Di Meja Makan
Angin laut berhembus bebas, membawa aroma garam, membuat tirai-tirai tipis bergerak pelan. Khalil muncul membawa nampan berisi teh hangat yang ia buat di dapur. Meletakkan gelas-gelas itu di atas meja kemudian bersiap duduk untuk makan.
“Terimakasih, Abang sayang. Galak-galak begini ternyata perhatian sekali, ya?” celetuk Bapak dengan nada menggoda.
Khalil yang mendengar hanya mendengus, mencoba menyembunyikan senyumnya yang hampir terukir.
“Bang Khalil dari tadi mukanya serem, Pak. Ale takut dimakan!” sahut Ale ikut-ikutan menggoda, yang disambut tawa renyah dari Bapak.
Khalil memutar matanya, memilih duduk di kursi kosong di depan Bapak.
“Kalau ada Ibu, pasti tambah seru ya, Pak,” cetus Ale tiba-tiba.
Terdengar suara dentingan lumayan keras dari piring Khalil. “Ibu udah nggak ada, jangan kaya orang bodoh.”
Suasana langsung membeku. Ale tersentak, bahunya menciut. Namun, kalimat Khalil belum selesai, ia mendongak menatap Ale dengan mata yang mulai berair.
“Jangan bawa-bawa orang yang udah nggak ada. Kamu alasan Ibu nggak ada di sini.”
“Khalil!” bentak Bapak dengan suara yang belum pernah anak-anaknya dengar seumur hidup mereka.
“Apa, Pak? Khalil salah?” Khalil justru semakin menjadi, tidak mau kalah. Matanya yang memerah kini menatap Bapak. “Bapak selalu mengusahakan segalanya buat Ale, bahkan liburan ini juga hasil Bapak mati-matian lembur ke sana-sini. Bapak merasa bersalah karena nggak bisa selamatin Ibu, kan?! Bapak jadikan dia penebus dosa Bapak!”
BRAK!!
Bapak menggebrak meja kayu di depannya dengan telapak tangan yang bergetar hebat. Menimbulkan getaran pada gelas-gelas teh di atasnya, bahkan salah satunya terguling hingga airnya membasahi meja.
“Cukup, Khalil! Sudah… Bapak mohon…” kini suara Bapak tak lagi menggelegar. “Ini liburan kita, jangan dihancurkan seperti ini.”
Khalil membuang muka, rahangnya mengeras. “Belain aja terus. Rasanya cuma Khalil yang kehilangan.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Khalil memutar tubuhnya. Ia melangkah keluar meninggalkan Bapak dan Ale.
Ale terisak, suara tangisnya kecil, tertahan di balik telapak tangannya. “Maaf, Bang…. Maaf Ale sudah bikin Ibu pergi...”
Bapak hanya bisa menatap punggung anak sulungnya yang kian menjauh, tangan Bapak mencengkram pinggiran meja, berusaha menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
“Sini, Nak…. peluk Bapak,” panggil Bapak ke anak bungsunya dengan suara lembut.
Ale langsung menghambur ke pelukan Bapak, menyembunyikan wajahnya di perut Bapak.
“Bukan salahmu, Le. Bukan salahmu,” gumam Bapak berkali-kali, terlihat berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada kepada Ale.
“Terimakasih, Abang sayang. Galak-galak begini ternyata perhatian sekali, ya?” celetuk Bapak dengan nada menggoda.
Khalil yang mendengar hanya mendengus, mencoba menyembunyikan senyumnya yang hampir terukir.
“Bang Khalil dari tadi mukanya serem, Pak. Ale takut dimakan!” sahut Ale ikut-ikutan menggoda, yang disambut tawa renyah dari Bapak.
Khalil memutar matanya, memilih duduk di kursi kosong di depan Bapak.
“Kalau ada Ibu, pasti tambah seru ya, Pak,” cetus Ale tiba-tiba.
Terdengar suara dentingan lumayan keras dari piring Khalil. “Ibu udah nggak ada, jangan kaya orang bodoh.”
Suasana langsung membeku. Ale tersentak, bahunya menciut. Namun, kalimat Khalil belum selesai, ia mendongak menatap Ale dengan mata yang mulai berair.
“Jangan bawa-bawa orang yang udah nggak ada. Kamu alasan Ibu nggak ada di sini.”
“Khalil!” bentak Bapak dengan suara yang belum pernah anak-anaknya dengar seumur hidup mereka.
“Apa, Pak? Khalil salah?” Khalil justru semakin menjadi, tidak mau kalah. Matanya yang memerah kini menatap Bapak. “Bapak selalu mengusahakan segalanya buat Ale, bahkan liburan ini juga hasil Bapak mati-matian lembur ke sana-sini. Bapak merasa bersalah karena nggak bisa selamatin Ibu, kan?! Bapak jadikan dia penebus dosa Bapak!”
BRAK!!
Bapak menggebrak meja kayu di depannya dengan telapak tangan yang bergetar hebat. Menimbulkan getaran pada gelas-gelas teh di atasnya, bahkan salah satunya terguling hingga airnya membasahi meja.
“Cukup, Khalil! Sudah… Bapak mohon…” kini suara Bapak tak lagi menggelegar. “Ini liburan kita, jangan dihancurkan seperti ini.”
Khalil membuang muka, rahangnya mengeras. “Belain aja terus. Rasanya cuma Khalil yang kehilangan.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Khalil memutar tubuhnya. Ia melangkah keluar meninggalkan Bapak dan Ale.
Ale terisak, suara tangisnya kecil, tertahan di balik telapak tangannya. “Maaf, Bang…. Maaf Ale sudah bikin Ibu pergi...”
Bapak hanya bisa menatap punggung anak sulungnya yang kian menjauh, tangan Bapak mencengkram pinggiran meja, berusaha menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
“Sini, Nak…. peluk Bapak,” panggil Bapak ke anak bungsunya dengan suara lembut.
Ale langsung menghambur ke pelukan Bapak, menyembunyikan wajahnya di perut Bapak.
“Bukan salahmu, Le. Bukan salahmu,” gumam Bapak berkali-kali, terlihat berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada kepada Ale.
Other Stories
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Mimi & Peri
Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...