Ilusi Yang Sama

Reads
2.6K
Votes
552
Parts
13
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 2 – Meet Up

Mereka bertukar kata setiap hari tanpa absen sekali pun.

Pagi. “Udah sampai kantor?”

Siang. “Udah makan siang?”

Sore. “Hati-hati di jalan.”

Malam. “Ada cerita apa hari ini?”

Rian tidak selalu membalas cepat, tapi selalu membalas. Pesan teks berubah menjadi voice note. Voice note berubah menjadi panggilan suara—yang tak jarang terus berlanjut sampai salah satu dari mereka tertidur.

Suatu malam, wajah Nara muncul di layar ponsel. Rambutnya diikat asal. Ia sedang duduk di lantai, bersandar pada dinding kamar.

“Anak-anak udah tidur?” tanya Rian.

“Iya. Yang kecil tadi susah banget. Maunya ditemenin terus.” Nara memiringkan kamera, memperlihatkan lampu kamar yang redup dan pintu yang tertutup.

Percakapan mereka tidak selalu penting. Kadang hanya tentang murid yang salah mengeja kata. Kadang tentang atasan Rian yang perfeksionis. Kadang hanya diam beberapa detik, mendengar napas satu sama lain.

Panggilan pernah terputus karena sinyal buruk. Rian segera menghubungi kembali.

Nara mengangkat dengan cepat. “Kirain kamu nggak nelpon lagi,” katanya.

Beberapa hari kemudian, Nara mengirim foto tiga anaknya yang sedang duduk di ruang tamu. “Yang sulung lagi belajar. Yang tengah sama yang kecil lagi rebutan remote TV.”

Rian memperbesar foto itu beberapa detik, memperhatikan wajah anak bungsu yang sangat mirip ibunya, lalu membalas, “Lucu.”

Suatu malam, percakapan mereka melebar lebih jauh dari biasanya.

“Aneh ya,” kata Nara lewat voice note. “Baru beberapa hari, tapi rasanya kayak udah kenal lama banget.”

Rian tidak langsung membalas. Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. “Mungkin karena tiap hari ngobrol.”

“Bisa jadi,” kata Nara. Jeda singkat. “Atau memang karena udah cocok.”

Rian tersenyum membacanya, lalu menelpon Nara. Panggilan langsung tersambung nyaris tanpa jeda. Obrolan mereka berlangsung lebih lama dari biasanya.

Jam di sudut layar ponsel menunjukkan lewat tengah malam. Rian memeluk guling sambil tiduran.

“Kamu jangan tidur dulu,” suara Nara terdengar pelan.

Rian tersenyum. “Kamu juga.”

Beberapa hari kemudian, mereka sepakat untuk bertemu akhir pekan nanti.

***

Restoran itu berada di lantai tiga sebuah mal di Bekasi. Dindingnya berwarna cokelat muda, meja kayu tanpa taplak, pendingin ruangannya terasa terlalu dingin.

Rian datang lebih dulu. Ia duduk menghadap pintu. Ponsel diletakkan di atas meja. Sesekali ia melihat jam. Tidak gelisah, hanya memastikan waktu.

Beberapa menit kemudian, pintu kaca terbuka. Nara masuk. Blus polos warna krem, celana hitam sederhana. Rambut diikat rendah. Tidak ada riasan mencolok. Tas selempang kecil tergantung di bahunya.

Mata mereka bertemu. Nara tersenyum. Rian berdiri. Mereka duduk berhadapan.

“Maaf ya lama,” kata Nara.

“Nggak kok. Aku juga baru nyampe,” jawab Rian.

Mereka memesan makanan. Sambil menunggu, Nara bercerita tentang muridnya yang lupa membawa buku dan malah membawa tas kosong.

“Pas dibuka, isinya cuma kotak bekal,” kata Nara sambil tertawa.

Rian ikut tertawa.

Beberapa menit berlalu.

“Aku seneng kamu nggak banyak gaya,” kata Nara tiba-tiba.

Rian mengangkat alis sedikit. “Maksudnya?”

“Ya … kamu biasa aja. Nggak sok.”

Rian tersenyum tipis.

Makanan datang.

Mereka makan sambil tetap berbicara. Tidak ada topik berat. Tidak ada obrolan tentang mantan. Tidak ada pembahasan tentang masa lalu yang panjang.

Selesai makan, mereka keluar dari restoran dan berjalan menyusuri koridor mal yang mulai lengang. Beberapa toko sudah menurunkan setengah pintu besinya.

Nara berjalan di samping Rian, sedikit lebih dekat daripada jarak biasa dua orang yang baru kenal.

“Aku nyaman ngobrol sama kamu,” kata Nara.

Rian menoleh. “Aku juga.”

Mereka berhenti di depan lift. Pintu terbuka. Di dalam hanya ada mereka berdua.

Cermin di dinding lift memantulkan bayangan mereka yang berdiri berdampingan. Jarak mereka lebih dekat dibanding tadi.

Nara tertawa kecil saat menceritakan sesuatu, lalu tangannya—entah sadar atau tidak—menyentuh lengan Rian. Sentuhan itu hanya sebentar. Rian tidak menarik tangannya.

Lift turun perlahan.

Pintu terbuka. Udara basement lebih dingin dan sedikit lembap. Deretan mobil terparkir rapi di bawah lampu neon putih.

Langkah mereka terdengar lebih jelas di ruang yang setengah kosong itu.

Nara diam sejenak, lalu berkata pelan, “Jarang ada orang yang benar-benar dengar.”

Rian menoleh.

“Aku cuma cerita hal kecil-kecil,” lanjut Nara. “Tapi kamu nggak pernah motong.”

Rian mengangkat bahu tipis. “Ya dengerin aja.”

Mereka berhenti di dekat motor Nara.

Beberapa detik hening.

“Kadang aku mikir,” kata Nara, lebih pelan, “kenapa kita ketemunya baru sekarang.”

Rian tidak langsung menjawab.

Nara menatapnya. “Kamu beda, Rian.” Nara mengambil helm.

Rian refleks ingin membantu memasangkannya—namun gerakan itu ia tarik kembali. “Yakin nggak mau aku temenin sampai rumah?”

“Nggak apa-apa kok. Aku udah biasa.”

“Sampai rumah kabarin.”

“Iya,” jawab Nara sambil tersenyum.

Setelah Nara pergi, Rian berjalan menuju parkiran mobil.

***

Surat undangan itu masih ada di atas meja, tapi tidak lagi terbuka. Rian duduk di tepi kasur. Ponsel di tangannya.

“Terima kasih ya malam ini,” tulis Nara. “Aku udah lama nggak ngerasa senyaman ini.”

Rian membaca kalimat itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Ia mengetik balasan. “Aku juga.”

Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk. “Jangan pernah berubah ya.”

Rian diam sejenak, lalu mengetik, “Nggak.”

Ia membaca ulang beberapa pesan. Senyum tipis muncul di wajahnya.

Lampu kamar dimatikan.

Layar ponsel tetap menyala beberapa detik di wajahnya sebelum akhirnya meredup.


Other Stories
Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

.

. ...

Sayonara ( Halusinada )

Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...

Download Titik & Koma