BAB 35 | "Benturan Di Garis Putih"
Gemuruh air laut yang menghantam karang terdengar seperti raungan monster yang lebih purba dari apa pun yang ada di dalam kapal ini. MV Serayu, raksasa besi yang kini kehilangan kendali elektroniknya, terus melaju membelah kegelapan menuju gugusan Karang Hitam. Di dalam ruang anjungan, suasananya begitu mencekam namun terasa sangat sunyi, hanya ada suara napas yang memburu dan derit kemudi manual yang diputar paksa oleh Adit.
Bab 35: Benturan di Garis Putih
"Tahan posisi kalian! Pegangan ke apa pun yang terikat ke lantai!" teriak Adit. Otot lengan bawahnya menonjol, urat-uratnya tampak seperti tali tambang yang ditarik maksimal. Ia tidak lagi peduli pada rasa perih di telapak tangannya yang melepuh.
Fokusnya hanya satu: titik putih di depan sana, tempat di mana ombak pecah menjadi buih yang menandakan keberadaan karang dangkal.
Bram merangkak mendekati Nadia dan Dina, melingkarkan lengannya pada sebuah tiang penyangga kompas yang tertanam kuat di lantai. "Maya! Sini! Pegangan ke kaki kursi Kapten!"
Maya bergerak cepat, ia menyelipkan parangnya ke dalam ikat pinggang dan mencengkeram besi kursi itu dengan kedua tangannya.
Adit hanya bisa memberikan senyuman miring yang penuh kepahitan. "Sekarang, tarik napas panjang!"
KRAAAAAAAKKKKK!
Benturan pertama tidak menghancurkan kapal, tapi getarannya sanggup melemparkan siapa pun yang tidak berpegangan. Lambung kapal bagian bawah depan menghantam puncak karang. Suaranya seperti ribuan piring raksasa yang dipecahkan bersamaan. Kapal tanker itu tersentak, miring tajam ke arah kanan, membuat genangan air dan sisa-sisa alat tulis di meja anjungan terbang tak tentu arah.
Di balik jendela kaca anjungan yang tebal, mereka melihat sesuatu yang mengerikan. Karena guncangan itu, beberapa predator yang tadi sedang merayap di dinding luar kapal terlempar jatuh ke arah laut. Namun, mereka tidak tenggelam. Mereka mendarat di atas batu karang yang mulai bermunculan karena air surut, dan mereka bergerak jauh lebih lincah di atas batu daripada di dalam air.
"Mereka nggak mati, Dit!" teriak Nadia dengan nada panik yang tertahan.
"Gue tau! Tapi mereka nggak bisa naik lagi kalau kita di atas karang yang tinggi!" balas Adit.
Tiba-tiba, suara kaca retak terdengar dari arah belakang mereka. Salah satu predator yang ukurannya lebih kecil berhasil mencapai jendela samping. Ia tidak mencoba memecahkan kaca dengan kasar, melainkan mengeluarkan semacam cairan dari kelenjar di bawah rahangnya yang secara perlahan membuat kaca tempered itu melunak dan retak seribu.
Maya menatap makhluk itu dengan kebencian yang murni. Di balik sifatnya yang selalu sarkas dan hobi bercanda kasar, Maya menyimpan trauma tentang rasa tidak berdaya. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses yang hancur karena dikhianati rekan bisnisnya sendiri hingga mereka jatuh miskin dan terusir dari rumah. Sejak saat itu, Maya belajar bahwa dunia ini adalah tempat mangsa-memangsa, dan cara terbaik untuk tidak dimangsa adalah dengan menjadi yang paling "tajam".
"Lu pikir lu pinter ya, setan?" Maya berdiri, ia tidak lagi berpegangan. Dengan keberanian yang nyaris terlihat seperti kegilaan, ia mendekati kaca yang mulai melunak itu.
"May! Balik ke posisi!" teriak Bram.
Maya tidak mendengarkan. Ia mengambil satu botol pembersih kaca yang mengandung alkohol tinggi dari rak samping dan sebuah kain lap. Ia membasahi kain itu, menyulutnya dengan pemantik, lalu melemparkannya tepat ke arah bagian kaca yang sedang dilunakkan oleh predator itu.
Suhu panas yang mendadak bertemu dengan suhu dingin air laut di sisi lain kaca membuat kaca itu meledak ke arah luar. Predator itu tersembur keluar bersama pecahan tajam yang menyayat kulit transparannya.
"Itu buat Aris, dasar buruk rupa!" Maya berteriak, suaranya pecah oleh emosi. Ia terengah-engah, matanya berkilat penuh kemenangan yang sedih. Ia menyadari bahwa ketajaman lidahnya kini telah berpindah ke tangannya.
Kapal tanker itu kembali menghantam karang lebih keras. Kali ini, mesin benar-benar berhenti bergetar karena baling-balingnya hancur tertanam di sela batu. Kapal itu kini terjepit dengan posisi miring tiga puluh derajat.
Bram, yang tadi memegang tiang kompas, tergelincir dan bokongnya mendarat tepat di atas kursi Kapten yang kosong. Kursi itu berputar satu kali sebelum terkunci.
"Wah, Dit... gue berasa jadi kapten beneran nih," ucap Bram sambil mencoba berdiri namun gagal karena kemiringan lantai. "Sayangnya, pemandangannya nggak ada lumba-lumbanya sama sekali. Cuma ada alien yang mau makan kita."
"Bagus, Cap," sahut Adit sambil menyeka keringat. "Sekarang perintahin anak buah lu buat nyiapin sekoci. Kita nggak bisa lama-lama di sini sebelum kapal ini pecah jadi dua."
Bram menyeringai pahit. "Siap, Bos. Tapi masalahnya, sekocinya ada di sisi kiri yang sekarang lagi miring ke atas. Kita harus manjat dinding anjungan ini buat sampe ke pintunya."
Saat mereka bersiap untuk memanjat dinding anjungan yang kini berfungsi sebagai lantai miring, sebuah bayangan besar menutupi lubang kaca yang pecah. Itu bukan predator biasa. Ukurannya tiga kali lipat lebih besar, kulitnya hitam mengkilap seperti obsidian, dan ia memiliki empat pasang mata yang menatap mereka dengan kecerdasan yang sangat manusiawi.
Ini adalah Sang Pemimpin kawanan yang ada di kapal ini.
Ia tidak menyerang. Ia hanya berdiri di pinggiran pagar besi yang miring, menatap mereka satu per satu. Saat matanya bertemu dengan mata Dina, Dina mendadak menjerit kecil dan menutup telinganya.
"Dia bicara..." bisik Dina. "Dia nggak pake suara... dia pake rasa sakit..."
"Apa yang dia bilang, Din?" tanya Adit sambil menggenggam parangnya lebih erat.
"Dia bilang... dia lelah," ucap Dina dengan suara bergetar. "Dia sudah hidup berabad-abad di pulau ini. Dia melihat manusia datang dan pergi. Dia melihat kita sebagai virus yang berisik, dan dia adalah obatnya. Tapi dia juga bilang... dia benci menjadi obat. Dia ingin istirahat. Dia ingin kita memberinya alasan untuk berhenti."
Pesan tersirat di sini mulai terasa sangat dalam: bahwa bahkan pemangsa paling kejam pun memiliki titik jenuh terhadap eksistensinya sendiri. Predator ini bukan sekadar mesin pembunuh, tapi mahluk yang terperangkap dalam kutukan rasa lapar yang tak pernah usai.
"Kita nggak bakal kasih dia istirahat dengan cara makan kita," tegas Adit. "Bram, lu liat pipa pemadam kebakaran di belakang kursi kapten?"
Bram menoleh. "Iya, kenapa?"
"Pipa itu masih punya sisa tekanan busa kimia. Kalau kita buka, busanya bakal nutupin pandangan mereka dan bikin lantai makin licin. Pas mereka semua masuk lewat lubang kaca ini, kita manjat ke pintu sekoci. Kita biarkan mereka saling injak di lantai yang licin dan miring ini," jelas Adit dengan otak cerdiknya.
"Terus, gimana kita bunuh yang besar itu?" tanya Maya.
Adit menunjuk ke arah tangki oksigen darurat yang ada di dinding atas (yang sekarang jadi samping). "Kita nggak bunuh dia pake parang. Kita bunuh dia pake hukum gravitasi. Pas dia masuk, kita lepaskan pengunci kursi kapten yang berat ini. Biar kursi ini meluncur ke bawah dan menghantam dia keluar lewat lubang kaca ke arah karang tajam di bawah."
Ini adalah rencana yang gila, simpel, namun membutuhkan ketepatan waktu yang luar biasa. Mereka adalah empat orang mahasiswa yang sedang menggunakan prinsip fisika dasar untuk melawan predator luar angkasa.
"Dalam hitungan tiga," bisik Adit. "Satu... dua..."
Belum sempat Adit mengucap tiga, Sang Pemimpin melompat masuk ke dalam anjungan dengan kecepatan yang mengejutkan. Ia mendarat di atas meja navigasi, menghancurkan layar monitor dengan satu hantaman kakinya.
"TIGAAAAA!" teriak Adit.
Bram menarik tuas pemadam kebakaran. Busa putih menyembur dengan keras, memenuhi ruangan dalam sekejap. Bau kimia yang tajam membuat hidung perih, namun itu memberikan tabir bagi mereka.
Adit dan yang lain mulai memanjat dinding miring itu dengan bantuan jaring hiasan yang ada di langit-langit. Di bawah mereka, terdengar suara-suara debuman dan pekikan marah. Sang Pemimpin dan beberapa anak buahnya terpeleset di atas busa yang sangat licin.
"Sekarang, Bram! Lepasin kursinya!"
Bram yang sudah berada di posisi lebih tinggi, menendang pengait kursi kapten. Kursi besi yang beratnya hampir seratus kilogram itu meluncur deras menuruni lantai yang miring, seperti peluru meriam yang meluncur di atas salju busa.
BUGH!
Hantaman itu telak mengenai tubuh Sang Pemimpin, menyeretnya kembali keluar lewat lubang kaca yang pecah dan jatuh menghujam karang tajam di bawah sana dengan bunyi tulang yang remuk.
"Lari! Ke pintu sekoci!"
Mereka berhasil mencapai pintu dan keluar ke dek luar yang miring. Sekoci darurat itu sudah siap di sana. Namun, saat mereka hendak melepas tali pengikat, Adit menyadari satu hal.
"Mana Dina?"
Nadia menoleh ke belakang dengan wajah pucat. "Dia... dia tadi di belakang gue, Dit!"
Di dalam anjungan yang penuh busa, sayup-sayup terdengar suara Dina yang sedang berbicara. Bukan suara ketakutan, tapi suara yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang menidurkan seorang bayi.
"Sudah... nggak apa-apa... sekarang kamu bisa tidur..."
Adit melihat Dina berdiri di ambang pintu anjungan yang miring, memegang tangan salah satu predator kecil yang terluka parah akibat ledakan kaca tadi. Dina tidak lari. Ia memilih untuk tinggal sejenak, memberikan "empati" terakhirnya pada mahluk yang telah menghancurkan hidup mereka.
"DINA! CEPETAN!" raung Bram.
Dina menoleh, tersenyum dengan sangat cantik, senyum yang sama seperti saat mereka pertama kali berangkat liburan di dermaga Jakarta. Ia melepaskan tangan predator itu dan berlari menuju sekoci.
Namun, tepat saat ia melompat masuk ke sekoci, sebuah cakar dari bawah dek merobek bagian belakang baju Dina, menyisakan luka gores panjang di punggungnya.
Sekoci itu jatuh meluncur ke laut dengan bunyi deburan besar. Mereka terombang-ambing di antara batu karang, menjauh dari raksasa besi MV Serayu yang kini mulai tenggelam perlahan.
Mereka berempat, Adit, Bram, Maya, dan Nadia, terdiam di dalam sekoci kecil itu. Dina terbaring di tengah, napasnya pendek. Nadia segera memeriksa luka di punggung Dina.
Cairannya bukan lagi merah. Ada semburat biru yang mulai merayap di pembuluh darah sekitar luka tersebut.
"Nad..." Dina berbisik. "Dingin banget..."
Adit menatap ke arah kapal tanker yang makin menjauh. Sang Pemimpin yang jatuh di karang tadi ternyata masih hidup, ia berdiri di atas batu karang, menatap sekoci mereka dengan pandangan yang tidak lagi penuh amarah, melainkan... rasa terima kasih?
•••
Bab 35: Benturan di Garis Putih
"Tahan posisi kalian! Pegangan ke apa pun yang terikat ke lantai!" teriak Adit. Otot lengan bawahnya menonjol, urat-uratnya tampak seperti tali tambang yang ditarik maksimal. Ia tidak lagi peduli pada rasa perih di telapak tangannya yang melepuh.
Fokusnya hanya satu: titik putih di depan sana, tempat di mana ombak pecah menjadi buih yang menandakan keberadaan karang dangkal.
Bram merangkak mendekati Nadia dan Dina, melingkarkan lengannya pada sebuah tiang penyangga kompas yang tertanam kuat di lantai. "Maya! Sini! Pegangan ke kaki kursi Kapten!"
Maya bergerak cepat, ia menyelipkan parangnya ke dalam ikat pinggang dan mencengkeram besi kursi itu dengan kedua tangannya.
Adit hanya bisa memberikan senyuman miring yang penuh kepahitan. "Sekarang, tarik napas panjang!"
KRAAAAAAAKKKKK!
Benturan pertama tidak menghancurkan kapal, tapi getarannya sanggup melemparkan siapa pun yang tidak berpegangan. Lambung kapal bagian bawah depan menghantam puncak karang. Suaranya seperti ribuan piring raksasa yang dipecahkan bersamaan. Kapal tanker itu tersentak, miring tajam ke arah kanan, membuat genangan air dan sisa-sisa alat tulis di meja anjungan terbang tak tentu arah.
Di balik jendela kaca anjungan yang tebal, mereka melihat sesuatu yang mengerikan. Karena guncangan itu, beberapa predator yang tadi sedang merayap di dinding luar kapal terlempar jatuh ke arah laut. Namun, mereka tidak tenggelam. Mereka mendarat di atas batu karang yang mulai bermunculan karena air surut, dan mereka bergerak jauh lebih lincah di atas batu daripada di dalam air.
"Mereka nggak mati, Dit!" teriak Nadia dengan nada panik yang tertahan.
"Gue tau! Tapi mereka nggak bisa naik lagi kalau kita di atas karang yang tinggi!" balas Adit.
Tiba-tiba, suara kaca retak terdengar dari arah belakang mereka. Salah satu predator yang ukurannya lebih kecil berhasil mencapai jendela samping. Ia tidak mencoba memecahkan kaca dengan kasar, melainkan mengeluarkan semacam cairan dari kelenjar di bawah rahangnya yang secara perlahan membuat kaca tempered itu melunak dan retak seribu.
Maya menatap makhluk itu dengan kebencian yang murni. Di balik sifatnya yang selalu sarkas dan hobi bercanda kasar, Maya menyimpan trauma tentang rasa tidak berdaya. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses yang hancur karena dikhianati rekan bisnisnya sendiri hingga mereka jatuh miskin dan terusir dari rumah. Sejak saat itu, Maya belajar bahwa dunia ini adalah tempat mangsa-memangsa, dan cara terbaik untuk tidak dimangsa adalah dengan menjadi yang paling "tajam".
"Lu pikir lu pinter ya, setan?" Maya berdiri, ia tidak lagi berpegangan. Dengan keberanian yang nyaris terlihat seperti kegilaan, ia mendekati kaca yang mulai melunak itu.
"May! Balik ke posisi!" teriak Bram.
Maya tidak mendengarkan. Ia mengambil satu botol pembersih kaca yang mengandung alkohol tinggi dari rak samping dan sebuah kain lap. Ia membasahi kain itu, menyulutnya dengan pemantik, lalu melemparkannya tepat ke arah bagian kaca yang sedang dilunakkan oleh predator itu.
Suhu panas yang mendadak bertemu dengan suhu dingin air laut di sisi lain kaca membuat kaca itu meledak ke arah luar. Predator itu tersembur keluar bersama pecahan tajam yang menyayat kulit transparannya.
"Itu buat Aris, dasar buruk rupa!" Maya berteriak, suaranya pecah oleh emosi. Ia terengah-engah, matanya berkilat penuh kemenangan yang sedih. Ia menyadari bahwa ketajaman lidahnya kini telah berpindah ke tangannya.
Kapal tanker itu kembali menghantam karang lebih keras. Kali ini, mesin benar-benar berhenti bergetar karena baling-balingnya hancur tertanam di sela batu. Kapal itu kini terjepit dengan posisi miring tiga puluh derajat.
Bram, yang tadi memegang tiang kompas, tergelincir dan bokongnya mendarat tepat di atas kursi Kapten yang kosong. Kursi itu berputar satu kali sebelum terkunci.
"Wah, Dit... gue berasa jadi kapten beneran nih," ucap Bram sambil mencoba berdiri namun gagal karena kemiringan lantai. "Sayangnya, pemandangannya nggak ada lumba-lumbanya sama sekali. Cuma ada alien yang mau makan kita."
"Bagus, Cap," sahut Adit sambil menyeka keringat. "Sekarang perintahin anak buah lu buat nyiapin sekoci. Kita nggak bisa lama-lama di sini sebelum kapal ini pecah jadi dua."
Bram menyeringai pahit. "Siap, Bos. Tapi masalahnya, sekocinya ada di sisi kiri yang sekarang lagi miring ke atas. Kita harus manjat dinding anjungan ini buat sampe ke pintunya."
Saat mereka bersiap untuk memanjat dinding anjungan yang kini berfungsi sebagai lantai miring, sebuah bayangan besar menutupi lubang kaca yang pecah. Itu bukan predator biasa. Ukurannya tiga kali lipat lebih besar, kulitnya hitam mengkilap seperti obsidian, dan ia memiliki empat pasang mata yang menatap mereka dengan kecerdasan yang sangat manusiawi.
Ini adalah Sang Pemimpin kawanan yang ada di kapal ini.
Ia tidak menyerang. Ia hanya berdiri di pinggiran pagar besi yang miring, menatap mereka satu per satu. Saat matanya bertemu dengan mata Dina, Dina mendadak menjerit kecil dan menutup telinganya.
"Dia bicara..." bisik Dina. "Dia nggak pake suara... dia pake rasa sakit..."
"Apa yang dia bilang, Din?" tanya Adit sambil menggenggam parangnya lebih erat.
"Dia bilang... dia lelah," ucap Dina dengan suara bergetar. "Dia sudah hidup berabad-abad di pulau ini. Dia melihat manusia datang dan pergi. Dia melihat kita sebagai virus yang berisik, dan dia adalah obatnya. Tapi dia juga bilang... dia benci menjadi obat. Dia ingin istirahat. Dia ingin kita memberinya alasan untuk berhenti."
Pesan tersirat di sini mulai terasa sangat dalam: bahwa bahkan pemangsa paling kejam pun memiliki titik jenuh terhadap eksistensinya sendiri. Predator ini bukan sekadar mesin pembunuh, tapi mahluk yang terperangkap dalam kutukan rasa lapar yang tak pernah usai.
"Kita nggak bakal kasih dia istirahat dengan cara makan kita," tegas Adit. "Bram, lu liat pipa pemadam kebakaran di belakang kursi kapten?"
Bram menoleh. "Iya, kenapa?"
"Pipa itu masih punya sisa tekanan busa kimia. Kalau kita buka, busanya bakal nutupin pandangan mereka dan bikin lantai makin licin. Pas mereka semua masuk lewat lubang kaca ini, kita manjat ke pintu sekoci. Kita biarkan mereka saling injak di lantai yang licin dan miring ini," jelas Adit dengan otak cerdiknya.
"Terus, gimana kita bunuh yang besar itu?" tanya Maya.
Adit menunjuk ke arah tangki oksigen darurat yang ada di dinding atas (yang sekarang jadi samping). "Kita nggak bunuh dia pake parang. Kita bunuh dia pake hukum gravitasi. Pas dia masuk, kita lepaskan pengunci kursi kapten yang berat ini. Biar kursi ini meluncur ke bawah dan menghantam dia keluar lewat lubang kaca ke arah karang tajam di bawah."
Ini adalah rencana yang gila, simpel, namun membutuhkan ketepatan waktu yang luar biasa. Mereka adalah empat orang mahasiswa yang sedang menggunakan prinsip fisika dasar untuk melawan predator luar angkasa.
"Dalam hitungan tiga," bisik Adit. "Satu... dua..."
Belum sempat Adit mengucap tiga, Sang Pemimpin melompat masuk ke dalam anjungan dengan kecepatan yang mengejutkan. Ia mendarat di atas meja navigasi, menghancurkan layar monitor dengan satu hantaman kakinya.
"TIGAAAAA!" teriak Adit.
Bram menarik tuas pemadam kebakaran. Busa putih menyembur dengan keras, memenuhi ruangan dalam sekejap. Bau kimia yang tajam membuat hidung perih, namun itu memberikan tabir bagi mereka.
Adit dan yang lain mulai memanjat dinding miring itu dengan bantuan jaring hiasan yang ada di langit-langit. Di bawah mereka, terdengar suara-suara debuman dan pekikan marah. Sang Pemimpin dan beberapa anak buahnya terpeleset di atas busa yang sangat licin.
"Sekarang, Bram! Lepasin kursinya!"
Bram yang sudah berada di posisi lebih tinggi, menendang pengait kursi kapten. Kursi besi yang beratnya hampir seratus kilogram itu meluncur deras menuruni lantai yang miring, seperti peluru meriam yang meluncur di atas salju busa.
BUGH!
Hantaman itu telak mengenai tubuh Sang Pemimpin, menyeretnya kembali keluar lewat lubang kaca yang pecah dan jatuh menghujam karang tajam di bawah sana dengan bunyi tulang yang remuk.
"Lari! Ke pintu sekoci!"
Mereka berhasil mencapai pintu dan keluar ke dek luar yang miring. Sekoci darurat itu sudah siap di sana. Namun, saat mereka hendak melepas tali pengikat, Adit menyadari satu hal.
"Mana Dina?"
Nadia menoleh ke belakang dengan wajah pucat. "Dia... dia tadi di belakang gue, Dit!"
Di dalam anjungan yang penuh busa, sayup-sayup terdengar suara Dina yang sedang berbicara. Bukan suara ketakutan, tapi suara yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang menidurkan seorang bayi.
"Sudah... nggak apa-apa... sekarang kamu bisa tidur..."
Adit melihat Dina berdiri di ambang pintu anjungan yang miring, memegang tangan salah satu predator kecil yang terluka parah akibat ledakan kaca tadi. Dina tidak lari. Ia memilih untuk tinggal sejenak, memberikan "empati" terakhirnya pada mahluk yang telah menghancurkan hidup mereka.
"DINA! CEPETAN!" raung Bram.
Dina menoleh, tersenyum dengan sangat cantik, senyum yang sama seperti saat mereka pertama kali berangkat liburan di dermaga Jakarta. Ia melepaskan tangan predator itu dan berlari menuju sekoci.
Namun, tepat saat ia melompat masuk ke sekoci, sebuah cakar dari bawah dek merobek bagian belakang baju Dina, menyisakan luka gores panjang di punggungnya.
Sekoci itu jatuh meluncur ke laut dengan bunyi deburan besar. Mereka terombang-ambing di antara batu karang, menjauh dari raksasa besi MV Serayu yang kini mulai tenggelam perlahan.
Mereka berempat, Adit, Bram, Maya, dan Nadia, terdiam di dalam sekoci kecil itu. Dina terbaring di tengah, napasnya pendek. Nadia segera memeriksa luka di punggung Dina.
Cairannya bukan lagi merah. Ada semburat biru yang mulai merayap di pembuluh darah sekitar luka tersebut.
"Nad..." Dina berbisik. "Dingin banget..."
Adit menatap ke arah kapal tanker yang makin menjauh. Sang Pemimpin yang jatuh di karang tadi ternyata masih hidup, ia berdiri di atas batu karang, menatap sekoci mereka dengan pandangan yang tidak lagi penuh amarah, melainkan... rasa terima kasih?
•••
Other Stories
Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber
Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Gm.
menakutkan. ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...