Bab 3 – Barisan Para Mantan
Satu pekan kemudian mereka kembali bertemu di sebuah kafe tak jauh dari tempat pertemuan sebelumnya. Dindingnya dicat abu-abu pucat dengan rak kayu berisi beberapa tanaman kecil.
Musik mengalun pelan dari speaker di sudut ruangan. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya hangat ke permukaan meja kayu.
Rian datang lebih dulu. Kali ini memilih duduk di dekat jendela. Di luar, langit Bekasi mulai berubah jingga.
Nara datang beberapa menit kemudian. Blusnya berbeda dari pertemuan sebelumnya—biru muda dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya tetap diikat rendah. “Kamu nunggu lama?” tanyanya.
“Baru aja,” jawab Rian.
Rian mengangkat tangan. Pelayan mendekat.
“Mau minum apa?” tanya Rian.
Setelah memesan minuman, mereka membicarakan hal-hal ringan. Tentang murid yang salah menyebut “proklamasi” jadi “proklemasi”. Tentang jalan yang macet karena sedang ada perbaikan.
Di sela cerita itu, Nara menunjukkan foto terbaru anak-anaknya. Ketiganya duduk di lantai ruang tamu, mengerjakan sesuatu dengan kertas warna-warni.
“Yang kecil makin mirip kamu,” kata Rian sambil memperbesar foto si bungsu. Pipinya bulat, matanya tajam seperti ibunya.
Nara tersenyum. “Iya ya?”
“Lahirnya kapan?”
“Oktober 2023”
Rian mengangguk kecil. “Dua tahun lebih, ya?”
“Iya.”
Beberapa detik hening. Nara masih menatap layar ponselnya, tapi jarinya tidak lagi bergerak. “Tiga bulan setelah itu aku diceraiin.”
Rian mendongak.
Nara tidak menatap Rian. Pandangannya tertuju ke meja. “Dia bilang itu bukan anaknya.”
Suara musik tetap mengalun. Gelas minuman diletakkan pelayan di meja sebelah.
“Dia nuduh aku selingkuh,” lanjut Nara. “Padahal …” Kalimatnya menggantung. Ia menggeleng pelan. “Dia yang pernah ketahuan selingkuh.”
Rian menelan ludah.
Nara menatap Rian. Tangannya meremas tisu di atas meja. “Aku nggak pernah ketemuan sama laki-laki lain,” lanjutnya.
Rian menatap wajah Nara lekat-lekat. Mata wanita itu mulai mengilap.
“Aku cuma minta dia percaya,” kata Nara pelan. “Itu aja.” Air mata jatuh. Nara cepat-cepat menyekanya dengan punggung tangan. “Maaf ya. Jadi kebawa emosi.”
“Nggak apa-apa. Aku senang kamu cerita,” sahut Rian.
“Aku paling nggak suka sama orang yang nggak jujur,” lanjut Nara.
Rian mengangguk.
Beberapa detik mereka hanya duduk. Gelas di depan Rian masih utuh.
Nara menarik napas. “Mantanku yang sebelum itu juga nggak jauh beda.”
Rian menggeser tubuhnya sedikit ke depan. Ia tidak bertanya. Hanya menunggu.
“Dia nggak bertanggung jawab.” Nara menatap ke luar jendela. “Dia kerja buat dia sendiri. Belanja sehari-hari pakai uang aku.”
Rian mengerutkan dahi tipis. “Harusnya dia yang nafkahin kamu,” katanya pelan.
“Aku nggak pernah minta ini-itu,” lanjut Nara. “Aku cuma mau dia nunjukin kalau dia laki-laki yang bertanggung jawab.” Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
Tidak ada yang bicara. Nara kembali menunduk.
“Yang pertama?” tanya Rian akhirnya.
Nara tertawa kecil, tanpa suara. “Yang pertama malah kelihatannya paling baik.”
Rian menopang dagunya dengan tangan. “Kelihatannya?”
Nara menggeser gelasnya pelan, es batu di dalamnya beradu tipis. “Dia sebenernya penyayang. Tapi keluarganya terlalu ikut campur.”
Ia mengusap pergelangan tangannya sendiri sebelum melanjutkan. “Kalau ada apa-apa, dia selalu bilang nanti dibicarain dulu sama ibunya.” Ia menghembuskan napas pendek. “Aku kayak cuma tamu.”
Ia menatap Rian. “Dia juga nggak pernah ngebela aku di depan keluarganya.”
Rian menahan napas sepersekian detik.
Nara menunduk lagi. “Mereka semua akhirnya ninggalin aku.”
Kalimat itu keluar lebih pelan dari yang sebelumnya. Nara menggigit bibir. Tubuhnya sedikit gemetar.
Rian menyentuh tangan Nara di atas meja. “Kamu pantes dapat laki-laki yang lebih baik.”
Nara mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu.
“Seandainya ada laki-laki yang benar-benar tulus dan nggak bakal ninggalin kamu.” kata Rian, suaranya lebih rendah.
Nara menatap Rian tanpa berkata apa-apa.
“Kamu gimana?” tanya Rian.
Nara tidak langsung menjawab. Bibirnya melengkung perlahan. “Aku bakal lebih tulus lagi sayang sama dia.”
***
Sepulangnya dari kafe, Rian duduk di kamar. Undangan pernikahan sudah tidak lagi berada di atas meja.
Ponselnya bergetar.
“Maaf ya tadi jadi cerita panjang,” tulis Nara.
Rian membaca pesan itu beberapa detik. “Nggak apa-apa,” balasnya.
Tiga titik muncul di layar, lalu hilang.
“Kadang aku takut kalau orang tahu masa laluku, mereka jadi berubah,” tulis Nara lagi.
Rian mengetik sesuatu. Menghapus. Mengetik lagi. “Aku seneng jadi tempat kamu cerita.”
Beberapa menit berlalu. Tidak ada balasan.
Rian membuka aplikasi mobile banking. Ia memasukkan nomor ponsel Nara, lalu mengetik Rp1.500.000. Di kolom catatan ia menulis: Buat anak-anak.
Tak lama kemudian, pesan dari Nara masuk. “Kamu nggak perlu gini, Rian.”
“Nggak apa-apa,” jawabnya. “Buat jajan mereka aja. Salam buat anak-anak.”
Balasan datang agak lama. Voice note. “Makasih Papa Rian. Eh salah, Om Rian.” Suara tawa kecil menyusul.
Rian tersenyum, lalu mengetik balasan, “Good nite.”
Good nite.”
Rian meletakkan ponselnya di samping bantal. Ruangan gelap. Ia menatap langit-langit, lalu memejamkan mata.
Other Stories
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Gm.
menakutkan. ...