Bab 1 – Match
Sebuah undangan pernikahan yang sudah terbuka tergeletak di atas meja. Di bagian Kepada Yth. tertulis: Rian Saputra.
Di sampingnya, dua undangan lain masih tersegel. Di sudut kiri atas setiap amplop, tertera nama pengirim yang berbeda. Teman SMA, teman kantor, dan kerabat jauh.
Di dinding ada figura foto ukuran 4R yang menampilkan Rian bersama empat remaja laki-laki lainnya dalam seragam SMA.
Mereka berdiri berjejer, saling merangkul bahu. Senyum mereka lebar. Rian berdiri di tengah, terlihat sangat ceria.
Tak jauh dari figura itu, Rian—yang sudah dewasa, lebih kurus dibanding di foto—duduk di lantai. Punggungnya bersandar pada dinding. Wajahnya datar. Tangannya memegang ponsel, membuka Instagram.
Gulir.
Foto seorang pria menggendong bayi yang masih merah. Wajah pria itu familiar—orang yang berdiri paling kiri di foto figura. Caption-nya tentang perjuangannya untuk menjadi seorang ayah.
Gulir lagi.
Video sebuah vila di pegunungan. Di halaman, seorang pria mengangkat anak kecilnya tinggi ke udara. Anak lain berlari mengejar gelembung sabun. Dari belakang kamera, suara wanita terdengar jelas. “Sini, lihat mama,” katanya, disusul tawa ringan.
Di foto figura, pria itu adalah sahabat yang berdiri di sebelah kiri Rian.
Rian tersenyum melihat kedua anak kecil itu.
Gulir lagi.
Foto seorang pria mencium pipi istrinya. Di belakang mereka, balon-balon yang membentuk tulisan “happy anniversary”. Di bawah tulisan itu ada balon angka “5”. Wajah pria itu mirip pria yang ada di sebelah kanan Rian dalam foto lama tersebut.
Gulir lagi. Lalu ia berhenti.
Foto prewedding. Seorang pria dengan jas hitam berdiri di samping calon istrinya di sebuah taman bunga. Nama akun Instagram pria itu sama dengan nama di amplop undangan yang terbuka.
Rian menatap foto itu cukup lama—lalu menutup Instagram.
Ruangan sunyi. Dengung halus AC terdengar. Di luar, bunyi motor lewat sesekali.
Rian membuka aplikasi lain—ikon berbentuk hati yang tertancap anak panah, dating app.
Foto seorang wanita cantik muncul. Usianya 21. Kulitnya putih. Hidungnya mancung.
Rian melihat foto-foto lain di profil wanita itu—liburan di luar negeri, restoran mewah, dan mobil sport di belakangnya.
Jarinya menggantung di udara—ragu antara geser ke kiri atau ke kanan. Setelah beberapa saat, ia geser ke kiri.
Rian menekan menu “Profile” dan memperhatikan deretan fotonya sendiri. Ia menghapus foto yang tertawa terlalu lebar, lalu membuka galeri ponsel.
Ia melihat beberapa foto yang pakaian dan posenya terlalu santai, lalu menggeleng pelan.
Ia memilih satu foto dengan kemeja biru, latar dinding putih, bibirnya tersenyum tipis. Ia edit sedikit—bayangan di bawah matanya terlihat lebih cerah.
Ia unggah foto itu dan menjadikannya foto profil. Lalu, ia membaca bionya sendiri.
Rian, 32 tahun, karyawan swasta. Bekasi. Introver.
Ia menatap kata “introver” beberapa detik, lalu mengubahnya menjadi introver yang bisa jadi ekstrover kalau udah dekat.
Rian menekan menu “Swipe”.
Foto seorang wanita dengan bikini kuning muncul. Ia langsung menggesernya ke kiri tanpa melihat nama maupun umur.
Profil berikutnya muncul. Seorang wanita berusia 29 tahun mengenakan blazer hitam di depan backdrop seminar. Bio: HRD. Suka lari pagi.
Rian membaca cepat, lalu menggeser ke kanan.
Wanita lain, 31 tahun, memegang kucing. Bio: Content writer. Suka kopi dan hujan.
Ia berhenti sepersekian detik pada angka 31, lalu menggeser ke kanan.
Berikutnya, 27 tahun. Selfie di dalam mobil. Bio kosong. Ia geser ke kiri.
Layar berganti lagi. Seorang wanita 35 tahun bernama Nara. Blus krem. Rambut diikat rendah. Senyum ringan tanpa pose. Bio: Guru SD (PNS). Tiga anak.
Rian membuka semua fotonya, lalu membaca ulang baris terakhir. Tiga anak.
Ia tidak langsung menggeser. Ketika layar hampir redup karena terlalu lama tidak disentuh, ia geser ke kanan.
Profil berikutnya, wanita 22 tahun. Mahasiswi. Foto di pantai dengan kacamata hitam besar.
Rian melihat sekilas, lalu menggeser ke kiri.
Di bagian bawah layar, ada ikon berbentuk hati dengan tulisan “Likes”. Tidak ada tanda merah. Tidak ada wanita yang baru saja menggeser fotonya ke kanan.
Rian mengetuk ikon “Chat”. Beberapa percakapan lama muncul.
Rian membuka satu percakapan. Beberapa pesan ringan tentang kerja dan cuaca sudah lewat di atasnya. “Kamu lebih suka baca novel atau nonton film?” tanya Rian. Tidak ada pesan lagi setelah itu. Di bawahnya tertulis: 13 hari lalu.
Percakapan lain. Beberapa obrolan singkat sudah lewat sebelumnya. “Kamu biasanya weekend ngapain?”
Pesan terakhir: 6 hari lalu.
Chat berbeda lagi. “Kerja di mana?” Waktu terkirim: kemarin malam. Obrolan berhenti di sana.
Rian mematikan layar, lalu meletakkan ponselnya menghadap kasur. Ia menatap langit-langit.
Beberapa menit berlalu, tidak ada suara lain kecuali AC yang berdengung halus.
Ting!
Rian membalik ponselnya. Notifikasi dari aplikasi kencan: It’s a match!
Jarinya tidak langsung bergerak. Beberapa detik kemudian, ia mengetuk notifikasi itu. Layar berganti. Foto Rian dan foto Nara berdampingan, beberapa ikon hati berkedip di sekelilingnya.
“Assalamualaikum,” tulis wanita itu.
“Waalaikumsalam,” jawab Rian.
“Mas Rian kerja di mana?”
“Di Cawang, Mbak. Mbak ngajar kelas berapa?”
“Kelas tiga.” Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk. “Panggil nama aja, ya. Jangan pakai ‘Mbak’.”
Rian membaca kalimat itu sekali lagi. “Oke, Nara.” Jeda sejenak. “Kalau gitu, kamu juga jangan panggil ‘Mas’.”
“Baik, Rian.”
Percakapan mereka segera mengalir dengan berbagai topik ringan. Bekasi yang sering di-bully. Film yang sedang tayang di bioskop. Murid-murid kelas tiga yang suka berlarian di lorong sekolah.
Sekitar setengah jam kemudian, Rian bertanya tentang anak-anak Nara.
“Yang sulung, dua belas tahun. Yang kedua, tujuh tahun. Yang bungsu, dua tahun.”
Rian mengetik lagi, “Capek ya?”
“Udah biasa kok.”
“Kamu hebat,” puji Rian.
Percakapan terus berlanjut.
Nara menyebut detail-detail kecil yang Rian ceritakan sebelumnya. “Kamu tadi bilang nggak terlalu suka keramaian ya?” tanya Nara.
“Iya,” jawab Rian.
“Aku juga,” kata Nara.
Rian membaca ulang pesan itu. Senyum tipis muncul, lalu hilang.
“Kalau mau lanjut, di WA aja, lebih enak,” kata Nara yang kemudian langsung mengirim nomor ponselnya.
Rian menyimpan nomor itu dan segera mengirim pesan WA, “Hai, Nara. Ini Rian.”
Balasan datang berupa pesan suara. Dua puluh detik. Rian memasang earphone.
Suara Nara sedikit serak. Ia bercerita tentang muridnya yang tadi sore jatuh di lapangan dan menangis sangat keras padahal lututnya tidak berdarah.
"Tapi pas dikasih stiker dinosaurus, langsung berhenti nangisnya,” lanjut Nara. “Anak-anak itu ajaib." Ada tawa kecil di akhir. Ringan. Tidak dibuat-buat.
Rian memutar kembali rekaman suara itu, lalu mengetik balasan.
***
Jam di sudut layar ponsel menunjukkan pukul 23:48. Lampu kamar masih menyala.
“Makasih ya udah bikin aku banyak ketawa malam ini,” tulis Nara. “Udah lama aku nggak kayak gini.”
Rian menatap dua kalimat itu beberapa detik lebih lama dari pesan-pesan sebelumnya. “Iya. Aku juga makasih kamu udah mau dengerin ceritaku.”
Lampu kamar dimatikan. Ruangan menjadi gelap. Cahaya ponsel masih menyala di wajahnya sebentar, lalu meredup.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Sudut Pandang
Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...