BAB 25 | "Patahnya Rantai Takdir"
Lantai dermaga kayu itu mengerang hebat, seolah seluruh urat kayunya memohon ampun di bawah telapak kaki Sang Pemimpin yang luar biasa berat. Jangkar raksasa yang seharusnya menjadi eksekutor itu tertahan di udara, rantainya bergetar kencang memancarkan suara berdenging logam yang memekakkan telinga. Adit berdiri tepat di bawah mata jangkar yang tajam, hanya berjarak beberapa jengkal dari kematian, namun matanya tidak berkedip. Ia menatap wajah Sang Pemimpin yang kini berada dalam jangkauan lengan.
Bab 25: Patahnya Rantai Takdir
"Gila... dia nahan jangkarnya pake tangan kosong?" bisik Aris dari balik mesin derek. Tangannya yang memegang tuas terasa panas, otot-ototnya gemetar karena tekanan balik dari rantai yang dipaksa berhenti secara mendadak.
Bram tidak menunggu perintah.
Ia tahu momen ini adalah satu-satunya kesempatan sebelum dermaga ini runtuh sepenuhnya. "Aris, lepas tuasnya! Biar rantainya kusut, kita serang kakinya!"
Di ujung dermaga, Sang Pemimpin Predator mulai menarik rantai itu ke arahnya, seolah-olah berat jangkar ratusan kilogram itu hanyalah mainan. Setiap tarikannya membuat mesin derek yang dioperasikan Aris terseret maju, baut-baut besinya tercabut satu per satu dari fondasi kayu.
"Dit! Lari dari situ!" teriak Nadia yang berdiri di bibir pantai bersama Maya dan Dina.
Adit bukannya lari, ia justru menghujamkan besi tajamnya ke arah pergelangan tangan makhluk itu yang sedang memegang rantai. Sebuah tindakan nekat yang sangat dewasa dalam keberaniannya, ia tidak lagi memedulikan keselamatan diri sendiri jika itu berarti memberi waktu bagi yang lain.
"Ini buat Gilang! Ini buat Rico! Dan ini buat Tora!" raung Adit sambil menusuk berulang kali.
Cairan biru transparan menyembur dari luka Sang Pemimpin, mengenai wajah Adit. Namun, makhluk itu tidak marah. Ia justru menatap Adit dengan tatapan yang sangat tenang, sebuah tatapan yang memancarkan penghargaan.
Dengan satu gerakan cepat, ia melepaskan rantai jangkar itu dan memukul Adit dengan punggung tangannya.
Adit terlempar jauh, tubuhnya menghantam tumpukan peti kayu kosong hingga hancur berkeping-keping.
"ADIT!" Dina menjerit, ia hendak berlari maju, namun Maya menahannya.
"Dina, jangan! Liat ke arah laut!" Maya menunjuk dengan parangnya.
Di permukaan air yang dangkal, ratusan predator kecil mulai merayap naik ke atas tiang-tiang dermaga. Mereka bergerak seperti semut yang mencium aroma bangkai. Mereka tidak menyerang Sang Pemimpin, melainkan mengepung Bram dan Aris yang masih terjebak di mesin derek.
Kilas Balik: Kehidupan Sang Pemimpin yang Kesepian
Di tengah kekacauan itu, sebuah frekuensi masuk ke dalam pikiran Dina. Sebagai orang yang terpapar lendir Lala dan memiliki empati paling besar, Dina mulai melihat fragmen ingatan makhluk raksasa itu.
Sang Pemimpin bukanlah alien yang datang untuk menjajah. Beratus tahun lalu, ia adalah bagian dari sebuah koloni yang terdampar karena bencana alam semesta yang tidak bisa ia jelaskan. Di pulau ini, ia menemukan bahwa manusia memiliki satu hal yang tidak dimiliki koloninya: kematian yang bermakna.
Bagi koloninya, hidup adalah siklus tanpa akhir yang membosankan. Mereka menyerap inang, tumbuh, membelah diri, dan terus begitu selama ribuan tahun.
Sang Pemimpin telah lelah. Ia telah melihat pergantian zaman, ia telah melihat nelayan-nelayan kuno datang dan pergi, dan ia muak dengan keabadian yang hampa. Ia sengaja membiarkan dirinya ditemukan, ia sengaja membiarkan kelompok Adit melawan, karena ia sedang melakukan audisi, mencari siapa di antara manusia ini yang cukup cerdik untuk memutus rantai hidupnya yang terkutuk.
"Bram, di belakang lu!" Aris berteriak sambil melemparkan tabung gas kecil yang terakhir.
Bram berputar, menebas kepala seekor predator yang mencoba menggigit punggungnya. "Dereknya udah nggak bisa dipake! Kita harus lompat ke air!"
"Gila lu? Di bawah air itu wilayah mereka!"
"Lebih baik berantem di air daripada kejebak di sini dan dipotong-potong kayak ternak!" Bram menarik kerah baju Aris, dan bersama-sama mereka melompat tepat saat Sang Pemimpin menghancurkan mesin derek itu dengan sekali injak.
BYUURRR!
Di dalam air yang dingin, Bram dan Aris menyadari sesuatu. Predator-predator air itu tidak menyerang mereka. Mereka hanya berenang berputar, menjaga jarak.
"Mereka nunggu aba-aba," bisik Aris saat kepalanya muncul di permukaan. "Bram, liat Dina."
Di tepi pantai, Dina berdiri dengan kaku. Urat-urat hitam di lehernya kini berdenyut seirama dengan detak jantung Sang Pemimpin. Ia mengangkat tangannya, dan anehnya, beberapa predator kecil yang merayap di dekatnya mendadak berhenti dan menunduk.
"Dina? Lu... lu bisa kendaliin mereka?" Nadia mendekat dengan ragu.
Dina tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya sepenuhnya hitam, namun air mata masih mengalir. "Dia... dia mau aku bilang... kalau jebakan jangkar itu terlalu kuno buat dia. Dia mau kita pakai cara yang lebih 'manusiawi'."
Maya meludah ke samping, ia mengokang senapan rakitannya yang pelurunya tinggal satu. "Cara manusia? Oke. Kita pakai cara paling kasar, pengkhianatan dan api."
Maya menatap Nadia, lalu menatap ke arah gudang garam di ujung desa yang belum terbakar. "Nad, lu punya alkohol murni yang tadi kita temuin di toko kan? Dan lu, Dina... kalau lu emang bisa komunikasi sama mereka, suruh mereka bawa Sang Pemimpin itu masuk ke gudang garam."
"Garam?" Nadia bertanya bingung. "Itu nggak bakal ngebunuh dia, May. Dia hidup di laut."
"Bukan garamnya, bego," Maya tersenyum pahit, sebuah senyum yang memperlihatkan kedewasaan yang lahir dari tragedi. "Gudang garam itu strukturnya dari kayu jati tua yang dilapisi resin supaya nggak korosi. Resin itu... kalau kena alkohol murni dan suhu tinggi, dia nggak cuma kebakar. Dia bakal meledak kayak bom. Dan di bawah gudang itu, ada tangki penampung air buat nelayan. Kalau kita jeblosin dia ke sana dan bakar resinnya, dia bakal terpanggang di dalam ruang kedap udara."
Adit merangkak dari reruntuhan peti. Tulang rusuknya terasa patah, dan napasnya pendek-pendek. Ia melihat teman-temannya sedang merancang rencana terakhir. Ia melihat Bram dan Aris yang berjuang di air, melihat Maya yang dingin, Nadia yang setia, dan Dina yang sedang kehilangan kemanusiaannya.
"Gue... gue belum selesai..." gumam Adit. Ia memungut parang yang tergeletak.
Ia berjalan tertatih mendekati Sang Pemimpin yang kini berdiri di atas dermaga yang hancur. Adit menatap makhluk itu. "Lu mau mati, kan? Sini. Ikut gue."
Adit membalikkan badan dan berlari sekencang yang ia bisa menuju gudang garam. Sang Pemimpin Predator mengeluarkan suara dengusan yang terdengar seperti tawa kepuasan. Ia melompat dari dermaga, menghantam pasir pantai, dan mengejar Adit dengan langkah yang lambat namun pasti.
"SEKARANG, DIN!" raung Maya.
Dina memejamkan mata. Ia mengirimkan frekuensi "lapar palsu" kepada predator-predator kecil di sekelilingnya, memerintahkan mereka untuk ikut menggiring Sang Pemimpin masuk ke dalam gudang garam.
Ini adalah pemandangan yang sangat surealis. Seorang pemuda yang terluka parah berlari memimpin rombongan monster menuju sebuah bangunan kayu besar, sementara teman-temannya bersiap dengan obor dan alkohol di tangan.
Di dalam gudang garam, bau tajam resin dan kayu tua menyambut mereka. Adit sampai di tengah ruangan, tepat di atas penutup tangki air tawar yang terbuat dari besi tua. Ia berdiri di sana, menunggu.
Sang Pemimpin masuk. Kepalanya menunduk karena langit-langit gudang terlalu rendah untuknya. Ia menatap Adit dengan rasa hormat yang mendalam.
"Selamat tinggal," bisik Adit. Ia melompat ke samping saat pintu gudang ditutup paksa dari luar oleh Bram dan Aris menggunakan palang besi.
Nadia dan Maya menyiramkan alkohol murni ke seluruh dinding luar yang dilapisi resin.
"Maafin kami," ucap Nadia pelan sebelum menjatuhkan korek api.
WUUUSSSHHHH!
Api biru langsung melalap bangunan itu. Resin yang terbakar mengeluarkan suara mendesis yang mengerikan, menciptakan suhu yang jauh lebih panas daripada api biasa. Di dalam gudang, Sang Pemimpin Predator tidak mencoba keluar.
Ia justru duduk diam di tengah api yang berkobar, menerima panas yang mulai melelehkan kulitnya.
Ia mengeluarkan suara frekuensi terakhir yang sangat jernih, yang terdengar di kepala mereka semua: "Terima kasih... anak-anak manusia... akhirnya... aku bebas."
Ledakan resin itu meruntuhkan seluruh gudang. Bangunan itu ambruk ke dalam tangki air tawar, membawa Sang Pemimpin ke dasar liang lahatnya sendiri.
Keheningan kembali melanda desa nelayan itu. Predator-predator kecil yang tadinya ganas, mendadak lemas dan mati satu per satu seiring dengan hilangnya kesadaran Sang Pemimpin. Mereka adalah satu kesatuan saraf, dan saat pusatnya mati, seluruh kawanannya ikut binasa.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal.
Adit, Bram, Aris, Nadia, Maya, dan Dina berdiri mengelilingi sisa-sisa gudang yang terbakar. Mereka selamat. Mereka berhasil membunuh seluruh kawanan yang sudah berabad-abad menjajah tempat ini. Tapi saat matahari mulai terbit di ufuk timur, Nadia menyadari sesuatu.
Dina tidak lagi menangis. Ia berdiri menatap matahari dengan mata yang sepenuhnya hitam. Ia bernapas, tapi jiwanya sudah tertinggal di dalam frekuensi Sang Pemimpin.
"Dit..." bisik Bram sambil memegang pundak Adit yang penuh darah. "Kita menang. Tapi kenapa rasanya kita kalah ya? Perasaanku masih ga enak."
Adit tidak menjawab. Ia hanya menatap laut biru yang kini benar-benar tenang.
•••
Bab 25: Patahnya Rantai Takdir
"Gila... dia nahan jangkarnya pake tangan kosong?" bisik Aris dari balik mesin derek. Tangannya yang memegang tuas terasa panas, otot-ototnya gemetar karena tekanan balik dari rantai yang dipaksa berhenti secara mendadak.
Bram tidak menunggu perintah.
Ia tahu momen ini adalah satu-satunya kesempatan sebelum dermaga ini runtuh sepenuhnya. "Aris, lepas tuasnya! Biar rantainya kusut, kita serang kakinya!"
Di ujung dermaga, Sang Pemimpin Predator mulai menarik rantai itu ke arahnya, seolah-olah berat jangkar ratusan kilogram itu hanyalah mainan. Setiap tarikannya membuat mesin derek yang dioperasikan Aris terseret maju, baut-baut besinya tercabut satu per satu dari fondasi kayu.
"Dit! Lari dari situ!" teriak Nadia yang berdiri di bibir pantai bersama Maya dan Dina.
Adit bukannya lari, ia justru menghujamkan besi tajamnya ke arah pergelangan tangan makhluk itu yang sedang memegang rantai. Sebuah tindakan nekat yang sangat dewasa dalam keberaniannya, ia tidak lagi memedulikan keselamatan diri sendiri jika itu berarti memberi waktu bagi yang lain.
"Ini buat Gilang! Ini buat Rico! Dan ini buat Tora!" raung Adit sambil menusuk berulang kali.
Cairan biru transparan menyembur dari luka Sang Pemimpin, mengenai wajah Adit. Namun, makhluk itu tidak marah. Ia justru menatap Adit dengan tatapan yang sangat tenang, sebuah tatapan yang memancarkan penghargaan.
Dengan satu gerakan cepat, ia melepaskan rantai jangkar itu dan memukul Adit dengan punggung tangannya.
Adit terlempar jauh, tubuhnya menghantam tumpukan peti kayu kosong hingga hancur berkeping-keping.
"ADIT!" Dina menjerit, ia hendak berlari maju, namun Maya menahannya.
"Dina, jangan! Liat ke arah laut!" Maya menunjuk dengan parangnya.
Di permukaan air yang dangkal, ratusan predator kecil mulai merayap naik ke atas tiang-tiang dermaga. Mereka bergerak seperti semut yang mencium aroma bangkai. Mereka tidak menyerang Sang Pemimpin, melainkan mengepung Bram dan Aris yang masih terjebak di mesin derek.
Kilas Balik: Kehidupan Sang Pemimpin yang Kesepian
Di tengah kekacauan itu, sebuah frekuensi masuk ke dalam pikiran Dina. Sebagai orang yang terpapar lendir Lala dan memiliki empati paling besar, Dina mulai melihat fragmen ingatan makhluk raksasa itu.
Sang Pemimpin bukanlah alien yang datang untuk menjajah. Beratus tahun lalu, ia adalah bagian dari sebuah koloni yang terdampar karena bencana alam semesta yang tidak bisa ia jelaskan. Di pulau ini, ia menemukan bahwa manusia memiliki satu hal yang tidak dimiliki koloninya: kematian yang bermakna.
Bagi koloninya, hidup adalah siklus tanpa akhir yang membosankan. Mereka menyerap inang, tumbuh, membelah diri, dan terus begitu selama ribuan tahun.
Sang Pemimpin telah lelah. Ia telah melihat pergantian zaman, ia telah melihat nelayan-nelayan kuno datang dan pergi, dan ia muak dengan keabadian yang hampa. Ia sengaja membiarkan dirinya ditemukan, ia sengaja membiarkan kelompok Adit melawan, karena ia sedang melakukan audisi, mencari siapa di antara manusia ini yang cukup cerdik untuk memutus rantai hidupnya yang terkutuk.
"Bram, di belakang lu!" Aris berteriak sambil melemparkan tabung gas kecil yang terakhir.
Bram berputar, menebas kepala seekor predator yang mencoba menggigit punggungnya. "Dereknya udah nggak bisa dipake! Kita harus lompat ke air!"
"Gila lu? Di bawah air itu wilayah mereka!"
"Lebih baik berantem di air daripada kejebak di sini dan dipotong-potong kayak ternak!" Bram menarik kerah baju Aris, dan bersama-sama mereka melompat tepat saat Sang Pemimpin menghancurkan mesin derek itu dengan sekali injak.
BYUURRR!
Di dalam air yang dingin, Bram dan Aris menyadari sesuatu. Predator-predator air itu tidak menyerang mereka. Mereka hanya berenang berputar, menjaga jarak.
"Mereka nunggu aba-aba," bisik Aris saat kepalanya muncul di permukaan. "Bram, liat Dina."
Di tepi pantai, Dina berdiri dengan kaku. Urat-urat hitam di lehernya kini berdenyut seirama dengan detak jantung Sang Pemimpin. Ia mengangkat tangannya, dan anehnya, beberapa predator kecil yang merayap di dekatnya mendadak berhenti dan menunduk.
"Dina? Lu... lu bisa kendaliin mereka?" Nadia mendekat dengan ragu.
Dina tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya sepenuhnya hitam, namun air mata masih mengalir. "Dia... dia mau aku bilang... kalau jebakan jangkar itu terlalu kuno buat dia. Dia mau kita pakai cara yang lebih 'manusiawi'."
Maya meludah ke samping, ia mengokang senapan rakitannya yang pelurunya tinggal satu. "Cara manusia? Oke. Kita pakai cara paling kasar, pengkhianatan dan api."
Maya menatap Nadia, lalu menatap ke arah gudang garam di ujung desa yang belum terbakar. "Nad, lu punya alkohol murni yang tadi kita temuin di toko kan? Dan lu, Dina... kalau lu emang bisa komunikasi sama mereka, suruh mereka bawa Sang Pemimpin itu masuk ke gudang garam."
"Garam?" Nadia bertanya bingung. "Itu nggak bakal ngebunuh dia, May. Dia hidup di laut."
"Bukan garamnya, bego," Maya tersenyum pahit, sebuah senyum yang memperlihatkan kedewasaan yang lahir dari tragedi. "Gudang garam itu strukturnya dari kayu jati tua yang dilapisi resin supaya nggak korosi. Resin itu... kalau kena alkohol murni dan suhu tinggi, dia nggak cuma kebakar. Dia bakal meledak kayak bom. Dan di bawah gudang itu, ada tangki penampung air buat nelayan. Kalau kita jeblosin dia ke sana dan bakar resinnya, dia bakal terpanggang di dalam ruang kedap udara."
Adit merangkak dari reruntuhan peti. Tulang rusuknya terasa patah, dan napasnya pendek-pendek. Ia melihat teman-temannya sedang merancang rencana terakhir. Ia melihat Bram dan Aris yang berjuang di air, melihat Maya yang dingin, Nadia yang setia, dan Dina yang sedang kehilangan kemanusiaannya.
"Gue... gue belum selesai..." gumam Adit. Ia memungut parang yang tergeletak.
Ia berjalan tertatih mendekati Sang Pemimpin yang kini berdiri di atas dermaga yang hancur. Adit menatap makhluk itu. "Lu mau mati, kan? Sini. Ikut gue."
Adit membalikkan badan dan berlari sekencang yang ia bisa menuju gudang garam. Sang Pemimpin Predator mengeluarkan suara dengusan yang terdengar seperti tawa kepuasan. Ia melompat dari dermaga, menghantam pasir pantai, dan mengejar Adit dengan langkah yang lambat namun pasti.
"SEKARANG, DIN!" raung Maya.
Dina memejamkan mata. Ia mengirimkan frekuensi "lapar palsu" kepada predator-predator kecil di sekelilingnya, memerintahkan mereka untuk ikut menggiring Sang Pemimpin masuk ke dalam gudang garam.
Ini adalah pemandangan yang sangat surealis. Seorang pemuda yang terluka parah berlari memimpin rombongan monster menuju sebuah bangunan kayu besar, sementara teman-temannya bersiap dengan obor dan alkohol di tangan.
Di dalam gudang garam, bau tajam resin dan kayu tua menyambut mereka. Adit sampai di tengah ruangan, tepat di atas penutup tangki air tawar yang terbuat dari besi tua. Ia berdiri di sana, menunggu.
Sang Pemimpin masuk. Kepalanya menunduk karena langit-langit gudang terlalu rendah untuknya. Ia menatap Adit dengan rasa hormat yang mendalam.
"Selamat tinggal," bisik Adit. Ia melompat ke samping saat pintu gudang ditutup paksa dari luar oleh Bram dan Aris menggunakan palang besi.
Nadia dan Maya menyiramkan alkohol murni ke seluruh dinding luar yang dilapisi resin.
"Maafin kami," ucap Nadia pelan sebelum menjatuhkan korek api.
WUUUSSSHHHH!
Api biru langsung melalap bangunan itu. Resin yang terbakar mengeluarkan suara mendesis yang mengerikan, menciptakan suhu yang jauh lebih panas daripada api biasa. Di dalam gudang, Sang Pemimpin Predator tidak mencoba keluar.
Ia justru duduk diam di tengah api yang berkobar, menerima panas yang mulai melelehkan kulitnya.
Ia mengeluarkan suara frekuensi terakhir yang sangat jernih, yang terdengar di kepala mereka semua: "Terima kasih... anak-anak manusia... akhirnya... aku bebas."
Ledakan resin itu meruntuhkan seluruh gudang. Bangunan itu ambruk ke dalam tangki air tawar, membawa Sang Pemimpin ke dasar liang lahatnya sendiri.
Keheningan kembali melanda desa nelayan itu. Predator-predator kecil yang tadinya ganas, mendadak lemas dan mati satu per satu seiring dengan hilangnya kesadaran Sang Pemimpin. Mereka adalah satu kesatuan saraf, dan saat pusatnya mati, seluruh kawanannya ikut binasa.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal.
Adit, Bram, Aris, Nadia, Maya, dan Dina berdiri mengelilingi sisa-sisa gudang yang terbakar. Mereka selamat. Mereka berhasil membunuh seluruh kawanan yang sudah berabad-abad menjajah tempat ini. Tapi saat matahari mulai terbit di ufuk timur, Nadia menyadari sesuatu.
Dina tidak lagi menangis. Ia berdiri menatap matahari dengan mata yang sepenuhnya hitam. Ia bernapas, tapi jiwanya sudah tertinggal di dalam frekuensi Sang Pemimpin.
"Dit..." bisik Bram sambil memegang pundak Adit yang penuh darah. "Kita menang. Tapi kenapa rasanya kita kalah ya? Perasaanku masih ga enak."
Adit tidak menjawab. Ia hanya menatap laut biru yang kini benar-benar tenang.
•••
Other Stories
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...