The Last Escape

Reads
6K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 29 | "Pertemuan Dua Dunia"

Lampu sorot dari kapal tanker raksasa itu membelah tirai hujan seperti pedang cahaya yang menghujam samudera. Bagi Adit dan kawan-kawan, itu adalah mercusuar harapan. Namun bagi besi tua Suka Maju, itu adalah dinding kematian jika mereka tidak bisa mengendalikan laju kapal yang didorong angin badai ini. Kapal nelayan mereka tampak seperti semut di samping gajah baja yang sedang membelah ombak.


Bab 29: Pertemuan Dua Dunia


"Nyalain semua kain yang bisa dibakar! Cepet!" raung Adit dari atas atap kabin. Suaranya hampir tenggelam oleh deru angin yang menghantam layar terpal mereka.

Bram dan Aris bergerak sigap. Mereka mengambil sisa-sisa baju dari tas milik teman-teman mereka yang sudah tiada, sebuah tindakan yang terasa sangat menyakitkan namun mendesak. Dengan pemantik yang apinya hampir mati terkena tempias hujan, mereka menyulut kain-kain itu.

"Maafin gue, Lang... baju lu gue pake buat jadi obor," bisik Aris sambil menatap kaos favorit Gilang yang kini mulai menjilati kegelapan malam dengan api jingga.

Maya dan Nadia berdiri di pinggir dek, melambaikan kain-kain terbakar itu ke arah anjungan kapal tanker. Cahaya sorot dari kapal besar itu sesekali melewati mereka, namun tidak pernah benar-benar berhenti. Di tengah badai seganas ini, kru kapal tanker mungkin hanya menganggap mereka sebagai sampah laut atau sekadar pantulan ombak.

"Kenapa mereka nggak berhenti, Dit?!" teriak Nadia dengan air mata yang sudah tak bisa dibedakan lagi dengan air hujan. "Mereka harusnya liat kita!"

"Mereka nggak bakal berhenti gitu aja, Nad! Kapal sebesar itu butuh jarak berkilo-kilo buat ngerem!" jawab Adit. Ia merosot turun dari atap, kakinya mendarat dengan bunyi bug yang berat. "Kita harus mepet ke lambungnya. Cari tangga monyet atau apa pun yang bisa dipanjat!"

Saat kapal Suka Maju mulai mendekati lambung besi kapal tanker yang menjulang seperti tebing, kapal mereka mendadak tersentak. Bukan karena ombak, tapi karena beban di layar jaring mereka mendadak bergeser.

"Ada yang naik ke layar!" teriak Bram.

Senternya menyorot ke atas. Di tengah jaring dan terpal yang berkibar liar, sesosok predator yang lebih ramping dan lebih gesit sedang merayap turun. Itu adalah predator terakhir dari desa nelayan, yang rupanya berhasil bersembunyi di dalam lipatan jaring saat mereka memasang layar tadi.

Makhluk itu tidak mengeluarkan suara. Ia bergerak mengikuti irama kapal yang miring. Matanya yang kuning pucat menatap ke arah Dina. Seolah-olah, di mata makhluk itu, Dina adalah satu-satunya "makanan" yang tersisa atau mungkin "pemimpin" baru yang harus ia bawa kembali.

"Jangan biarin dia turun!" Aris mengambil kapak besinya, bersiap di bawah tiang.

"Biar gue," ucap Maya. Ia mengambil satu botol alkohol murni yang tersisa di sakunya. Ia membasahi sepotong kain, melilitkannya di ujung parang, dan menyulutnya. "Kalau dia mau api, gue kasih."

Maya memanjat tiang layar dengan kelincahan yang lahir dari keputusasaan. Di tengah guncangan badai, Maya dan predator itu bertemu di tengah-tengah. Suasana sangat mature dan penuh ketegangan, tidak ada teriakan heroik, hanya tatapan penuh kebencian antara dua predator, satu dari laut, satu dari kerasnya kehidupan Jakarta.

Maya menusukkan parang apinya. Makhluk itu menghindar dengan cara memutar tubuhnya di udara, cakarnya sempat merobek lengan baju Maya. Namun Maya tidak mundur. Ia justru melepaskan pegangan tangannya, bergantung hanya dengan kakinya, dan menghantamkan botol alkohol langsung ke wajah makhluk itu.

BYAARR!

Cairan alkohol itu tersambar api dari parang Maya. Kepala predator itu langsung terbakar hebat. Dengan teriakan melengking yang pecah oleh angin, makhluk itu jatuh ke laut, tenggelam dalam pusaran air yang diciptakan oleh baling-baling kapal tanker di samping mereka.

Maya merosot turun, napasnya memburu. "Satu nol, bajingan," bisiknya sambil menyeka darah di lengannya.

"May, lu gila ya? Itu tadi kalau lu jatuh, kita nggak bisa muter balik!" Aris memarahi Maya, namun tangannya gemetar saat memeriksa luka Maya.

"Kalau gue jatuh, seenggaknya gue mati sebagai kembang api, Ris. Keren kan?" sahut Maya sambil meringis kesakitan.

Aris mendengus. "Gue baru tau mahasiswa seni bisa se-psikopat itu. Nanti kalau kita selamat, gue mau minta lu lukis gue lagi berantem sama hiu ya."
"Pake celana sobek lu yang tadi?" ledek Maya.

Tawa singkat kembali pecah di antara mereka. Di ambang kematian, humor adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa mereka belum kehilangan akal sehat. Mereka adalah enam orang dewasa yang sedang menertawakan takdir yang gila.

Kini, Suka Maju sudah berada sangat dekat dengan lambung kapal tanker yang bernama MV Serayu. Mereka bisa melihat jendela-jendela kecil di bagian atas, namun lambung besi di depan mereka sangat licin dan tinggi.

"Nggak ada tangga! Kita harus teriak!" Adit mengambil corong bambu yang ia temukan di palka. "TOLOOOOONG! ADA ORANG DI SINI!"

Tiba-tiba, dari atas kapal tanker, muncul beberapa petugas keamanan. Mereka membawa lampu sorot yang sangat terang dan... senjata api.

"JANGAN MENDEKAT! KAMI PUNYA PERINTAH UNTUK MENEMBAK BAJAK LAUT!" suara dari pengeras suara kapal tanker menggelegar.

"KAMI BUKAN BAJAK LAUT! KAMI MAHASISWA! KAPAL KAMI MAU TENGGELAM!" balas Adit sekencang mungkin.

Namun, di perairan ini, pembajakan adalah hal yang umum. Melihat sebuah kapal nelayan kecil yang mendekat di tengah badai dengan orang-orang yang berlumuran darah dan membawa senjata tajam (parang dan kapak), para penjaga kapal tanker itu tentu saja merasa terancam.
"SIAPKAN SENJATA! JANGAN BIARKAN MEREKA MENEMPEL PADA LAMBUNG!"

Sebuah tembakan peringatan dilepaskan ke udara. DOR!

"Bajingan! Mereka mau ngebunuh kita juga?" Aris berteriak frustrasi.

"Dina! Lu bisa buat mereka percaya nggak?" Nadia menatap Dina yang masih dalam kondisi transisi.
Dina melangkah ke pinggir dek. Ia menatap ke arah petugas keamanan di atas sana. Entah bagaimana, Dina mulai memancarkan "sesuatu". Ia tidak berteriak. Ia hanya berdiri diam, membiarkan cahaya lampu sorot menyinari wajahnya yang pucat dan matanya yang aneh.

Petugas di atas sana mendadak terdiam. Mereka melihat seorang gadis muda yang tampak seperti malaikat maut yang sedang bersedih. Ada sesuatu dalam ekspresi Dina yang membuat senjata mereka perlahan turun. Itu bukan sihir, tapi murni kekuatan emosi manusia yang begitu jujur sehingga melampaui rasa takut para penjaga itu.

"Tunggu... itu perempuan. Ada beberapa perempuan di sana," suara petugas di pengeras suara melunak. "Mereka luka-luka. Turunkan jaring penyelamat! SEKARANG!"

Harapan itu benar-benar datang. Sebuah jaring besar dari tali nilon tebal diturunkan dari sisi kapal tanker.

"Naik! Satu-satu!" Adit mendorong Nadia dulu. "Bram, bantu Dina!"
Satu per satu mereka memanjat jaring itu. Maya, Aris, lalu Bram yang menggendong Dina di punggungnya. Adit adalah yang terakhir. Saat kakinya meninggalkan dek Suka Maju, ia menendang kapal tua itu menjauh. Kapal yang telah menyelamatkan nyawa mereka itu perlahan menjauh, terombang-ambing sendirian sebelum akhirnya hantam ombak besar dan mulai tenggelam.

Saat Adit sampai di atas dek besi MV Serayu yang kokoh, ia langsung ambruk. Ia dikelilingi oleh para pelaut yang menatap mereka dengan ngeri dan kasihan.

Namun, saat Adit menatap teman-temannya yang sedang dibantu oleh kru kapal, ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku. Dina tidak ada di antara mereka yang sedang diberi selimut.

"Mana Dina?" tanya Adit dengan suara parau.
Nadia menunjuk ke arah pinggiran pagar kapal. Dina berdiri di sana, menatap ke arah laut yang gelap. Di bawah sana, di balik bayang-bayang lambung kapal tanker, ribuan titik cahaya kuning mulai bermunculan. Predator-predator itu tidak berhenti mengejar. Mereka menggunakan arus yang diciptakan kapal tanker ini untuk terus mengikuti mangsa mereka.

Dan yang lebih buruk, di tangan Dina, ada sebuah retakan kecil di pagar besi kapal tanker yang mulai tertutup oleh lendir biru.

"Mereka sudah di sini, Dit," bisik Dina tanpa menoleh. "Mereka ikut naik lewat jaring tadi."

•••



Other Stories
Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Se-birru Langit. Se-bening Embun

Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Download Titik & Koma