan patah. Di bawah dermaga, Aris dan Bram sudah bersiap di mesin derek tua yang sudah mereka lumuri dengan lemak ikan agar bisa bergerak.

Tinggal beberapa meter lagi. Adit bisa melihat pori-pori di wajah makhluk itu yang mengeluarkan cairan biru transparan. Bau kematian menyeruak. Adit tetap berdiri tegak, jantungnya berdegup kencang namun tangannya tetap stabil.

"SEKARANG, RIS! SEKARANG!" raung Adit.

KREEEEKKKK... BRAAAAAKKKK!

Jangkar raksasa yang tadinya tergantung di derek dermaga meluncur jatuh dengan kecepatan tinggi. Namun, Sang Pemimpin Predator melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia menangkap rantai jangkar itu dengan satu tangannya yang besar dan kuat.

Besi jangkar itu tertahan di udara, hanya beberapa sentimeter di atas kepala Adit.

•••

Other Stories
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Download Titik & Koma