Chapter 3
Bab 4 – Hari-Hari yang Terasa Pendek
Aku mulai menyadari sesuatu yang aneh sejak hari ketiga di Lombok.
Setiap pagi, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Duduk di tepi ranjang, menatap jendela, lalu bertanya pada diriku sendiri: hari ini aku akan bertemu Arga lagi atau tidak? Pertanyaan itu muncul begitu saja, tanpa aku undang.
Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Di sekolah, ada beberapa laki-laki yang menyukaiku, tapi perasaanku selalu biasa saja. Tidak pernah sampai membuat dadaku terasa penuh hanya karena membayangkan seseorang.
Namun Arga berbeda.
Ia tidak pernah bersikap berlebihan. Tidak pernah menggombal. Bahkan sering kali ia terlihat lebih sibuk memperhatikan sekeliling daripada aku. Tapi justru itu yang membuatku nyaman. Aku bisa menjadi diriku sendiri, remaja yang sedang belajar memahami perasaannya.
Suatu siang, kami duduk di tepi pantai, menunggu Kak Dimas menyelesaikan pekerjaannya. Arga memotret laut, sementara aku menulis di buku kecil yang selalu kubawa.
“Kamu suka nulis?” tanyanya.
“Iya. Tapi cuma buat diri sendiri.”
“Kenapa nggak buat orang lain?”
Aku tersenyum kecil. “Takut tulisanku nggak cukup bagus.”
Arga menoleh padaku. “Kadang yang jujur itu sudah cukup.”
Kalimat sederhana itu membuatku terdiam lama. Aku merasa seperti sedang diajak bercermin.
Bab 5 – Perasaan yang Mulai Menuntut Jawaban
Hari-hari berlalu, dan perasaan itu semakin sulit kuabaikan.
Aku mulai gelisah. Ada bagian dari diriku yang senang, tapi ada juga yang takut. Aku sadar betul, aku hanya tamu di pulau ini. Aku akan kembali ke Jawa. Kembali ke sekolah, ke rutinitas, ke dunia lamaku.
Sedangkan Arga… Lombok adalah rumahnya.
Suatu malam, aku duduk di teras rumah sendirian. Kak Maya menghampiriku dengan dua cangkir teh hangat.
“Kamu kelihatan sering melamun sejak datang ke sini,” katanya lembut.
Aku terkejut. “Apa kelihatan banget?”
Kak Maya tersenyum. “Perasaan pertama memang suka begitu. Campur aduk.”
Dadaku berdegup.
“Aku nggak yakin ini perasaan apa, Kak,” ujarku jujur.
“Kadang kita nggak perlu buru-buru menamainya,” jawabnya. “Cukup rasakan, tapi tetap ingat batas.”
Batas.
Kata itu seperti garis tipis yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
Other Stories
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...