Bab 7 – Tuan Rumah
Darius berdiri di luar kamar Rudi sementara yang lain keluar satu per satu.
Setelah Iko lewat, barulah Darius ikut berjalan di belakang mereka.
Begitu sampai di lantai bawah, mereka menuju sofa ruang keluarga yang lampunya masih menyala.
Iko duduk di ujung sofa panjang.
Sarah duduk di sebelahnya, tapi tidak menatap siapa pun. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat.
Farhan tidak duduk. Ia berdiri di dekat meja, rahangnya masih mengeras. Pandangannya sesekali melirik Bayu.
Bayu sendiri berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
Darius berdiri di dekat meja dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Saya hubungi polisi.”
Semua mata tertuju padanya.
Darius melihat layar ponselnya sebentar, mengangkatnya sedikit lebih tinggi, lalu menggerakkan ponselnya ke kiri-kanan. Ia menghela napas pendek. “Tidak ada sinyal.”
Tiba-tiba lampu padam.
Sarah refleks meraih tangan Iko. Beberapa detik kemudian, ia lepaskan.
“Tenang,” suara Darius terdengar di tengah gelap. “Tunggu di sini. Saya cek dulu panelnya di basement.”
Cahaya senter Darius menyala. Lalu cahaya itu bergerak menjauh ke arah koridor. Tak seorang pun mengikuti.
Di luar, kilatan petir menerangi lereng gunung sebentar sebelum kembali tenggelam dalam gelap.
“Ada yang bawa HP?” tanya Sarah.
“Mana sempat bawa,” kata Bayu.
“Nggak bawa juga,” timpal Farhan.
Tangan Sarah kembali menggenggam tangan Iko. Iko membiarkan. Napas Sarah terdengar pelan di dekat bahu Iko. Jemari mereka saling bertautan.
Beberapa detik berlalu.
Lampu kembali menyala. Sarah melepaskan tangannya. Semua orang berkedip sebentar.
Bayu menghembuskan napas panjang. “Sial.”
Farhan menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
Iko menatap ke arah koridor.
Beberapa saat kemudian ....
“Aaarrg—!” Teriakan Darius menggema dari arah basement. Disusul bunyi logam berat yang menghantam lantai dengan keras.
Mereka semua membeku.
“Apa itu?” gumam Bayu.
“Bunyi lift,” kata Sarah.
Iko bangkit dan bergegas menuju koridor. Farhan menyusul. Bayu ikut bergerak. Sarah berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Koridor menuju lift terasa lebih panjang dari sebelumnya.
Ketika mereka sampai di depan lift, pintu logam itu dalam kondisi terbuka.
Iko melangkah mendekat. Lalu menunduk.
Kabel lift putus.
Di dasar shaft lift, ada sesuatu yang terjepit di bawah kabin lift.
Iko menahan napas.
Bayu mendekat di sampingnya dan ikut melihat ke bawah. “Ya Tuhan …” bisiknya.
Lampu ruangan menerangi daging dan darah yang berceceran itu.
Farhan berdiri di belakang mereka tanpa bicara.
“Darius …?” Suara Sarah hampir tidak terdengar. Ia maju—
Tangan Iko menahannya. “Jangan.” Iko menggeleng.
Sarah menghambur ke dalam dekapan Iko—menangis di dadanya.
Iko merasakan tubuh wanita itu terguncang. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan memeluk Sarah. Lalu membelai punggungnya.
Bayu memandang ke arah tangga menuju basement. “Kita periksa.”
“Jangan!” kata Farhan. Suaranya agak keras.
Di luar, hujan semakin deras.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...