Bab 2 | Penjahat?
Aku diajak bersembunyi dibawah kolong meja. Wanita itu seumuranku kira kira. Berkulit putih dan berparas cantik. Namun terlihat raut ketakutan diwajahnya.
"Ada apa?" tanyaku.
Wanita itu hanya meletakkan jari telunjuk dimulutnya. Menyuruhku berhenti bertanya.
Aku mengikutinya walaupun tak tau dengan apa yang sedang terjadi. Tak lama kemudian wanita itu mulai berbicara.
"Kamu dengar suara tadi?" tanyanya kepadaku.
Aku menggeleng cepat. Tidak ada yang ku dengar selain bunyi hewan tonggeret yang seolah menyambut kedatanganku sedari tadi.
"Ada suara langkah kaki" ucap wanita itu sambil keluar dari meja dan duduk dikursi yang ada disana. Aku mengikutinya.
"Langkah kaki? aku tidak mendengarnya sama sekali" kataku.
"Kamu akan mengerti jika kamu sudah lama tinggal disini" ucapnya.
"Suara langkah kaki siapa?" tanyaku.
"Suara langkah kaki penjahat yang menguasai daerah ini" jawabnya.
"Apa yang dia lakukan? hanya berkeliling saja?" tanyaku.
"Mereka akan menculik orang yang masih berada diluar rumah pada sore hari" jawabnya menjelaskan.
"Kenapa kau ketakutan? kan kita berada didalam rumah" tanyaku lagi.
"Karena penjahat itu sudah mencium keberadaanmu. Biasanya dia tidak sampai sini" katanya.
"Apa yang akan mereka lakukan jika aku tertangkap?" tanyaku.
"Mereka akan mengambil kakimu" jawabnya.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Lili, kau tidak apa apa?" Pertanyaan Anin terpotong karena wanita yang baru masuk dan langsung memeluk orang yang mengajakku bersembunyi. Ternyata namanya Lili.
"Aku baik baik saja bu" ucap Lili.
"Ibu khawatir, tidak biasanya mereka sampai ke sini. Ibu pikir kau tertangkap" Kata ibu Lili.
"Mereka sepertinya mengikuti wanita ini bu" ucap Lili sambil menoleh kearah ku.
"Kamu siapa?" ibu Lili bertanya kepadaku.
"Saya Anin bu, dari Jakarta" kataku memperkenalkan diri.
"Jakarta? dimana itu?" tanya ibu Lili.
"Hah" kataku kaget. Bagaimana bisa orang tidak tau jakarta. Apa mungkin bus yang ku tumpangi tersesat ke daerah yang terlalu pelosok. Perjalananku yang seharusnya hanya kebandung. Kini mengantarkanku ketempat yang asing.
"Aku Lili" ucap Lili sambil menjulurkan tangan untuk berkenalan.
"Aku Anin" jawabku.
"Bu Astri" ucap ibu Lili.
"Lili" kataku sambil menjabat tanga bu Astri.
"Kamu sendirian nak?" tanya bu Astri.
"Sendiri bu" jawabku.
"Bagaimana bisa kau datang ketempat ini nak?" tanya bu Astri.
"Saya seharusnya kerumah oma saya bu, waktu itu saya menaiki bus, saya tertidur. Saat saya terbangun tiba tiba bus dalam keadaan melayang. Dan saya sampai ke tempat ini bu" Ucapku.
Bu Asti dan Lili saling bertatapan seperti sadar akan sesuatu.
"Ini saya masih hidup kan ya? ibu dan Lili bukan malaikat yang ada dialam kubur kan ya?" tanyaku dengan wajah ketakutan.
Bu Astri dan Lili tertawa.
"Kamu masih hidup nak" kata bu Asti. Dan itu sangat menenangkan ku.
Aku mengeluarkan poselku. Berniat hati ingin mengabari mama bahwa aku tersesat. Namun tak ada sinyal. Lalu kembali kumasukkan kesaku.
"Benda apa itu Nin?" tanya Lili setelah melihat ponselku.
"Ini handphone" ucapku menjelaskan sambil memperlihatkan apa saja fitur ditur yang ada diponselku.
"Wah" ucap Lili takjub melihatnya. Aku tak begitu merasa aneh. Karena wajar saja ditempat terpencil seperti ini orang belum mempunyai handphone.
"Kamu setelah ini mau kemana?" tanya bu Astri.
Pertanyaan itu membuatku berfikir. Karena aku tidak punya saudara ditempat ini. Aku bingung harus bagaimana.
"Tinggal disini saja dulu nak" ucap bu Astri ysng melihat kebingunganku.
"Boleh bu?" tanyaku.
"Boleh nak, besok ikut ibu menemui pak Aslam ya. Beliau orang yang tau kamu harus apa" ucap bu Astri.
"Iya bu. Terimakasih ya bu" kataku.
Bu Asti dan Lilipun mengajakku makan dan kamu ngobrol banyak hal dimeja makan. Sampai akhirnya hari sudah mulai larut. Lampu sentir. Sangat sederhana.
"Ada apa?" tanyaku.
Wanita itu hanya meletakkan jari telunjuk dimulutnya. Menyuruhku berhenti bertanya.
Aku mengikutinya walaupun tak tau dengan apa yang sedang terjadi. Tak lama kemudian wanita itu mulai berbicara.
"Kamu dengar suara tadi?" tanyanya kepadaku.
Aku menggeleng cepat. Tidak ada yang ku dengar selain bunyi hewan tonggeret yang seolah menyambut kedatanganku sedari tadi.
"Ada suara langkah kaki" ucap wanita itu sambil keluar dari meja dan duduk dikursi yang ada disana. Aku mengikutinya.
"Langkah kaki? aku tidak mendengarnya sama sekali" kataku.
"Kamu akan mengerti jika kamu sudah lama tinggal disini" ucapnya.
"Suara langkah kaki siapa?" tanyaku.
"Suara langkah kaki penjahat yang menguasai daerah ini" jawabnya.
"Apa yang dia lakukan? hanya berkeliling saja?" tanyaku.
"Mereka akan menculik orang yang masih berada diluar rumah pada sore hari" jawabnya menjelaskan.
"Kenapa kau ketakutan? kan kita berada didalam rumah" tanyaku lagi.
"Karena penjahat itu sudah mencium keberadaanmu. Biasanya dia tidak sampai sini" katanya.
"Apa yang akan mereka lakukan jika aku tertangkap?" tanyaku.
"Mereka akan mengambil kakimu" jawabnya.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Lili, kau tidak apa apa?" Pertanyaan Anin terpotong karena wanita yang baru masuk dan langsung memeluk orang yang mengajakku bersembunyi. Ternyata namanya Lili.
"Aku baik baik saja bu" ucap Lili.
"Ibu khawatir, tidak biasanya mereka sampai ke sini. Ibu pikir kau tertangkap" Kata ibu Lili.
"Mereka sepertinya mengikuti wanita ini bu" ucap Lili sambil menoleh kearah ku.
"Kamu siapa?" ibu Lili bertanya kepadaku.
"Saya Anin bu, dari Jakarta" kataku memperkenalkan diri.
"Jakarta? dimana itu?" tanya ibu Lili.
"Hah" kataku kaget. Bagaimana bisa orang tidak tau jakarta. Apa mungkin bus yang ku tumpangi tersesat ke daerah yang terlalu pelosok. Perjalananku yang seharusnya hanya kebandung. Kini mengantarkanku ketempat yang asing.
"Aku Lili" ucap Lili sambil menjulurkan tangan untuk berkenalan.
"Aku Anin" jawabku.
"Bu Astri" ucap ibu Lili.
"Lili" kataku sambil menjabat tanga bu Astri.
"Kamu sendirian nak?" tanya bu Astri.
"Sendiri bu" jawabku.
"Bagaimana bisa kau datang ketempat ini nak?" tanya bu Astri.
"Saya seharusnya kerumah oma saya bu, waktu itu saya menaiki bus, saya tertidur. Saat saya terbangun tiba tiba bus dalam keadaan melayang. Dan saya sampai ke tempat ini bu" Ucapku.
Bu Asti dan Lili saling bertatapan seperti sadar akan sesuatu.
"Ini saya masih hidup kan ya? ibu dan Lili bukan malaikat yang ada dialam kubur kan ya?" tanyaku dengan wajah ketakutan.
Bu Astri dan Lili tertawa.
"Kamu masih hidup nak" kata bu Asti. Dan itu sangat menenangkan ku.
Aku mengeluarkan poselku. Berniat hati ingin mengabari mama bahwa aku tersesat. Namun tak ada sinyal. Lalu kembali kumasukkan kesaku.
"Benda apa itu Nin?" tanya Lili setelah melihat ponselku.
"Ini handphone" ucapku menjelaskan sambil memperlihatkan apa saja fitur ditur yang ada diponselku.
"Wah" ucap Lili takjub melihatnya. Aku tak begitu merasa aneh. Karena wajar saja ditempat terpencil seperti ini orang belum mempunyai handphone.
"Kamu setelah ini mau kemana?" tanya bu Astri.
Pertanyaan itu membuatku berfikir. Karena aku tidak punya saudara ditempat ini. Aku bingung harus bagaimana.
"Tinggal disini saja dulu nak" ucap bu Astri ysng melihat kebingunganku.
"Boleh bu?" tanyaku.
"Boleh nak, besok ikut ibu menemui pak Aslam ya. Beliau orang yang tau kamu harus apa" ucap bu Astri.
"Iya bu. Terimakasih ya bu" kataku.
Bu Asti dan Lilipun mengajakku makan dan kamu ngobrol banyak hal dimeja makan. Sampai akhirnya hari sudah mulai larut. Lampu sentir. Sangat sederhana.
Other Stories
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...