Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
110
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Sebelum Keberangkatan

Malam sebelum keberangkatan, di sudut kamar, Ale tampak begitu sibuk. Ia memenuhi tas ranselnya dengan berbagai perlengkapan, mulai dari baju, kacamata hitam, dan tidak lupa mobil kecil pemberian Bapak karena Ale berhasil mendapat peringkat lima besar. Semuanya sudah ia siapkan jauh-jauh hari.

Namun, tidak dengan Khalil. Remaja itu duduk di sofa ruang tengah, membiarkan tasnya masih terbuka kosong di kamar. Pandangannya tertuju pada sosok Bapak yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.

Khalil memperhatikan punggung Bapak yang berjalan perlahan menuju dapur. Begitu Bapak berbalik untuk mengambil segelas air, lampu dapur menyorot wajahnya. Bapak terlihat sedikit pucat, serta cekungan di bawah mata yang semakin jelas. Bapak sempat melemparkan senyum tipis saat menyadari Khalil yang memandangnya dari ruang tengah.

Khalil beralih masuk ke kamar, langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Di sana, ia melihat Ale sedang berlutut di lantai, sibuk menata barang-barang sambil bersenandung kecil.

Melihat adiknya sebahagia itu, ada bagian kecil di dalam hatinya yang merasa tersentuh. Namun, kenyataan pahit kembali menghantam pikirannya.

Bagi Khalil, kehadiran Ale membuat Ibu meninggalkan mereka. Disaat adiknya menghirup nafas pertamanya, Ibu justru menghembuskan nafas terakhirnya. Khalil merasa hidup Ibu ditukar dengan nyawa Ale. Ditambah lagi, Bapak yang selalu memanjakan Ale, menurut Khalil itu dilakukan untuk menutupi rasa bersalah Bapak tidak bisa menyelamatkan Ibu.

Ale yang menyadari tas abangnya masih kosong, menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap Khalil dengan raut bingung.

“Bang Khalil nggak passing?” Pertanyaan itu sukses membuat orang yang ditanya menautkan kedua alis.

“Ngapain passing? Emang Abang lagi main voli?”

“Ini loh Bang. Kaya Ale, masuk-masukin barang yang mau dibawa,” jelas sang adik sambil menunjuk tas ranselnya yang sudah siap. “Kenapa Abang bawa-bawa voli?” lanjutnya bingung.

Packing, Le. Nggak usah sok inggris kalo masih salah.”
Kalimat itu hanya dibalas Ale dengan cengiran tanpa dosa.


Other Stories
Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Kutukan Yang Kupanggil Cinta

Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Cuti Untuk Pikiran

Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk bena ...

Download Titik & Koma