Bab 9 Support Dari Kekasih
Takbir masih bersahutan sejak semalam.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Suara itu biasanya membuat hati Nadia hangat. Dulu, meski sederhana, ia tetap menunggu pagi Lebaran dengan perasaan harap. Berharap hari itu jadi momen pelukan, maaf, dan mungkin sedikit pengakuan.
Tapi Lebaran kali ini berbeda. Hari kemenangan bagi banyak orang. Namun hari kekalahan bagi Nadia.
Ia masih duduk di atas sajadah hotel, mukena putih membungkus tubuhnya. Matanya sembab.
Sejak semalam ia hanya tidur dua atau tiga jam. Tepat pukul satu dini hari ia terbangun—bukan karena mimpi, tapi karena rasa sesak yang tak mau pergi.
Ia mengambil wudhu. Memakai mukena dan duduk lama. Ingin berdoa. Ingin bertanya. Ya Allah… kenapa hidupku seperti ini?
Kenapa aku lahir dari luka orang lain?
Tapi setiap kali mencoba merangkai doa, yang keluar hanya tangis.
Air matanya jatuh membasahi sajadah. Mengingat kembali ketika identitasnya terbuka.
Hari ketika ia sadar, keluarga yang selama ini ia perjuangkan ternyata tak pernah benar-benar menganggapnya milik mereka.
Semua angannya tentang Lebaran yang hangat, tentang saling memaafkan, tentang duduk melingkar sambil tertawa—hancur lebur. Tak tersisa.
Ini bukan hari kemenangan. Ini awal ia harus menghadapi kenyataan bahwa mungkin… ia tidak punya keluarga.
Ponselnya sejak tadi tergeletak di samping sajadah.
Beberapa notifikasi masuk sejak tengah malam.
Ucapan Lebaran dari rekan kerja. Dari teman-teman lama.
Dan dari Daniel.
Jam 01.07
Daniel: Kamu belum tidur, ya?
Jam 01.12
Daniel: Aku juga belum bisa tidur.
Nadia membaca itu dengan dada menghangat sedikit.
Jadi bukan hanya dia yang terjaga.
Jam 01.25
Daniel: Kalau kamu lagi nangis, jangan sendirian ya. Aku di sini. Telepon aku jika kamu siap.
Air mata Nadia kembali jatuh. Seolah pria itu bisa merasakan tanpa melihat.
Ia menatap layar ponselnya lama. Jemarinya gemetar. Ia hampir saja mengetik: Daniel, kita sudahi saja. Kalimat itu selalu ingin dia ucapkan.
Ia takut. Takut merusak hidup pria itu. Takut membawa kesengsaraan pada orang lain.
Tepat ketika ia ingin mematikan ponselnya, satu pesan baru masuk.
Jam 01.41
Nadia membuka.
Daniel: "Kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita lahir. Tapi kita selalu bisa memilih akan menjadi siapa kita setelahnya."
Nadia membeku. Pesan itu berlanjut.
Daniel: "Asal-usulmu mungkin cerita orang lain. Tapi masa depanmu adalah keputusanmu."
Air matanya kembali mengalir—kali ini bukan karena hancur, tapi karena disentuh. Disaat ia terjatuh sedalam-dalamnya, ada pria itu yang selalu menguatkan dirinya.
Daniel mengirim lagi.
"Kalau dunia mengukur mu dari masa lalu orang tuamu, biarkan. Namun aku mengukur mu dari keteguhanmu bertahan."
Nadia menggigit bibirnya. Dadanya terasa penuh. Semua kalimat itu seolah penenang ditengah badai yang ia rasakan.
Satu pesan terakhir akhirnya masuk.
"Perempuan yang tetap lembut meski dibesarkan oleh luka, adalah perempuan yang paling pantas diperjuangkan."
"Aku mencintaimu Nadia, mencintaimu apa adanya. Tanpa syarat.”
Tangis Nadia pecah lagi. Sebegitu cintanya pria itu terhadap dirinya yang hina ini. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Tangisnya kini berubah bukan tangis
putus asa. Melainkan tangis terharu karena masih ada orang yang tulus mencintai dirinya.
Tak lama, pesan lain masuk. ”Nadia, dengarkan aku baik-baik.”
Ia membaca dengan jantung berdegup.
“Aku tidak mencintaimu karena keluargamu. Aku tidak memilihmu karena silsilahmu.”
“Aku memilihmu karena caramu tetap bertahan ketika hidup tidak pernah adil.”
Air matanya jatuh deras.
“Kalau kamu merasa tidak punya keluarga, izinkan aku jadi rumahmu.”
Kalimat itu membuat Nadia menutup mulutnya, menahan isak.
Rumah.
Kata yang semalam terasa hilang. Kini ditawarkan oleh seseorang.
Pesan terakhir masuk, kali ini lebih panjang.
“Kamu bukan anak haram. Kamu bukan kutukan.
Kamu adalah perempuan yang lahir dari situasi yang tidak kamu pilih.”
“Dan aku, dengan sadar dan tanpa ragu, memilih kamu.”
Nadia menekan ponselnya ke dada. Kata-kata sang kekasih merupakan penyejuk ditengah hatinya yang gersang.
Takbir masih berkumandang di luar.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Daniel kembali menulis.
“Kalau hari ini adalah hari kemenangan, maka aku ingin kamu menang atas rasa malumu. Menang atas rasa tidak pantasmu. Menang atas suara yang bilang kamu tidak layak dicintai.”
Dan satu kalimat terakhir kembali datang.
“Yang memalukan bukanlah anak yang lahir tanpa rencana. Yang memalukan adalah orang dewasa yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.”
Nadia terisak pelan. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ia merasa— mungkin dirinya tidak seburuk yang ia pikirkan. Mungkin ia bukan noda ataupun kutukan.
Ia menatap cermin kecil di meja kamar hotel.
Wajahnya sembab. Matanya masih merah.
Tapi untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang berbeda di sana, seorang perempuan yang terluka, ya. Tapi juga perempuan yang diperjuangkan oleh seorang lelaki.
Ia mengetik balasan dengan tangan gemetar.
“Terima kasih sudah tidak malu dengan aku.”
Balasan Daniel datang cepat.
“Aku tidak pernah malu mencintai perempuan yang hatinya lebih bersih dari masa lalunya.”
Kata-kata itu begitu menusuk dan membuka kembali perasaannya.
“Daniel benar, aku tidak bersalah. Tidak ada seorangpun yang mau lahir di situasi seperti ini. Kalau aku terpuruk, orang lain malah bersorak dan senang atas penderitaan ku.”
“Sudah cukup tangisku.”
Nadia akhirnya bersiap. Ia memutuskan untuk mengikuti sholat Ied di masjid yang ada disekitar hotel.
Dan di pagi Lebaran itu, di tengah gema takbir dan luka yang belum sepenuhnya sembuh, dirinya mulai yakin. Mungkin kehilangan satu keluarga
bukan akhir dari segalanya.
Mungkin, ia sedang dipersiapkan untuk membangun keluarga yang baru bersama Daniel yang tidak melihatnya sebagai sebuah dosa, melainkan sebagai pilihan hatinya.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Suara itu biasanya membuat hati Nadia hangat. Dulu, meski sederhana, ia tetap menunggu pagi Lebaran dengan perasaan harap. Berharap hari itu jadi momen pelukan, maaf, dan mungkin sedikit pengakuan.
Tapi Lebaran kali ini berbeda. Hari kemenangan bagi banyak orang. Namun hari kekalahan bagi Nadia.
Ia masih duduk di atas sajadah hotel, mukena putih membungkus tubuhnya. Matanya sembab.
Sejak semalam ia hanya tidur dua atau tiga jam. Tepat pukul satu dini hari ia terbangun—bukan karena mimpi, tapi karena rasa sesak yang tak mau pergi.
Ia mengambil wudhu. Memakai mukena dan duduk lama. Ingin berdoa. Ingin bertanya. Ya Allah… kenapa hidupku seperti ini?
Kenapa aku lahir dari luka orang lain?
Tapi setiap kali mencoba merangkai doa, yang keluar hanya tangis.
Air matanya jatuh membasahi sajadah. Mengingat kembali ketika identitasnya terbuka.
Hari ketika ia sadar, keluarga yang selama ini ia perjuangkan ternyata tak pernah benar-benar menganggapnya milik mereka.
Semua angannya tentang Lebaran yang hangat, tentang saling memaafkan, tentang duduk melingkar sambil tertawa—hancur lebur. Tak tersisa.
Ini bukan hari kemenangan. Ini awal ia harus menghadapi kenyataan bahwa mungkin… ia tidak punya keluarga.
Ponselnya sejak tadi tergeletak di samping sajadah.
Beberapa notifikasi masuk sejak tengah malam.
Ucapan Lebaran dari rekan kerja. Dari teman-teman lama.
Dan dari Daniel.
Jam 01.07
Daniel: Kamu belum tidur, ya?
Jam 01.12
Daniel: Aku juga belum bisa tidur.
Nadia membaca itu dengan dada menghangat sedikit.
Jadi bukan hanya dia yang terjaga.
Jam 01.25
Daniel: Kalau kamu lagi nangis, jangan sendirian ya. Aku di sini. Telepon aku jika kamu siap.
Air mata Nadia kembali jatuh. Seolah pria itu bisa merasakan tanpa melihat.
Ia menatap layar ponselnya lama. Jemarinya gemetar. Ia hampir saja mengetik: Daniel, kita sudahi saja. Kalimat itu selalu ingin dia ucapkan.
Ia takut. Takut merusak hidup pria itu. Takut membawa kesengsaraan pada orang lain.
Tepat ketika ia ingin mematikan ponselnya, satu pesan baru masuk.
Jam 01.41
Nadia membuka.
Daniel: "Kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita lahir. Tapi kita selalu bisa memilih akan menjadi siapa kita setelahnya."
Nadia membeku. Pesan itu berlanjut.
Daniel: "Asal-usulmu mungkin cerita orang lain. Tapi masa depanmu adalah keputusanmu."
Air matanya kembali mengalir—kali ini bukan karena hancur, tapi karena disentuh. Disaat ia terjatuh sedalam-dalamnya, ada pria itu yang selalu menguatkan dirinya.
Daniel mengirim lagi.
"Kalau dunia mengukur mu dari masa lalu orang tuamu, biarkan. Namun aku mengukur mu dari keteguhanmu bertahan."
Nadia menggigit bibirnya. Dadanya terasa penuh. Semua kalimat itu seolah penenang ditengah badai yang ia rasakan.
Satu pesan terakhir akhirnya masuk.
"Perempuan yang tetap lembut meski dibesarkan oleh luka, adalah perempuan yang paling pantas diperjuangkan."
"Aku mencintaimu Nadia, mencintaimu apa adanya. Tanpa syarat.”
Tangis Nadia pecah lagi. Sebegitu cintanya pria itu terhadap dirinya yang hina ini. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Tangisnya kini berubah bukan tangis
putus asa. Melainkan tangis terharu karena masih ada orang yang tulus mencintai dirinya.
Tak lama, pesan lain masuk. ”Nadia, dengarkan aku baik-baik.”
Ia membaca dengan jantung berdegup.
“Aku tidak mencintaimu karena keluargamu. Aku tidak memilihmu karena silsilahmu.”
“Aku memilihmu karena caramu tetap bertahan ketika hidup tidak pernah adil.”
Air matanya jatuh deras.
“Kalau kamu merasa tidak punya keluarga, izinkan aku jadi rumahmu.”
Kalimat itu membuat Nadia menutup mulutnya, menahan isak.
Rumah.
Kata yang semalam terasa hilang. Kini ditawarkan oleh seseorang.
Pesan terakhir masuk, kali ini lebih panjang.
“Kamu bukan anak haram. Kamu bukan kutukan.
Kamu adalah perempuan yang lahir dari situasi yang tidak kamu pilih.”
“Dan aku, dengan sadar dan tanpa ragu, memilih kamu.”
Nadia menekan ponselnya ke dada. Kata-kata sang kekasih merupakan penyejuk ditengah hatinya yang gersang.
Takbir masih berkumandang di luar.
“Allahu akbar… Allahu akbar…”
Daniel kembali menulis.
“Kalau hari ini adalah hari kemenangan, maka aku ingin kamu menang atas rasa malumu. Menang atas rasa tidak pantasmu. Menang atas suara yang bilang kamu tidak layak dicintai.”
Dan satu kalimat terakhir kembali datang.
“Yang memalukan bukanlah anak yang lahir tanpa rencana. Yang memalukan adalah orang dewasa yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.”
Nadia terisak pelan. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ia merasa— mungkin dirinya tidak seburuk yang ia pikirkan. Mungkin ia bukan noda ataupun kutukan.
Ia menatap cermin kecil di meja kamar hotel.
Wajahnya sembab. Matanya masih merah.
Tapi untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang berbeda di sana, seorang perempuan yang terluka, ya. Tapi juga perempuan yang diperjuangkan oleh seorang lelaki.
Ia mengetik balasan dengan tangan gemetar.
“Terima kasih sudah tidak malu dengan aku.”
Balasan Daniel datang cepat.
“Aku tidak pernah malu mencintai perempuan yang hatinya lebih bersih dari masa lalunya.”
Kata-kata itu begitu menusuk dan membuka kembali perasaannya.
“Daniel benar, aku tidak bersalah. Tidak ada seorangpun yang mau lahir di situasi seperti ini. Kalau aku terpuruk, orang lain malah bersorak dan senang atas penderitaan ku.”
“Sudah cukup tangisku.”
Nadia akhirnya bersiap. Ia memutuskan untuk mengikuti sholat Ied di masjid yang ada disekitar hotel.
Dan di pagi Lebaran itu, di tengah gema takbir dan luka yang belum sepenuhnya sembuh, dirinya mulai yakin. Mungkin kehilangan satu keluarga
bukan akhir dari segalanya.
Mungkin, ia sedang dipersiapkan untuk membangun keluarga yang baru bersama Daniel yang tidak melihatnya sebagai sebuah dosa, melainkan sebagai pilihan hatinya.
Other Stories
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Cowok Hujan
Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...
Rona
Arga ...