Chapter 2
Bab 2 – Pulau yang Asing dan Hangat
Begitu kakiku menjejak Bandara Internasional Lombok, udara terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih ramah. Tidak ada suara klakson yang saling berlomba, tidak ada wajah-wajah tergesa.
Kak Maya memelukku erat.
“Kamu kelihatan lebih kurus, Ra,” katanya sambil tersenyum.
Rumah mereka sederhana, menghadap ke bukit kecil dengan halaman penuh tanaman hijau. Di kejauhan, laut seperti garis tipis yang memisahkan langit dan bumi.
Hari-hariku di Lombok diisi hal-hal kecil: membantu Kak Maya memasak, menemani Kak Dimas bekerja, dan menikmati sore dengan duduk di teras. Sampai suatu hari, aku bertemu Arga.
Bab 3 – Laki-Laki dengan Senyum Tenang
Arga adalah teman kerja Kak Dimas. Ia orang lokal Lombok, bekerja sebagai pemandu lapangan sekaligus fotografer lepas. Pertemuan pertama kami terjadi di sebuah pantai kecil yang jarang dikunjungi wisatawan.
“Kamu adiknya Kak Dimas?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Aku mengangguk. Tangannya hangat, senyumnya tenang.
Sejak hari itu, Arga sering ikut dalam kegiatan kami. Ia banyak bercerita tentang Lombok—bukan versi brosur wisata, melainkan tentang desa, budaya, dan mimpi-mimpi yang sering dilupakan orang.
Aku suka caranya bercerita. Tidak berlebihan. Tidak berusaha membuatku terkesan. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Dan entah sejak kapan, aku mulai menunggu-nunggu kehadirannya.
Other Stories
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...