The Last Escape

Reads
6K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 31 | "Jantung Yang Berhenti"

Uap panas menyembur dari pipa yang pecah di langit-langit lorong, menciptakan tirai putih yang menghalangi pandangan. Suasana di dalam perut kapal MV Serayu berubah menjadi mimpi buruk metalik. Bunyi alarm darurat yang melengking rendah terus berdenyut, seolah jantung kapal ini sedang mengalami serangan hebat. Adit dan Aris bergerak merayap, menempel pada dinding besi yang mulai terasa panas.


Bab 31: Jantung yang Berhenti


"Hati-hati, Dit. Kalau pipa di atas kepala kita meledak, kita mateng seketika," bisik Aris. Suaranya bergetar, bukan hanya karena takut, tapi karena uap panas itu mulai menguras oksigen di sekitar mereka.

Adit mengangguk, ia memegang parangnya dengan posisi terbalik, siap menusuk ke atas. "Gue nggak nyangka bakal kangen sama nyamuk di Pulau Seribu Hening. Di sini baunya bikin mau muntah."

Mereka sampai di ambang pintu ruang mesin utama. Ruangan itu sangat luas, penuh dengan piston-piston raksasa setinggi bangunan dua lantai yang kini bergerak tidak beraturan. Di bawah mereka, air laut mulai menggenang, tingginya sudah mencapai mata kaki. Air itu tidak jernih; ada minyak hitam dan lendir biru yang mengapung di permukaannya.

"Itu katupnya, Ris!" Adit menunjuk ke sebuah roda besi besar di seberang ruangan, tepat di atas genangan air yang paling dalam.

Namun, di atas katup itu, sesuatu sedang menunggu.

Sesosok predator dengan kulit yang lebih gelap, hampir menyerupai warna besi tua, sedang melilitkan tubuhnya pada pipa utama. Makhluk ini tidak menyerang dengan kasar. Ia tampak sedang 'mendengarkan' aliran cairan di dalam pipa, seolah mencari titik terlemah untuk dihancurkan.

Aris menatap pemandangan itu dengan mata membelalak. Pikirannya melayang kembali ke belasan tahun lalu, saat ia masih kecil dan melihat ayahnya ditarik keluar dari ruang mesin kapal dengan kondisi yang tidak lagi utuh. Ayahnya selalu bilang bahwa kapal adalah makhluk hidup, dan ruang mesin adalah jantungnya.

"Dit," bisik Aris, suaranya kini terdengar sangat mature dan tenang secara tidak wajar. "Kalau kita nggak tutup katup itu sekarang, tekanan uapnya bakal balik ke arah tangki bahan bakar. Kapal ini nggak cuma bakal tenggelam, tapi bakal meledak jadi kepingan besi di tengah laut."

Adit menoleh, melihat keseriusan di mata sahabatnya. "Apa rencana lu?"

"Gue bakal manjat lewat jalur kabel di atas buat narik perhatiannya. Pas dia ngejar gue, lu lari lewat air dan puter katup itu. Jangan berhenti sampai mentok, Dit. Apapun yang terjadi, jangan nengok ke belakang," ucap Aris sambil melepaskan ranselnya.

"Gila lu, Ris! Lu mau jadi umpan lagi?"

Aris tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh empati. "Bokap gue mati buat nyelametin kapal yang nggak ada orangnya. Gue mau mati buat nyelametin temen-temen gue. Itu bedanya."

Sementara itu, di ruang medis yang terkunci, Bram berdiri di depan pintu dengan kapak di tangan. Nadia sedang memegang tangan Dina yang mulai berkeringat dingin. Maya duduk di sudut, matanya tidak lepas dari monitor CCTV yang kini hanya menampilkan statis.

Tok... Tok... Tok...

Pintu diketuk dengan pelan. Suara Pak Darman terdengar dari balik besi. "Buka... ini saya, Pak Darman. Saya bawa tabung oksigen tambahan buat Mbak Dina."

Bram hendak memutar kunci, tapi Nadia tiba-tiba berteriak. "BRAM, JANGAN!"

Bram terhenti. "Kenapa, Nad?"

Nadia menunjuk ke arah celah di bawah pintu. Cairan yang mengalir masuk bukan hanya air hujan dari baju Pak Darman, melainkan lendir biru pekat yang bergerak seperti memiliki pikiran sendiri.

"Pak Darman sudah 'dipakai," bisik Nadia dengan suara bergetar. "Dengerin suaranya... terlalu datar. Nggak ada napasnya."

Benar saja, ketukan itu berubah menjadi hantaman keras. BRAK! BRAK! Pintu besi itu mulai melengkung. Pak Darman, atau apa pun yang tersisa darinya, sedang mencoba mendobrak masuk dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
"Maya, bantu gue dorong meja ini ke pintu!" teriak Bram.

Maya meloncat berdiri. "Bangsat! Nggak di pulau, nggak di kapal, semuanya mau makan kita!" Meskipun ia menggerutu dan melawak kasar, gerakan Maya sangat efisien. Mereka berdua menyusun tempat tidur medis dan lemari obat untuk menahan pintu.

Kembali ke ruang mesin, Aris mulai memanjat. Ia bergerak lincah di sela-sela kabel tegangan tinggi. Ia mulai memukul-mukul pipa besi dengan kunci inggrisnya, menciptakan bunyi dentang yang nyaring.

"WOI, SETAN! KE SINI LU!" teriak Aris.

Predator hitam itu menoleh. Matanya yang kuning berkilat. Dengan gerakan yang sangat cerdas, ia tidak langsung melompat, melainkan mulai merayap memutar untuk mengepung Aris.

"SEKARANG, DIT!" Aris meraung.
Adit melompat ke dalam air setinggi lutut. Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih di lukanya yang terkena air garam dan oli. Ia mencapai katup itu. Ia mencengkeram rodanya dan mulai memutar.

KREEEEKKKK...

Besinya sangat berat dan panas. Kulit telapak tangan Adit mulai melepuh, tapi ia tidak melepaskannya. Ia bisa mendengar teriakan Aris di atas sana, diikuti suara benturan keras.

"ARIIIIIS!"

Adit menoleh sekilas. Aris sedang bergulat dengan predator itu di atas platform sempit. Aris menggunakan kunci inggrisnya untuk menahan rahang makhluk itu yang mencoba menggigit lehernya. Mereka berdua jatuh dari platform, menghantam pipa uap di bawahnya.

SSSSSSTTTTTT!

Uap panas menyembur tepat ke arah mereka berdua. Predator itu memekik kesakitan karena kulitnya sensitif terhadap suhu ekstrem yang mendadak. Namun Aris juga terkena uap itu.

"PUTER TERUS, DIT! JANGAN BERHENTI!" suara Aris terdengar parau dan penuh rasa sakit.
Adit memutar katup itu dengan seluruh sisa tenaganya. Satu putaran terakhir, dan... KLIK.

Katup itu tertutup sempurna. Suara mesin yang tadinya meraung tidak stabil mendadak mereda menjadi dengungan rendah yang aman. Kapal ini tidak akan meledak.

Namun, saat Adit berlari ke arah Aris, ia melihat sahabatnya terduduk di air, bersandar pada pipa. Predator itu sudah mati, kepalanya hancur menghantam besi saat jatuh tadi. Tapi Aris... setengah wajah dan bahunya melepuh hebat karena uap panas.

"Ris... Ris, bertahan ya? Kita ke ruang medis sekarang," Adit mencoba mengangkat tubuh Aris yang berat.

Aris tertawa kecil, meskipun napasnya tersengal. "Dit... gue bilang apa tadi... mayat gue harus pake celana yang bener. Liat deh, sekarang malah baju gue yang ancur."

"Jangan bercanda sekarang, bego!" Adit menangis. Ia menggendong Aris di punggungnya, berjalan tertatih-tatih keluar dari ruang mesin yang kini perlahan menjadi dingin.

Saat Adit sampai di depan ruang medis, ia melihat pintu itu sudah hancur. Di lantai lorong, Pak Darman tergeletak tak bernyawa dengan kapak tertancap di dadanya. Bram berdiri di sana dengan nafas memburu, bajunya penuh darah hitam.
Nadia dan Maya langsung berlari keluar saat melihat Adit membawa Aris.

"Aris!" Nadia langsung memeriksa denyut nadi Aris. "Bawa masuk! Cepet!"

Mereka membaringkan Aris di atas meja. Di dalam ruangan itu, keheningan menyelimuti mereka. Mereka berenam, Adit, Bram, Aris, Nadia, Maya, dan Dina, masih lengkap. Namun mereka tahu, mereka sudah berada di titik nadir.

Di luar sana, badai mulai mereda, namun radar kapal menunjukkan ribuan titik kecil masih mengikuti mereka di bawah permukaan laut.

Predator-predator itu tidak akan menyerah sampai mangsa terakhir mereka habis, atau sampai mereka menemukan cara untuk mati.
"Adit," bisik Dina dari sudut ruangan. "Pemimpin mereka yang baru... dia baru saja lahir di bawah kapal ini. Dan dia jauh lebih lapar."

•••

Other Stories
Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Lydia

Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Download Titik & Koma