2r

Reads
209
Votes
0
Parts
13
Vote
by Titikoma

Chapter 7

“Sepertinya hari ini benar-benar hari sial buat mereka,” celetuk Ferro mendapati kunci tergantung di motor Rasky. Diliriknya ban sepeda Rizki sekilas dan tersenyum sinis.
“Daren, kamu bawa motorku!” perintah Ferro pada anak buahnya yang berambut gondrong sambil melempar kunci motornya. Cowok itu menaiki motor Rasky.
“Mau dibawa ke mana tuh motor, Bos?” tanya anak buah yang berambut ikal.
Ia menaiki motornya sendiri. Sementara Daren mulai men-starter motor Ferro.
“Kalau pengen bikin mereka nggak keluar dari gudang paling nggak sampe besok, kita nggak boleh ninggalin jejak.” Ferro men-starter motor setelah sang anak buah mengangguk-angguk paham. “Daren, bilang sama Pak Parman, pemilik sepeda ini udah pulang dan nggak sempet nitipin sepedanya karena buru-buru.”
***
“Mau ke mana?” tanya Rasky ketika melihat Rizki bangkit serta menggulung lengan bajunya hingga siku.
“Sholat,” jawab Rizki pendek. Menghampiri dinding dan menempelkan kedua tangannya di sana. Meniup debu di tangan lalu mengusapkannya ke wajah.
Rasky mengernyit heran. Sejak kapan gerakan sholat jadi kayak gitu? pikirnya bingung.
“Kok bengong? Nggak mau sholat juga? Udah masuk Ashar, nih!” tegur Rizki setelah menyelesaikan gerakannya.
Rasky tergeragap. Buru-buru mengatupkan mulut yang sedari tadi ternganga. “Wudhu di mana?”
“Tayammum aja. Di sini nggak ada air.” Rizki meraih tas mengambil mukena di dalamnya.
“Tayammum itu apa?” tanya Rasky polos.
Gerakan tangan Rizki terhenti. Secepat kilat menoleh dan tertegun mendapati ekspresi tak mengerti Rasky. Dia bener-bener nggak tahu apa itu tayammum? batinnya prihatin.
***
“Tadi Rizki SMS. Katanya malam ini mau menginap di rumah teman,” beritahu Irfan sambil menghempaskan diri ke atas sofa begitu tiba di rumah.
“Meta?” Fajri menyodorkan segelas air putih.
“Entah. Waktu ditelfon, nomernya tidak aktif.” Irfan mengangkat bahu. Mengambil gelas yang disodorkan Fajri dan mengucapkan terima kasih
“Duduklah. Aku mau bicara.” Kening Fajri berkerut. Ia duduk di seberang Irfan dengan benak diliputi tanda tanya.
“Siapa laki-laki yang tadi kamu temui di kafe?”
Fajri terperanjat. Bagaimana Irfan bisa tahu ia menemui Bima? Bukankah saat itu Irfan ada di kantor?
“Tadi aku mendapat tugas ke luar dan tak sengaja melihatmu saat dalam perjalanan,” ujar Irfan seakan bisa membaca pikiran Fajri. “Aku tidak mempermasalahkan kamu mau berteman dengan siapa pun. Hanya saja laki-laki itu punya hubungan yang tidak baik dengan kami di masa lalu,” lanjutnya saat melihat Fajri bungkam dan hanya tertunduk dalam.
“Maksud Mas?” Kepala Fajri terangkat cepat.
***
“Kamu tahu kenapa Papa menamaiku Rasky?”
Rizki menggeleng.
“Itu gabungan nama kita berdua. Razka dan Rizki. Hanya beda huruf aja.” Rasky menatap Rizki. Menunggu reaksi gadis itu.
Rizki bergeming. Pandangan lurus ke pintu gudang. Rasky menghela napas. Tatapannya dialihkan ke depan.
“Papa nggak bermaksud jahat. Dia melakukan itu hanya karena putus asa. Papa nggak mau melihat Mama sedih kehilangan bayi sekaligus rahimnya.”
Rizki menoleh cepat mendengar kalimat terakhir Rasky. Terperanjat mendengar informasi yang baru saja diterimanya. Yang ia tahu selama ini Mama Rasky hanya kehilangan bayi. Ryan atau pun Rasky belum pernah menceritakan perihal kehilangan rahim. Rasky kembali menghela napas panjang tanpa mengalihkan tatapan.
“Mama nggak bisa lagi punya anak. Karena itulah Papa nekat mengambilku. Sampai sekarang Mama nggak tahu kalau aku bukan anak kandungnya.”
“Demi kebahagiaan seseorang, Papamu tega membuat orang lain menderita.” Rizki tertawa sumbang lalu mendesah berat. “Tapi sudahlah. Ini sudah terjadi. Nyalahin Papa kamu nggak akan mengembalikan kebahagiaan Ibu yang selama ini terenggut.”
Rasky menoleh dan tersenyum. “Terima kasih udah ngerti.” Rasky membentangkan kedua lengan seraya mendekat membuat Rizki bergeser menjauh dengan tatapan jijik.
“Apa?” Rizki bertanya galak. Menyilangkan kedua tangan di depan tubuh.
Rasky menurunkan tangan. Wajahnya cemberut. “Ah, Rizki! Gak bisa diajak romantis-romantisan,” gerutunya.
“Emang hubungan kita apaan pake romantis-romantisan segala?” Rizki melotot.
“Memangnya cuma orang pacaran sama suami-istri saja yang boleh romantis? Kita juga boleh dong, tapi romantisnya beda.” Rasky nyengir.
“Jangan aneh-aneh, deh!”
Wajah Rasky kembali cemberut. Pipi digembungkan serta bibir bagian bawah lebih maju. Tatapannya nelangsa seperti bocah yang gagal mendapatkan mainan kesukaan.
***
Gelak tawa terdengar di ruang makan rumah Rafi. Nostalgia masa lalu menjadi topik hangat yang menyenangkan untuk dibahas. Oma Wijayanti antusias bercerita tentang kenakalan-kenakalan Ryan di masa kecil.
“Rasky berbeda sekali dengan Papanya. Dia anak yang penurut meski terkadang agak manja,” ujar Oma Wijayanti melirik Ryan yang hanya tersenyum mendengarnya.
“Kalau cucu perempuan Oma, gimana?” tanya Alif membuat seisi ruangan mengernyit heran.
“Siapa?” Kania menatap Alif penasaran. Ryan anak tunggal. Satu-satunya cucu yang dimiliki hanyalah Rasky.
“Putri Tantelah. Kakaknya Rasky. Masa sama anak sendiri lupa.” Alif tertawa. Mengira Kania sedang bercanda.
“Putri? Tante tidak punya anak perempuan. Anak Tante cuma Rasky.”
“Tapi waktu itu di rumah sakit ....”
“Mungkin kamu salah dengar waktu itu,” tukas Rafi cepat. Diliriknya Ryan yang menggenggam sendok dengan tangan bergetar.
“Nggak mungkin, Pa. Rasky sendiri yang bilang kalau dia itu kakaknya.”
“Atau jangan-jangan dia anak Mas Ryan dengan perempuan lain,” canda Rani, istri Rafi.
Kania tertawa. “Tidak mungkin. Mas Ryan tidak mungkin punya anak ....” Kania tertegun. Mendadak pucat ketika melihat tatapan tajam Oma Wijayanti memperingatkan.
“Ng ... maksudku dia tidak mungkin punya anak dengan perempuan lain. Dia pria setia.” Kania menggenggam tangan Ryan. Berusaha keras menyembunyikan kegugupan karena hampir saja membuka tabir rahasia yang selama ini disimpan rapat bersama Oma Wijayanti.
***
Kegelapan menyelimuti gudang tempat Rasky dan Rizki terkurung. Beruntung seberkas cahaya bulan purnama menelusup melalui kaca jendela kecil di dinding belakang bagian atas hingga membuat tempat itu tak sepenuhnya pekat. Rasky meremas perutnya yang terasa sakit. Bulir-bulir keringat membanjiri wajah serta punggung. Dengan tangan gemetar, cowok itu menyentuh pundak Rizki yang tertidur usai sholat Isya’ tadi. Ia sendiri enggan berbaring meski mengantuk karena takut rambutnya kotor.
“Ki ....” Bibir pucat Rasky bergumam lirih.
Rizki menggeliat. Mengucek mata yang terasa berat. Ia terlonjak bangun melihat Rasky sangat dekat dengannya. “Ngapain kamu di sini?” Rizki melotot dan menggeser tubuhnya menjauh.
“Dari tadi kita di sini, Ki.” Rasky menjawab lirih sembari meringis menahan sakit.
Rizki menatap sekeliling. Baru menyadari kalau ia tidak sedang berada di kamarnya. Gadis itu nyengir. “Eh, kamu kenapa?” Ia mendekat dan memperhatikan wajah pucat Rasky.
“Perutku sakit ...,” keluh Rasky hampir menangis.
Rizki bergerak cepat meraih tas. Setelah mengaduk-aduk isinya sebentar, benda yang ia cari akhirnya ditemukan.
“Cepat berbaring!”
“Tapi di situ kotor ....”
“Udah sakit masih milih-milih! Minggir!”
Rasky bangkit masih sambil meringis. Dilihatnya Rizki memindahkan kardus-kardus serta koran bekas itu ke sisi samping gudang hingga merapat ke dinding.
Rizki duduk berselonjor seraya menepuk-nepuk pahanya. “Baring di sini!”
Rasky mendekat sambil memegangi perutnya. Ia duduk di samping Rizki lalu berbaring telentang dan meletakkan kepala di atas pangkuan gadis itu. Rizki membuka tutup botol minyak kayu putih. Menuangkan isi botol ke tangan kiri kemudian membalurnya ke perut Rasky.
“Kok bisa sakit perut, sih? Tadi habis makan apa?”
“Ini mungkin karena aku telat makan.” Rasky tersenyum. Merasakan hangat menjalar yang mengurangi rasa sakitnya. Ia menguap dan memejamkan mata.
“Maafin aku, ya! Gara-gara aku kamu terjebak di sini dan bikin kamu sakit perut.” Rizki menghentikan gerakan tangannya. “O ya, aku punya roti di tas. Tunggu sebentar.”
Rizki hendak bangkit, tapi urung saat mengalihkan pandangan ke wajah Rasky. Rupanya cowok itu sudah tertidur pulas di pangkuannya. Tangan kanan Rizki bergerak menyingkap poni Rasky. Memeriksa kemungkinan cowok itu demam.
Rizki tertegun menatap sepasang alis yang bentuknya begitu mirip dengannya dan Irfan. Bagian tengah alis itu sedikit mencuat serta keluar jalur. Ketebalannya pun nyaris sama dengan milik Irfan. Diperhatikannya bagian-bagian lain di wajah Rasky dalam keremangan ruangan. Hidung mancung dan tampang Timur Tengah Hasna ada di sana.
Ia juga baru menyadari tatapan mata Rasky yang terasa tak asing saat pertama kali bertemu, persis seperti sang ayah. Warna kuning langsat kulit Rasky sama seperti dirinya. Ia sendiri lebih mirip sang ayah kecuali di bagian mata. Hanya gingsul di deretan gigi kanan atasnya yang sama dengan Hasna. “Kamu mengambil semua hal yang bagus di keluarga kita,” gumam Rizki tersenyum.
***
Fajri membolak-balikkan badan di atas ranjang gelisah. Pikirannya dipenuhi cerita Irfan tadi sore. Ia bingung. Antara tak percaya dan tak tahu harus berbuat apa. Wanita itu tahu betul kalau yang Irfan katakan mengenai Bima hanyalah kesalahpahaman.
Akan tetapi, bibirnya seakan terkunci rapat serta tak mampu menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Terlebih ketika melihat sorot kebencian di mata Irfan membuatnya kian takut untuk berterus terang.
Ini salahku, Mas. Bukan Bima. Ingin rasanya Fajri mengucapkan kalimat itu, tapi yang terjadi justru ia berbohong dengan mengatakan kalau Bima adalah salah satu pelanggan kue-kuenya yang baru dikenal beberapa bulan terakhir.
“Apa aku harus berhenti menemuinya, Mas?
“Tidak. Kamu tak ada kaitannya dengan ini. Aku hanya ingin berbagi cerita denganmu yang sudah kami anggap sebagai keluarga.”
Aku yang seharusnya dibenci dan tidak pantas kalian anggap sebagai keluarga, batin Fajri perih.
***
Adzan subuh sayup-sayup menerpa telinga Rizki. Ia menggeliat dan terkejut ketika membuka mata. Gerakannya terhenti tatkala mendapati dirinya tidur di pangkuan Rasky yang terlelap dalam posisi duduk bersandarkan tembok.
Bukannya semalam dia yang tidur di pangkuanku? pikir Rizki bingung.
Gadis itu bangkit. Mengumpulkan kesadaran yang belum penuh. Berbalik lalu berjongkok sambil menyilangkan kedua tangan di atas dengkul. Menatap wajah tampan Rasky yang terlihat innocent saat terlelap seperti itu. Tanpa sadar, senyumnya terkembang.
“Aku ganteng banget, ya?”
Rizki terperanjat melihat Rasky tiba-tiba berucap tanpa membuka mata. Nyaris saja ia terjengkang kalau tangannya tak segera sigap bertumpu di lantai. Mata Rasky terbuka. Tawanya pecah mendapati ekspresi kaget gadis itu.
“Kamu pasti nyesel banget ya, jadi kembaranku?” Rasky tersenyum jahil menatap Rizki yang segera bangkit dengan wajah cemberut.
“Tentu.” Rizki meregangkan tubuh yang terasa kaku. Tidur di lantai membuat badannya terasa pegal.
“Kamu kan nyebelin banget.”
“Bukan itu. Maksudku kamu nyesel karena nggak boleh jatuh cinta sama aku, ‘kan?”
Rizki menghentikan gerakannya. Sejenak memandang Rasky datar. Dengan tenang mengambil tas lalu melemparnya ke wajah cowok itu. Rasky terkesiap. Tak sempat menghindar karena gerakan Rizki begitu cepat.
“Aw! Sakit tahu!” Rasky mengusap hidungnya yang terkena lemparan.
“Rasain!”
***
Kania memandangi wajah lelap Ryan. Ucapannya semalam seolah membuka kembali rahasia lama. Rahasia yang belasan tahun tertutup rapat serta menimbulkan rasa bersalah dalam dirinya. Meski itu dilakukan demi cintanya pada Ryan, ia merasa telah mengkhianati sang suami. Pengkhianatan yang mungkin tak termaafkan seumur hidup.
“Tidak ada jalan lain. Kamu harus melakukannya kalau kamu benar-benar mencintai Ryan. Mama akan mengurus semuanya dan memastikan hal ini tidak akan pernah sampai ke telinga Ryan. Kamu mengerti?” Ucapan Oma Wijayanti waktu itu kembali terngiang.
Kania amat bingung ketika mengetahui kenyataan pahit yang harus ia terima. Kebingungan kian bertambah ketika Oma Wijayanti menawarkan solusi yang bagaikan memakan buah simalakama.
“Maafkan aku, Mas.” Kania membelai pipi Ryan. Pandangannya mengabur saat genangan air memenuhi kelopak mata. Ia mengerjap. Membiarkan tetes bening itu berjatuhan.
***
“Oh, tidak. Jangan sekarang!”
“Kamu kenapa?” Rasky memandang Rizki bingung.
Gadis itu refleks berdiri sembari memegangi perut dan pantatnya. Setengah berlari menghampiri pintu gudang lalu berteriak kencang. Sinar mentari menerobos melalui kaca jendela kecil di dinding belakang bagian atas ruangan itu.
“Tolooong ...! Ada orang di luar?” Rizki menggedor pintu sekuat tenaga. Kemudian berjalan mondar-mandir masih dengan posisi tangan yang sama. Sesekali melompat-lompat dengan ekspresi berusaha keras menahan sesuatu.
“Kamu kenapa, sih?” Rasky kembali bertanya tanpa beranjak dari duduknya.
“Aku harus melakukan ‘ritual pagi’ sekarang.”
“Ritual pagi?” tanya Rasky tak mengerti.
***
“Rizki ke mana? Kok hari ini nggak masuk?” Satria berjalan menuju lapangan bersama Meta dan teman-teman mereka. Pagi itu jam pelajaran pertama adalah olahraga.
“Entah. Aku telfon dari tadi, nomernya nggak aktif.” Meta angkat bahu.
“Handphone Rasky juga nggak aktif. Apa jangan-jangan mereka janjian nggak masuk hari ini?”
“Satria, tolong ambil bola basket di ruang peralatan olahraga!” Pak Dino, guru olahraga, menunjuk Satria yang dari tadi dilihatnya sibuk berbincang dengan Meta.
Satria mengangguk lalu melangkah menuju ruang peralatan olahraga yang letaknya tak jauh dari gudang, setelah menerima kunci dari Pak Dino. Cowok itu bersiul sambil memainkan anak kunci di tangan.
Siulan dan langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara seseorang minta tolong dari arah gudang. Satria menghampiri kemudian menempelkan telinga ke pintu untuk memastikan kalau dirinya tak salah dengar. “Siapa di situ?”
Rasky dan Rizki yang mendengar suara seseorang di luar, saling berpandangan. Satria! batin mereka bersamaan. Bergegas Rizki kembali berteriak. “Ini aku Rizki. Tolong buka pintunya!”
Satria menjauhkan telinga dari pintu dengan kening berkerut. “Rizki? Ngapain kamu di situ?”
“Udah jangan banyak nanya! Cepet buka!” Rizki berteriak geram. Bulir-bulir keringat membasahi wajahnya akibat menahan sesuatu yang mendesak keluar.
“Tapi mana kuncinya?” Satria menggaruk kepala. Mencari-cari kunci di seputar pintu.
“Kalau aku tahu, sudah dari kemarin aku keluar. Cepat cari bantuan! Dobrak saja pintunya!” Rizki menghentakkan kedua kaki ke lantai. Kesal akan kelemotan Satria.
Sementara di belakangnya, Rasky hanya diam menatap kembarannya geli begitu menyadari kalau yang dimaksud ‘ritual pagi’ adalah buang air besar.
Tanpa menjawab, Satria cepat melesat mencari bala bantuan. Rizki menempelkan telinga ke pintu ketika tak lagi mendengar suara Satria.
“Dia udah pergi?” Rizki mengalihkan pandangan ke arah Rasky yang langsung mengubah ekspresi menjadi datar.
“Mungkin,” jawabnya santai sembari duduk.
***
“Tolooong ...! Ada yang kekunci di gudang ...!” Satria berteriak panik. Ia berlari kencang menuju lapangan.
Seisi lapangan menoleh. Bergegas menghampiri Satria yang terengah-engah. Mereka berebut menanyakan siapa yang terkunci di sana.
“Sudah, sudah! Jangan banyak tanya! Ayo kita ke sana!” ajak Pak Dino.
Kompak seluruh penghuni kelas XI IPS 2 mengikuti langkah Pak Dino.
Braaak ...!
Pak Dino serta beberapa siswa yang mendobrak pintu gudang terhuyung dan nyaris terjatuh saat pintu berhasil dibuka. Sedetik kemudian, Rizki melesat keluar tanpa menghiraukan wajah-wajah kaget yang menatap ia dan Rasky.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Pak Dino menatap tajam Rasky yang tertunduk dalam.
Bisik-bisik mulai memecah keheningan. Semua mata tertuju pada Rasky. Sementara itu, Rizki yang sedang berada di toilet, mengembuskan napas lega. Seakan baru saja terlepas dari himpitan batu besar setelah berhasil mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi mendesak keluar.
Sesuatu yang terpaksa ditahan dan menimbulkan penderitaan tersendiri baginya. Rizki tersenyum gembira usai menuntaskan hajat. Sama sekali lupa dengan kejadian di gudang. Akan tetapi, senyumnya langsung memudar begitu ia membuka pintu. Meta bersama teman-teman perempuan sekelas berdiri di hadapannya dengan tatapan menghakimi. Ruang toilet yang sempit semakin sesak dengan keberadaan mereka.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Meta membuka suara di tengah kesenyapan ruangan. Rizki mundur selangkah sambil menelan ludah. Dengan cepat menutup pintu lalu mengunci dari dalam. Mengabaikan gedoran serta teriakan memanggil namanya di luar.
***
Rasky duduk di depan meja Pak Kepsek dengan kepala tertunduk. Suara ketukan di pintu membuatnya menoleh. Rizki yang keluar dari toilet setelah Bu Ratna berhasil membubarkan teman-temannya dan menyuruh mereka kembali ke lapangan, melangkah masuk kemudian duduk di kursi samping Rasky.
“Benar apa yang dikatakan Rasky?” tanya Pak Kepsek begitu Rizki duduk.
“Ya?” Rizki menatap Pak Kepsek bingung. Tak mengerti maksud pertanyaan tiba-tiba pria paruh baya itu.
Rizki mengalihkan pandangan pada Rasky saat cowok itu menendang kakinya di bawah meja. Rasky memberi isyarat agar gadis itu meng-iya-kan pertanyaan Pak Kepsek.
“Eh, i ... iya, Pak,” jawab Rizki gugup. Sorot mata bertanya masih diarahkan pada Rasky.
“Kalian tidak perlu kembali ke kelas. Sebaiknya pulang saja,” ujar Pak Kepsek. “Sekarang kalian boleh keluar.”
“Emang tadi kamu ngomong apaan, sih?” tanya Rizki ketika mereka tiba di luar.
Rasky menyerahkan tas Rizki yang dibawanya dari gudang tanpa menghentikan langkah. “Aku bilang, kemarin kita nyari sesuatu di gudang dan nggak sengaja kekunci.”
“Kamu nggak bilang yang sebenarnya?” Rizki berhenti. Rasky menggeleng. Rizki berdecak kesal. Ia berbalik namun Rasky buru-buru mencekal lengan kanannya.
“Mau ke mana?”
“Mau bilang kejadian sebenarnya sama Pak Kepsek.”
Rasky mempererat cekalannya. “Jangan cari masalah.” Ia meraih lengan kiri Rizki dengan tangan yang lain. Menatap tepat di manik mata gadis itu.
“Yang kamu lakukan kemarin itu udah bikin kita dapat masalah. Tolong jangan ditambah lagi!”
“Tapi ....”
“Yang cowokmu bilang itu benar.”
Rasky dan Rizki menoleh. Terkesiap mendapati Ferro beserta dua anak buahnya berjalan mendekat. Salah seorang anak buah Ferro melempar tas punggung ke arah Rasky. Refleks Rasky melepaskan cekalannya di kedua lengan Rizki dan menangkap tas itu.
“Urusan kita cukup sampai di sini. Anggap saja kemarin kalian nggak lihat apa-apa,” bisik Ferro mendekatkan wajah ke hadapan sepasang remaja di depannya.
Rizki mendongak dan menatap Ferro tajam. Tangannya terkepal menahan luapan emosi yang siap meledak. Sementara Rasky hanya memasang tampang datar.
“Kalau kalian berani buka suara, kalian akan habis,” ancam Ferro. Cowok itu menarik kepalanya. Tersenyum sambil sekilas menepuk masing-masing pundak Rasky serta Rizki.
“O ya, kemarin aku pinjam motormu sebentar. Nggak apa-apa, ‘kan?” Ferro melemparkan kunci motor yang diambilnya dari saku kemeja pada Rasky. Merogoh kantong celana, mengeluarkan ponsel, lalu mengangsurkannya pada Rizki.
“Kalian nggak perlu khawatir. Aku sudah meng-SMS orang rumah kalau semalam kalian menginap di rumah teman. Aku baik, ‘kan?” Ferro masih tersenyum meski tatapan Rizki seolah hendak menelannya bulat-bulat. Ia dan kedua anak buahnya beranjak pergi.
“Dia itu bener-bener ....” Rizki bergumam geram seraya berbalik.
“Mau ke mana?” Rasky kembali mencekal lengan Rizki.
“Mau lapor sama Pak Kepsek.” Rizki menyentakkan lengannya hingga terlepas dari cekalan Rasky.
Setengah berlari Rasky menyusul gadis itu dan mencegatnya.
“Kenapa? Kamu takut sama ancaman cowok itu?” Rizki yang terpaksa menghentikan langkah, menatap kembarannya tajam.
“Bukan gitu. Kita nggak punya bukti. Kalau kita lapor sekarang, bukan nggak mungkin kita malah dituduh ngefitnah.”
Rizki tertegun. Kemungkinan itu tak terlintas dalam pikirannya. Ia terlalu emosi hingga tak bisa berpikir jernih.
“Bener juga,” gumam Rizki. “Ya udah. Kalau gitu kita pulang sekarang.”
“Tunggu!”
“Apa lagi?” Rizki urung berbalik.
Rasky tak menjawab. Hanya tertunduk memandang perutnya yang berbunyi lalu mengangkat wajah nyengir.
“Masih laper? Subuh tadi kan udah makan roti.” Rizki mengernyit heran. Dirinya saja yang tidak makan apa pun setelah makan siang kemarin, tak merasa begitu lapar.
“Roti itu kan makan malam yang tertunda. Sekarang waktunya sarapan.”
***
Rafi menghentikan langkah ketika hendak menuju kasir minimarket. Ia merunduk dan memungut sesuatu yang terinjak kakinya. Sebuah dompet.
Pria berkumis tipis itu membuka dompet berwarna krem di tangannya. Ia terkejut dengan mata melebar saat melihat foto Fajri remaja diapit seorang wanita dan seorang pria di kanan-kirinya. Bukan gambar Fajri yang membuatnya terkejut, tapi pria serta wanita paruh baya yang merangkul pundak Fajri.
“Maaf, itu dompet saya.”
Rafi mengangkat wajah. Mendapati Fajri yang terkejut menatapnya. Wanita itu masih bisa mengingat pria di hadapannya meski lebih dari enam belas tahun berlalu sejak terakhir kali bertemu.
“Apa kabar?” Fajri menganggukkan kepala canggung.
Rafi bergeming. Memandang Fajri dengan tatapan tak percaya.
“Bisa Anda kembalikan dompet saya?”
Rafi tergeragap. Buru-buru menyerahkan dompet dalam genggamannya begitu tersadar.
“Terima kasih.” Fajri kembali mengangguk sopan lalu berbalik hendak pergi.
“Tunggu!”
Fajri menghentikan langkah lalu berbalik. Menatap Rafi yang terlihat gugup dengan kening berkerut.
“Boleh tahu siapa yang ada di foto itu?” Rafi menunjuk dompet di tangan Fajri dengan isyarat mata.
Fajri mengalihkan pandangan ke dompetnya kemudian kembali menatap Rafi. “Ini foto saya dan orang tua. Kenapa?”
***
Di sebuah restoran, Rizki dan Rasky duduk berhadapan. Meja mereka dipenuhi piring-piring berisi makanan. Rizki terbengong-bengong memandangi Rasky yang makan dengan lahap. Tak pernah disangkanya cowok yang digilai para cewek itu bisa makan begitu rakus.
“Kenapa nggak dimakan? Makanannya nggak enak ya?” tanya Rasky dengan mulut penuh saat melihat Rizki sama sekali tak menyentuh makanannya.
“Lihat kamu makan kayak gitu bikin aku nggak selera makan,” jawab Rizki datar.
Rasky menghentikan gerakan tangan yang sedang menyendok makanan. Ia memperlambat kunyahannya.
“Maaf,” gumamnya dengan raut wajah bersalah serta kepala tertunduk.
Rizki mulai menyendok makanan lalu menyuapkan ke mulut tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Rasky.
“Kenapa sih, kita harus jauh-jauh makan di sini? Kan deket sekolah banyak warung,” protes Rizki ketika mereka baru saja tiba di restoran itu.
“Kata Mama aku nggak boleh jajan sembarangan. Kalau mau makan harus di tempat yang terjamin kebersihannya.”
“Dasar anak Mama!” gumam Rizki sebal. “Jadi, karena itu kamu selalu bawa bekal ke sekolah?”
“Iya.” Rasky nyengir.
***
Irfan mengamati sosok pria berjas rapi yang berjalan diiringi beberapa pengawal di lobi ketika ia hendak keluar gedung perkantoran tempatnya bekerja. Rekan kerja Irfan yang ditugaskan keluar bersama, menyikut lengan pria beralis tebal itu.
“Lihat apa, sih?”
“Kamu tahu siapa laki-laki yang dikawal itu?” Irfan balik bertanya tanpa melepaskan tatapan dari pria berjas rapi yang kini asyik berbincang dengan atasan mereka.
“Oh, itu Pak Bima. Pemilik perusahaan ini.” Rekan kerja Irfan bernama Surya itu menjawab santai.
Irfan menoleh cepat. Terhenyak mendapati ekspresi wajah Surya tidak terlihat sedang bercanda. “Kamu yakin?”
“Iya. Pak Bowo pernah memperkenalkanku padanya beberapa tahun lalu. Dia jarang terlihat di sini karena lebih sering berada di kantor pusat,” ujar Surya meyakinkan.
Irfan tercenung. Tak menyangka dirinya selama ini bekerja di perusahaan milik seseorang yang dibencinya.
“Menurut kabar yang beredar, sebenarnya perusahaan ini milik suami kakaknya,” bisik Surya. “Enam belas tahun lalu kakak beserta kakak iparnya meninggal karena kecelakaan pesawat. Mereka punya seorang putri yang masih remaja, tapi gadis itu tiba-tiba menghilang sebulan setelah kematian orang tuanya. Pada akhirnya, semua warisan keponakannya jatuh ke tangan Pak Bima.”
Irfan masih termangu. Informasi yang baru didengarnya itu benar-benar membuat ia terkejut.
“Selain itu, dia belum menikah sampai sekarang karena terkena kutukan warisan yang bukan haknya,” lanjut Surya.
Irfan menoleh cepat. Mulai merasakan kejanggalan cerita Surya. “Kamu dengar gosip itu dari mana? Kok aku belum pernah dengar?” tanyanya ragu.
“Ini cerita lama. Kejadiannya beberapa bulan sebelum kamu masuk ke sini dan berita itu sempat membuat perusahaan gonjang-ganjing,” ucap Surya meyakinkan.
***
Rafi membuka laci di bawah meja kerjanya. Mengambil bingkai berisi foto lama. Di sana, dirinya semasa remaja berangkulan erat dan tertawa lepas bersama seorang pria yang sama dengan pria dalam foto di dompet Fajri. Hanya saja, pria itu tampak lebih muda. Rafi mendesah berat. Ingatannya melayang pada kejadian tiga puluh tahun lalu. Saat itu dirinya yang baru saja lulus SMA, duduk di hadapan pria dalam foto. Gelegak amarah nampak jelas di mata pria itu.
“Pokoknya Papa tidak akan pernah setuju kamu masuk ke Kedokteran. Kamu harus melanjutkan bisnis Papa!”
“Aku tidak mau,” desis Rafi muda dingin. Memandang pria berpakaian rapi di hadapannya dengan tatapan menantang.
“Kalau begitu kamu harus memilih. Meneruskan bisnis Papa dan tetap tinggal di sini, atau melakukan keinginanmu dengan resiko tercoret dari daftar ahli waris dan segera angkat kaki dari rumah ini.”
Rafi bergeming. Tak terkejut mendengar ultimatum sang Papa. Sudah menduga serta telah mempersiapkan segalanya.
Rafi melirik sekilas wanita yang menggendong seorang anak perempuan berusia tiga tahun di pojok ruangan sembari menatapnya cemas. Wanita yang sama dengan wanita dalam foto di dompet Fajri. Baginya, wanita itu adalah duri dalam daging yang telah membuat hubungannya dengan sang papa memburuk. Ia sangat membenci sosok lembut itu. Wanita yang selalu bersikap baik padanya meskipun Rafi sering membalas dengan sikap kasar.
“Baiklah. Aku akan pergi. Toh, Papa tak akan kesepian kalau aku tidak ada di sini.” Rafi bangkit diiringi tatapan nanar sang Papa.
Pria itu termangu menatap putranya yang berjalan santai menuju kamar kemudian keluar membawa ransel berat di punggung. Rafi melangkah menuju pintu depan. Membuka pintu lalu melewatinya tanpa pernah menoleh lagi ke belakang.
***
“Sebaiknya kamu berhati-hati dengan Bima.”
Ucapan Irfan menghentikan gerakan tangan Fajri yang hendak menyendok makan malamnya. Rizki mengangkat kepala. Mengernyit dengan tatapan tak mengerti ke arah ayahnya. Sementara Hasna sama sekali tak terusik dan terus melanjutkan makan malamnya.
“Dia bukan orang yang baik. Kudengar dia merebut harta warisan yang seharusnya jatuh ke tangan keponakannya.”
Fajri tercekat. Susah payah menelan makanan di mulut. Ia mengangguk. Tangannya bergetar saat kembali menyendok makanan.
“Bima itu siapa, Yah?” tanya Rizki. Ia menoleh pada Fajri ketika tak mendapatkan jawaban dari sang ayah. “Mbak?”
Rizki menatap keduanya bingung sambil menggaruk-garuk kepala. Tak lama ia tersenyum begitu teringat sesuatu. “Aku tahu. Bima itu om-om yang pernah ke sini nyari Mbak Fajri, kan?” tebak Rizki yakin. “Kelihatannya dia baik. Ganteng, lagi. Ayah mungkin salah paham.”
“Rizki, lanjutkan makanmu!” Irfan berucap tegas membuat sang putri terdiam. Rizki menunduk dan mengaduk-aduk makanan di piring dengan perasaan dongkol.
***
“Nggak usah dengerin apa kata Ayah.” Rizki menghampiri Fajri di kamarnya usai makan malam.
Gadis itu duduk di tepi ranjang. Menepuk pundak Fajri yang duduk di kasur bersandarkan tembok.
“Memangnya Ayah siapa? Ayah Mbak Fajri bukan, saudara juga bukan. Seenaknya saja ikut campur kehidupan Mbak Fajri.” Bibir Rizki mengerucut sebal. Seolah dirinya yang berada di posisi wanita muda itu.
Fajri menoleh. Untuk pertama kalinya tersenyum setelah beberapa saat lalu terlihat murung di meja makan.
“Kalau Mbak Fajri yakin sama om-om itu, minta petunjuk sama Allah. Manusia cuma bisa menilai dari apa yang dilihat dan didengar. Nggak ada yang tahu isi hati orang lain.”
“Terima kasih sudah menghibur Mbak.” Fajri mengusap kepala Rizki lembut.
Tak disangkanya bayi mungil tak berdaya belasan tahun lalu itu, kini telah tumbuh menjadi remaja yang bisa berkata sedemikian bijak. “Tapi ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Maksudnya?”
“Suatu hari nanti kamu akan tahu.”
***

Download Titik & Koma

* Available on iPhone, iPad and all Android devices