Ilusi Yang Sama

Reads
2.6K
Votes
552
Parts
13
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 5 – Lembang

Rian mematikan notifikasi grup WA keluarga selama seminggu sebelum berangkat. Ia meletakkan ponsel di dashboard, lalu menyalakan mobil.

Nara duduk di samping, menatap ke luar jendela. Rambutnya tergerai kali ini, tidak diikat.

“Orang tua kamu belum tahu soal hubungan kita?” tanya Rian di tengah perjalanan.

“Iya,” jawab Nara singkat. Matanya menatap lurus ke depan.

Beberapa jam kemudian, jalanan mulai menanjak. Udara berubah lebih dingin. Pepohonan rapat di kiri-kanan. Kabut tipis turun perlahan ketika mobil memasuki kawasan vila.

Gerbang kayu terbuka setelah Rian menyebutkan nama pemesan. Mobil masuk ke halaman berumput pendek yang masih basah oleh embun.

Di depan mereka berdiri vila dua lantai dengan dinding krem pucat dan balkon kayu menghadap lembah. Jendela lebar. Atapnya gelap, sedikit berlumut di beberapa sudut.

Rian mematikan mesin. Hening mengisi ruang di antara mereka.

Nara membuka pintu mobil terlebih dahulu. Lalu menarik napas panjang. “Enak,” katanya pelan.

Rian mengeluarkan koper dari bagasi. Roda koper berderit kecil saat ditarik melewati batu-batu halus menuju pintu masuk.

Di dalam, ruang tamu terbuka langsung menghadap jendela besar. Di luar jendela itu, lereng hijau turun perlahan. Kabut bergerak pelan seperti asap tipis. Cahaya siang masuk tanpa terhalang.

Nara berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar. Udara dingin masuk bersama bau tanah basah. Tirai tipis bergoyang perlahan. “Kalau tiap pagi bangun lihat ini, nggak pengen pulang,” katanya.

Rian berdiri di belakangnya, melihat ke arah yang sama. “Iya,” jawabnya ringan.

Mereka menaruh koper di kamar lantai atas. Ranjang besar dengan seprai putih menghadap jendela lain yang juga terbuka pada pemandangan serupa.

Tidak ada bunyi televisi yang menyala. Tidak ada bunyi kendaraan yang lewat. Hanya desir angin dan gesekan dedaunan.

Siang itu mereka keluar sebentar mencari makan di warung terdekat, lalu kembali ke vila sebelum sore.

Tidak banyak yang dibicarakan. Hal-hal kecil. Rasa sambal yang kurang pedas. Jalanan yang sempit. Cuaca yang lebih dingin dari perkiraan.

Menjelang senja, kabut turun lebih tebal. Mereka duduk di balkon kayu lantai dua. Rian menyandarkan punggung pada dinding. Nara duduk di sampingnya, lutut hampir bersentuhan.

“Ambilin foto dong,” kata Nara sambil menyerahkan ponselnya.

Rian mengangkat ponsel itu. Nara berdiri membelakangi lembah. Kabut dan pepohonan menjadi latar belakangnya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.

“Bagus?” tanya Nara.

“Bagus.” Rian memperlihatkan hasilnya.

Selfie bareng yuk,” kata Nara lagi.

Rian mendekat. Bahu mereka bersentuhan. Layar ponsel memantulkan wajah keduanya berdampingan. Nara tersenyum tipis. Rian ikut tersenyum. Klik.

Sekali lagi. Klik.

“Aku mau minum dulu,” kata Nara.

Rian mengangguk sambil tersenyum tipis.

Nara masuk ke rumah.

Rian masih berdiri. Ia menggeser telapak tangannya menyusuri pagar kayu yang dingin, lalu menghela napas pelan.

Di bawah sana, kabut bergerak seperti lapisan tipis yang menutup lembah. Ia menatap sebentar, lalu duduk di tempat semula.

Nara kembali ke balkon, membawakan sebotol air mineral dan meletakkannya di depan Rian.

“Sini, lihat aku,” kata Nara sambil memegang ponsel dengan kedua tangan.

Rian menoleh. Klik. Tawa keduanya menyusul.

Kabut di luar semakin tebal. Garis lembah perlahan hilang ditelan putih pucat. Cahaya yang tadi lembut berubah kelabu.

Rian berdiri dan menutup pintu balkon.

Ketika ia kembali ke ruang tamu, Nara sudah menyalakan lampu. Ruangan berubah hangat dengan cahaya kuning redup yang memantul di lantai kayu.

Saat mereka makan malam di ruang tamu, ponsel Rian bergetar sekali di atas meja. Ia melirik sebentar, lalu membalikkan layar tanpa membaca isi notifikasinya.

Selesai makan, mereka duduk berhadapan di lantai dengan punggung bersandar pada sofa. Obrolan mereka pelan. Tentang cuti yang jarang diambil. Tentang rumah Rian di Bekasi yang masih terasa kosong.

Nara memandang sekeliling ruangan. “Rumah kit ... rumah kamu nanti bisa dipasang jendela besar kayak gini,” katanya.

Rian mengangguk. “Menarik juga.”

***

Mereka pindah ke kamar ketika udara makin dingin. Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu tidur kecil di sudut ruangan. Cahaya redup memantulkan bayangan lembut di dinding.

Nara duduk di tepi ranjang. Rian berdiri di depannya beberapa detik sebelum akhirnya ikut duduk. Jarak di antara mereka perlahan menghilang.

Tangan Rian menyentuh jemari Nara. Tidak ditarik. Nara mengangkat wajahnya sedikit. Napas mereka terdengar lebih jelas di ruang yang sunyi itu.

Rian mendekat. Bibir mereka hampir bersentuhan.

Nara meletakkan telapak tangannya di dada Rian. “Aku maunya halal,” katanya pelan. “Aku capek dipakai terus ditinggal.” Ia tersenyum. Tidak ada nada menuduh.

Rian hanya mundur sedikit. “Aku serius,” jawabnya.

Tatapan mereka bertemu.

Nara menurunkan tangannya. Ia tidak menjauh—justru menggeser tubuhnya mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Rian. “Aku ngerasa aman sama kamu,” katanya pelan.

Rian mengangguk kecil. Tangannya yang semula di lengan Nara bergerak perlahan ke punggungnya.

Nara mengangkat wajahnya sedikit. “Jujur, aku belum pernah sesayang ini sama laki-laki.”

Rian tersenyum. Dadanya terasa hangat. Ia memeluk Nara lebih erat.

Lampu tidur tetap menyala. Kabut di luar jendela menempel tipis di kaca. Tidak ada suara selain napas mereka yang perlahan menjadi teratur.

Rian meraih ponselnya di meja samping ranjang. Layar menyala sebentar, menampilkan foto mereka di balkon dengan kabut di belakang. Ia menatapnya beberapa saat, lalu mematikan layar.

Malam itu, vila tetap sunyi.


Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Uap Dari Panas Bumi

Liburan seharusnya menjadi pelarian paling menyenangkan bagi Aluna. Setelah berbulan-bulan ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Dua Tanda Baca

Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...

Download Titik & Koma