Bab 9 – Selip Lidah
Siang itu matahari tidak terlalu terik. Kabut sudah hilang, menyisakan garis lembah yang terlihat jelas dari balkon lantai dua. Udara tetap sejuk, tapi tidak lagi sedingin hari pertama.
Rian dan Nara duduk berdampingan di kursi kayu. Meja kecil di antara mereka berisi dua gelas teh yang mulai kehilangan uap.
“Kalau nanti kita nikah,” kata Rian ringan, menatap lembah, “kamu mau punya anak berapa?”
Nara tersenyum tipis. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Situasi. Usia juga.” Ia mengangkat bahu kecil.
Rian menoleh. “Kamu sendiri maunya berapa?”
Nara menatap jauh ke arah pepohonan di bawah sana. “Dulu mantanku yang keempat juga—” Seketika wajahnya berubah, tangannya menutup mulut.
Angin bergerak pelan, membuat ujung tirai di belakang mereka bergetar.
Rian tidak langsung bicara. Ia membersihkan tenggorokan. “Keempat?” tanyanya datar.
Nara berkedip sekali. “Maksudku yang ketiga.”
Rian tidak tersenyum. “Dulu kamu bilang mantan kamu cuma tiga.”
Nara tertawa kecil, terlalu cepat. “Iya, tiga.”
Hening menggantung di udara. Lama.
Nara mencoba menyentuh tangan Rian.
Rian tidak menarik tangannya, tapi juga tidak menggenggam.
Rian menatap Nara lekat-lekat. “Berapa sebenarnya?” Nada suaranya tidak tinggi. Tidak menekan.
Nara menurunkan pandangannya ke gelas di tangannya. Jemarinya memutar gelas itu pelan. “Udahlah,” katanya pelan. “Kita bahas masa depan aja.”
Rian tidak menjawab.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Berapa?” ulang Rian.
Tak ada yang bersuara.
Nara menarik napas panjang. “Lima.”
Rian tetap diam.
Mata Nara memerah, tapi tidak ada air mata. Tangannya berhenti memutar gelas. “Aku takut kamu langsung ilfeel kalau tahu dari awal.”
Rian menatapnya tanpa berkedip.
Nara tertawa kecil, tapi gagal.
Suaranya pecah sedikit. “Aku takut kamu berubah dan ninggalin aku.”
Rahang Rian mengeras sebentar. Tangannya yang tadi dibiarkan disentuh kini jatuh ke pangkuannya.
Nara menunduk sesaat, lalu menatap Rian. “Kalau kamu emang nggak sesayang itu sama aku, nggak apa.” Ia menggigit bibir bawah sambil menggeleng pelan. “Semua juga akhirnya pergi ninggalin aku.”
Angin kembali bergerak. Daun-daun di bawah sana berdesir halus.
Rian mengangguk pelan. Tidak jelas setuju atau hanya mengakhiri percakapan.
Beberapa menit kemudian mereka turun tanpa banyak bicara.
Menjelang sore, Rian dan Nara duduk di sofa ruang tamu. Piring makan siang masih tergeletak di meja kecil. Lauknya tersisa separuh.
“Aku ke kamar mandi dulu,” kata Rian sambil berdiri.
Pintu tertutup. Bunyi kunci terdengar pelan.
Ia duduk lebih lama dari biasanya. Air keran mengalir. Ia memijat perutnya pelan, alisnya sedikit berkerut. Beberapa menit berlalu. Tidak ada hasil.
Ia menekan perutnya lebih keras. Keringat tipis muncul di pelipis meski udara dingin.
Beberapa saat kemudian, ia menekan tombol flush meski tidak perlu, lalu berdiri dan menatap wajahnya di cermin beberapa detik sebelum keluar.
“Kenapa?” tanya Nara ringan.
“Perut nggak enak,” jawab Rian singkat. “Mungkin kurang serat.”
Nara mengangguk. Ia bergeser sedikit, memberi ruang agar Rian duduk lebih dekat.
“Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa jelasin semuanya,” katanya pelan.
Rian menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”
Nara menatapnya beberapa detik, lalu menyandarkan kepala di bahu Rian.
Rian membiarkan.
Malam turun perlahan. Lampu ruang tamu menyala redup. Bayangan mereka jatuh memanjang di lantai kayu.
Di kamar, Nara tertidur lebih dulu. Napasnya teratur.
Rian berbaring menatap langit-langit. Perutnya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa keluar.
Ia memiringkan tubuhnya, mencoba posisi lain. Tidak banyak berubah.
Di luar jendela, kabut mulai turun lagi, tipis tapi pasti. Garis lembah yang tadi siang terlihat jelas perlahan memudar, tertelan putih yang bergerak pelan.
Rian tetap membuka mata lebih lama dari biasanya.
Vila itu sunyi, seperti malam-malam sebelumnya.
Other Stories
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Setelah Perayaan Itu Usai.
Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...
Cuti Untuk Pikiran
Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk bena ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...