BAB 42 | "Kesaksian Di Balik Jeruji"
Lantai ruang interogasi itu terasa sangat dingin, jauh lebih dingin daripada air laut yang sempat merendam tubuh Adit beberapa jam lalu. Di ruangan sempit berdinding beton ini, hanya ada satu lampu gantung yang bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang tampak seperti cakar-cakar hitam di sudut ruangan. Adit duduk dengan punggung tegak, tangannya terborgol di atas meja besi yang lecet. Di depannya, Pak Hendra menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari wajah Adit yang tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja kehilangan belasan temannya.
Bab 42: Kesaksian di Balik Jeruji
"Kamu tahu, Dit," suara Pak Hendra memecah kesunyian, "Saya sudah puluhan tahun bertugas di wilayah pesisir. Saya pernah lihat serangan hiu, kecelakaan kapal, sampai perkelahian bajak laut. Tapi saya belum pernah lihat orang yang punya tatapan mata sekosong kamu setelah kehilangan nyaris semua rombongannya."
Adit menarik napas pelan, dadanya masih terasa sesak. "Kosong bukan berarti nggak ada isinya, Pak. Kadang, kalau gelas sudah terlalu penuh sama air mata, pilihannya cuma satu: ditumpahin semua sampai nggak bersisa."
"Jangan berpuisi sama saya!" Pak Hendra menggebrak meja, membuat kopi di gelasnya sedikit tumpah. "Tim saya menemukan sekoci kalian. Isinya cuma darah biru yang baunya kayak bangkai lama dan bau parfum mahal. Kamu bilang gadis bernama Dina itu sudah meledak? Logika dari mana itu? Manusia bukan tabung gas!"
Adit hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa kepahitan mendalam. "Dunia ini luas, Pak. Banyak hal yang nggak ada di buku laporan Bapak. Dina sudah tenang. Dia... dia memilih untuk memadamkan apinya sendiri supaya api itu nggak membakar tempat lain."
Sementara itu, beberapa puluh kilometer dari kamp, Bram, Maya, dan Nadia berjalan menyusuri pinggiran jalan raya yang masih sepi. Mereka tampak seperti gelandangan yang baru saja keluar dari medan perang. Bram memimpin di depan, langkahnya berat tapi pasti. Di belakangnya, Maya terus memegangi lengan Nadia yang tampak limbung.
Bram teringat masa-masa ia sering dibilang "si otot besar" oleh teman-temannya. Ia selalu menjadi orang yang diandalkan untuk mengangkat barang-barang berat saat mereka naik gunung atau sekadar memindahkan lemari di kosan Rico.
Tapi sekarang, ia memikul beban yang lebih berat dari apa pun: tanggung jawab untuk tetap hidup.
"Bram... kaki gue lecet," gumam Maya pelan. Suaranya tidak lagi nyaring seperti biasanya saat dia mengeluh soal sepatu mahalnya. Ini adalah keluhan dari seseorang yang benar-benar sudah berada di ambang batas.
Bram berhenti, lalu berjongkok di depan Maya. "Naik ke punggung gue, May. Gue masih kuat."
"Nggak usah, Bram. Lu juga udah capek banget," tolak Maya sambil menyeka keringat yang bercampur debu di wajahnya.
"May, dengerin gue," Bram menoleh, menatap mata Maya dengan sangat empati. "Rico pernah bilang ke gue, kalau suatu saat kita dalam masalah, gue harus jadi tiang buat kalian. Gue udah gagal jagain Rico, gue udah gagal jagain Aris. Jangan biarin gue gagal jagain lu sama Nadia juga. Naik."
Maya akhirnya naik ke punggung Bram. Air matanya menetes di pundak Bram yang lebar. "Maafin gue ya, Bram. Dulu gue sering ngeledek lu bau keringat kalau habis latihan basket."
Bram terkekeh lirih, sebuah suara yang sangat jarang terdengar sejak tragedi dimulai. "Gue malah kangen diledek begitu, May. Itu artinya semuanya normal."
Di dalam selnya, Adit kembali memejamkan mata. Ingatannya melayang ke hari pertama kuliah lima tahun lalu. Di sana, di bawah pohon beringin kampus, ia pertama kali bertemu dengan Aris, Rico, dan Tora. Mereka berbagi satu kotak rokok dan bercerita tentang mimpi masing-masing.
Rico ingin jadi pelawak tunggal, Tora ingin jadi pengusaha kaya, dan Aris ingin jadi kurator seni. Adit sendiri hanya ingin membangun rumah yang nyaman untuk mereka semua berkumpul.
"Kita bakal liburan ke tempat paling keren pas lulus nanti," ucap Tora waktu itu sambil tertawa keras.
Adit meremas tangannya yang terborgol. Ia merasa dijebak oleh waktu. Jika saja ia tidak menemukan brosur tentang Pulau Seribu Hening itu... jika saja ia lebih teliti...
Kembali ke ruang interogasi, Pak Hendra mulai merubah taktiknya. Ia menyodorkan beberapa foto satelit lama tentang wilayah pulau tersebut.
"Ada legenda di sini, Adit. Nelayan tua bilang pulau itu berhantu. Mereka bilang ada 'penjaga' yang nggak suka diganggu," kata Pak Hendra lebih tenang.
Adit menatap foto-foto itu. "Mereka bukan hantu, Pak. Mereka itu sisa-sisa kesedihan yang nggak punya tempat buat pulang."
Adit mulai bercerita dengan detail, sebuah kisah yang ia dapatkan dari memori kolektif yang sempat Dina bagikan melalui sentuhan terakhir mereka. Ratusan tahun lalu, ada sekelompok orang yang diasingkan ke pulau itu karena penyakit aneh.
Mereka tidak mati, tapi tubuh mereka berubah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang keras dan penuh zat kimia alami di pulau itu.
"Awalnya mereka cuma makan ikan, Pak. Tapi zat di pulau itu membuat otak mereka 'lapar' akan emosi. Manusia adalah makhluk paling emosional di bumi. Saat manusia pertama mendarat di sana dan membawa rasa takut, predator itu sadar bahwa rasa takut manusia adalah 'makanan' yang jauh lebih lezat daripada apa pun. Itulah kenapa mereka memangsa kita dengan cara yang sadis. Mereka bukan cuma mau daging kita, mereka mau rasa takut kita sebelum kita mati."
Pak Hendra mendengarkan dengan dahi berkerut. Penjelasan Adit sangat masuk akal bagi seorang yang sudah melihat banyak keanehan di laut, meski sulit diterima akal sehat kota besar.
Di sebuah warung kopi pinggir jalan yang baru saja buka, Nadia duduk menatap segelas teh hangat yang mengepul. Bram sedang mencuci mukanya di pancuran air samping warung.
"Mbak, ada mi instan?" tanya Maya pada ibu penjaga warung.
"Ada neng. Mau pake telur?"
"Pake telur dua ya, Bu. Terus nasinya banyakin," jawab Maya. Ia menoleh ke arah Nadia. "Nad, makan ya? Lu harus kuat buat ketemu keluarga mereka nanti."
Nadia mengangguk lemah. "Gue masih nggak percaya kita lagi pesen mi instan sekarang, padahal kemarin kita lagi lari-lari dari maut."
"Dunia emang aneh, Nad," sahut Bram yang baru kembali. "Tapi mi instan ini bukti kalau kita masih ada di dunia yang nyata. Alien-alien itu nggak suka mi instan karena mi instan nggak punya rasa takut, cuma punya rasa micin."
Maya tersenyum tipis. "Lu bener, Bram. Micin adalah penyelamat kewarasan kita."
"Satu hal yang Bapak nggak tahu," kata Adit pada Pak Hendra di ruang sel. "Pemimpin mereka itu sebenarnya sangat pintar. Dia sengaja biarin kita bunuh kawanan dia di laut. Dia udah nunggu berabad-abad buat ada manusia yang cukup berani dan cukup cerdik buat ngejebak kawanannya sendiri."
"Kenapa dia mau begitu?" tanya Pak Hendra heran.
"Karena dia mencintai kawanannya, Pak. Dia nggak mau mereka terus-terusan hidup sebagai monster yang kelaparan. Dia pengen kawanannya bebas melalui kematian. Dan dia berterima kasih sama saya, sama Bram, sama Maya, sama Nadia... karena kita sudah jadi 'eksekutor' yang dia cari-cari selama ini."
Adit menunduk. "Dia mati sambil tersenyum, Pak. Meskipun bentuk wajahnya sudah nggak kayak manusia, saya bisa ngerasain kelegaannya."
Pintu ruang interogasi terbuka. Seorang petugas masuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Pak Hendra. Wajah Pak Hendra berubah pucat.
"Ada apa, Pak?" tanya Adit.
"Tim pencari... mereka menemukan kapal penyelamat yang kalian kirimi sinyal palsu itu. Kapalnya kosong, Adit. Nggak ada orang di sana. Tapi ada ribuan bangkai makhluk biru yang mengapung di sekitarnya. Kamu nggak bohong soal pembantaian itu."
Pak Hendra menatap Adit dengan rasa hormat yang baru. Ia melepaskan borgol di tangan Adit. "Kamu bebas, Nak. Tapi secara resmi, saya harus bilang kalau kalian adalah korban selamat dari ledakan tangki kapal. Jangan pernah ceritakan soal pulau itu ke siapa pun, atau kamu akan berakhir di rumah sakit jiwa."
Adit berdiri, meregangkan tangannya yang kaku. "Jangan khawatir, Pak. Nggak ada yang bakal percaya juga."
Adit melangkah keluar dari kamp, tepat saat matahari pagi menyinari wajahnya. Di kejauhan, ia melihat tiga sosok yang sangat ia kenali sedang duduk di depan sebuah warung kopi. Nadia, Bram, dan Maya.
Hanya mereka bertiga yang akan benar-benar pulang. Hanya mereka yang akan membawa beban rahasia ini selamanya.
•••
Bab 42: Kesaksian di Balik Jeruji
"Kamu tahu, Dit," suara Pak Hendra memecah kesunyian, "Saya sudah puluhan tahun bertugas di wilayah pesisir. Saya pernah lihat serangan hiu, kecelakaan kapal, sampai perkelahian bajak laut. Tapi saya belum pernah lihat orang yang punya tatapan mata sekosong kamu setelah kehilangan nyaris semua rombongannya."
Adit menarik napas pelan, dadanya masih terasa sesak. "Kosong bukan berarti nggak ada isinya, Pak. Kadang, kalau gelas sudah terlalu penuh sama air mata, pilihannya cuma satu: ditumpahin semua sampai nggak bersisa."
"Jangan berpuisi sama saya!" Pak Hendra menggebrak meja, membuat kopi di gelasnya sedikit tumpah. "Tim saya menemukan sekoci kalian. Isinya cuma darah biru yang baunya kayak bangkai lama dan bau parfum mahal. Kamu bilang gadis bernama Dina itu sudah meledak? Logika dari mana itu? Manusia bukan tabung gas!"
Adit hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa kepahitan mendalam. "Dunia ini luas, Pak. Banyak hal yang nggak ada di buku laporan Bapak. Dina sudah tenang. Dia... dia memilih untuk memadamkan apinya sendiri supaya api itu nggak membakar tempat lain."
Sementara itu, beberapa puluh kilometer dari kamp, Bram, Maya, dan Nadia berjalan menyusuri pinggiran jalan raya yang masih sepi. Mereka tampak seperti gelandangan yang baru saja keluar dari medan perang. Bram memimpin di depan, langkahnya berat tapi pasti. Di belakangnya, Maya terus memegangi lengan Nadia yang tampak limbung.
Bram teringat masa-masa ia sering dibilang "si otot besar" oleh teman-temannya. Ia selalu menjadi orang yang diandalkan untuk mengangkat barang-barang berat saat mereka naik gunung atau sekadar memindahkan lemari di kosan Rico.
Tapi sekarang, ia memikul beban yang lebih berat dari apa pun: tanggung jawab untuk tetap hidup.
"Bram... kaki gue lecet," gumam Maya pelan. Suaranya tidak lagi nyaring seperti biasanya saat dia mengeluh soal sepatu mahalnya. Ini adalah keluhan dari seseorang yang benar-benar sudah berada di ambang batas.
Bram berhenti, lalu berjongkok di depan Maya. "Naik ke punggung gue, May. Gue masih kuat."
"Nggak usah, Bram. Lu juga udah capek banget," tolak Maya sambil menyeka keringat yang bercampur debu di wajahnya.
"May, dengerin gue," Bram menoleh, menatap mata Maya dengan sangat empati. "Rico pernah bilang ke gue, kalau suatu saat kita dalam masalah, gue harus jadi tiang buat kalian. Gue udah gagal jagain Rico, gue udah gagal jagain Aris. Jangan biarin gue gagal jagain lu sama Nadia juga. Naik."
Maya akhirnya naik ke punggung Bram. Air matanya menetes di pundak Bram yang lebar. "Maafin gue ya, Bram. Dulu gue sering ngeledek lu bau keringat kalau habis latihan basket."
Bram terkekeh lirih, sebuah suara yang sangat jarang terdengar sejak tragedi dimulai. "Gue malah kangen diledek begitu, May. Itu artinya semuanya normal."
Di dalam selnya, Adit kembali memejamkan mata. Ingatannya melayang ke hari pertama kuliah lima tahun lalu. Di sana, di bawah pohon beringin kampus, ia pertama kali bertemu dengan Aris, Rico, dan Tora. Mereka berbagi satu kotak rokok dan bercerita tentang mimpi masing-masing.
Rico ingin jadi pelawak tunggal, Tora ingin jadi pengusaha kaya, dan Aris ingin jadi kurator seni. Adit sendiri hanya ingin membangun rumah yang nyaman untuk mereka semua berkumpul.
"Kita bakal liburan ke tempat paling keren pas lulus nanti," ucap Tora waktu itu sambil tertawa keras.
Adit meremas tangannya yang terborgol. Ia merasa dijebak oleh waktu. Jika saja ia tidak menemukan brosur tentang Pulau Seribu Hening itu... jika saja ia lebih teliti...
Kembali ke ruang interogasi, Pak Hendra mulai merubah taktiknya. Ia menyodorkan beberapa foto satelit lama tentang wilayah pulau tersebut.
"Ada legenda di sini, Adit. Nelayan tua bilang pulau itu berhantu. Mereka bilang ada 'penjaga' yang nggak suka diganggu," kata Pak Hendra lebih tenang.
Adit menatap foto-foto itu. "Mereka bukan hantu, Pak. Mereka itu sisa-sisa kesedihan yang nggak punya tempat buat pulang."
Adit mulai bercerita dengan detail, sebuah kisah yang ia dapatkan dari memori kolektif yang sempat Dina bagikan melalui sentuhan terakhir mereka. Ratusan tahun lalu, ada sekelompok orang yang diasingkan ke pulau itu karena penyakit aneh.
Mereka tidak mati, tapi tubuh mereka berubah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang keras dan penuh zat kimia alami di pulau itu.
"Awalnya mereka cuma makan ikan, Pak. Tapi zat di pulau itu membuat otak mereka 'lapar' akan emosi. Manusia adalah makhluk paling emosional di bumi. Saat manusia pertama mendarat di sana dan membawa rasa takut, predator itu sadar bahwa rasa takut manusia adalah 'makanan' yang jauh lebih lezat daripada apa pun. Itulah kenapa mereka memangsa kita dengan cara yang sadis. Mereka bukan cuma mau daging kita, mereka mau rasa takut kita sebelum kita mati."
Pak Hendra mendengarkan dengan dahi berkerut. Penjelasan Adit sangat masuk akal bagi seorang yang sudah melihat banyak keanehan di laut, meski sulit diterima akal sehat kota besar.
Di sebuah warung kopi pinggir jalan yang baru saja buka, Nadia duduk menatap segelas teh hangat yang mengepul. Bram sedang mencuci mukanya di pancuran air samping warung.
"Mbak, ada mi instan?" tanya Maya pada ibu penjaga warung.
"Ada neng. Mau pake telur?"
"Pake telur dua ya, Bu. Terus nasinya banyakin," jawab Maya. Ia menoleh ke arah Nadia. "Nad, makan ya? Lu harus kuat buat ketemu keluarga mereka nanti."
Nadia mengangguk lemah. "Gue masih nggak percaya kita lagi pesen mi instan sekarang, padahal kemarin kita lagi lari-lari dari maut."
"Dunia emang aneh, Nad," sahut Bram yang baru kembali. "Tapi mi instan ini bukti kalau kita masih ada di dunia yang nyata. Alien-alien itu nggak suka mi instan karena mi instan nggak punya rasa takut, cuma punya rasa micin."
Maya tersenyum tipis. "Lu bener, Bram. Micin adalah penyelamat kewarasan kita."
"Satu hal yang Bapak nggak tahu," kata Adit pada Pak Hendra di ruang sel. "Pemimpin mereka itu sebenarnya sangat pintar. Dia sengaja biarin kita bunuh kawanan dia di laut. Dia udah nunggu berabad-abad buat ada manusia yang cukup berani dan cukup cerdik buat ngejebak kawanannya sendiri."
"Kenapa dia mau begitu?" tanya Pak Hendra heran.
"Karena dia mencintai kawanannya, Pak. Dia nggak mau mereka terus-terusan hidup sebagai monster yang kelaparan. Dia pengen kawanannya bebas melalui kematian. Dan dia berterima kasih sama saya, sama Bram, sama Maya, sama Nadia... karena kita sudah jadi 'eksekutor' yang dia cari-cari selama ini."
Adit menunduk. "Dia mati sambil tersenyum, Pak. Meskipun bentuk wajahnya sudah nggak kayak manusia, saya bisa ngerasain kelegaannya."
Pintu ruang interogasi terbuka. Seorang petugas masuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Pak Hendra. Wajah Pak Hendra berubah pucat.
"Ada apa, Pak?" tanya Adit.
"Tim pencari... mereka menemukan kapal penyelamat yang kalian kirimi sinyal palsu itu. Kapalnya kosong, Adit. Nggak ada orang di sana. Tapi ada ribuan bangkai makhluk biru yang mengapung di sekitarnya. Kamu nggak bohong soal pembantaian itu."
Pak Hendra menatap Adit dengan rasa hormat yang baru. Ia melepaskan borgol di tangan Adit. "Kamu bebas, Nak. Tapi secara resmi, saya harus bilang kalau kalian adalah korban selamat dari ledakan tangki kapal. Jangan pernah ceritakan soal pulau itu ke siapa pun, atau kamu akan berakhir di rumah sakit jiwa."
Adit berdiri, meregangkan tangannya yang kaku. "Jangan khawatir, Pak. Nggak ada yang bakal percaya juga."
Adit melangkah keluar dari kamp, tepat saat matahari pagi menyinari wajahnya. Di kejauhan, ia melihat tiga sosok yang sangat ia kenali sedang duduk di depan sebuah warung kopi. Nadia, Bram, dan Maya.
Hanya mereka bertiga yang akan benar-benar pulang. Hanya mereka yang akan membawa beban rahasia ini selamanya.
•••
Other Stories
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...