Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Reads
403
Votes
24
Parts
12
Vote
Report
Seratus juta untuk sebuah restu
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Penulis Rista

Bab 5 Todongan Seratus Juta

Obrolan yang tadinya terasa menegang kini berubah menjadi semakin dalam—dan semakin tajam.

Ibunya menyandarkan tubuh di kursi, menatap Nadia lama.

“Kalau nanti kamu menikah,” katanya pelan tapi penuh tekanan, “kamu tetap kerja di Jakarta atau ikut suami?”

Pertanyaan itu sebenarnya untuk Nadia. Tapi sebelum Nadia sempat membuka mulut, Daniel sudah lebih dulu menjawab dengan tenang.

“Kalau saya pribadi, Bu… saya ingin Nadia di rumah saja. Jadi ibu rumah tangga.”

Sunyi sesaat.

Nadia menoleh kaget ke arah Daniel. Bukan karena tak pernah membicarakannya. Mereka pernah membahas ini. Tapi mendengar itu di ruang tamu ini, di depan ibunya, rasanya berbeda.

Belum sempat Nadia mencerna lebih lanjut, ibunya langsung menyela cepat.

“Ya nggak bisa begitu dong.”

Nada suaranya tegas. Menolak.

Daniel mengangkat alis sedikit. “Maksud Ibu?”

“Nadia harus tetap kerja.”

Nadia merasa dadanya mengencang. Apalagi yang diinginkan wanita tua itu. Apa kali ini akan kembali ikut campur urusan hidupnya?

“Kenapa harus Bu? Ibu tak suka, Nadia cuma dirumah saja?” Daniel berusaha tetap sopan. Ingin tahu alasannya.

Ibunya mendengus kecil. “Kalau dia berhenti kerja, terus bagaimana dengan keluarganya? Jaka masih sekolah. Rumah ini masih butuh biaya.”

Lagi-lagi ujungnya tetap sama. Dirinya. Nadia yang harus tetap kerja. Wajib dan tidak boleh berhenti demi kelangsungan hidup keluarganya.

Kesal yang sejak tadi ia tahan akhirnya meletup.

“Kenapa selalu aku, Bu?” suara Nadia mulai bergetar, bukan karena lemah—tapi karena terlalu lama menahan.

Ibunya menatap tajam. “Karena kamu yang paling mampu, paham.”

“Lalu Mbak Rani?” Nadia balas cepat. “Dia sudah menikah. Seharusnya sekarang gantian. Urusan makan dan kebutuhan rumah ini ditanggung Mbak Rani dan suaminya.”

“Masa mbak Rani gak sanggup ngasih makan ibu dan Jaka.” Ucapnya pedas. Dan seperti kebiasaan ibunya, wanita itu akan melotot padanya. Tapi kali ini dia tak peduli.

Rani terkejut mendengar namanya disebut.
Ibunya langsung bersungut-sungut. “Kakakmu baru nikah! Suaminya masih kerja serabutan!”

“Dan aku dari dulu kerja sendirian di Jakarta!” balas Nadia, suaranya meninggi.

“Ibu tahu nggak sih, aku di Jakarta juga hidup prihatin. Ibu tahu tidak, aku kerja sisa gajianku cuma buat makan, bayar kos sama uang transport. Selebihnya semuanya aku kirim ke ibu.”

Nadia tak kuasa mengatakan ini semua. Sudah saatnya ia speak up atas ketidak adilan ini.

“Oh kamu mulai hitung-hitungan sekarang ya?”

Nadia hendak membalas tapi tangan Daniel menyentuh lengannya seolah memberi isyarat agar dia tenang.

“Aku gak hitung-hitungan. Hanya butuh ibu dan kak Rani paham kondisiku.”

“Oke, aku tetap akan bantu sekolah Jaka sampai lulus SMA. Setelah itu, Jaka harus kerja. Harus mandiri.”

Jaka yang duduk di sudut ruangan terdiam, wajahnya campur aduk antara malu dan tersinggung.

“Aku nggak bisa terus-terusan jadi penopang semuanya!”

Ruang tamu itu seperti medan perang.
Ibunya mendecak kesal. “Kamu ini berubah sejak kerja di kota.”

“Aku bukan berubah,” jawab Nadia lirih tapi tegas. “Aku cuma capek.”

Daniel diam. Ia membiarkan Nadia berbicara. Ia tahu ini bukan saatnya ia mendominasi. Mungkin dengan begini Nadia bisa menumpahkan unek-uneknya.

Ibunya lalu menoleh pada Daniel. Tatapannya kini berbeda—lebih tajam, lebih langsung.

“Kamu kan sudah tahu keluarga Nadia orang miskin,” katanya tanpa malu. “Rumah ini hidup dari hasil dia kerja.”

Daniel tidak tersinggung. Wajahnya tetap tenang.
“Saya tahu, Bu.”

“Kalau kamu nggak mau Nadia bantu keluarganya lagi,” lanjut ibunya, “berarti kamu harus siap dengan permintaan saya.”

Deg.Permintaan? Kata itu membuat Nadia langsung waspada. Kali ini apa yang akan diminta ibunya.

Daniel bertanya hati-hati, “Permintaan apa ya, Bu?”

Ibunya menegakkan badan. Suaranya kini jelas, tanpa ragu sedikit pun.

“Seratus juta.”

Hening. Seolah waktu berhenti seketika. Nadia merasa darahnya berhenti mengalir sesaat. Apa maksudnya ini?

“Anggap saja uang pengganti,” lanjut ibunya santai. “Kalau nanti tiap bulan Nadia nggak kirim uang seperti biasa.”

Mendengar itu mata Nadia seketika membelalak lebar. Daniel tidak langsung menjawab. Sedang Rani terdiam begitu juga Jaka. Ia membeku.

Dan Nadia—Nadia merasa seperti baru saja dijual.

“Bu!” suaranya pecah. “Bagaimana Ibu bisa bilang begitu?”

“Kenapa nggak bisa?” balas ibunya cepat. “Ibu sudah jungkir balik membesarkan kamu. Menyekolahkan kamu. Sampai kerja. Sekarang Ibu nggak dapat apa-apa?”

Air mata Nadia akhirnya jatuh. Bukan karena uang itu.
Tapi karena cara ibunya mengucapkannya.
Seolah semua pengorbanan seorang ibu punya harga. Seolah cinta bisa dihitung. Seolah dirinya hanyalah investasi yang harus balik modal.

“Aku ini anak Ibu atau tabungan berjalan?” bisik Nadia parau.

Ibunya tak goyah. “Ibu cuma minta yang pantas. Uang ganti susu. Uang ganti biaya sekolah kamu. Kalau dihitung itu masih kurang.”

Daniel menarik napas panjang. Mencoba menelaah semuanya. Ia menoleh ke Nadia. Pacarnya nampak terpukul. Matanya berkaca-kaca seolah menahan tangis.

Ia akhirnya berbicara.

“Bu,” suaranya tetap rendah tapi tegas, “menikah itu bukan transaksi. Maaf kalau saya katakan ini.”

Ibunya menatapnya tajam. “Bagi kamu mungkin bukan. Tapi bagi kami, ini soal hidup.”

Daniel tidak tersulut emosi. “Saya tidak keberatan membantu keluarga Nadia. Tapi bukan dengan cara seperti ini.”

“Jadi kamu nggak sanggup?” tantang ibunya.
Bukan nada sedih. Bukan nada kecewa. Tapi nada menguji harga diri.

Nadia menoleh pada Daniel, takut mendengar jawabannya.

Takut kalau harga dirinya akan ikut ditimbang di ruangan ini. Dan juda takut, Daniel memandangnya rendah. Ia malu sekarang.

Daniel menatap Nadia lebih dulu. Lalu kembali pada ibunya.

“Kalau saya sanggup, itu bukan karena syarat,” katanya perlahan. “Tapi karena saya ingin.”

Kalimat itu membuat ibunya terdiam beberapa detik.
Namun Nadia tak merasa lega. Justru hatinya makin berat. Karena sekarang ia sadar—
Di mata ibunya, dirinya memang cuma angka. Kalau bisa dijual ke lelaki hidung belang, mungkin dia akan dijual.

”Ya Tuhan, kenapa aku dilahirkan dari dia.” keluhnya dalam hati.

Berarti selama ini ia bukan dianggap anak. Tapi seperti angka yang harus menghasilkan. Ia seperti barang yang bisa dinegosiasikan.
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Nadia baru sadar kalau selama ini cuma dimanfaatkan.

Berkedok anak harus berbakti, tapi kenapa cuma ia yang dituntut?

“Bagaimana Nak Daniel. Apa kamu sanggup memenuhi permintaanku tadi?”

“Kalau iya, saya akan restui kalian menikah.”



Other Stories
Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Download Titik & Koma