The Last Escape

Reads
125
Votes
11
Parts
11
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 9 | "Lorong Gelap"

Gua itu tidak sedingin yang dibayangkan. Alih-alih udara sejuk yang biasanya menyelimuti lorong-lorong batu, tempat ini justru terasa pengap dan hangat, seolah dinding-dinding granit di sekitar mereka bernapas. Bunyi tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua terdengar seperti detak jam raksasa yang sedang menghitung mundur waktu mereka.


Bab 9: Lorong Gelap


Nadia bergerak dalam diam di tengah kegelapan yang hanya ditembus oleh satu cahaya senter kecil milik Aris. Tangannya yang terampil mulai merogoh isi tas medisnya, mengeluarkan sebotol alkohol dan kapas. Ia menghampiri Bimo yang duduk menyandar pada dinding batu yang kasar.

"Bim, sini tangan lu," ucap Nadia lembut, hampir berbisik.

Bimo meringis pelan saat Nadia menyentuh pergelangan tangannya yang bengkak dan berwarna keunguan. "Sakit dikit doang, Nad. Kayaknya cuma keseleo pas gue gebuk benda itu tadi."

Nadia menatap Bimo dengan tatapan dewasa yang dalam. "Dikit doang kata lu? Ini terkilir parah, Bim. Kalau lu nggak hati-hati, tangan lu ini nggak bakal bisa pegang bola basket lagi." Nadia mulai mengoleskan cairan antiseptik. Bau alkohol yang tajam seketika memenuhi area sempit itu, sedikit menutupi bau amis yang mereka bawa dari luar.

Di sudut lain, Adit dan Bram masih sibuk memastikan batu-batu barikade di mulut gua tidak bergeser. Adit tampak kelelahan, pundaknya yang tegap kini terlihat merosot. Beban sebagai orang yang merancang liburan "mahal" ini mulai menggerogoti jiwanya.

"Dit, makan dulu," ajak Maya sambil menyodorkan sebungkus biskuit yang sempat ia selamatkan.

Adit menggeleng pelan. "Gue nggak lapar, May. Gue cuma... gue kepikiran Jaka. Gimana kalau dia masih ada di atas pohon itu? Gimana kalau dia kedinginan atau... atau dia nungguin kita buat diselamatkan?"

Maya duduk di samping Adit, membiarkan bahu mereka bersentuhan. "Kita semua ngerasa hal yang sama. Tapi lu nggak bisa nyalahin diri lu sendiri terus. Liburan ini ide kita bareng-bareng. Kita semua pengen ke sini karena kita pengen ngerasa bebas, kan?"

Rio yang mendengar percakapan itu mendengus sinis dari kegelapan. "Bebas? Kita bukan bebas, May. Kita kejebak. Dan Jaka... Jaka itu orang paling baik di antara kita. Kenapa harus dia duluan yang hilang?"

Suasana menjadi berat. Empati dan kesedihan saling beradu di ruang sempit itu. Untuk mengalihkan perhatian, Aris mulai mengarahkan senternya ke arah lorong yang lebih dalam.
"Gue baru sadar sesuatu," kata Aris sambil berdiri. "Gua ini nggak buntu. Udara yang pengap ini asalnya dari dalam, tapi ada aliran angin kecil yang lewat di atas sana. Itu artinya ada lubang keluar lain."

"Tapi kita nggak tahu itu tembus ke mana, Ris," sahut Rico sambil merangkul Santi yang masih terus gemetar. "Gimana kalau lorong itu malah bawa kita ke sarang mereka?"

"Mereka?" tanya Lala dengan suara bergetar. "Jadi bener kata Maya tadi? Makhluk itu nggak cuma satu?"

Belum sempat ada yang menjawab, Nadia selesai membalut tangan Bimo. Ia menghela napas panjang dan duduk di tengah lingkaran teman-temannya. Cahaya senter dari bawah menyinari wajahnya, memberikan kesan dramatis pada raut wajahnya yang biasanya tenang.

"Kalian tahu nggak kenapa gue selalu bawa tas medis lengkap begini?" tanya Nadia tiba-tiba. Pertanyaan itu terasa asing di tengah situasi mencekam, namun entah kenapa, semua orang terdiam untuk mendengarkan.

"Karena gue pernah gagal," lanjut Nadia. "Tiga tahun lalu, pas nyokap gue kritis di rumah, gue cuma bisa berdiri di depan pintu kamar. Gue nggak tahu harus ngapain. Gue nggak tahu cara kasih pertolongan pertama pas dia sesak napas. Ayah gue lagi kerja, dan adik-adik gue nangis. Gue cuma bisa liat nyokap pergi tanpa bisa bantu sedikitpun."
Suara Nadia tetap stabil, namun ada getaran emosional yang sangat kuat di setiap katanya.

"Sejak hari itu, gue janji sama diri sendiri. Gue nggak akan biarin orang yang gue sayang hilang begitu aja di depan mata gue cuma karena gue nggak siap. Itu alasannya gue ikut liburan ini. Bukan buat liat pantai atau gaya-gayaan. Gue ikut karena gue mau mastiin kalian semua aman. Gue mau pastiin nggak ada yang ngerasain apa yang gue rasain tiga tahun lalu."

Tora menunduk, ia merasa malu karena tadi sempat menganggap tas medis Nadia sebagai beban tambahan. Dina yang tadinya hanya menangis, kini menatap Nadia dengan pandangan baru. Ada sebuah kekuatan tersirat yang terpancar dari gadis pendiam itu.

"Nad... makasih ya," ucap Dina lirih. "Dan maaf tadi gue nyusahin pas ditarik benda itu."

Nadia tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. "Lu nggak nyusahin, Din. Itu insting. Dan lu hebat bisa bertahan sampai sekarang dari luka itu."

Tiba-tiba, suara krasak-krusuk terdengar dari arah lorong yang lebih dalam. Bukan dari mulut gua yang dibarikade, tapi dari kegelapan di belakang mereka. Semua orang seketika berdiri. Bimo langsung mengambil posisi di depan meskipun tangannya dibebat.

"Siapa di sana?" teriak Bram dengan suara yang dipaksakan agar tidak bergetar.

Keheningan kembali melanda. Namun kali ini, diikuti oleh sebuah suara yang sangat aneh. Bunyinya seperti suara tawa, namun pecah dan parau, seperti seseorang yang sedang mencoba meniru suara manusia tapi tenggorokannya penuh dengan air.

He... he... he...

"Itu... itu bukan suara manusia," bisik Gilang sambil mengangkat kameranya, menggunakan lampu bantuan fokus yang berwarna merah untuk melihat ke dalam kegelapan.

Melalui lensa kamera Gilang, mereka melihat sesuatu yang mengerikan. Di langit-langit gua, sekitar tiga puluh meter dari posisi mereka, ada sepasang mata merah yang memantulkan cahaya. Makhluk itu tidak berdiri di lantai. Ia menempel di langit-langit batu seperti cicak, namun ukurannya sebesar manusia dewasa.

"Mundur... semuanya mundur ke arah barikade!" perintah Adit.

Namun, makhluk itu tidak menyerang. Ia justru merayap perlahan mundur ke dalam kegelapan, seolah-olah sedang memancing mereka untuk mengikuti.

"Dia pinter banget," kata Aris dengan nada mature yang menakutkan. "Dia tahu kita nggak bisa keluar lewat depan karena ada temannya yang jaga di sana. Sekarang dia mau kita masuk ke dalam, ke tempat yang lebih sempit, di mana kita nggak bisa lari."

"Jadi kita dikepung?" tanya Eka sambil memeluk buku gambarnya erat-erata. "Depan ada, belakang ada?"

"Berarti gua ini... gua ini memang rumahnya," bisik Maya. "Kita bukan masuk ke tempat perlindungan. Kita masuk ke ruang makan mereka."

Konflik mulai muncul. Rio ingin menerjang masuk ke dalam karena ia yakin Jaka mungkin ada di dalam sana, hidup atau mati. Sementara Rico bersikeras agar mereka tetap di dekat barikade dan menunggu pagi.

"Kalau kita di sini terus, kita bakal mati kehabisan oksigen atau mati pasrah!" teriak Rio.

"Dan kalau kita masuk, kita bakal mati konyol!" balas Rico tak kalah kencang.

Di tengah perdebatan itu, sebuah bunyi dentuman keras menghantam barikade batu di depan. BUM! Batu seberat puluhan kilogram itu bergeser beberapa sentimeter. Sesuatu di luar sedang mencoba mendobrak masuk dengan kekuatan yang setara dengan hantaman truk.

"Nggak ada pilihan lagi," kata Adit sambil menyambar tasnya. "Kita masuk ke dalam lorong. Aris, lu di depan pakai senter, gue bakal bareng lu di depan. Bimo, Bram, jaga belakang. Kita gerak sekarang!"

Maka, dimulailah perjalanan nekat menyusuri usus bumi Pulau Seribu Hening. Mereka berjalan merayap di lorong-lorong yang semakin menyempit, tanpa menyadari bahwa predator yang mengikuti mereka dari belakang sedang tersenyum, jika makhluk itu punya bibir untuk tersenyum. Makhluk itu menyukai mangsa yang merasa punya harapan, karena rasa manis dari harapan yang hancur adalah bumbu terbaik sebelum mereka mengoyak daging mangsanya satu per satu.

Sambil merangkak di lorong sempit, Jaka yang hilang mulai diceritakan kembali dalam ingatan masing-masing. Tentang bagaimana ia pernah menabung selama setahun hanya untuk membelikan kado ulang tahun bagi ibunya, atau bagaimana ia diam-diam sering membantu menyapu koridor kampus saat melihat petugas kebersihan kelelahan.

Jaka bukan sekadar korban, ia adalah simbol kebaikan yang kini telah sirna, membuat mereka sadar bahwa di pulau ini, kebaikan tidak memiliki nilai tawar di hadapan rasa lapar sang predator.

•••

Other Stories
Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Cerita Pendekku

Pada saat jatuh cinta, terdapat dua tipe orang dalam merespon perasaan tersebut. Ada yang ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Download Titik & Koma