Reuni Mantan

Reads
1.7K
Votes
21
Parts
15
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 5 – Truth Or Dare

Ruang keluarga di lantai bawah terasa lebih hangat dari ruang makan tadi. Sofa panjang menghadap meja kayu rendah. Lampu berdiri di sudut ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut.

Di sudut ruangan, sebuah lemari pajangan berdiri agak miring. Pintu bawahnya sedikit terbuka. Di lantai di depannya ada kotak perkakas kecil—obeng dan kunci Inggris tergeletak di atasnya, seperti seseorang baru saja memperbaiki sesuatu.

Iko, Sarah, dan Darius duduk di sofa panjang menghadap meja. Sarah di tengah—ada bantal sofa yang membatasi Iko dan wanita itu.

Rudi dan Bayu duduk bersebelahan di sofa lain.

Farhan duduk di sofa tunggal yang berada paling dekat dengan lemari pajangan di sudut.

Angin tiba-tiba menghantam jendela besar di sisi ruangan dengan bunyi keras. Kaca bergetar sebentar.

Kilatan petir menerangi lereng. Jalan sempit yang tadi mereka lewati hampir tak terlihat di balik hujan yang turun seperti tirai.

Di meja, ada beberapa gelas berisi jus dan satu botol kaca kosong. Rudi memutar botol itu.

Setelah berputar sebentar, ujung botol itu berhenti dan menghadap Sarah.

Truth or dare?” tanya Farhan.

Sarah menoleh kiri-kanan cepat. “Truth.”

“Di mana pertama kali ketemu Pak Darius?” tanya Bayu.

Sarah menoleh Darius sebentar. “Di acara penggalangan dana,” jawab Sarah. “Kami dikenalin sama temen.”

Permainan berlanjut. Ada yang memilih truth. Ada yang memilih dare. Suasana yang tadi canggung perlahan berubah menjadi lebih santai.

Ketika Rudi menerima tantangan joget, ia menggerakkan pinggul sambil memonyongkan bibir dan menjulurkan lidah.

Bayu tertawa keras.

Sarah ikut tertawa—refleks menoleh ke Iko.

Iko menangkap tatapan itu, lalu segera mengalihkan pandangannya kembali ke meja.

Darius merangkul pundak Sarah.

Botol kembali diputar. Kali ini giliran Darius.
Truth or dare?” tanya Rudi.

“Saya pilih truth,” jawab Darius santai.

Bayu menyandarkan siku di lututnya. “Serius nanya, Pak. Kenapa sih mau jadi wakil wali kota?”

Darius tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu sudah sering ia dengar. “Di Jakarta, terlalu banyak masalah yang dibiarkan.”

Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan, nadanya tetap tenang. “Kadang untuk menyelesaikan masalah besar, kita harus turun tangan langsung agar masalah benar-benar beres.”

“Wah, berat,” kata Rudi sambil tertawa kecil. “Langsung beresin kota.”

Darius hanya mengangkat bahu tipis.

Botol kembali diputar. Kali ini ujungnya mengarah ke Farhan. “Truth,” katanya.

Bayu mengangguk kecil. Ia memajukan wajahnya sambil bertanya, “Apa yang paling lu suka dari Sarah?”

Ruangan terasa lebih sunyi.

Farhan menatap meja sebentar sebelum mengangkat kepalanya. Ia membersihkan tenggorokan. “Sarah itu ...,” ia menoleh ke arah Sarah, menatapnya lekat-lekat.

Sarah menopang dagunya dengan tangan, lalu mengangkat alis.

“Kalau udah sayang,” lanjut Farhan, “totalitas banget.”

Sarah tersenyum kecil, lalu menyandarkan kepalanya di lengan Darius. Darius menoleh padanya dan mengusap rambut wanita itu.

Sarah kembali meluruskan punggungnya.

Farhan masih menatap ke arah mereka. “Tapi kalau udah nggak sayang ….” Ia berhenti. Alisnya terangkat sedikit. Lalu menoleh ke arah Iko sekilas.

Tak ada yang menjawab ucapannya.

Botol kembali diputar. Giliran Sarah lagi.

Ia mengangkat bahu kecil. “Truth.”

“Dari semua mantan,” kata Rudi, “siapa yang paling berkesan?”

Sarah tertawa kecil. “Nggak ada.”

Rudi mengangkat alis.

“Semua sama aja,” tambah Sarah.

Bayu ikut menyahut. “Ah, masa?”

Sarah mengangkat bahu lagi. “Serius.”

Rudi menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Pilih satu.”

Sarah menggeleng. “Semua sama aja dulu.”

“Jawaban diplomatis,” kata Bayu.

“Ya,” kata Rudi, “tapi kita lagi main Truth.”

Sarah diam beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Aku nggak mau jawab.”

Suasana mendadak canggung.

Mereka saling tatap.

“Giliran saya yang putar,” kata Iko tiba-tiba.

Semua mata beralih kepadanya.

Iko memutar botol. Ujungnya berhenti mengarah pada dirinya sendiri.

Rudi tertawa kecil. “Truth or dare?”

Truth.”

Farhan yang semula bersandar menegakkan punggung. Ia menatap Iko beberapa detik sebelum bertanya. “Lu masih sayang sama Sarah?”

Iko merasakan semua orang di ruangan itu menunggu jawabannya. Ia melirik Darius sekilas, allu mengembuskan napas pelan. “Nggak.”

Farhan tersenyum tipis.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

“Saya ke toilet sebentar,” kata Darius sambil berdiri, lalu berjalan meninggalkan ruangan.

Begitu langkahnya menghilang di lorong, suasana berubah.

Rudi bersandar lebih santai. “Udah hamil belum?”

“Belum. Ck,” jawab Sarah cepat. Ia mengembuskan napas pendek sambil mengerucutkan bibir.

“Jadi,” kata Bayu, “siapa mantan yang paling berkesan?”

Sarah tidak menjawab. Ia hanya menatap meja—sekilas matanya melirik ke arah Iko.

Farhan menangkap gerakan kecil itu.

Rudi menoleh ke arah Farhan. “Masih nyimpen foto atau video Sarah?” Ia mengubah nadanya saat menyebut kata “foto” dan “video”.

Farhan menatap Rudi. Matanya sedikit membesar.

“Pahamlah maksudnya video apa,” lanjut Rudi.

“Nggak,” jawab Farhan.

“Bohong,” sergah Sarah. “Dulu kamu bilang udah dihapus.”

Farhan menoleh.

“Kaki kamu gerak kalau lagi bohong,” lanjut Sarah.

Farhan terdiam.

“Kamu sendiri yang bilang kalau tubuh manusia itu nggak bisa bohong,” kata Sarah.

Wajah Farhan berubah. Ia menoleh ke Rudi. “Lu yang koleksi semua foto dan videonya!” Suaranya sedikit bergetar.

Rudi tertawa sambil mengalihkan pandangannya. “Ngaco.”

Sarah menggeleng saat mengamati wajah Rudi. “Kamu juga, Rud.”

Farhan berdiri mendadak hingga kursinya bergeser keras. Ia berjalan ke arah kotak perkakas, lalu menyambar obeng. “Jangan macam-macam,” katanya sambil kembali berjalan mendekat.

Rudi ikut berdiri. “Emang lu siapa?”

Farhan melangkah maju. Obeng itu terangkat sedikit di tangannya. “Gua bunuh juga lu.”

Langkah kaki terdengar dari lorong. Darius muncul kembali. “Sudah,” katanya tenang. “Kekerasan tidak menyelesaikan apa pun.”

Farhan menoleh ke Darius. Tangannya bergetar.

Sekian detik kemudian, obeng itu ia letakkan di atas meja, di samping botol. Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sedang menyerah.

“Kita semua sedang lelah,” kata Darius. “Lebih baik kita akhiri malam ini.” Ia menoleh ke Farhan dan Rudi.

Rudi mendengus pelan, lalu kembali duduk. “Terserah,” katanya.

Farhan mengalihkan tatapannya dari Rudi. Ia menoleh ke arah meja, menatap obeng yang baru saja ia letakkan, lalu mundur selangkah.

Bayu menghembuskan napas panjang. Ia menegakkan punggungnya di sofa. “Ya udah,” katanya. “Game over.”

Sarah tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandang meja dengan wajah yang sulit dibaca.

Di luar, angin kembali menghantam jendela dengan bunyi keras. Petir menyambar di kejauhan.

Darius menatap mereka satu per satu. “Besok pagi kita sarapan bersama,” katanya. “Setelah itu, kalau masih ada yang ingin dibicarakan, kita selesaikan dengan kepala dingin.”

Tidak ada yang membantah.

Rudi menghabiskan minumannya, menaruh gelasnya kembali ke meja dengan bunyi pelan, lalu berjalan menuju koridor tanpa menoleh ke siapa pun.

Farhan masih berdiri di dekat sofa tunggal. Tangannya mengepal sebentar sebelum akhirnya ia mengembuskan napas keras. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke arah tangga.

Bayu berdiri setelahnya. Ia melirik Iko sebentar, lalu mengangkat bahu kecil. “Gua duluan,” katanya.

Iko mengangguk tipis.

Darius masih berdiri. Tatapannya mengikuti satu per satu tamu yang meninggalkan ruangan.

Sarah berdiri perlahan. “Aku juga ke atas,” katanya pada Darius.

Pria itu mengangguk. “Have a nice dream.”

Sarah tersenyum ke Darius. Lalu berjalan melewati Iko tanpa menoleh. Aroma parfumnya tertinggal sebentar di udara sebelum menghilang bersama langkahnya.

Iko menatap obeng di meja, lalu berdiri. Ia mengangguk pada Darius, lalu berjalan menuju tangga.

Setibanya Iko tiba di lantai dua, ketiga pria lainnya masih berdiri di depan pintu kamar masing-masing. Tidak ada yang berbicara. Hanya ada bunyi hujan yang menghantam atap vila tanpa henti.

Ketika Iko tiba di depan pintu kamarnya, pintu kamar Rudi tertutup dengan bunyi keras.

Iko menoleh sekilas ke arah suara itu, lalu masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu.

Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama, Iko langsung merebahkan diri di kasur.

Saat ia baru saja terlelap, pintu kamarnya diketuk berkali-kali.


Other Stories
Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Hotel Tanpa Cermin

Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Download Titik & Koma