Bab 4 Keluarga Harus Saling Mengerti?
Pintu baru saja tertutup ketika Nadia mulai bersuara lagi. Memandang kakaknya dengan mata tajam.
“Sepuluh juta, Mbak?” suaranya bergetar menahan marah. “Kok bisa?”
Rani yang sejak tadi menunduk makin mengecil. Jemarinya meremas ujung bajunya.
“Aku… cuma pinjam sebentar,” gumamnya pelan.
“Sebentar sampai enam bulan?” Nadia tak mampu menyembunyikan nada tajamnya. “Aku tiap bulan kirim uang ke Ibu. Itu ke mana?”
Belum sempat Rani menjawab, ibunya sudah lebih dulu menyela.
“Jangan marahi kakakmu, Nad!”
Nada itu tinggi. Membentak. Seolah Nadia yang bersalah.
“Uang itu buat biaya pernikahan Rani!” lanjut ibunya.
“Kamu kan nggak bantu apa-apa waktu dia nikah!”
Kalimat itu menghantam Nadia tepat di dada.
Seperti sembilu yang diselipkan perlahan, lalu diputar.
“Aku nggak bantu?” Nadia tertawa pendek, getir. “Bu, setiap bulan aku kirim uang. Bahkan waktu Mbak bilang mau resepsi sederhana saja, aku tambah kirim dua kali lipat.”
“Itu nggak cukup!” ibunya memotong. “Harga sekarang mahal semua! Tenda, katering, baju pengantin! Kamu pikir gratis?”
Nadia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menekan telapak sampai terasa perih.
Ia ingin berteriak. Ingin bertanya kenapa semua selalu kurang. Kenapa semua selalu salahnya.
Tapi yang keluar hanya napas panjang yang berat.
“Jadi karena aku nggak datang dan nggak tambah lagi, Mbak jadi hutang?” tanyanya lirih.
Ibunya mendengus. “Kalau kamu waktu itu pulang dan bantu, mungkin nggak begini.”
Hening. Kembali ia dijadikan tersangka.
Rasa bersalah yang dipaksakan itu kembali menyergap. Sama seperti dulu. Sama seperti setiap kali ia gagal memenuhi ekspektasi rumah ini.
Nadia mengangkat wajahnya. “Di mana suaminya Mbak?”
Rani terdiam.
Ibunya menjawab singkat. “Kerja.”
“Kerja di mana?”
“Ya kerja saja!” potong ibunya tak sabar.
Jawaban yang menggantung. “Ngapain juga kamu ngurus masalah ini.”
Suasana jadi canggung. Tegang. Udara terasa berat.
Daniel yang sejak tadi diam memperhatikan, perlahan mulai memahami pola yang terbentuk di rumah ini. Setiap masalah—ujungnya Nadia. Setiap kekurangan—salah Nadia. Setiap kebutuhan—harapan pada Nadia.
Bahkan pernikahan Rani pun seolah tanggung jawab Nadia.
Namun anehnya, perasaan Daniel tak surut sedikit pun. Ia justru makin ingin melindungi perempuan di sampingnya itu.
Ia melangkah mendekat, mencoba menetralkan suasana.
“Bu,” katanya sopan, “kalau boleh tahu, sekarang Rani tinggal di sini atau sudah pisah rumah?”
Ibunya menoleh, menatap Daniel seperti baru benar-benar memperhatikannya lagi.
“Masih di sini. Suaminya kerja proyek, kadang luar kota. Aku memang nyuruh dia tinggal disini.”
“Oh begitu,” Daniel mengangguk pelan.
Ibunya tiba-tiba menyipitkan mata sedikit. Nada bicaranya berubah. Kini baru ada waktu ia berbicara dengan pacar Nadia.
“Kalau kamu sendiri kerja di mana, Nak?”
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Nadia hafal nada itu. Nada menilai.
Daniel tetap tenang. “Saya di bagian keuangan, Bu. Satu kantor dengan anak ibu.”
“Keuangan?” ulang ibunya.
“Iya.”
“Saya mengelola laporan dan perencanaan dana.”
Mendengar kata keuangan, ekspresi ibunya berubah drastis.Untuk pertama kalinya sejak Nadia datang, senyum itu muncul.
“Ooo… pantesan kelihatan rapi dan pintar,” katanya, nadanya mendadak manis. “Orang keuangan pasti otaknya encer.”
Daniel hanya tersenyum sopan.
“Berarti penghasilannya juga bagus, ya?” sambung ibunya ringan, tapi matanya berbinar berbeda.
Nadia merasakan sesuatu yang membuat perutnya mual.
Senyum itu. Senyum yang terlalu cepat berubah. Terlalu hangat setelah mendengar jabatan Daniel.
Terlihat dibuat-buat dan tak tulus.
Ada hitung-hitungan di baliknya.
Daniel menjawab hati-hati. “Alhamdulillah cukup, Bu.”
“Cukup untuk apa?” tanya ibunya lagi, tertawa kecil. Berusaha terlihat akrab.“Sekarang kan semua mahal.”
“Definisi cukup kan banyak.”
Nadia menutup mata sebentar. Ia tahu arah pembicaraan ini. Ya Tuhan, tolong. Jangan buat aku malu lagi dengan manuver ibuku.
Daniel sepertinya juga tahu. Tapi ia tetap menjaga sikap.
“Yang penting bisa hidup mandiri dan sedikit tabungan,” jawabnya diplomatis.
“Bagus, bagus,” ibunya mengangguk-angguk. “Memang jadi laki-laki harus begitu. Kamu sudah punya rumah kan?”
“Aku ngomong begini, karena Nadia tak ada kamar di rumah ini. Lagian Rani juga tinggal disini. Kata orang kalau satu rumah tiga kepala keluarga, itu pamali.”
Seketika itu Nadia memutar bola matanya, malas. Sedang Daniel yang mendengar cuma tersenyum tipis.
“Insyaallah kalau kami menikah, kami gak akan tinggal di rumah ini Bu. Kan saya dan Nadia kerjanya di kota.”
“Ibu tenang saja, urusan tempat tinggal, saya bisa menyediakan nya.”
Maryati mengangguk- angguk. “Baguslah. Sepertinya kamu laki-laki kaki yang bertanggung jawab.”
“Nadia ini dari dulu keras kepala. Untung dapat laki-laki sabar.”
Nadia menoleh cepat. “Bu…” ia tak terima. Apa maksudnya keras kepala? Karena ia tak selalu mengirim lebih? Karena ia tak selalu pulang saat diminta?
Ibunya melanjutkan tanpa peduli. “Dia itu kalau nggak mau bantu orang tua, hidupnya pasti susah.”
Kalimat itu lagi. Kalimat lama yang seolah tak pernah putus diucapkan ibunya.
Flashback itu muncul begitu saja di kepala Nadia—
Ia masih remaja. Baru lulus SMA. Ingin kerja di kota. Ibunya marah besar waktu itu.
“Kamu itu kalau nggak mau bantu orang tua, hidupmu bakal susah!”
Sejak hari itu, setiap kegagalan terasa seperti kutukan yang jadi nyata.
Saat ia ditolak kerja. Saat ia sakit sendirian di kos. Saat uangnya hampir habis. Kalimat itu selalu terngiang. Hidupmu bakal susah. Dan sekarang, duduk di ruang tamu yang sama, dengan pria yang ia cintai di sampingnya, kalimat itu kembali dilemparkan—halus tapi tajam.
Daniel menangkap perubahan wajah Nadia.
Ia menyentuh punggung tangan Nadia pelan di bawah meja.
Sentuhan kecil itu membuat Nadia menahan diri untuk tak membalas ucapan ibunya.
Ibunya kembali menatap Daniel. “Kalau kamu serius sama Nadia, ya harus siap juga dengan keluarganya. Namanya juga keluarga, saling bantu.”
Nadia menegang. Itu bukan sekadar nasihat.
Itu peringatan. Dan hal ini yang ia takutkan.
Daniel tidak langsung menjawab. Ia menatap ibunya Nadia dengan tenang, tanpa tersenyum berlebihan.
“Kalau saya serius,” katanya pelan tapi jelas, “saya akan bertanggung jawab pada Nadia. Dan membantu sewajarnya.”
Sewajarnya.
Satu kata itu membuat udara kembali berubah.
Ibunya terdiam sepersekian detik. Rani menunduk makin dalam.
Nadia menatap Daniel, jantungnya berdetak kencang. Ia tahu Daniel pria baik.Tapi untuk pertama kalinya, ia takut.
Takut kalau kebaikan Daniel akan dimanfaatkan.
Takut kalau rumah ini akan melihat Daniel bukan sebagai calon suami—tapi sebagai sumber baru ATM berjalan.
Dan yang paling ia takuti—Ia tak ingin Daniel terjebak dalam lingkaran yang selama ini menelannya.
Senyum ibunya kembali muncul, tipis dan sulit ditebak.
“Iya… tentu saja,” katanya. “Kita ini keluarga. Nanti juga saling mengerti.”
Kata mengerti itu terdengar seperti kode. Nadia menelan ludah. Lebaran belum tiba. Tapi ia sudah merasa seperti sedang menghadapi ujian yang jauh lebih besar daripada sekadar pulang.
“Sepuluh juta, Mbak?” suaranya bergetar menahan marah. “Kok bisa?”
Rani yang sejak tadi menunduk makin mengecil. Jemarinya meremas ujung bajunya.
“Aku… cuma pinjam sebentar,” gumamnya pelan.
“Sebentar sampai enam bulan?” Nadia tak mampu menyembunyikan nada tajamnya. “Aku tiap bulan kirim uang ke Ibu. Itu ke mana?”
Belum sempat Rani menjawab, ibunya sudah lebih dulu menyela.
“Jangan marahi kakakmu, Nad!”
Nada itu tinggi. Membentak. Seolah Nadia yang bersalah.
“Uang itu buat biaya pernikahan Rani!” lanjut ibunya.
“Kamu kan nggak bantu apa-apa waktu dia nikah!”
Kalimat itu menghantam Nadia tepat di dada.
Seperti sembilu yang diselipkan perlahan, lalu diputar.
“Aku nggak bantu?” Nadia tertawa pendek, getir. “Bu, setiap bulan aku kirim uang. Bahkan waktu Mbak bilang mau resepsi sederhana saja, aku tambah kirim dua kali lipat.”
“Itu nggak cukup!” ibunya memotong. “Harga sekarang mahal semua! Tenda, katering, baju pengantin! Kamu pikir gratis?”
Nadia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menekan telapak sampai terasa perih.
Ia ingin berteriak. Ingin bertanya kenapa semua selalu kurang. Kenapa semua selalu salahnya.
Tapi yang keluar hanya napas panjang yang berat.
“Jadi karena aku nggak datang dan nggak tambah lagi, Mbak jadi hutang?” tanyanya lirih.
Ibunya mendengus. “Kalau kamu waktu itu pulang dan bantu, mungkin nggak begini.”
Hening. Kembali ia dijadikan tersangka.
Rasa bersalah yang dipaksakan itu kembali menyergap. Sama seperti dulu. Sama seperti setiap kali ia gagal memenuhi ekspektasi rumah ini.
Nadia mengangkat wajahnya. “Di mana suaminya Mbak?”
Rani terdiam.
Ibunya menjawab singkat. “Kerja.”
“Kerja di mana?”
“Ya kerja saja!” potong ibunya tak sabar.
Jawaban yang menggantung. “Ngapain juga kamu ngurus masalah ini.”
Suasana jadi canggung. Tegang. Udara terasa berat.
Daniel yang sejak tadi diam memperhatikan, perlahan mulai memahami pola yang terbentuk di rumah ini. Setiap masalah—ujungnya Nadia. Setiap kekurangan—salah Nadia. Setiap kebutuhan—harapan pada Nadia.
Bahkan pernikahan Rani pun seolah tanggung jawab Nadia.
Namun anehnya, perasaan Daniel tak surut sedikit pun. Ia justru makin ingin melindungi perempuan di sampingnya itu.
Ia melangkah mendekat, mencoba menetralkan suasana.
“Bu,” katanya sopan, “kalau boleh tahu, sekarang Rani tinggal di sini atau sudah pisah rumah?”
Ibunya menoleh, menatap Daniel seperti baru benar-benar memperhatikannya lagi.
“Masih di sini. Suaminya kerja proyek, kadang luar kota. Aku memang nyuruh dia tinggal disini.”
“Oh begitu,” Daniel mengangguk pelan.
Ibunya tiba-tiba menyipitkan mata sedikit. Nada bicaranya berubah. Kini baru ada waktu ia berbicara dengan pacar Nadia.
“Kalau kamu sendiri kerja di mana, Nak?”
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Nadia hafal nada itu. Nada menilai.
Daniel tetap tenang. “Saya di bagian keuangan, Bu. Satu kantor dengan anak ibu.”
“Keuangan?” ulang ibunya.
“Iya.”
“Saya mengelola laporan dan perencanaan dana.”
Mendengar kata keuangan, ekspresi ibunya berubah drastis.Untuk pertama kalinya sejak Nadia datang, senyum itu muncul.
“Ooo… pantesan kelihatan rapi dan pintar,” katanya, nadanya mendadak manis. “Orang keuangan pasti otaknya encer.”
Daniel hanya tersenyum sopan.
“Berarti penghasilannya juga bagus, ya?” sambung ibunya ringan, tapi matanya berbinar berbeda.
Nadia merasakan sesuatu yang membuat perutnya mual.
Senyum itu. Senyum yang terlalu cepat berubah. Terlalu hangat setelah mendengar jabatan Daniel.
Terlihat dibuat-buat dan tak tulus.
Ada hitung-hitungan di baliknya.
Daniel menjawab hati-hati. “Alhamdulillah cukup, Bu.”
“Cukup untuk apa?” tanya ibunya lagi, tertawa kecil. Berusaha terlihat akrab.“Sekarang kan semua mahal.”
“Definisi cukup kan banyak.”
Nadia menutup mata sebentar. Ia tahu arah pembicaraan ini. Ya Tuhan, tolong. Jangan buat aku malu lagi dengan manuver ibuku.
Daniel sepertinya juga tahu. Tapi ia tetap menjaga sikap.
“Yang penting bisa hidup mandiri dan sedikit tabungan,” jawabnya diplomatis.
“Bagus, bagus,” ibunya mengangguk-angguk. “Memang jadi laki-laki harus begitu. Kamu sudah punya rumah kan?”
“Aku ngomong begini, karena Nadia tak ada kamar di rumah ini. Lagian Rani juga tinggal disini. Kata orang kalau satu rumah tiga kepala keluarga, itu pamali.”
Seketika itu Nadia memutar bola matanya, malas. Sedang Daniel yang mendengar cuma tersenyum tipis.
“Insyaallah kalau kami menikah, kami gak akan tinggal di rumah ini Bu. Kan saya dan Nadia kerjanya di kota.”
“Ibu tenang saja, urusan tempat tinggal, saya bisa menyediakan nya.”
Maryati mengangguk- angguk. “Baguslah. Sepertinya kamu laki-laki kaki yang bertanggung jawab.”
“Nadia ini dari dulu keras kepala. Untung dapat laki-laki sabar.”
Nadia menoleh cepat. “Bu…” ia tak terima. Apa maksudnya keras kepala? Karena ia tak selalu mengirim lebih? Karena ia tak selalu pulang saat diminta?
Ibunya melanjutkan tanpa peduli. “Dia itu kalau nggak mau bantu orang tua, hidupnya pasti susah.”
Kalimat itu lagi. Kalimat lama yang seolah tak pernah putus diucapkan ibunya.
Flashback itu muncul begitu saja di kepala Nadia—
Ia masih remaja. Baru lulus SMA. Ingin kerja di kota. Ibunya marah besar waktu itu.
“Kamu itu kalau nggak mau bantu orang tua, hidupmu bakal susah!”
Sejak hari itu, setiap kegagalan terasa seperti kutukan yang jadi nyata.
Saat ia ditolak kerja. Saat ia sakit sendirian di kos. Saat uangnya hampir habis. Kalimat itu selalu terngiang. Hidupmu bakal susah. Dan sekarang, duduk di ruang tamu yang sama, dengan pria yang ia cintai di sampingnya, kalimat itu kembali dilemparkan—halus tapi tajam.
Daniel menangkap perubahan wajah Nadia.
Ia menyentuh punggung tangan Nadia pelan di bawah meja.
Sentuhan kecil itu membuat Nadia menahan diri untuk tak membalas ucapan ibunya.
Ibunya kembali menatap Daniel. “Kalau kamu serius sama Nadia, ya harus siap juga dengan keluarganya. Namanya juga keluarga, saling bantu.”
Nadia menegang. Itu bukan sekadar nasihat.
Itu peringatan. Dan hal ini yang ia takutkan.
Daniel tidak langsung menjawab. Ia menatap ibunya Nadia dengan tenang, tanpa tersenyum berlebihan.
“Kalau saya serius,” katanya pelan tapi jelas, “saya akan bertanggung jawab pada Nadia. Dan membantu sewajarnya.”
Sewajarnya.
Satu kata itu membuat udara kembali berubah.
Ibunya terdiam sepersekian detik. Rani menunduk makin dalam.
Nadia menatap Daniel, jantungnya berdetak kencang. Ia tahu Daniel pria baik.Tapi untuk pertama kalinya, ia takut.
Takut kalau kebaikan Daniel akan dimanfaatkan.
Takut kalau rumah ini akan melihat Daniel bukan sebagai calon suami—tapi sebagai sumber baru ATM berjalan.
Dan yang paling ia takuti—Ia tak ingin Daniel terjebak dalam lingkaran yang selama ini menelannya.
Senyum ibunya kembali muncul, tipis dan sulit ditebak.
“Iya… tentu saja,” katanya. “Kita ini keluarga. Nanti juga saling mengerti.”
Kata mengerti itu terdengar seperti kode. Nadia menelan ludah. Lebaran belum tiba. Tapi ia sudah merasa seperti sedang menghadapi ujian yang jauh lebih besar daripada sekadar pulang.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...