Memaknai Perjalanan Dengan Hati
Setelah selesai dari Desa Sade aku terdiam merasa sangat kagum dengan masyarakat yang masih berdampingan dengan adat. Tidak hanya kagum dengan pemerintah setempat yang mau untuk melestarikan adat istiadat sekitar tetapi juga kagum dengan warganya sendiri yang tetap mempertahankan pola kehidupan leluhur mereka. Seperti yang dijelaskan dalam ilmu Sosiologi, kebudayaan adalah keseluruhan cara hidup masyarakat yang kompleks, mencakup pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma, hukum, moral, adat istiadat, bahasa, seni, dan teknologi yang diwariskan serta dipelajari sebagai anggota masyarakat, membentuk identitas, cara berpikir dan perilaku sehari-hari.
Sepanjang perjalanan ke luar menjauhi desa Sade, aku terus mengenang bagaimana keramahan masyarakat desa Sade berbaur dengan wisatawan. Rasanya aku masih ingin berlama-lama di tempat itu merasakan keseharian menjadi warga suku Sasak. Namun perjalanan tetaplah perjalanan, aku harus bergerak dan terus menjelajahi tanah surga ini.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Kuta untuk makan siang, ternyata jarak perjalanan terhitung jauh karena kurang lebih sekitar 20 menit menuju Kuta. Sepanjang perjalanan kami melewatu banyak sekali Cafe karena daerah Kuta sendiri merupakan daerah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan internasional. Menurut Kak Syarif, warga lokal memiliki kemampuan berbicara berbagai bahasa seperti Inggris, Perancis dan masih banyak bahasa lainnya yang mereka pelajari secara otodidak. Wajar karena Lombok merupakan daerah wisata pasti masyarakatnya banyak bertemu dengan wisatawan yang mana ketika berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara universal.
Kami sampai di Kuta sekitar sore hari menjelang ashar, memang tidak terlalu ramai dan banyak gerai makanan yang masih tutup, meskipun tourist menyukai pantai namun siapa juga yang mau untuk berjemur di pinggiran pantai saat matahari sedang panas-panasnya dengan resiko akan membakar kulit.
Setelah bingung apa yang akan kami makan di Kuta karena banyak gerai makanan yang masih tutup, kami memutuskan untuk makan masakan padang. Kami berdua memilih menu ayam gulai seharga 30.000/porsi. Di sela-sela makan itu kami berdua nostalgia membicarakan tentang masa lalu mulai dari saat di Semarang sebagai anak kuliahan dan membicarakan orang-orang yang terlibat dengan kami di Semarang. Begitu menyenangkan mengingat tentang memori indah saat itu dan bercerita bagaimana menjalani hidup setelah 8 tahun tidak berjumpa.
Sepanjang perjalanan ke luar menjauhi desa Sade, aku terus mengenang bagaimana keramahan masyarakat desa Sade berbaur dengan wisatawan. Rasanya aku masih ingin berlama-lama di tempat itu merasakan keseharian menjadi warga suku Sasak. Namun perjalanan tetaplah perjalanan, aku harus bergerak dan terus menjelajahi tanah surga ini.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Kuta untuk makan siang, ternyata jarak perjalanan terhitung jauh karena kurang lebih sekitar 20 menit menuju Kuta. Sepanjang perjalanan kami melewatu banyak sekali Cafe karena daerah Kuta sendiri merupakan daerah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan internasional. Menurut Kak Syarif, warga lokal memiliki kemampuan berbicara berbagai bahasa seperti Inggris, Perancis dan masih banyak bahasa lainnya yang mereka pelajari secara otodidak. Wajar karena Lombok merupakan daerah wisata pasti masyarakatnya banyak bertemu dengan wisatawan yang mana ketika berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara universal.
Kami sampai di Kuta sekitar sore hari menjelang ashar, memang tidak terlalu ramai dan banyak gerai makanan yang masih tutup, meskipun tourist menyukai pantai namun siapa juga yang mau untuk berjemur di pinggiran pantai saat matahari sedang panas-panasnya dengan resiko akan membakar kulit.
Setelah bingung apa yang akan kami makan di Kuta karena banyak gerai makanan yang masih tutup, kami memutuskan untuk makan masakan padang. Kami berdua memilih menu ayam gulai seharga 30.000/porsi. Di sela-sela makan itu kami berdua nostalgia membicarakan tentang masa lalu mulai dari saat di Semarang sebagai anak kuliahan dan membicarakan orang-orang yang terlibat dengan kami di Semarang. Begitu menyenangkan mengingat tentang memori indah saat itu dan bercerita bagaimana menjalani hidup setelah 8 tahun tidak berjumpa.
Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...