BAB 34 | "Kompas Yang Patah"
Asap hitam dari ledakan ruang medis masih mengepul tipis di lorong, memberikan aroma logam terbakar yang mencekik. Adit berdiri kaku, tangannya masih menyentuh pintu baja yang panas, seolah berharap bisa merasakan detak jantung Aris untuk terakhir kalinya. Namun, kapal raksasa ini tidak memberinya waktu untuk berduka. Lambung MV Serayu mengerang lagi, bunyi gesekan besi dengan sesuatu yang organik di bawah sana terdengar makin jelas.
Bab 34: Kompas yang Patah
"Kita harus jalan. Sekarang," suara Adit terdengar dingin, jenis dingin yang muncul ketika seseorang sudah terlalu banyak kehilangan hingga emosinya membeku.
Maya masih terisak di lantai, bahunya naik turun. "Gimana bisa kita jalan gitu aja? Aris baru aja... dia baru aja..."
"Dia baru saja menyelamatkan nyawa kita, May," potong Bram sambil menarik paksa tangan Maya agar berdiri. Bram menatap Maya dengan mata yang merah namun tajam. "Kalau kita diam di sini dan mati juga, ledakan Aris tadi cuma jadi kembang api sia-sia. Lu mau itu?"
Maya menatap Bram, lalu menatap pintu medis yang hangus itu. Ia menghapus air matanya dengan kasar, meninggalkan bekas jelaga di pipinya yang tirus. "Enggak. Gue mau beli daster bunga-bunga itu buat dia, biarpun cuma bakal gue taruh di makamnya."
Nadia memeluk Dina yang tampak makin rapuh. Dina tidak menangis, tapi tubuhnya gemetar hebat. Pandangannya tidak fokus, seolah ia sedang menonton film di dalam kepalanya sendiri.
"Nad, bawa Dina di tengah. Kita ke anjungan," perintah Adit.
Mereka mulai bergerak menyusuri lorong yang remang-remang. Lampu darurat yang berwarna merah berkedip pelan, memberikan kesan seolah seluruh dinding kapal ini sedang berdarah. Adit memimpin di depan, parangnya sudah siap di tangan. Bram menjaga di belakang dengan kapak besi yang mulai tumpul.
Mereka sampai di pintu keluar menuju dek luar. Untuk mencapai anjungan, mereka harus menyeberangi area terbuka yang sangat luas. Badai sudah agak mereda, tapi angin masih menderu kencang, membawa aroma garam yang tajam.
"Oke, dengerin," ucap Adit. "Kita lari dalam formasi satu baris. Jangan berhenti buat liat apa pun di air."
"DINA! JALAN!" teriak Adit.
Dina menunjuk ke arah air di sisi kiri kapal. Dari balik ombak yang gelap, satu per satu kepala muncul. Tapi mereka bukan predator biasa. Wajah-wajah itu... memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Rico, Lala, dan Tora.
"Jangan liat!" raung Adit. "Itu bukan mereka! Mereka cuma niru bentuk ototnya!"
Salah satu makhluk itu, yang memiliki wajah mirip Lala, mengeluarkan suara yang sangat lembut, memanggil nama Adit. "Dit... kok ditinggal? Sakit, Dit... dingin..."
Nadia menutup telinga Dina. "Jangan dengerin, Din! Itu cuma suara yang direkam sama sel mereka! Lala udah tenang, dia nggak di sana!"
Mereka berhasil mencapai tangga menuju anjungan dan menguncinya dari dalam. Di dalam ruang kemudi, suasananya sunyi senyap. Kapten kapal dan kru lainnya tidak terlihat. Hanya ada monitor-monitor yang berkedip dan kompas magnetik yang berputar-putar liar.
"Mana orang-orangnya?" tanya Maya sambil memegang parang dengan tangan gemetar.
Adit memeriksa kursi kapten. Di sana ada bercak darah segar, tapi tidak ada mayat. Ia melihat ke arah radar. Titik-titik merah yang tadi ribuan kini mendadak hilang.
"Mereka nggak ilang, Dit," bisik Dina. Ia berjalan ke tengah ruangan dan menempelkan telapak tangannya ke lantai baja. "Mereka semua... sudah ada di bawah kaki kita. Di dalam tangki bahan bakar."
Adit memeriksa kompas. "Kompasnya rusak. Kita nggak tau arah daratan. Badai tadi ngerusak sensor kita."
Tiba-tiba, suara statis keluar dari radio panggil.
"...Tolong... ini kapal penyelamat... kami menerima sinyal kalian... tapi kami tidak bisa melihat kalian di radar... kalian ada di mana?"
Harapan menyala. Adit hendak meraih mic radio, tapi Nadia menahan tangannya.
"Dit, tunggu," Nadia menatap radio itu dengan curiga. "Dengerin intonasinya."
Suara di radio itu kembali terdengar: "...Tolong... kami punya makanan... kami punya air... datanglah ke bagian buritan..."
Adit menyadari sesuatu. Suara itu terlalu sempurna, terlalu datar. Dan yang paling mengerikan, suara itu menggunakan kosakata yang persis sama dengan yang digunakan Santi saat mereka pertama kali tiba di pulau.
"Mereka belajar gunain radio," bisik Adit ngeri. "Mereka bukan cuma predator fisik. Mereka lagi nyoba ngejebak kapal penyelamat supaya dateng ke sini dan jadi inang baru."
Plot twist yang menghantam mereka: bukan mereka yang sedang diselamatkan, tapi kapal ini sedang dijadikan umpan untuk menarik lebih banyak manusia.
"Kita harus ancurin radionya," tegas Bram. "Kalau ada kapal lain yang deket sini, mereka bakal dimakan juga."
"Tapi kalau kita ancurin, kita nggak punya cara buat minta tolong!" balas Maya.
Adit diam sejenak, menatap teman-temannya yang tersisa. Nadia, Bram, Maya, dan Dina. Lima orang. Ia teringat janji pada dirinya sendiri untuk membawa mereka pulang. Tapi ia juga tahu, sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, ia tidak bisa membiarkan monster ini menyebar ke pelabuhan besar.
"Kita bakal arahkan kapal ini ke Karang Hitam," ucap Adit dengan suara yang sangat mature dan tenang. "Itu wilayah dangkal yang penuh karang tajam. Kita bakal kandasin kapal ini di sana. Predator itu nggak bisa berenang di air dangkal yang arusnya pecah oleh karang. Itu satu-satunya cara buat matiin mesin mereka dan bikin mereka terjebak."
"Terus kita?" tanya Nadia.
"Kita punya satu sekoci darurat yang belum rusak di sisi kanan anjungan. Kita bakal lompat pas kapal ini nabrak karang," jawab Adit.
Ia mulai memutar kemudi secara manual. Berat, sangat berat. Besi kapal tanker itu mengerang seolah menolak untuk dihancurkan.
Di luar, suara-suara yang meniru teman-teman mereka makin kencang, mencoba meruntuhkan mental mereka.
"Ris, bantuin gue puter ini dari sana ya," gumam Adit pelan, seolah Aris masih ada di sampingnya.
Pemandangan kapal raksasa MV Serayu yang perlahan-lahan memutar arah, menuju gugusan karang yang mematikan di tengah kegelapan malam. Di belakang mereka, ratusab predator mulai menyadari rencana itu dan mulai merangkak naik menuju anjungan dengan kecepatan yang menakutkan.
•••
Bab 34: Kompas yang Patah
"Kita harus jalan. Sekarang," suara Adit terdengar dingin, jenis dingin yang muncul ketika seseorang sudah terlalu banyak kehilangan hingga emosinya membeku.
Maya masih terisak di lantai, bahunya naik turun. "Gimana bisa kita jalan gitu aja? Aris baru aja... dia baru aja..."
"Dia baru saja menyelamatkan nyawa kita, May," potong Bram sambil menarik paksa tangan Maya agar berdiri. Bram menatap Maya dengan mata yang merah namun tajam. "Kalau kita diam di sini dan mati juga, ledakan Aris tadi cuma jadi kembang api sia-sia. Lu mau itu?"
Maya menatap Bram, lalu menatap pintu medis yang hangus itu. Ia menghapus air matanya dengan kasar, meninggalkan bekas jelaga di pipinya yang tirus. "Enggak. Gue mau beli daster bunga-bunga itu buat dia, biarpun cuma bakal gue taruh di makamnya."
Nadia memeluk Dina yang tampak makin rapuh. Dina tidak menangis, tapi tubuhnya gemetar hebat. Pandangannya tidak fokus, seolah ia sedang menonton film di dalam kepalanya sendiri.
"Nad, bawa Dina di tengah. Kita ke anjungan," perintah Adit.
Mereka mulai bergerak menyusuri lorong yang remang-remang. Lampu darurat yang berwarna merah berkedip pelan, memberikan kesan seolah seluruh dinding kapal ini sedang berdarah. Adit memimpin di depan, parangnya sudah siap di tangan. Bram menjaga di belakang dengan kapak besi yang mulai tumpul.
Mereka sampai di pintu keluar menuju dek luar. Untuk mencapai anjungan, mereka harus menyeberangi area terbuka yang sangat luas. Badai sudah agak mereda, tapi angin masih menderu kencang, membawa aroma garam yang tajam.
"Oke, dengerin," ucap Adit. "Kita lari dalam formasi satu baris. Jangan berhenti buat liat apa pun di air."
"DINA! JALAN!" teriak Adit.
Dina menunjuk ke arah air di sisi kiri kapal. Dari balik ombak yang gelap, satu per satu kepala muncul. Tapi mereka bukan predator biasa. Wajah-wajah itu... memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Rico, Lala, dan Tora.
"Jangan liat!" raung Adit. "Itu bukan mereka! Mereka cuma niru bentuk ototnya!"
Salah satu makhluk itu, yang memiliki wajah mirip Lala, mengeluarkan suara yang sangat lembut, memanggil nama Adit. "Dit... kok ditinggal? Sakit, Dit... dingin..."
Nadia menutup telinga Dina. "Jangan dengerin, Din! Itu cuma suara yang direkam sama sel mereka! Lala udah tenang, dia nggak di sana!"
Mereka berhasil mencapai tangga menuju anjungan dan menguncinya dari dalam. Di dalam ruang kemudi, suasananya sunyi senyap. Kapten kapal dan kru lainnya tidak terlihat. Hanya ada monitor-monitor yang berkedip dan kompas magnetik yang berputar-putar liar.
"Mana orang-orangnya?" tanya Maya sambil memegang parang dengan tangan gemetar.
Adit memeriksa kursi kapten. Di sana ada bercak darah segar, tapi tidak ada mayat. Ia melihat ke arah radar. Titik-titik merah yang tadi ribuan kini mendadak hilang.
"Mereka nggak ilang, Dit," bisik Dina. Ia berjalan ke tengah ruangan dan menempelkan telapak tangannya ke lantai baja. "Mereka semua... sudah ada di bawah kaki kita. Di dalam tangki bahan bakar."
Adit memeriksa kompas. "Kompasnya rusak. Kita nggak tau arah daratan. Badai tadi ngerusak sensor kita."
Tiba-tiba, suara statis keluar dari radio panggil.
"...Tolong... ini kapal penyelamat... kami menerima sinyal kalian... tapi kami tidak bisa melihat kalian di radar... kalian ada di mana?"
Harapan menyala. Adit hendak meraih mic radio, tapi Nadia menahan tangannya.
"Dit, tunggu," Nadia menatap radio itu dengan curiga. "Dengerin intonasinya."
Suara di radio itu kembali terdengar: "...Tolong... kami punya makanan... kami punya air... datanglah ke bagian buritan..."
Adit menyadari sesuatu. Suara itu terlalu sempurna, terlalu datar. Dan yang paling mengerikan, suara itu menggunakan kosakata yang persis sama dengan yang digunakan Santi saat mereka pertama kali tiba di pulau.
"Mereka belajar gunain radio," bisik Adit ngeri. "Mereka bukan cuma predator fisik. Mereka lagi nyoba ngejebak kapal penyelamat supaya dateng ke sini dan jadi inang baru."
Plot twist yang menghantam mereka: bukan mereka yang sedang diselamatkan, tapi kapal ini sedang dijadikan umpan untuk menarik lebih banyak manusia.
"Kita harus ancurin radionya," tegas Bram. "Kalau ada kapal lain yang deket sini, mereka bakal dimakan juga."
"Tapi kalau kita ancurin, kita nggak punya cara buat minta tolong!" balas Maya.
Adit diam sejenak, menatap teman-temannya yang tersisa. Nadia, Bram, Maya, dan Dina. Lima orang. Ia teringat janji pada dirinya sendiri untuk membawa mereka pulang. Tapi ia juga tahu, sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, ia tidak bisa membiarkan monster ini menyebar ke pelabuhan besar.
"Kita bakal arahkan kapal ini ke Karang Hitam," ucap Adit dengan suara yang sangat mature dan tenang. "Itu wilayah dangkal yang penuh karang tajam. Kita bakal kandasin kapal ini di sana. Predator itu nggak bisa berenang di air dangkal yang arusnya pecah oleh karang. Itu satu-satunya cara buat matiin mesin mereka dan bikin mereka terjebak."
"Terus kita?" tanya Nadia.
"Kita punya satu sekoci darurat yang belum rusak di sisi kanan anjungan. Kita bakal lompat pas kapal ini nabrak karang," jawab Adit.
Ia mulai memutar kemudi secara manual. Berat, sangat berat. Besi kapal tanker itu mengerang seolah menolak untuk dihancurkan.
Di luar, suara-suara yang meniru teman-teman mereka makin kencang, mencoba meruntuhkan mental mereka.
"Ris, bantuin gue puter ini dari sana ya," gumam Adit pelan, seolah Aris masih ada di sampingnya.
Pemandangan kapal raksasa MV Serayu yang perlahan-lahan memutar arah, menuju gugusan karang yang mematikan di tengah kegelapan malam. Di belakang mereka, ratusab predator mulai menyadari rencana itu dan mulai merangkak naik menuju anjungan dengan kecepatan yang menakutkan.
•••
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Kk
jjj ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...