Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
100
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Sua Dan Pulang

Mobil itu akhirnya berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Lampu-lampu terang memantul di kaca jendela, menerangi area penjemputan yang mulai sepi.

Khalil segera turun dari motornya, langkahnya cepat menghampiri mobil yang baru saja berhenti di sana. Teman Bapak ikut turun lebih dulu, lalu membuka pintu penumpang.

Bapak sudah duduk menunggu, tubuhnya tampak lelah meskipun ia berusaha tersenyum begitu melihat Khalil.

“Gimana, Pram? Aman?” tanya teman Bapak khawatir.

Bapak mengangguk pelan. “Syukur nggak ada yang serius, cuma lumayan sakit kalau berdiri.”

Khalil berdiri beberapa langkah di belakang mereka, tidak ikut berbicara. Ia hanya berdiri di sana, menatap Bapaknya dengan wajah tegang. Kekhawatiran yang sejak tadi ia tahan jelas terlihat di matanya. Dan Bapak memperhatikan itu.

“Khalil–”

“Bapak pulang langsung sama teman Bapak,” potongnya cepat. “Khalil yang beli makan saja.”
“Bapak temani.”

Khalil langsung menggeleng. "Jangan. Yang penting Bapak sampai rumah dulu, istirahat di rumah.”

Teman Bapak yang berdiri di samping mereka ikut mengangguk setuju. "Betul itu. Lebih baik langsung pulang saja.”

Bapak terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas kecil, lalu menurut.



Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan rumah. Suara mesin mobil yang masuk ke halaman membuat Ale yang sejak tadi sendirian di rumah langsung mengintip dari balik jendela depan. Wajah kecilnya tampak tegang.

Namun, begitu melihat siapa yang keluar dari mobil itu, raut wajahnya langsung berubah lega. Ale dengan cepat membuka pintu.

“Bapak!”

Ia langsung berlari menghampiri Bapak, langkahnya terhenti ketika melihat Bapak berdiri dengan salah satu tangannya bertumpu pada tongkat sederhana.

“Bapak kenapa? Terus Abang di mana, Pak? Tadi Abang bilang mau jemput Bapak.”

Bapak mengusap lembut kepala anak bungsunya, lalu menjelaskan apa yang terjadi di proyek dan mengapa ia harus dibawa ke rumah sakit.

“Bang Khalil?”

“Abangmu lagi beli makan dulu. Kita tunggu, ya.”

Ale mengangguk pelan, meskipun masih menyimpan sisa kekhawatiran.

Setelah mengucapkan terima kasih dan mengantar teman Bapak yang pamit pulang, mereka berdua masuk ke dalam rumah.

Bapak dan Ale duduk di ruang tamu masih dengan suara televisi yang mendominasi ruangan. Keduanya hanya menunggu.

Beberapa menit mereka menunggu, terdengar suara gaduh dari luar. Samar-samar terdengar seperti orang-orang yang berteriak, disusul deru langkah kaki yang bergegas menuju arah jalan besar di ujung gang.

Bapak dan Ale saling lempar pandang, raut penasaran sekaligus cemas seketika menghiasi wajah mereka.

“Ada apa ya, Pak?”

Dengan sisa tenaga dan bantuan tongkat, Bapak mencoba berdiri dan melangkah perlahan menuju pintu depan, sementara Ale sudah lebih dulu membukanya lebar-lebar.

“Pak! Ada apa ini, ramai sekali?” panggil Bapak kepada salah satu tetangga yang melintas terburu-buru.

Tetangga itu menoleh sebentar tanpa menghentikan langkahnya. “Kecelakaan, Pak! Baru saja di depan!”
Sekilas, keduanya saling menatap. Tidak ada kata yang keluar, hanya ada satu hal yang terlintas di kepala mereka. Khalil belum pulang.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Ale langsung berlari meninggalkan halaman rumah menuju jalan besar.

“Le! Tunggu Bapak!” saru Bapak.

Dengan langkah tertatih, Bapak berusaha menyusul. Namun, kakinya yang masih dibalut rasa sakit yang menusuk setiap berdiri membuatnya tertatih-tatih. Sementara di depannya, Ale terus berlari menembus kegelapan malam menuju kerumunan orang yang mulai memadati jalanan.

Ale yang lebih dulu tiba di belakang kerumunan orang-orang mencoba menerobos masuk. Tubuh kecilnya menyelinap di antara barisan orang dewasa yang berdiri melingkar di tengah jalan.

“Abang!” teriaknya nyaring.

Suara itu sampai ke telinga Bapak yang baru saja mendekati kerumunan. Dalam hatinya, ia terus merapalkan doa-doa tanpa putus. Nama anak sulungnya ia sebut berkali-kali dalam hati, memohon pada Tuhan agar firasat buruk ini salah.

“Beri jalan! Tolong beri saya jalan!”

Orang-orang mulai menoleh, memberikan ruang bagi pria tua yang tertatih menggunakan tongkat itu. Namun, tepat saat pandangannya terbuka lebar menuju pusat kejadian, dunianya seolah runtuh. Tongkat yang menyangganya terlepas begitu saja dari genggaman, beradu dengan aspal sebelum akhirnya tubuh Bapak limbung dan jatuh terduduk di depan tubuh yang tak lagi berdaya.

“Anakkuu Khalillll!!” teriak Bapak dengan suaranya yang bergetar hebat. Tangannya berusaha menyentuh pipi anak sulungnya. Wajah itu, wajah yang tadi pagi sempat Bapak peluk, wajah yang selalu ia usahakan bahagianya, kini dipenuhi dengan darah segar yang masih mengalir.

“Khalil…. Nak, ini Bapak….”

Ale segera mendekap tubuh Bapaknya dengan sangat erat. “Bapak… Abang, Pak….” Isak tangisnya pecah menjadi raungan yang memilukan.

Suara tangisan pilu bapak dan anak itu perlahan lebur, tenggelam di bawah raungan sirine ambulans yang baru saja tiba di lokasi.



Other Stories
Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Testing

testing ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Download Titik & Koma